APAKAH MAKMUM MASBUK MENGERASKAN BACAAN PADA ROKAAT YANG DIGANTIKANNYA

November 22, 2015 at 12:32 am | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH MAKMUM MASBUK MENGERASKAN BACAAN PADA ROKAAT YANG DIGANTIKANNYA

 

Makmum masbuk adalah orang yang ketinggalan 1 atau beberapa rokaat bersama imam sholat. Makmum dihitung mendapatkan rokaat adalah minimal ketika ia mendapati Imam sedang ruku’ –sekalipun ada perbedaan pendapat dikalangan ulama terkait hal ini-, dan kami telah memiliki tulisan terkait pembahasan kapan seorang makmum mendapatkan rokaat bersama imam, silakan merujuk kesana. Dan cara menghitung ketinggalannya adalah ia jadikan rokaat yang bersama imam sebagai rokaat pertamanya. Misal seorang makmum mendapati imam sholat Isya sedang ruku’ pada rokaat kedua, maka ia mendapatkan 3 rokaat bersama imam. Ia hitung rokaat kedua imam sholat Isya yang ia dapati sebagai rokaat pertama sholatnya, sehingga ketika ia menyempurnakan 1 rokaat yang ketinggalan, berarti itu adalah rokaat ke-empatnya, dimana disyariatkan hanya membaca al Fatihah secara lirih.

Permasalahan kita kali ini adalah apabila makmum masbuk menyelesaikan rokaat yang ketinggalan, dimana rokaat tersebut disyariatkan membaca dengan jahr / keras. Misalnya ia ketinggalan 1 rokaat sholat Subuh, dan kita ketahui bersama bahwa 2 rokaat sholat subuh bacaan Al Fatihah dan surat dibaca keras, sedangkan pada tulisan kami sebelumnya, jumhur ulama menyamakan hukum jahr dan sirr sama seperti jahr dan sir imam sholat, artinya seorang yang masbuk dianggap sebagai orang yang sholat munfarid / sendirian, ketika menyempurnakan rokaat yang ketinggalan. Sehingga dalam persoalan diatas apakah makmum masbuq perlu membaca al fatihan dan surat dengan jahr / keras atau lirih?

Tim fatwa Islam dalam soal no. 79444 telah membahas permasalahan kita ini, berikut kami nukilkan untuk pembaca yang mulia :

هل يصح أن يأتي المسبوق في صلاة الصبح بالركعة الأولى  سرا، وليس جهرا؟مع المعلوم أن صلاة الصبح جهرية.جزاكم الله خيرا.

الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فمن أدرك الركعة الثانية من صلاة الفجر مع إمام وفاتته الأولى، فبعد سلام الإمام يقوم المسبوق بقضاء تلك الركعة، لكن هل يجهر بالقراءة فيها أم لا ؟ اختلف أهل العلم في ذلك، فعند المالكية يجهر بالقراءة بالقدر الذي لا يشوش على غيره من المصلين، قال الحطاب في مواهب الجليل وهو مالكي: وقال في المدخل في آخر الفصل الأول من فصول العالم في الكلام على القراءة بالجهر وفي المسجد ما نصه: ألا ترى أن علماءنا رحمة الله عليهم قد قالوا فيمن فاتته الركعة الأولى أو الأولى والثانية من صلاة الجهر إنه إذا قام لقضاء ما فاته أنه يخفض صوته فيما يجهر فيه فيجهر في ذلك بأقل مراتب الجهر وهو أن يسمع نفسه  ومن يليه خيفة أن يشوش على غيره من المسبوقين. انتهى

 

وعند الحنابلة له الخيار في غير الجمعة بين الجهر والإسرار، ففي كشاف القناع ممزوجا بمتن الإقناع وهو حنبلي: ( ويُخَيَّر ) المسبوق إذا قضى ما فاته ( في الجهر ) بالقراءة ( في صلاة الجهر ) غير الجمعة ( بعد مفارقة إمامه وتقدم في صفة الصلاة ). انتهى

وعند الشافعية لا يطالب بالجهر بل يسر بالقراءة، ففي حاشية سليمان البجيرمي على التجريد لنفع العبيد وهو شافعي متحدثا عن المسبوق: فإن قيل هَلاَّ قضى الجهر أيضا وما الفرق بينهما ؟ قلتُ فُرقَ بينهما بأن السورة سنة مستقلة والجهر صفة تابعة أي فمن ثَمَّ أمر بالأول دون الثاني.  انتهى

وعليه فإذا أراد المسبوق الجهر بالقراءة في ركعة القضاء في هذه الحالة فلا يجهر بالقدر الذي يشوش على المصلين، وراجع الفتوى رقم: 31389.

وللفائدة راجع الفتوى رقم:  33234 .           

والله أعلم

Soal : apakah benar seorang yang masbuk pada sholat subuh 1 rokaat membacanya pelan, tidak keras? Dan sudah maklum bahwa sholat Subuh adalah jahriyyah. Jazakumullah khoir.

Jawab :

Barangsiapa yang mendapati  rokaat kedua pada waktu sholat Subuh bersama Imam dan ia luput dari rokaat pertama, maka setelah imam salam, si masbuk berdiri untuk menyelesaikan rokaat tersebut, namun apakah ia membaca jahr /keras atau tidak?, para ulama berselisih pendapat tentang hal itu. Menurut Malikiyyah ia membaca keras dengan ukuran yang tidak mengganggu orang lain yang sedang sholat. Al-Khothoob –ulama Malikiyyah- dalam Mawaahibul Jaliil berkata : ‘dalam al-Madkhol fii akhiril fashl min fushuulil ‘Aalim fiil kalam tentang bacaan jahr di masjid, berikut teksnya : ‘bukankah engkau melihat ulama kami mengatakan bahwa orang yang terlupun rokaat pertama atau rokaat pertama dan kedua pada sholat Subuh, maka jika ia mengerjakan apa yang terluput, ia mengurangi volume suara pada tempat yang bacaannya keras, yakni dengan ukuran yang paling rendah dari jahr, yakni suara yang hanya didengar oleh dirinya sendiri, sedangkan orang yang di sekitarnya tidak terganggu dengan suara bacaannya’ –selesai.

Menurut Hanabilah maka selain sholat Jum’at, ia dapat memilih apakah di jahrkan atau di-sir-kan, dalam Kasyaaful Qinaa’ : ‘diberikan pilihan kepada masbuk jika menyempurnakan apa yang tertinggal dalam sholat Jahr selain sholat Jum’at, setelah berpisah dengan imamnya sebagaimana telah berlalu dalam sifat sholat’ –selesai-.

Menurut Syafi’iyyah tidak diminta untuk mengeraskan bacaan, namun dilirihkan. Dalam Hasyiyah Sulaiman al-Bajiirimiy : ‘jika dikatakan bukankah ia mengqodho jahrnya juga, apa perbedaannya?, saya jawab : ‘perbedaan antara keduanya bahwa surat adalah sunah tersendiri sedangkan jahr adalah sifat yang mengikutinya, maka disana ada perintah yang pertama bukan yang kedua’ –selesai-.

Berdasarkan hal tersebut jika seorang masbuk ingin mengeraskan bacaannya pada rokaat yang disempurnakannya, maka janganlah ia mengeraskan yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang sholat. Wallahu A’lam.

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=79444#

 

Tambahan penerjemah :

Saya nukilkan dari   pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

السؤال

شخص دخل المسجد ووجد الإمام في صلاة المغرب وأدرك معه الركعة الأخيرة ولما سلم الإمام قام ليقضي الركعتين الأوليين فهل يقرأهما جهرا وهل يفصلهما بالتشهد وهل يقرأهما بالسورتين وأردنا منكم القول الصحيح والمشهور في هذا الأمر؟

الجواب

الصحيح من أقوال العلماء في المسبوق أن ما أدركه من الركعات مع الإمام يعتبر أول صلاته وعلى ذلك يقرأ من أدرك الركعة الأخيرة من المغرب في الركعة الأولى من ركعتي القضاء الفاتحة وسورة جهرا، ويتشهد فيها ويقرأ في الثانية منهما الفاتحة فقط سرا، ويتشهد فيها التشهد الأخير، وأما تشهده في الركعة التي أدركها مع الإمام فهو لمتابعة الإمام .

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

مصدر الفتوى: مجموع فتاوى شيخ الإسلام أحمد بن تيمية – (ج 7/ ص 324) [ رقم الفتوى في مصدرها: 5565 ]

Soal : seorang masuk masjid dan ia mendapati imam sholat maghrib dan mendapati rokaat terakhir, ketika imam salam, ia berdiri untuk menyempurnakan 2 rokaat pertama. Apakah ia membaca 2 rokaat tersebut dengan jahr?, apakah disela dengan tasyahud? Apakah kedua rokaat tersebut membaca surat?. Kami mohon penjelasan anda pendapat yang shahih dan masyhur dalam hal ini?

Jawab :

Yang shahih dari pendapat ulama bahwa orang yang masbuk yang mendapatkan rokaat bersama imam, itu dihitung sebagai awal rokaat sholatnya. Oleh karenanya orang yang mendapatkan rokaat terakhir sholat maghrib, (pada saat menyempurnakan 2 rokaat yang ketinggalan –pent.) pada waktu rokaat pertama ia membaca Al Fatihah dan surat dengan jahr / keras, lalu bertasyahud (awal), kemudian pada rokaat keduanya ia membaca Al Fatihah saja dengan sir / lirih, lalu bertasyahud akhir. Adapun tasyahudnya pada rokaat terakhir bersama imam, maka itu karena mengikuti imam.

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: