AKHLAK MULIA MENGANTARKAN MENUJU SURGA

September 6, 2015 at 11:43 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

AKHLAK MULIA MENGANTARKAN MENUJU SURGA

 

Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَأَكْثَرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَحُسْنِ الْخُلُقِ

Kebanyakan yang membuat seseorang masuk surga adalah bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam diatas adalah sebuah jawaban dari pertanyaan, apa yang menyebabkan seseorang kebanyakan masuk surga, atau bahasa lainnya, umumnya orang yang masuk surga itu disebabkan oleh apa?, kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab dengan sabdanya diatas.

Takhrij Hadits :

Hadits diatas diriwayatkan oleh Aimah hadits sebagai berikut :

  1. Imam Abdullah bin Mubarok (w. 181 H) dalam az-Zuhud wa ar-Roqoiq (no. 1073 –pen. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut).
  2. Imam Sulaiman bin Dawud at-Thoyalisi (w. 204 H) dalam al-Musnad (no. 2596 –pen. Daaru Hijr, Mesir, cet. Ke-1, 1419 H).
  3. Imam Ahmad (w. 241 H) dalam al-Musnad (no. 7907 –pen. Muasasah ar-Risalah, cet. Ke-1, 1421 H).
  4. Imam Bukhori (w. 256 H) dalam al-Adabul Mufrod (no. 289 & 294 –pen. Daarul Basyoir Islamiyyah, cet. Ke-3, 1409 H).
  5. Imam Ibnu Majah (w. 273 H) dalam as-Sunan (no. 4246 –pen. Daaru Ihya Kutubil ‘Arobiy).
  6. Imam Tirmidzi (w. 279 H) dalam as-Sunan (no. 2004 –pen. Musthofa Baabil Halabiy, Mesir, cet. Ke-2, 1395 H).
  7. Imam al-Bazar (w. 292 H) dalam al-Musnad (no. 9658 –pen. Maktabah Uluumil wal Hikam, Madinah, cet. Ke-1, 2009).
  8. Dan selain mereka.

Semua jalannya bermuara kepada Dawud Al Audi dari Bapaknya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu secara marfu’. Dawud adalah ibnu Yaziid bin Abdur Rokhman al-Kuufiy (w. 151 H), dinilai sebagai perowi dhoif oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib. Bapaknya Yaziid bin Abdur Rokhman, digolongkan oleh Al Hafidz sebagai Tabi’i pertengahan, meriwayatkan dari beberapa sahabat, seperti Jaabir bin Samurah, Ali bin Abi Tholib, Adi bin Hatim, Abu Huroiroh dan selainnya –rodhiyallahu anhum-. Dinilai tsiqoh oleh Imam al-‘Ijli dan Imam Ibnu Hibban.

Namun dalam riwayat Imam Bukhori dalam Adabul Mufrod (no. 294) dan selainnya, Dawud bin Yaziid diatas mendapatkan mutaba’ah dari saudaranya, yaitu Idris bin Yaziid, seorang perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

Sekarang tersisa status bapaknya, yaitu Yaziid bin Abdur Rokhman diatas, beliau hanya mendapatkan Tautsiq dari Imam al-‘Ijli dan Imam Ibnu Hibban, yang mana keduanya sudah dikenal sebagai ulama yang mudah dalam memberikan tautsiq (rekomendasi), sehingga barangkali karena alasan inilah sebagian ulama menghasankannya, karena baik sangka kepada Yaziid ini. Diantara mereka yang berpendapat seperti itu adalah Imam Al Albani, beliau berkata dalam Silsilah Ahaadits Shahihah (no. 978) :

وإسناده حسن، فإن يزيد هذا وثقه ابن حبان والعجلي، وروى عنه جماعة.

Sanadnya hasan, Yaziid ini ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban dan al-‘Ijli, serta jama’ah meriwayatkan darinya.

Mungkin bagi orang yang sering membaca karya Imam Al Albani dalam penilaian hadits, beliau memiliki pandangan sebagaimana diungkapkan dalam Mukadimah Tamaamul Minnah, bahwa perowi yang hanya dinilai tsiqoh oleh Imam Ibnu Hibban dan yang setipe dengannya –dalam Tasahul-, kemudian ia memiliki sejumlah murid tsiqoh, dan tidak terdapat pengingkaran dalam haditsnya, maka perowi seperti ini dinilai hasan oleh Imam Al Albani.

Namun jika kita buka kitab tentang biografi perowi, misalnya kitab al-Kamal karya al-Mizzi, Yaziid ini hanya memiliki 3 murid, yaitu kedua anaknya yaitu Idris dan Dawud, serta satu lagi Yahya bin Abil Haitsam. Dawud perowi yang dhoif, sedangkan sisanya adalah perowi yang tsiqoh, maka sebagian ulama, untuk kondisi perowi yang memiliki 2 murid yang tsiqoh, hanya akan mengangkatnya sampai tingkatan Majhul Hal, yakni hanya terangkat majhul ‘Ainnya. Karena mereka tidak mempercayai Tautsiq Imam Ibnu Hibban dan Imam al-‘Ijli, yang mana mereka ma’ruf mudah sekali memberikan Tautsiq, terhadap perowi majhul. Sehingga berdasarkan hal ini, sanad ini hanya sampai derajat dhoif yang ringan kelemahannya, sampai didapatkan riwayat lain yang menguatkannya –Wallahu A’lam-.

Sekalipun demikian, makna hadits ini benar, bahwa ketakwaan akan menyebabkan seseorang masuk surga, bahkan dengan akhlak yang mulia, seseorang akan mendapatkan bagian surga yang paling tinggi, berdasarkan hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Saya menjamin rumah di surga bawah, bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar; dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan berdusta, sekalipun untuk bercanda; serta rumah di surga atas bagi orang yang bagus akhlaknya (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Imam Al Albani).

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: