PEMBAHASAN HADITS MURSAL

November 28, 2015 at 11:30 pm | Posted in Mustholah Hadits | 1 Comment

PEMBAHASAN HADITS MURSAL

 

Soal : saya berharap penjelasan bersama dalil lengkapnya, apakah diperbolehkan mengamalkan hadits mursal dalam masalah hukum-hukum syariah (Fiqih) ?

Jawab :

  1. Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Tabi’i dari Nabi sholallahu alaihi wa salam tanpa menyebutkan sahabat didalam sanadnya. Lihat jawaban soal no. 130686.
  2. Penjelasan mana hadits-hadits yang wajib diambil dan dijadikan dalil, yaitu hadits-hadits yang maqbulah (shahih atau hasan). Adapun hadits-hadits dhoif atau palsu, maka tidak boleh berdalil dengannya terkait hukum-hukum syar’i. Lihat jawaban soal no. 112086.
  3. Hadits mursal termasuk hadits dhoif, bukan hujjah menurut mayoritas ulama hadits. Imam Muslim dalam Mukadimah shahihnya (1/12) berkata : “hadits mursal pada asalnya menurut kami dan menurut ulama hadits bukanlah hujjah” –selesai.

Imam Ibnu Abi Hatim berkata : “saya mendengar bapakku dan Abu Zur’ah berkata : “tidak boleh berhujjah dengan hadits-hadits mursal, tidaklah tegak hujjah, kecuali dengan sanad-sanad shahih yang bersambung” –demikianlah yang saya katakan juga” –selesai- (al-Maroosiil hal. 7).

Asy-Syaikh Al Albani berkata : “dikenal dalam ilmu mustholah hadits bahwa hadits mursal termasuk hadits dhoif menurut mayoritas ulama hadits” –selesai dinukil dari silsilah ahaadits dhoifah wal maudhu’ah (1/55).

Asy-Syaikh bin Baz berkata : “mursal bukan hujjah menunut mayoritas ulama, sebagaimana dinukil oleh Imam Abu Umar bin Abdil Barr dalam kitab “at-Tamhiid” –Majmu Fatawa ibnu Baz- (4/261).

Alasan tidak dijadikannya hadits mursal sebagai hujjah adalah bahwa mursal tidak disebutkan sumber pengambilannya, apakah diambil dari sahabat? Atau diambil dari perowi majhul? Atau perowi yang tidak tsiqoh?, sehingga berdasarkan hal ini gugurlah pengambilan dalil hadits mursal, karena kemungkinan-kemungkinan tadi.

  1. Banyak Fuqoha menyebutkan bahwa mursal bisa dijadikan hujjah, namun dengan beberapa persyaratan. Imam Muslim dalam catatanya terhadap Mukadimah Imam Muslim diatas berkata : “pendapat tersebut ma’ruf dikalangan ulama hadits dan ini juga pendapatnya Imam Syafi’i, dan kebanyakan Fuqoha. Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad serta kebanyakan Fuqoha berpendapat bolehnya berhujjah dengan hadits mursal (syarah Shahih Muslim (1/132).

Ibnu Rojab setelah menyebutkan perselisihan ulama terkait berhujjah dengan hadits mursal : “ketahuilah tidak ada pertentangan antara ucapan ahli hadits dengan ahli fiqih dalam bab ini. Karena para ahli hadits hanyalah ingin mengatakan kesahihan hadits tersebut jika mursal, yaitu tidak shahih dari sisi sanadnya, karena keterputusan dan tidak bersambung sanadnya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam. Adapun ahli fiqih maksudnya adalah kesahihan makna yang ditunjukkan hadits tersebut, maka jika mursal tadi dikuatkan oleh indikator-indikator yang menunjukkan bahwa ia memiliki asal, maka kuat sangkaan kesahihan dari makna hadits mursal tersebut, maka digunakan hujjah bersama dengan indikator-indikator tersebut. Ini adalah tahqiq terkait berhujjah dengan hadits mursal, menurut para Aimah seperti Syafi’i, Ahmad dan selainnya…Ibnu Rojab dan selainnya menyebutkan bahwa pemutlakkan pendapat bahwa mursal bukan hujjah tanpa perincian diats, adalah pendapat bid’ah yang terjadi setelah melewati kurun 200 tahun (Syarah ‘Illalul Tirmidzi (1/543).

Sehingga hadits mursal menurut ulama hadits adalah termasuk hadits dhoif, demikian juga menurut ahli fiqih, namun dapat dijadikan hujjah menurut mereka jika ada qorinah yang menguatkan yang menunjukkan bahwa ia memiliki asal, seperti diriwayatkan dari jalan lain yang bersambung, atau diriwayatkan dari jalan lain yang mursal, yang dimursalkan oleh tabi’i lain yang berbeda dengan mursal yang pertama, atau karena adanya pengamalan tersebut, atau dikuatkan dengan qiyas yang shahih, atau ada pendapat sahabat dan semisalnya. Ibnul Qoyyim berkata : “mursal jika bersambung dengan amalan, atau dikuatkan dengan qiyas, atau pendapat sahabat atau mursal yang ma’ruf yang merupakan pilihan dari syaikh yang terbebas dari perowi-perowi yang lemah dan yang ditinggalkan dan yang semisalnya yang menguatkan untuk beramal dengan mursal tersebut” (Zaadul Ma’ad 1/367).

Imam Nawai berkata : “Imam Syafi’i berhujjah dengan hadits mursal, jika dikuatkan dengan 4 syarat berikutu : haditsnya bersambung (musnad), ada hadits mursal dari jalan lain, atau ada pendapat sahabat, atau pendapat kebanyakan ulama” (al-Majmu’ 6/206).

Lihat juga Ushul al-Bazdawiy (hal. 171), al-Manstuur karya az-Zarkasyi, syarah al-Umdah karya Ibnu Taimiyyah (1/296), Tahdzibu Sunan Abi Dawud (2/69).

Kesimpulannya : bahwa hadits mursal pada dzatnya sendiri adalah dhoif tidak dapat dijadikan hujjah, namun jika dikuatkan dengan hal yang menguatkannya yang menunjukkan bahwa ia memiliki asal, maka mayoritas ahli fiqih berhujjah dengannya, bukan karena hadits mursal itu sendiri, namun karena ada qorinah yang menguatkannya, maka tidak mengapa untuk menyebutkan dan berhujjah dengannya ketika itu, ketika maknyanya tsabit dengan qiyas, atau pendapat sahabat atau yang semisalnya. Adapun jika mursal itu sendiri, tanpa ada penguatnya, maka bukanlah hujjah dan ini termasuk jenis hadits dhoif.

  1. Adapun mursal shohabat rodhiyallahu anhum, maka itu adalah hujjah secara mutlak. As-Sarkhosiy berkata dalam Ushulnya (1/359) : “tidak ada perselisihan diantara ulama terkait mursalnya shohabat rodhiyallahu anhu bahwa hal tersebut adalah hujjah, karena mereka adalah sahabat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, maka apa yang diriwayatkannya dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam secara mutlak, dibawa kepada kemungkinan bahwa mereka mendengarnya dari orang yang semisalnya (sahabat lain), dan mereka semua adalah ahlu sidqi dan orang yang adil –selesai-.

Ibnul Qoyyim berkata : “para ulama bersepakat diterimanya riwayat Ibnu Abbas dan yang semisalnya dari kalangan sahabat, sekalipun umumnya riwayatkanya mursal dari Nabi sholallahu alaihi wa salam, tidak ada perselisihan hal tersebut dikalangan salaf, ahli hadits dan ahli fiqih –selesai (Tahdzib Sunan Abi Dawud (1/177)-.

Silakan merujuk jawaban soal no. 79163 untuk faedah lebih lanjut. Wallahu A’lam.

Sumber : http://islamqa.info/ar/186055#

 

 

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: