BATAS DZIKIR YANG DIUCAPKAN PADA SAAT TASYAHUD PERTAMA

November 15, 2015 at 2:56 am | Posted in fiqih | Leave a comment

BATAS DZIKIR YANG DIUCAPKAN PADA SAAT TASYAHUD PERTAMA

 

Ikhwah Fillah yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, permasalahan yang akan kita bahas kali ini adalah salah satu permasalahan khilafiyyah yang tidak ada dalil yang shorih (tegas dan jelas) yang dapat menjadi pemutus diantara perbedaan pendapat yang ada. Maka masing-masing pihak beramal sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang ia anggap mendekati kebenaran. Permasalahan tersebut sebagai judul dalam artikel ini adalah batasan dzikir yang diucapkan pada saat orang yang sholat dalam posisi tasyahud awal, misalnya tasyahud pada rokaat kedua sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan semisalnya.

Perlu diketahui bahwa para ulama telah bersepakat disyariatkannya dzikir At-Tahiyyatu ….., lalu dua kalimat syahadat, sholawat dan doa pada saat tasyahud akhir. Namun untuk tasyahud awal, mereka berbeda pendapat apakah bacaan yang disebutkan tadi berlaku juga untuk tasyahud awal, atau tidak. Yakni tasyahud awal, bacaannya lebih pendek dari tasyahud akhir. Pendapat yang mengatakan bahwa tasyahud awal lebih pendek, dianut oleh sebagian Aimah kita, diantara mereka :

  1. Imam Abu Hanifah (w. 150 H), beliau pernah ditanya oleh muridnya Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (w. 189 H), yang didokumentasikan oleh Imam asy-Syaibani dalam kitabnya yang berjudul al-Ashlu al-Ma’ruuf bil Mabshuuth (1/9-10), dimana Imam asy-Syaibaniy pernah bertanya :

قلت أَرَأَيْت الرجل إِذا قعد فِي الصَّلَاة فِي الثَّانِيَة وَالرَّابِعَة كَيفَ يتَشَهَّد قَالَ يَقُول التَّحِيَّات لله والصلوات والطيبات السَّلَام عَلَيْك أَيهَا النَّبِي وَرَحْمَة الله وَبَرَكَاته السَّلَام علينا وعَلى عباد الله الصَّالِحين أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأشْهد أَن مُحَمَّدًا عَبده وَرَسُوله وَلَا يزِيد على هَذَا إِذا قعد فِي الرَّكْعَة الثَّانِيَة شَيْئا وَأما فِي الرَّكْعَة الرَّابِعَة فَإِذا فرغ من هَذَا دَعَا الله عز وَجل وَسَأَلَهُ حَاجته

Soal : apa pendapat anda kepada seseorang yang duduk (tasyahud) di rokaat kedua dan keempat ketika sholat, bagaimana cara tasyahudnya?

Imam Abu Hanifah menjawab : at-Tahiyyatu lillah…..sampai syahadat, ia tidak menambahai bacaan tadi (at-Tahiyyat sampai 2 kalimat syahadat) pada waktu tasyahud di rokaat kedua. Adapun di rokaat 4, setelah selesai at-Tahiyyat…, ia berdoa kepada Allah dan meminta kebutuhannya.

  1. Asy-Syaikh Abu Zaid Syihaabuddin al-Malikiy –salah satu ulama madzhab malikiyyah- dalam Irsyaadus Saalik ilaa Asroofil Masaalik fii Fiqh Imamil Malik (hal. 16) berkata :

وَالْجُلُوسُ لِلتَّشَهُّدِ، وَلَفْظُهُ: التَّحِيَّاتُ لِلّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلّهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ له وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الَّذِي يُسَلِّمُ

Duduk pada saat tasyahud dan lafadznya : at-Tahiyyatu lillah….sampai syahadat. Kemudian membaca sholawat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada saat tasyahud yang ada salamnya.

Pentahqiq kitab diatas, yaitu Ibrohiim bin Hasaan menjelaskan perkataan asy-Syaikh yaitu :

ي في التشهد الأخير، أما التشهد الأول فليس فيه صلاة على النبي صَلى اللهُ عَليه وَسَلَم

Yaitu (sholawat diatas) dibaca pada waktu tasyahud akhir, adapun tasyahud awal, maka tidak dibacakan sholawat Nabi padanya.

  1. Imam Nawawi dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab menjelaskan masalah ini secara rinci, kata beliau :

هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ فِيهِ قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ (الْقَدِيمُ) لَا يُشْرَعُ وَبِهِ قطع أبو حنيفة واحمد واسحق وَحُكِيَ عَنْ عَطَاءٍ وَالشُّعَبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ (وَالْجَدِيدُ) الصَّحِيحُ عِنْدَ الْأَصْحَابِ تُشْرَعُ وَدَلِيلُهُمَا فِي الْكِتَابِ وَحَكَى الْمَحَامِلِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ طَرِيقَيْنِ (أَحَدُهُمَا) هَذَا (وَالثَّانِي) يُسَنُّ قَوْلًا وَاحِدًا وَحَكَى صَاحِبُ الْعُدَّةِ طريقين

(أَحَدُهُمَا) قَوْلَانِ (وَالثَّانِي) لَا يُسَنُّ قَوْلًا وَاحِدًا فَحَصَلَ ثَلَاثُ طُرُقٍ الْمَشْهُورُ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلَانِ وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تُسَنُّ وَهُوَ نَصُّهُ فِي الْأُمِّ وَالْإِمْلَاءِ وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى الْآلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ فَفِيهِ طَرِيقَانِ (أَحَدُهُمَا) وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ الْعِرَاقِيِّينَ لَا يُشْرَعُ (وَالثَّانِي) حَكَاهُ الْخُرَاسَانِيُّونَ أَنَّهُ يَبْنِي عَلَى وُجُوبِهَا فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ فَإِنْ لَمْ نُوجِبْهَا وَهُوَ الْمَذْهَبُ لَمْ تُشْرَعْ هُنَا وَإِلَّا فَقَوْلَانِ كَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّافِعِيُّ فَإِنْ قُلْنَا لَا تُسَنُّ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَلَا فِي القنوت ففعلهما في احدهما أو اوجبناها على الاول فِي الْأَخِيرِ وَلَمْ نَسُنَّهَا فِي الْأَوَّلِ فَإِنْ أَتَى بِهَا فِيهِ فَقَدْ نَقَلَ رُكْنًا إلَى غَيْرِ مَوْضِعِهِ وَفِي بُطْلَانِ الصَّلَاةِ بِهِ خِلَافٌ وَتَفْصِيلٌ يَأْتِي إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

* (فَرْعٌ) قَالَ أَصْحَابُنَا يُكْرَهُ أَنْ يَزِيدَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ عَلَى لَفْظِ التَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآلِ إذَا سَنَنَّاهُمَا فَيُكْرَهُ أَنْ يَدْعُوَ فِيهِ أَوْ يُطَوِّلَهُ بِذِكْرٍ آخر فال فَإِنْ فَعَلَ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ وَلَمْ يَسْجُدْ لِلسَّهْوِ سَوَاءٌ طَوَّلَهُ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا هَكَذَا نَقَلَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَاتَّفَقَ الْأَصْحَابُ عَلَيْهَا

Apakah disyariatkan sholawat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam setelah bacaan tasyahud awal?, maka dalam hal ini ada 2 pendapat yang masyhur. Pendapat Imam Syafi’I yang lama, hal tersebut tidak disyariatkan, ini juga ditegaskan oleh Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, riwayat dari ‘Athoo`, asy-Sya’biy, an-Nakho’iy dan ats-Tsauriy. Adapun pendapat yang baru, dan ini dirajihkan oleh ashab Syafi’iy, bahwa hal tersebut disyariatkan. Dalil untuk keduanya ada dalam kitab ini, diriwayatkan oleh al-Muhaamiliy dalam al-Majmu’ ada dua jalan yang pertama seperti tadi, sedangkan jalan yang kedua, disunnahkan sekali ucapan. Penulis al-‘Uddah meriwayatkan 2 jalan, yang pertama 2 pendapat tadi dan yang kedua tidak disunnahkan sekali ucapan. Maka kesimpulannya ada 3 jalan yang masyahur dalam masalah ini adalah 2 pendapat, dan yang rajih bahwa sholawat kepada Nabi disunahkan ini ternashkan dalam Al Umm dan imla dari Imam Syafi’i.

Adapun sholawat kepada keluarga Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada tasyahud awal, maka ada 2 jalan yang pertama ditegaskan oleh penulis dan kebanyakan ulama Irak hal tersebut tidak disyariatkan, sedangkan yang kedua diriwayatkan oleh ulama Khurosaan bahwa hal tersebut didasarkan kepada wajibnya sholawat kepada keluarga Nabi pada saat tasyahud akhir, sekalipun kami tidak mewajibkannya dan ini pendapat madzhab, maka tidak disyariatkan disini, jika tidak maka seperti 2 pendapat sebagaimana sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Ar-Rofi’I berkata, jika kami katakan tidak disunnahkan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud awal dan qunut, maka berdasarkan kedua hal tersebut atau salah satunya, atau kami wajibkan sholawat tadi pada tasyahud akhir dan kami tidak sunahkan untuk tasyahud awal. Jika ada yang mengerjakannya maka telah dinukil suatu rukun yang bukan pada tempatnya, terkait batal sholatanya, maka ada perbedaan yang perinciannya akan datang –Insya Allah-.

Madzhab kami mengatakan dimakruhkannya menambahi tasyahud awal lebih dari bacaan tasyahud dan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Adapun sholawat kepada keluarga Nabi, jika kami menyunahkannya, maka dibenci untuk berdoa atau memperpanjang dzikir padanya. Jika ada yang melakukannya, tidak membatalkan sholatnya dan tidak perlu sujud sahwi, sama saja apakah memanjangkannya tadi karena sengaja atau lupa, demikian penukilan secara global masalah ini yang dilakukan oleh asy-Syaikh Abu Haamid dari nashnya Syafi’I dan disepakati oleh madzhab kami.

  1. Asy-Syaikh Abu Najaa Musa bin Ahmad al-Hijaawiy –salah satu ulama madzhab hanbali- dalam kitabnya Zaadul Mustaqni’ (hal. 46) berkata :

ويقول: التحيات لله والصلوات والطيبات السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله هذا التشهد الأول ثم يقول اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد ويستعيذ من عذاب جهنم وعذاب القبر وفتنة المحيا والممات وفتنة المسيح الدجال ويدعو بما ورد ثم يسلم عن يمينه: السلام عليكم ورحمة الله وعن يساره كذلك.

Ia mengucapkan : at-Tahiyyatu lillah…sampai 2 kalimat syahadat. Ini adalah tasyahud awal, kemudian ia mengatakan Allahummah sholli ‘alaa Muhammad….

Imam Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin dalam syarahnya terhadap kitab diatas yaitu Syaroh Mumti’ (3/161) menjelaskan :

ظاهر كلام المؤلِّف أنه لا يزيد في التشهُّدِ الأولِ على ما ذَكَرَ. وعلى هذا؛ فلا يستحبُّ أن تُصلِّيَ على النبيِّ صلّى الله عليه وسلّم في التشهُّد الأوَّل، وهذا الذي مشى عليه المؤلِّف ظاهرُ السُّنَّة، لأنَّ الرسول صلّى الله عليه وسلّم لم يُعلِّم ابنَ مسعود (1) وابنَ عباس (2) إلا هذا التشهُّد فقط، وقال ابنُ مسعود: «كُنَّا نقولُ قبلَ أن يُفرضَ علينا التشهُّدِ» (3) وذكر التشهد الأول فقط؛ ولم يَذكرِ الصَّلاةَ على النبيِّ صلّى الله عليه وسلّم في التشهُّدِ الأول. فلو كان سُنَّةً لكان الرسول عليه الصَّلاةُ والسَّلامُ يعلِّمهم إيَّاه في التشهُّدِ.

Dhohirnya ucapan penulis adalah tidak adanya tambahan pada tasyahud awal sebagaimana yang telah disebutkan, oleh karena itu, maka tidak disunahkan untuk bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud awal. Apa yang disampaikan oleh penulis telah sesuai dengan dhohirnya hadis, karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak mengajari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu dan juga Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, kecuali bacaan tasyahudi ini. Ibnu Mas’ud berkata : “kami mengatakan sebelumnya diwajibkannya tasyahud kepada kami… lalu disebutkan bacaan tasyahud awal saja, tidak disebutkan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud awal, seandainya hal tersebut sunah, niscaya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan mengajarkan sholawat ini dalam tasyahud.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tasyahud awal juga dibaca lengkap sampai sholawat kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Nabi Ibrohim ‘alaihi as-Salaam dan keluarga mereka semua, sebagaimana dalam tasyahud akhir, telah dibela dengan sangat jelas dan rinci oleh Imam al-Albani dalam kitab monumental “Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam”. Beliau menjelaskan secara panjang lebar dalam kitab yang dipublikasikan setelah beliau wafat, yang merupakan catatan-catatan yang berfaedah dalam bukunya yang tadi disebutkan yaitu Ashlu Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, keterangan beliau dapat dibaca mulai dari juz ke-3 hal. 904-913 (pen. Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh cet. Ke-1 2006 M), diawalnya beliau berkata :

قلت: فكما أن السلام عليه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يشرع في كل تشهد، فكذلك تشرع الصلاة عليه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعد كل تشهد، سواء في الجلوس الأول أو الآخر؛ لعموم الأدلة، وإطلاقها: فمنها: قوله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} . قال ابن القيم في كتابه القيم ” جلاء الأفهام ” (249) :

” فدل على أنه حيث شرع التسليم عليه شرعت الصلاة عليه؛ ولهذا سأله أصحابه عن كيفية الصلاة عليه وقالوا: قد علمنا كيف نسلم عليك؛ فكيف نصلي عليك؟ فدل على أن الصلاة عليه مقرونة بالسلام عليه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ومعلوم أن المصلي يسلم على النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يعني: في التشهد الأول -؛ فيشرع له أن يصلي عليه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “.

Sebagaimana salam kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam disyariatkan disetiap tasyahud, maka demikian juga disyariatkan sholat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam setelah bacaan tasyahud, sama saja apakah tasyahud awal ataupun akhir, karena keumuman dalil dan kemutlakkannya, diantaranya Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, maka wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kepadanya dan ucapkan salam kepadanya}. Ibnul Qoyyim dalam “Jalaa`ul Afhaam” (hal. 249) : ‘maka ini menunjukkan dimana disyariatkan salam kepada Nabi, maka disyariatkan juga sholawat kepadanya, oleh karenanya para sahabatnya bertanya kepada Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam tentang tata cara sholawat kepadanya, mereka berkata : “engkau telah mengajarkan kepada kami cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat kepada engkau?..maka ini menunjukkan bahwa sholawat kepada Nabi dibarengkan dengan salam kepadanya, dan diketahui bahwa orang yang sholat mengucapkan salam kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, yaitu dalam tasyahud awal, maka disyariatkan juga sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada (tasyahud awal juga-pent.) –selesai-.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan mutlaknya bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud.

Sisi perbedaan pendapat adalah didalam memandang hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat tasyahud. Imam Bukhori dan selainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Sakhbaroh, ia berkata :

سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ: «التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

Ana mendengar Ibnu Mas’ud berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengajariku tasyahud, kedua tanganku memegangi tangan Beliau, sebagaimana Beliau mengajariku juga surat dalam Al Qur’an yaitu : at-Tahiyyatu lillah….sampai 2 kalimat syahadat”.

Sisi pengambilan hukum dari hadits diatas yang dianut oleh para ulama yang mengatakan bahwa tasyahud awal adalah cukup sampai 2 kalimat syahadat, karena disini Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengajarkan bacaan tasyahud kepada Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu sampai 2 kalimat syahadat, seandainya sholawat termasuk bagian dari bacaan tasyahud (awal), maka niscaya Nabi sholallahu alaihi wa salam juga akan mengajarkannya.

Dalil lain yang menguatkan bahwa tasyahud awal bacaannya lebih ringkas atau lebih pendek adalah hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i dan selainnya bahwa beliau rodhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ كَأَنَّهُ عَلَى الرَّضْفِ “، قُلْتُ: حَتَّى يَقُومَ؟ قَالَ: ” حَتَّى يَقُومَ “

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pada 2 rakaat (yang pertama) seperti besi yang dipanaskan. Ana bertanya : ‘hingga Beliau berdiri?’, Ibnu Mas’ud menjawab : “sampai Beliau berdiri”.

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Aabid as-Sindiy dalam “ta’liqnya terhadap Musnad Syafi’i” menerangkan yang dimaksud dengan ar-Rodhfi, kata beliau :

الرضف بفتح أوله وسكون ثانيه جمع رضفة وهي الحديدة المحماة في النار أو في الشمس ويؤخذ من الحديث أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان يخفف التشهد الذي يلي الركعتين ويسرع بالقيام وهذا مستحب عند المالكية

Ar-Rodhfu dengan memfathah huruf pertamanya (Ro) dan mensukunkan huruf keduanya (dhod) adalah jamak dari Rhodofah yaitu besi yang dipanaskan dengan api atau sinar matahari. Yang dimaksud dari hadits ini adalah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam meringankan/meringkas tasyahud (awal) dimana masih ada 2 rokaat lagi, Beliau segera bangkit (untuk melanjutkan sisa rokaat berikutnya –pent.) ini disunahkan menurut Maalikiyyah.

Seandainya hadits ini shahih, maka ini adalah isyarat yang menguatkan bahwa memang tasyahud awal bacaannya lebih ringkas, namun sayang didalam sanadnya terjadi keterputusan, karena Abu Ubaidah salah satu perowinya yang merupakan anak dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu tidak pernah mendengar dari Bapaknya yakni Ibnu Mas’ud, sehingga sanadnya terputus. Oleh karenanya Imam Nawawi dalam al-Majmu’, Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya, serta asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad mendhoifkan hadits Ibnu Mas’ud diatas. namun barangkali hadits ini dikuatkan juga oleh riwayat mauquf dari Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu yang ditulis oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf (no. 3017) beliau berkata :

حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ: «كَانَ أَبُو بَكْرٍ، إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ كَأَنَّهُ عَلَى الرَّضْفِ، يَعْنِي، حَتَّى يَقُومَ»

Haddatsanaa Jariir, dari Manshuur, dari Tamiim bin Salamah beliau berkata : “Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu jika duduk di 2 rokaat (awal), seolah-olah seperti besi yang dipanaskan, yakni sampai berdiri”.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhisul Habiir mengatakan sanadnya shahih.

Adapun ulama yang mengatakan bahwa tasyahud awal dibaca full sama seperti tasyahud akhir, mereka berdalil dengan keumuman hadits-hadits pengajaran cara membaca sholawat yang diajarkan Nabi kepada para sahabatnya ketika tasyahud, seperti hadits Abu Mas’ud ‘Uqbaah bin ‘Aamir Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya, beliau berkata :

أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ، فَقَدْ عَرَفْنَاهُ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا فِي صَلَاتِنَا صَلَّى الله عَلَيْكَ؟ قَالَ: فَصَمَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ. فَقَالَ: ” إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا: اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ “

Seorang laki-laki menghadap kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sehingga ia duduk dihadapan Beliau, dan kami ketika itu berada disamping Beliau, ia berkata : “wahai Rasulullah, adapun salam kepadamu, kami sudah mengetahuinya, maka bagaimana kami bersholawat kepadamu, jika kami mengerjakan sholat?, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam diam hingga kami mengharapkan agar laki-laki tersebut tidak bertanya kepada Beliau lagi. Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “jika kalian ingin mengucapkan sholawat kepadaku ucapkanlah : Allahumma sholli ‘ala Muhammad …dst”.

Hadits diatas dishahihkan oleh Imam Hakim, lalu disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, dan juga dishahihkan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth. Imam Al Albani memberikan penilaian hasan untuk hadits ini.

Ulama yang mengatakan bahwa sholawat dibaca juga pada tasyahud awal, karena pada waktu tasyahud awal ada salam kepada Nabi, dan dimana ada salam disitu juga disyariatkan sholawat, sebagaimana dalam surat al-Ahzab ayat yang ke-56, dimana Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Dalam ayat yang mulia ini Allah membarengkan antara sholawat dan salam kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, dan hadits Abu Mas’ud al-Anshori Rodhiyallahu ‘anhu diatas menunjukkan bahwa ketika dibacakan salam disitu, maka sholawat dibacakan juga.

Mana yang rajih dari 2 pendapat diatas?, tentunya sebelum menentukan mana yang rajih, telah disampaiak diawal, bahwa tidak ada dalil yang jelas dan tegas yang dapat menjadi kata pemutus untuk menentukan mana yang rajih. Dan ini adalah masalah khilafiyyah ijtihadiyyah, masing-masing orang mengamalkan apa yang diyakini lebih mendekati kepada kebenaran.

Namun saya mencoba untuk memberikan suatu gambaran, ketika harus memilih diantara satu dari 2 pendapat ini mana yang lebih kuat. Kita perlu “merekontruksi” hadits-hadits yang ada yang berkaitan dengan bacaan tasyahud. Tasyahud awal adalah tasyahud pada rokaat kedua atau rokaat lainnya dimana masih ada sisa rokaat lain yang harus dikerjakan kembali, singkat kata ini adalah tasyahud yang bukan merupakan bagian akhir dari sholat yang kemudian ditutup dengan salam. Sedangkan tasyahud akhir ditutup dengan salam.

Telah datang nash yang shorih / jelas dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam melalui Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika kalian telah selesai dari tasyahud akhir, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari 4 perkara : dari adzab jahannam, adzab qubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta kejelekan al-masih ad-dajjaal (HR. Muslim).

Permohonan ta’awudz ini dirangkaikan dengan doa, sebagaimana hadis Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ صَلَاتِهِ فَلْيَدْعُ بِأَرْبَعٍ ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Jika kalian telah selesai dari sholat, maka berdoalah dari 4 hal, lalu berdoa setelahnya menurut yang kalian kehendaki.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubro (no. 2883), kemudian dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar menurut penukilan dari Imam Al Albani.

Dari dua hadits diatas kita mulai “merekontruksi” bahwa khusus di tasyahud akhir ada permohonan perlindungan dari 4 hal, kemudian doa sekehendaknya sebelum salam. “rekontruksi” ini kita akhiri dengan hadits Fadhoolah bin ‘Ubaid Rodhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata :

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ اللَّهَ تَعَالَى، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجِلَ هَذَا»، ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ: – أَوْ لِغَيْرِهِ – «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ»

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mendengar seorang berdoa dalam sholatnya, namun tidak memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “orang ini tergesa-gesa”, lalu orang tersebut dipanggil lalu Beliau berkata kepadanya atau kepada orang lain : “jika kalian sholat, mulailah dengan pujian kepada Rabb-Nya, lalu bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, kemudian berdoa setelah, sekehendaknya”.

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth.

Dari hadits ketiga ini kita sempurnakan rekontruksinya bahwa pada saat tasyahud akhir, maka dimulai dengan bacaan tasyahud yaitu at-Tahiyyatu lillah…sampai 2 kalimat syahadat, dan ini adalah puja-puji kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, kemudian dilanjutkan dengan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu berdoa, diawali dengan memohon perlindungan dari 4 hal yaitu, adzab jahanam, adzab qubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Dajjaal, lalu dilanjutkan berdoa sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian ditutup dengan salam. Oleh karenanya bacaan sholawat dikhususkan untuk tasyahud akhir, adapun tasyahud awal maka bacaannya adalah at-Tahiyyat sampai 2 kalimat tasyahud, sehingga sebagian ulama menamakan bacaan at-Tahiyyat sampai 2 kalimat tasyahud dengan at-Tasyahud. Misalnya apa yang dikatakan oleh Imam al-Hasan al-Bashri sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf (no. 3021) :

لَا يَزِيدُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ عَلَى التَّشَهُّدِ

Tidak ada tambahan pada 2 rakaat pertama, selain bacaan tasyahud.

Kesimpulannya, jika kami diminta untuk merajihkan maka yang rajih adalah pendapat ulama 4 madzhab bahwa tasyahud awal hanya dibaca sampai 2 kalimat tasyahud saja. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: