BOLEHKAH MEMBACA SURAT SETELAH AL FATIHAH PADA ROKAAT KETIGA SHOLAT MAGHRIB DAN 2 ROKAAT TERAKHIR DHUHUR DAN ASHAR

November 21, 2015 at 11:20 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

BOLEHKAH MEMBACA SURAT SETELAH AL FATIHAH PADA ROKAAT KETIGA SHOLAT MAGHRIB DAN 2 ROKAAT TERAKHIR DHUHUR DAN ASHAR

 

Untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita lihat kitab-kitab ulama madzhab :

  1. Madzhab Hanafi
  2. Al-Muhiit al-Burhaaniy fii al-Fiqh an-Nu’maaniy (1/309) karya Mahmuud bin Ahmad (w. 616 H) :

لأن قراءة السورة غير مشروعة في الأخراوين

Karena membaca surat pada 2 rokaat terakhir (sholat Isya dan semisalnya –pent.) tidak disyariatkan.

  1. Haasyiyyah asy-Syilbiy (1/105) karya Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Yunus (w. 1021 H) :

وَفِي الْيَتِيمَةِ سُئِلَ عَبْدُ الرَّحِيمِ عَمَّنْ نَسِيَ قِرَاءَةَ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ مِنْ التَّطَوُّعِ هَلْ يَلْزَمُهُ سُجُودُ السَّهْوِ فَقَالَ يَلْزَمُهُ قِيلَ لَهُ فَلَوْ تَرَكَهَا عَامِدًا قَالَ يُكْرَهُ

Dalam al-Yatiimah, Abdur Rokhim pernah ditanya orang yang lupa membaca surat di 2 rokaat terakhir sholat tathowu’, apakah diharuskan sujud sahwi?, beliau menjawab : “harus”, ditanyakan lagi, kalau ia sengaja tidak sujud sahwi?, jawabnya : “dimakruhkan”.

 

  1. Madzhab Maliki
  2. Syarah Mukhtashor Kholiil (1/275) karya Muhammad bin Abdullah al-Khurosyi (w. 1101 H) :

وَكُرِهَ قِرَاءَةُ السُّورَةِ فِي ثَالِثَةِ ثُلَاثِيَّةٍ وَأَخِيرَتَيْ رُبَاعِيَّةٍ

Dimakruhkan membaca surat pada rokaat ketiga yang sholatnya terdiri dari  3 rokaat dan 2 rokaat terakhir sholat 4 rokaat.

  1. Al-Fawaakih ad-Diwaaniy (1/196) karya Ahmad bin Ghoonim (w. 1120 H) :

إنَّمَا قَالَ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَحْدَهَا مَعَ عَدَمِ تَوَهُّمِهِ لِقَصْدِ الرَّدِّ عَلَى مَنْ يَقُولُ بِأَنَّ السُّورَةَ تُزَادُ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ كَالْأُولَيَيْنِ وَهُوَ ضَعِيفٌ، بَلْ ظَاهِرُ كَلَامِ الْأَصْحَابِ كَرَاهَةُ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ مَعَ الرُّبَاعِيَّة كَالثَّالِثَةِ مِنْ الثُّلَاثِيَّةِ، وَحُجَّةُ الْمَشْهُورِ مَا فِي الصَّحِيحَيْنِ: «أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الْأَخِيرَتَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ»

Hanyalah (Imam Abu Zaid al-Qoiruwaniy) mengatakan 2 rokaat terakhir (sholat Dhuhur) cukup dengan membaca Al Fatihah saja, tanpa memberikan penjelasan untuk membantah orang yang mengatakan bahwa surat dibaca juga pada 2 rokaat terakhir, sebagaimana 2 rokaat yang pertama, dan ini adalah pendapat yang lemah, bahkan pendapat yang jelas dalam madzhab Maliki dimakruhkannya membaca surat pada 2 rokaat terakhir sholat 4 rokaat dan pada rokaat ketiga sholat 3 rokaat. Dalil yang masyhur adalah apa yang terdapat dalam Shahihain : “bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam membca pada waktu Dhuhur di 2 rokaat pertama surat Al Fatihah dan 2 surat, sedangkan pada 2 rokaat terakhir (Cuma) Al Fatihah.

  1. Madzhab Syafi’i
  2. Nihaayatul Mutholib (2/153-154) karya Imamul Haromain (w. 478 H) :

وهل تستحب قراءة السورة في الثالثة من المغرب، والركعتين الأخريين من الصلوات الرباعية؟ فعَلى قولين منصوصين: أحدهما -وإليه ميل النصوص الجديدة- أنها مستحبة في كل ركعة على إثر الفاتحة، لما روي عن أبي سعيد الخدري أنه قال: “حزرنا قراءة رسول الله صلى الله عليه وسلم في الركعتين الأوليين من الظهر، فكانت قدر سبعين آية، وحزرنا قراءته في الركعتين الأخريين، فكان على النصف من ذلك”

والقول الثاني -وعليه العمل- إن قراءة السورة لا تستحب بعد الركعتين الأوليين؛ فإن بناء ما بعداهما من الركعات على التخفيف، ويشهد له أنه لا يستحب فيهما الجهر في الصلوات الجهرية، ومن يرى قراءة السورة في الركعتين الأُخريين يؤثر أن تكون أخفَّ من الركعتين الأوليين، ويشهد له حديث أبي سعيد الخدري.

Apakah dianjurkan membaca surat pada rokaat ketiga Maghrib dan 2 rokaat terakhir pada sholat 4 rokaat?, ada 2 pendapat yang ternashkan :

  1. ini adalah pendapat jadiid, hal tersebut disunahkan pada setiap rokaat tambahan dari Al Fatihah, sebagaimana hadits Abu Said al-Khudri rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata : “kami mengamati bacaan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada 2 rokaat pertama, maka itu seukuran 70 ayat dan bacaan pada 2 rokaat terakhir itu setengahnya.
  2. ini yang diamalkan, bahwa membaca surat tidak dianjurkan setelah 2 rokaat pertama, karena dibangun berdasarkan rokaat-rokaat setelahnya lebih ringan, dan diperkuat dengan tidak adanya jahr pada waktu sholat-sholat jahriyyah.

Adapun ulama yang berpendapat untuk membaca surat pada 2 rokaat terakhir, berdasarkan fakta bahwa 2 rokaat terakhir bacaannya lebih pendek dari 2 rokaat pertama dan diperkuat dengan hadits Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu.

  1. Al-Bayaan fii Madzhabil Imam Syafi’i (2/203) karya Yahya bin Abil Khoir (w. 558 H) :

وهل تستحب قراءة السورة فيما زاد على ركعتين؟ فيه قولان:

[الأول] : قال في القديم: (لا يستحب)

قال أبو إسحاق المروزي: وهو الصحيح – وبه قال مالك، وأبو حنيفة – لما روى أبو قتادة: «أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كان يقرأ السورة في الأوليين دون الأخريين» .

و [الثاني] : قال في الجديد: (يستحب أن يقرأ السورة فيهما) .

قال الشيخ أبو حامد: وهو الصحيح؛ لحديث أبي سعيد الخدري.

Apakah dianjurkan membaca surat setelah 2 rokaat pertama? Ada 2 pendapat :

  1. dalam ucapan qodiim tidak dianjurkan, Abu Ishaq al-Mawarzi mengatakan ini yang rajih, dan ini juga pendapatnya Malik, dan Abu Hanifah berdasarkan hadits Abu Qotadah (yang lalu).
  2. ucapan jadiid, dianjurkan, Syaikh Abu Haamid mengatakan ini yang rajih berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudriy rodhiyallahu anhu.
  3. Madhzab Hanbali
  4. Ikhtilaf Aimatil Ulama (1/113) karya Yahya bin Hubairoh (w. 560 H) :

وَاخْتلفُوا فِي قِرَاءَة السُّورَة بعد الْفَاتِحَة فِي الْأُخْرَيَيْنِ من كل ربَاعِية، والأخيرة من الْمغرب هَل يسن؟ .

فَقَالَ أَبُو حنيفَة وَمَالك وَأحمد وَالشَّافِعِيّ فِي أحد قَوْلَيْنِ: لَا يسن، وَقَالَ فِي القَوْل الآخر: يسن.

Para ulama berbeda pendapat tentang membaca surat setelah Al Fatihah pada 2 rokaat terakhir sholat 4 rokaat dan rokaat terakhir sholat Maghrib, apakah disunahkan?

Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i dalam salah satu pendapatnya mengatakan tidak disunahkan, namun dalam pendapatnya yang lain Syafi’i mengatakan disunahkan.

Pendapat yang rajih diperbolehkan membaca surat sebagaimana pertanyaan dalam judul artikel ini, karena diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar rodhiyallahu anhu, sebagaimana dinukil oleh Imam Al Albani dalam Ashlu Sifat Sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam (2/468) :

وبعضهم كان يقرأ – ومن هؤلاء أبو بكر الصديق رضي الله عنه -؛ ففي ” الموطأ ” (1/100) ، ومن طريقه البيهقي (2/64 و 391) : أن أبا بكر رضي الله عنه قرأ في الركعة الثالثة من المغرب بـ: {أم القرآن} وهذه الآية: {رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا … } الآية. وسنده صحيح – كما قال النووي (3/383) -.

Sebagian sahabat membaca surat, diantara mereka adalah Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu, dalam al-Muwatho’ (1/100) dari jalan Baihaqi (2/64, 391) bahwa Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu membaca pada rokaat ketiga Al Fatihah dan ayat ini : “(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” {QS. Ali Imron : 8}. [sanadnya shahih, sebagaimana dikatakan Nawawi (3/383)].

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: