KAPAN MULAI MENGANGKAT JARI TELUNJUK PADA SAAT TASYAHUD

November 8, 2015 at 12:20 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KAPAN MULAI MENGANGKAT JARI TELUNJUK PADA SAAT TASYAHUD

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shoolih al-Munajid (http://islamqa.info/ar/165999) menjawab :

Yang pertama : telah tsabit dalam sunah nabawiyyah terkait sifat sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk mengangkat jari telunjuk pada saat tasyahud dalam sholat. Telah berlalu perincian dalil-dalil dalam masalah tersebut di website kami pada jawaban (no. 7570, dan 11527).

Yang kedua : pendapat fuqoha mengatakan bahwa orang yang telah mengisyaratkan jari telunjuk dimana saja pada waktu tasyahud, maka berarti ia telah mengikuti sunnah dan mengikuti petunjuk Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam sholatnya. Hanyalah silang pendapat terjadi terkait masalah keutamaan kapan saat yang tepat untuk mengangkat jari telunjuk. Asy-Syaikh Ahmad al-Barlisiy Umairoh asy-Syafi’iy (w. 957 H) : “kapan pun orang yang sholat (mengangkat jari telunjuk) sebagaimana tatacara yang tadi disebutkan, maka ia telah mengikuti sunah, hanyalah silang pendapat berkaitan dengan masalah keutamaannya saja” (selesai dinukil dari “Haasyiyyah Umairoh” (1/188), lihat juga “al-Majmu” (3/434) karya an-Nawawi.

Khilaf dalam masalah keutamaan tersebut adalah perkara ijtihadiyyah sesuai dengan cara pandangnya, karena tidak ada dalil yang shorih (jelas) terkait kapan waktu mengangkatnya.

Telah datang `sebuah hadits dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ ، وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ يَدْعُو بِهَا ، وَيَدُهُ اليُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ بَاسِطَهَا عَلَيْه

bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam jika duduk (tasyahud) dalam sholat, Beliau meletakkan tangan kanannya diatas pahanya, kemudian mengangkat jari (telunjuknya), berdoa pada saat itu, dan tangan kiri diatas paha kiri, dengan menghamparkannya (HR. Tirmidzi (no. 294, lalu beliau berkomentar : ‘hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu hadits Hasan Ghoriib, kami tidak mengetahui jalannya Ubaidillah bin Umar, kecuali melalui jalan ini. Para ulama memilih pendapat berisyarat pada saat tasyahud, dan ini adalah pendapatnya ashab kami. Hadits ini dishahihkan juga oleh Al Albani dalam Shahih Tirmidzi).

Kalimat : “Beliau mengangkat jari telunjuknya, berdoa pada saat itu”, menunjukkan bahwa mengangkat jari telunjuk adalah dimulai pada saat hendak berdoa ketika tasyahud, dan doa dimulai dengan kalimat 2 syahadat, karena mendahulukan pernyataan dan pengakuan terkait ke-Esa-an Allah Azza wa Jalla, sehingga diharapkan doanya dapat dikabulkan, kemudian setelahnya disyariatkan doa yakni : Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad dan seterusnya sampai akhir salam.

Adapun permulaan tasyahud : “at-Tahiyyaatu lillah dan seterusnya sampai perkataan wa ‘alaa ‘ibaadillahis Shoolihiin”, bukanlah doa, tapi itu adalah pujian kepada Allah dan salam kepada hamba-hamba-Nya.

Atsar yang datang dari shahabat dan Tabi’in terkait masalah ini menunjukkan bahwa isyarat dengan jari telunjuk yang dimaksud dengannnya adalah isyarat kepada tauhid dan keikhlasan, jari yang satu mewakili atas keimanan kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, maka yang sesuai adalah memulai berisyarat pada kalimat syahadat : Asyhadu an laa ilaaha illallah. Oleh karenanya Ibnu Abbas rodhiyallahu anhumaa berkata : “itu adalah keikhlasan”. Ibrohim an-Nakho`i berkata : “jika seseorang berisyarat dengan jari telunjuknya dalam sholat, maka itu adalah bagus, karena itu adalah tauhid” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf 2/368).

Ini adalah sisi pandang dari fuqoha yang berpendapat bahwa isyarat dengan jari telunjuk mulai dilakukan pada saat syahadat tauhid, adapun batas akhirnya, para sahabat yang mensifati mengangkat jari telunjuk tidak menyebutkan kapan Nabi sholallahu alaihi wa salam menurunkannya. Sehingga berisyarat dengan telunjuk adalah sampai selesai salam, terlebih lagi bahwa akhir tasyahud semuanya adalah doa. Abu Abdillah al-Khurosyi al-Maalikiy (w. 1101 H) berkata : “(berisyarat) dimulai dari awal syahadat sampai akhir, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh, dalam yang sesuai dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya bahwa selesai isyarat adalah sampai salam, sekalipun tasyahudnya sangat panjang” –selesai dari syarah mukhtashor Kholiil (1/288).

Syafi’iyyah menyepakati pendapat tersebut bahwa isyarat dimulai ketika kalimat 2 syahadat, namum mereka menambahkan perkara yang rinci dan detail, yang terkadang dikuatkan dengan dalil, mereka mengatakan : “awal mengangkat jari telunjuk adalah ketika sampai kepada kata hamzah pada saat mengucapkan 2 kalimat syahadat “illallah”. Imam Nawawi berkata : “kesimpulan pendapat semuanya, disunahkan berisyarat dengan jari telunjuk kanan dan mengangkatnya ketika sampai huruf hamzah pada kalimat laa ilaaha illallah…” –selesai dari al-Majmu syarah al-Muhadzab (3/434)-. Imam ar-Romliy asy-Syafi’iy berkata : “diangkat jari telunjuk ketika ucapan illallah yakni mulai pada huruf hamzah, untuk mengikuti sebagaimana dalam riwayat Muslim.. ini adalah jelas atau gamblang untuk tetap mengangkatnya sampai nanti mau berdiri (menuju rakaat berikutnya-pent.) atau salam, apa yang dibahwa sejumlah ulama mutaakhirin untuk mengulang-ulanginya adalah menyelisihi apa yang dinukil tadi” –selesai dari Nihaayatul Muhtaaj (1/522)-.

Sebagian ulama mengatakan bahwa isyarat dimulai dari awal tasyahud, karena tasyahud semuanya adalah doa, dan telah tetap hadis bahwa Beliau berdoa pada saat itu, adapun awal tasyahud “at-tahiyyatu lillah…” itu adalah pujian sebagai pembukaan bagi orang yang berdoa, maka ia termasuk doa bukan diluar cakupan doa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “disunahkan berisyarat dengan satu jari telunjuk pada saat tasyahud dan berdoa” (al-ikhtiyaroot (38). Dalam fatwa Lajnah Daimah (7/56) : “isyarat dengan telunjuk sepanjang tasyahud dan menggerak-gerakkannya ketika berdoa dan menggenggam apa yang digenggam oleh jari telunjuk, terus dilakukan sampai salam” –selesai-.

Kesimpulannya masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah khilafiyyah, pendapat-pendapat yang ada terkait dengan cabang yang sedikit dari cabang-cabang dalam gerakan sholat, tidak mengapa orang yang menyelisihi ijthadi ini dan ia mengikuti apa yang menurutnya rojih berdasarkan dalil-dalil yang ada. Lajnah Daimah (5/368) juga berfatwa : “mengangkat jari telunjuk dalam tasyahud adalah sunnah, hikmah berisyarat adalah untuk menunjukkan ke-Esa-an Allah, barangsiapa yang mau ia menggerak-gerakkannya, dan bagi yang mau tidak usah menggerak-gerakkanya. Perkara ini tidak mengharuskan perselisihan dan permusuhan diantara penuntut ilmu, seandainya ia tidak mengangkat sama sekali atau mengangkatnya, namun tidak menggerak-gerakkannya, maka perkaranya adalah mudah tidak boleh menyebabkan pengingkaran dan membuat lari, namun yang sunnah adalah mengangkatnya pada dua tasyahud sampai salam, isyarat kepada tauhid, adapun menggerak-gerakkan adalah pada saat berdoa, sebagaimana telah shahih sunnahnya –selesai-. Lihat juga jawaban dari soal no. 7570. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: