ZUHUDLAH DI DUNIA

October 14, 2015 at 11:24 am | Posted in Hadits | Leave a comment

ZUHUDLAH DI DUNIA NISCAYA ENGKAU AKAN DICINTAI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALAA

 

Diriwayatkan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّك اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّك النَّاسُ

“Zuhudlah di dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan menyukaimu”.

Kali ini saya akan menampilkan takhrij hadits dari Imam Al Albani terhadap hadits diatas. Saya hanya akan menampilkan terjemahannya saja, silakan merujuk ke teks aslinya bagi yang ingin merujuk ke “Silsilah Ahaadits Shahihah” (no. 944). Kemudian pada akhir takhrij yang dilakukan oleh Imam Al Albani, kami akan memberikan pendapat terkait hasil takhrij beliau, berdasarkan komentar dari salah seorang murid beliau yang mumpuni dalam bidang ilmu hadits yaitu asy-Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini.

Takhrij Imam Al Albani :

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 4102), Abus Syaikh dalam “at-Taariikh” (hal. 183), al-Muhaamiliy dalam “Majliisu minal Amaaliy (2/140), al-Uqoiliy dalam “adh-Dhu’afaa’” (117), ar-Ruuyaaniy dalam “Musnadnya” (2/814), Ibnu ‘Adiy dalam al-Kaamil (2/117), Ibnu Sam’uun dalam al-Amaaliy (1/157/2), Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah (3/252-253 dan 7/136) & dalam “Akhbaaru Asbahaah” (2/244-245), dan Al Hakim (4/313) melalui jalan Khoolid bin Umar al-Qurosyi, dari Sufyaan ats-Tsauriy dari Abu Haazim dari Sahl bin Sa’ad as-Saa’idiy rodhiyallahu anhu beliau berkata : “seseorang mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu berkata : ‘wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amalan yang ketika aku mengamalkannya, Allah akan mencintaiku dan manusia juga mencintaiku?’, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “Al Hadits”.

Hakim berkata : “shahih sanadnya”, namun dibantah oleh adz-Dzahabi, dengan perkataannya : “Khoolid, pemalsu hadits”. (Al Albani) berkata : ‘namun khoolid tidak bersendirian dalam meriwayatkannya, sebagaimana akan datang’. Al-Uqoiliy berkata : ‘haditsnya ats-Tsauri tidak memiliki landasan (yang kuat), namun Muhammad bin Katsiir ash-Shon’aniy memutaba’ahinya, akan tetapi kemungkinan ia mengambil dari Khoolid lalu melakukan tadlis (pengaburan), karena yang masyhur hadits ini dari Khoolid’.

Al Albani berkata : ‘mutaba’ah ini dikeluarkan oleh al-Khola’iy dalam al-Fawaaid (1/67/18), dan Ibnu Adiy, lalu beliau berkomentar : ‘aku tidak mengetahui apa yang aku ucapkan dalam riwayat ibnu Katsiir dari ats-Tsauriy dalam hadits diatas, karena Ibnu Katsiir tsiqoh, namun hadits ini dari ats-Tsauriy mungkar’.

Dimutaba’ahi juga oleh Abu Qotadah beliau berkata, haddatsanaa Sufyaan dan seterusnya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdul Waahid al-Maqdisiy dalam “al-Muntaqoo min hadiitsi Abi Ali al-Auqiy (2/3). Al Albani berkata : ‘namun Abu Qotadah –Abdullah bin Waaqid al-Harooniy-, Al Hafidz memberikan komentar : “matruk, Ahmad memujinya, sambil berkata : ‘mungkin usianya menginjak senja, kemudian mengalami ikhtilath (bercampur hapalannya), dan juga ia seorang mudallis”. Al Albani berkata : ‘kemungkinan kuat, beliau bertemu Khoolid bin ‘Amr, lalu melakukan tadlis, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Adiy kepada mutaba’ahnya Ibnu Katsiir. Namun penilaian Ibnu Adiy bahwa Ibnu Katsiir tsiqoh, maka ada kritikan padanya, karena sekumpulan Aimah, diantaranya Imam Ahmad telah mendhoifkannya, sebagaimana diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Adiy dalam biografi Ibnu Katsiir di “al-Kaamil (2/370)”, kemudian pada akhir biografinya, Ibnu Adiy berkata : ‘ia memiliki hadits-hadits yang tidak dimutaba’ahi seorang pun’. Maka bagaimana bisa orang semisal ini,menurut beliau tsiqoh?, yang nampak beliau sepertinya tersamarkan dengan Ibnu Katsiir al-Abdiy, perowi tsiqoh, perowinya Bukhori-Muslim, adapun Ibnu Katsiir ash-Shon’aniy, Ibnu Hajar berkata : ‘shoduq, banyak kelirunya’. Ibnu Abi Hatim dalam “al-Illal” (2/107) berkata : ‘aku bertanya kepada bapakku tentang hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Maimun ar-Ruqiy dari Muhammad bin Katsiir dari Sufyaan?’, beliau menjawab : ‘hadits ini batil’, yakni dengan sanad tersebut’.

Kemudian Ibnu Adiy berkata : ‘telah diriwayatkan dari Zaafir dari Muhammad bin ‘Uyyainah –saudaranya Sufyan bin ‘Uyyainah- dari Abi Haazim dari Sahl rodhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga dari haditsnya Zaafir dari Muhammad bin ‘Uyyainah dari Abi Haazim dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu’. Al Albani berkata : ‘Zaafir –Ibnu Sulaimah- shoduq banyak wahm (lamah) dan demikian juga Muhammad bin ‘Uyyainah, beliau juga shoduq memiliki wahm, sebagaimana dalam “at-Taqriib”. Dan terjadi idhthirob satu sama lainnya, yang menjadikannya dalam Musnad Sahl dan yang lain dalam Musnad Ibnu Umar, yang pertama mencocoki mutaba’ah diatas, sekalipun saya mendapatkan mutaba’ah lain dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu juga, yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Taarikh Damasyqi” (3/162/3), dari Muhammad bin Ahmad bin al-‘Alas, haddatsanaa Ismail bin Abdullah bin Abi Uwais, haddatsanaa Maalik dari Naafi dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu. Sanad ini, perowinya perowi Bukhori-Muslim, selain Ibnu al-‘Alas diatas, aku tidak mengetahuinya.

Al Albani berkata : ‘aku mendapatkan syahid yang mursal dengan sanad yang Jayyid (bagus) dengan lafadz :

ازهد في الدنيا يحبك الله و أما الناس ، فانبذ إليهم هذا يحبوك

Zuhudlah di dunia, niscaya Allah akan menyukaimu, adapun manusia, maka lakukan hal yang sama kepada mereka, niscaya mereka akan menyukaimu.

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah”  (8/41) dari jalan Abi Ahmad Ibrohim bin Muhammad bin Ahmad al-Hamdaaniy, haddatsanaa Abu Hafsh Umar bin Ibrohim al-Mustamiliy, haddatsanaa Abu Ubaidah ibnu Abi as-Safar, haddatsanaa al-Hasan bin ar-Robii’, haddatsanaa al-Mufadhol bin Yunus, haddatsanaa Ibrohim bin Adham dari Manshuur dari Mujaahid dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu : “bahwa seorang mendatangi Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu berkata : “tunjukkan aku sebuah amalah yang jika aku mengamalkannya…. Al Hadits”.

Disebutkannya Anas dalam hadits ini adalah kesalahan dari Umar atau Abi Ahmad, karena para perowi yang lebih kokoh meriwayatkan dari al-Hasan bin ar-Robii’, tidak melampaui Mujaahid dalam sanadnya. Lalu disebutkan dari jalan Ahmad bin Ibrohim ad-Dauruqiy, haddatsanaa al-Hasan bin ar-Robii’ Abu Ali al-Bukhliy secara mursal dan marfu’, namun tidak disebutkan Anas Rodhiyallahu ‘anhu padanya, Ahmad bin Ibrohim berkata : ‘al-Hasan berkata, al-Mufadhol berkata : ‘tidak disebutkan kepada kami Ibrohim bin Adham, haddatsanaa selain ini, Thooluut meriwayatkan dari Ibrohim, namun tidak melampaui Ibrohim. Sehingga hadits Manshuur dan Mujaahid adalah Aziiz, masyhurnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Sufyan ats-Tsauriy dari Abi Haazim dari Sahl bin Sa’ad Rodhiyallahu ‘anhu.

Al Albani berkata : ‘telah berlalu hadits Sufyan dari jalannya, sekalipun dhoif, namun tidak terlalu dhoif –selain riwayat Khoolid bin ‘Amr si pemalsu-, maka ini pantas untuk dijadikan penguat, sehingga haditsnya menjadi kuat, dan bertambah kuat lagi dengan adanya syahid yang mursal ini, karena semua perowinya tsiqoh.

Adapun riwayat yang bersambung, maka ada kelemahan padanya, karena Abu Hafsh Umar bin Ibrohim, kata Al Hafidz : ‘shoduq, dalam meriwayatkan hadits dari Qotadah dhoif’. Sedangkan Abu Ahmad Ibrohim bin Muhammad bin Ahmad al-Himdaabiy, aku belum mendapatkan biografinya, ucapan Abu Nu’aim sebelumnya mengisyaratkan bahwa posisinya adalah perowi dhoif’.

Kesimpulannya bahwa hadits ini shahih dengan syahid yang mursal ini. Dan jalan-jalan lain yang telah diisyaratkan secara bersambung. Wallahu A’lam.

 

Komentar terhadap Pentashihan Imam Al Albani :

Membaca paparan yang diberikan oleh Imam Al Albani terhadap takhrij hadis diatas, maka kita mendapatkan kesimpulan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu’ dan mursal. Adapun yang marfu’ diriwayatkan melalui jalan Sahl bin Sa’ad Rodhiyallahu ‘anhu, melalui jalan Sufyan ats-Tsauri dari Abu Haazim dari Sahl rodhiyallahu anhu secara marfu’. Kemudian yang meriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri adalah :

  1. Khoolid bin ‘Amr, para ulama sepakat melemahkannya, bahkan sebagian mereka menuduhnya sebagai pemalsu hadits.
  2. Muhammad bin Katsiir ash-Shon’aniy, namun kemungkinan kuat ia mengambil hadits dari Khoolid diatas, kemudian beliau melakukan tadlis dengan menggugurkan khoolid tersebut. Sehingga sanad ini tetap kembali kepada Khoolid.
  3. Abu Qotadah Abdullah bin Waaqid al-Harooniy, perowi yang matruk dan juga sebagian ulama menilainya sebagai mudallis, sehingga kemungkinan kuat juga ia mengambil hadits dari Khoolid, perowi yang bermasalah sebagaimana diatas.

Kemudian ada juga mutaba’ah untuk Sufyan ats-Tsauri dari riwayat Zaafir dari Muhammad bin ‘Uyyainah dari Abu Haazim dari Sahl rodhiyallahu anhu, namun dalam riwayat lain meriwayatkannya dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu. Sehingga sanad ini menunjukkan terjadinya idhthirob (kegoncangan), dan barangkali ini berasal dari wahmnya Zaafir atau Muhammad bin ‘Uyyainah, karena Imam Al Albani telah menukil penilaian mereka berdua dari Al Hafidz Ibnu Hajar, bahwa keduanya adalah perowi shoduq yang memiliki kelemahan.

Lalu Imam Al Albani menukil juga syahid dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu melalui jalan Muhammad al-‘Allas, dari Isimail bin Abdullah bin Abi Uwais, dari Maalik dari Naafi’ dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu. Namun Muhammad al-‘Allas ini adalah perowi pendusta, sehingga tentunya tidak layak untuk dijadikan sebagai penguat.

Kemudian disebutkan juga syahid lain dari haditsnya Anas bin Malik rodhiyallahu anhu Abu Ahmad, dari Abu Hafsh Umar dari Abu Ubaidah bin Abis Safar, dari al-Hasan bin ar-Robii’, dari al-Mufadhol bin Yunus, dari Ibrohim bin Adham, dari Manshuur, dari Mujaahid, dari Anas rodhiyallahu anhu dan sebagaimana lafadz hadits dalam bab ini. Namun Abu Nu’aim menyebutkan vahwa ini adalah wahm dari Umar atau Abu Ahmad, karena perowi yang lebih tsiqoh yaitu Ahmad bin Ibrohim ad-Duuroqiy meriwayatkan hadits ini hanya mursal dari Mujaahid.

Imam Al Albani merajihhkan riwayat yang mursal ini karena perowi yang meriwayatkannya dengan mursal lebih atsbat. Namun hadits mursal adalah termasuk kategori hadits dhoif, karena kita tidak bisa memastikan apakah yang digugurkan adalah sahabat atau tabi’i lainnya, dan tidak semua tabi’in berstatus tsiqoh atau diterima haditsnya, sehingga karena kehatian-hatian ini, para ulama menggolongkan hadits mursal termasuk kedalam kategori hadits lemah.

Namun Imam Al Albani dalam takhrijnya diatas, menganggap bahwa hadits mursal ini dikuatkan dengan hadits-hadits yang marfu’ (bersambung sanadnya sampai kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam), yang telah disebutkan diatas. Akan tetapi hal tersebut kurang tepat, karena hadits-hadits yang marfu’ semua sanadnya lemah dengan kelemahan yang tidak layak dijadikan sebagai penguat, sehingga tetaplah hadits ini dalam kemursalannya, sebagai hadits yang lemah. Al Hafidz sebagaimana dinukil oleh Ibnu ‘Alaan dalam “al-Futuhaat” (7/337) : ‘hadits Sahl tidak shahih, dan tidak bisa dimutlakkan bahwa sanadnya hasan’.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: