IMAM MASJID TIDAK DISUKAI OLEH JAMA’AHNYA

October 31, 2015 at 2:06 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

IMAM MASJID TIDAK DISUKAI OLEH JAMA’AHNYA

 

Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ: العَبْدُ الآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Ada 3 orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya : budak yang lari dari tuannya, sampai ia kembali lagi kepada tuannya, istri yang suaminya tidur dalam keadaan marah, dan Imam yang tidak disukai oleh jama’ahnya (HR. Tirmidzi dan selainnya, dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

Namun pada kesempatan ini kita akan membahas apa yang dimaksud dengan Imam yang tidak disukai jama’ahnya.

Yang dimaksud imam dalam hadits diatas mencakup Imam besar (pemimpin) dan Imam sholat, menurut Imam Mala`ul Qoriy dalam Misykatul Mashoobih (3/865). Terkait dengan Imam Masjid, apakah hadits diatas dapat dipahami secara mutlak? Yakni bahwa seseorang tidak layak menjadi Imam sholat, jika jama’ah di masjid tersebut tidak menyukainya, atau ada penjelasan rinci dalam masalah ini?

Sejauh ini, saya mendapati penjelasan ulama bahwa yang dimaksud adalah ketika para jama’ah membencinya karena urusan agama, yakni sang Imam tidak berada diatas sunnah dan pengetahuan terkait hukum-hukum keimaman sholat berjama’ah, bukan hanya sekedar alasan dunia atau jama’ahnya yang berada dalam penyimpangan, sehingga ia melihat Imam yang diatas sunnah dianggap tidak sesuai dengan pendiriannya.

Imam Syaukani dalam Nailul Author (3/211) berkata :

وَقَدْ قَيَّدَ ذَلِكَ جَمَاعَة مِنْ أَهْل الْعِلْم بِالْكَرَاهَةِ الدِّينِيَّة لِسَبَبٍ شَرْعِيِّ، فَأَمَّا الْكَرَاهَة لِغَيْرِ الدِّين فَلَا عِبْرَة بِهَا

Kebanyakan ulama mempersyaratkan bahwa ketidaksukaan diatas terkait dengan perkara syar’i, adapun jika ketidaksukaannya bukan karena masalah agama, maka tidak dianggap.

Imam tirmidzi dalam Sunannya setelah meriwayatkan hadits diatas, menukil perkataan Imam Manshuur bin al-Mu’tamir (w. 132 H), salah satu Aimahnya Tabi’in di Kufah, kata beliau :

قَالَ جَرِيرٌ: قَالَ مَنْصُورٌ: فَسَأَلْنَا عَنْ أَمْرِ الإِمَامِ؟ فَقِيلَ لَنَا: «إِنَّمَا عَنَى بِهَذَا الْأَئِمَّةَ الظَّلَمَةَ، فَأَمَّا مَنْ أَقَامَ السُّنَّةَ فَإِنَّمَا الإِثْمُ عَلَى مَنْ كَرِهَهُ»

Kami bertanya tentang masalah Imam diatas?, lalu ada yang menjawab, bahwa yang dimaksud adalah Imam yang dholim, adapun Imam yang menegakkan sunnah, maka dosanya akan ditanggung orang yang membencinya.

Namun sebagian ulama memandang seandainya memang terjadi kondisi seperti diatas, yakni mayoritas jama’ah tidak menyukainya, hendaknya sang Imam tidak memaksakan diri untuk mengimami mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Ikhtiyaroot berkata :

 

وإذا كان بين الإمام والمأمومين معاداة من جنس معاداة أهل الأهواء ، أو المذاهب ، لم ينبغ أن يؤمهم لأن المقصود بالصلاة جماعة الائتلاف ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا تختلفوا فتختلف قلوبكم

Jika antara Imam dan makmum terdapat permusuhan, semacam permusuhan yang terjadi dikalangan ahlu bid’ah atau fanatikus madzhab, maka hendaknya sang Imam tidak mengimami mereka, karena maksud dari sholat berjama’ah adalah persatuan, berdasarkan hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam : “janganlah kalian berselisih, niscaya hati-hati kalian akan berselisih”.

Imam Ibnu Utsaimin juga mengamini pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah diatas, kata beliau dalam Syarhul Mumti’ :

لكن ظاهر الحديث الكراهة مطلقا وهذا أصح ، لأن الغرض من صلاة الجماعة هو الائتلاف والاجتماع وإذا كان هذا هو الغرض فمن المعلوم أنه لا ائتلاف ولا اجتماع إلى شخص مكروه عندهم .ا.هـ.

Namum dhohirnya hadits dibawa kepada ketidaksukaan secara mutlak, dan ini pendapat yang benar, karena tujuan dari sholat berjamaan adalah persatuan dan kebersamaan. Jika ini tujuannya, maka sudah maklum bahwa persatuan dan kebersamaan ini tidak akan didapatkan pada orang yang tidak disukai disisi mereka (dinukil via : http://www.saaid.net/Doat/Zugail/12.htm).

Barangkali jalan tengah dari masalah diatas adalah kita perlu melihat kepada situasi dan kondisinya. Jika memang sang Imam diatas sunnah dan ia diberikan otoritas menjadi Imam Masjid di daerah tersebut, maka ketidaksukaan sebagian jama’ah yang berada didaerah tersebut, karena alasan menjalankan sunah-sunah yang benar dalam penegakkan sholat berjama’ah, tidak perlu menjadikan sang Imam masjid mundur dari kepemimpinan sholat berjama’ah, karena dikhawatirkan orang yang jahil diantara jama’ah tersebut diangkat menjadi Imam sholat, kemudian mereka menghidupkan kembali bid’ah-bid’ah sholat berjama’ah. Namun jika seorang yang iltizam diatas sunnah, kemudian ditawari sewaktu-waktu menjadi imam sholat, sedangkan sudah dimaklumi bahwa mayoritas jama’ahnya tidak menyukainya, karena mereka terbiasa dengan hal-hal bid’ah, yang dianggap sebagai bagian dari “ritual sholat”, maka hendaknya orang tersebut tidak memaksakan diri mengimami sholat mereka –terlebih lagi di negeri kita- biasanya masyarakat akan berbasa-basi menawari orang lain untuk mengimami sholat. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: