MEMBACA KERAS DAN LIRIH PADA SHOLAT 5 WAKTU

November 20, 2015 at 12:01 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MEMBACA KERAS DAN LIRIH PADA SHOLAT 5 WAKTU

 

Imam Al Albani dalam kitabnya Ashlu Sifat Sholat Nabi yang diterbitkan setelah beliau wafat atas prakarsa beberapa murid beliau. Kitab ini diterbitkan oleh Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh, dan yang saya nukil adalah cetakan pertama tahun 1427 H bertepatan dengan tahun 2006. Beliau berkata di jus 2 halaman 413 :

وكان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يجهر بالقراءة في صلاة الصبح، وفي الركعتين الأُوليَين من المغرب والعشاء، ويسر بها في الظهر والعصر، والثالثة من المغرب، والأُخْرَيَيْنِ من العشاء

Nabi sholallahu alaihi wa salam mengeraskan bacaan (Al Fatihah dan surat –pent.) pada saar sholat Subuh, dua rokaat pertama sholat Maghrib dan Isya. Dan Beliau melirihkan bacaan pada sholat Dhuhur, Ashar, rokaat ketiga Maghrib dan 2 rokaat terakahir sholat Isya.

Kemudian Imam Al Albani memberikan catatan kaki terhadap pernyataan diatas, dengan menulis :

وقد ذكر النووي في ” المجموع ” (3/389) إجماع المسلمين على ذلك كله بنقل الخلف عن السلف، مع الأحاديث الصحيحة المتظاهرة على ذلك. قلت: وسيأتي بعضها في (ما كان يقرؤه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الصلوات) ، وممن نقل الاتفاق على ذلك: ابن حزم في ” مراتب الإجماع ” (33) ، وأقره شيخ الإسلام ابن تيمية. {وانظر ” الإرواء ” (345) }

Imam Nawawi telah menyebutkan dalam Al-Majmu (3/389) ijma’ (kesepakatan) ulama Islam atas hal tersebut, dengan penukilan kholaf dari salaf, bersamaan dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan hal tersebut. (Al Albani) berkata : ‘akan datang penjelasan sebagian hadits tersebut dalam bab “apa yang dibaca Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam sholat-sholatnya”. Diantara ulama yang menukil kesepakatan tersebut juga adalah Imam Ibnu Hazm dalam “Marootibul Ijma’” (hal. 33), dan disetujui oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. (lihat Irwaul Gholil hadits no. 345).

Kemudian pada halaman-halaman berikutnya di kitab yang kami sebutkan diatas, Imam Al Albani menyebutkan juga bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengeraskan bacaan pada waktu sholat Jum’at, sholat 2 hari raya, sholat gerhana, sholat minta hujan (Istisqa’), dan terkadang juga dalam sholat malamnya. Silakan merujuk kitab tersebut untuk melihat dalil-dalil dan pendapat ulama terkait masalah ini.

Namun saya belum mendapatkan keterangan yang tegas dari Imam Al Albani dalam kitab tersebut terkait mengeraskan atau melirihkan bacaan apakah wajib atau sunnah pada kondisi-kondisi yang disebutkan diatas. Asy-Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah (1/158) mengatakan :

والسنة أن يجهر المصلي في ركعتي الصبح والجمعة، والاوليين من المغرب والعشاء، والعيدين والكسوف والاستسقاء، ويسر في الظهر والعصر، وثالثة المغرب والاخريين من العشاء. وأما بقية النوافل، فالنهارية لا جهر فيها، والليلية يخير فيها بين الجهر والاسرار. والافضل التوسط.

Sunnah orang yang sholat untuk mengeraskan bacaan pada 2 rokaat Subuh dan Jum’at, 2 rokaat pertama Maghrib dan Isya, 2 hari raya, sholat gerhana, sholat minta hujan, dan (disunahkan juga) melirihkan bacaan pada shola Dhuhur, Ashar, rokaat ketika sholat Maghrib dan 2 rokaat terakhir Isya. Adapun sholat sunah lainnya, pada waktu siang tidak mengeraskan bacaan, sedangkan pada waktu malam dapat memilih mengeraskan atau melirihkannya, yang lebih utama adalah tengah-tengah.

Namun asy-Syaikh Abdur Rokhman bin Muhammad al-Jazairi (w. 1360 H) menginformasikan kepada kita bahwa madzhab Hanafiyyah mengatakan dalam masalah mengeraskan dan melirihkan sholat 5 waktu sebagaimana yang disebutkan diatas, mereka hukumi sebagai wajib. Namun wajib yang dimaksud oleh mereka adalah :

واجبات الصلاة لا تبطل بتركها، ولكن المصلي إن تركها سهواً فإنه يجب عليه أن يسجد للسهو بعد السلام، وإن تركها عمداً؛ فإنه يجب عليه إعادة الصلاة فإن لم يعد كانت صلاته صحيحة مع الإثم

Hal-hal yang wajib dalam sholat adalah tidak batas sholatnya bagi yang tidak mengerjakannya, namun bagi orang yang sholat jika meninggalkannya karena lupa, maka ia wajib untuk sujud sahwi setelah salam, jika ia meninggalkannya karena sengaja, maka ia wajib mengulangi sholatnya, jika tidak mengulangi sholatnya tetap sah, namun berdosa (lihat juz 1 hal. 217-218, kitab diatas).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: