MUSAFIR BERMAKMUM DIBELAKANG IMAM YANG MUKIM

November 30, 2015 at 11:18 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MUSAFIR BERMAKMUM DIBELAKANG IMAM YANG MUKIM

 

Keadaan seorang Musafir terkait masalah bermakmum kepada Imam yang mukim tidak terlepas dari 2 kondisi berikut :

  1. Ia sholat bermakmum dari awal bersama dengan imam yang mukim. Pada kondisi ini ada perselisihan yang ringan.

Pendapat pertama mengatakan si musafir wajib menyempurnakan sholatnya (artinya ia tidak mengqoshor sholatnya –pent.), ini adalah pendapatnya Imam yang empat, dan kebanyakan ulama. Asy-Syafi’i dan Ibnu Abdil Bar menukil adanya ijma (kesepakatan) ulama tentang hal tersebut. Mereka berdalil dengan berikut ini :

  • Dari Musa bin Salamah ia berkata : “kami bersama dengan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu di Mekkah, jika kami bersama kalian (yang mukim) kami sholat 4 rokaat, namun jika kami kembali dalam perjalanan kami sholat 2 rokaat, lalu Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata :

تلك سنة أبى القاسم صلى الله عليه وسلم

Itu adalah sunahnya Abil Qosim (Muhammad) sholallahu alaihi wa salam (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dan dihasankan oleh al-Arnauth).

  • Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu ditanya : “kenapa seorang musafir jika sholat sendirian, ia sholat 2 rokaat –yakni qoshor- dan jika sholat dibelakan Imam (yang mukim) ia menyempurnakan sholatnya?, jawab Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu :

تلك السنة

Itu adalah sunnah.

  • Imam Muslim meriwayatkan dari Naafi’ ia berkata :

كان ابن عمر إذا صلى مع الإمام صلاها أربعاً، وإذا صلَّى وحده صَلاَّها ركعتين

Ibnu Umar rodhiyallahu anhu jika sholat bersama Imam ia sholat 4 rokaat, jika sholat sendiri ia sholat 2 rokaat (pada waktu safar –pent.).

  • Imam Malik meriwayatkan dari Naafi’ bahwa Ibnu Umar tinggal di Mekkah selama 10 malam, ia senantiasa mengqoshor sholatnya, kecuali jika ia sholat bersama Imam, maka ia sholat seperti sholatnya Imam.

Pendapat kedua mengatakan wajib baginya untuk mengqoshor, ini adalah pendapatnya Ibnu Hazm, beliau berdalil sebagai berikut :

  • Yang wajib bagi musafir adalah qoshor, sama saja apakah ia sholat sendirian, menjadi makmum dan menjadi Imam.
  • Diqiyaskan kepada orang yang mukim, jika ia sholat dibelakang musafir, maka wajib baginya menyempurnakan sholat, tidak boleh baginya qoshor, karena yang diwajibkan baginya adalah menyempurnakan sholat, demikian juga musafir jika sholat dibelakang orang yang mukim, wajib baginya qoshor, karena yang diwajibkan baginya adalah qoshor.

Pendapat ketiga mengatakan boleh baginya qoshor, ini adalah pendapatnya Ishaq, beliau berdalil dengan dalil yang hampir mirip dengan dalilnya pendapat yang kedua.

  1. Musafir bermakmum kepada yang mukim di tengah-tengah pelaksanaan sholat, maka hal ini tidak terlepas dari 2 kondisi :

Yang pertama ia mendapati satu rokaat atau lebih bersama Imam, maka hukumnya adalah seperti pendapat yang yang diawal.

Yang kedua, ia mendapati kurang dari 1 rokaat, maka terjadi perselisihan diantara yang mengatakan wajibnya menyempurnakan sholat atas 2 pendapat :

  • Pendapat pertama mengatakan wajib untuk menyempurnakan, ini adalah pendapatnya Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah.
  • Pendapat yang kedua mengatakan boleh baginya qoshor, ini adalah pendapatnya Malikiyyah.

Kami tidak melihat dalil kedua pendapat diatas secara khusus, mungkin ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama berdalil dengan dalil-dalil yang telah lalu. Masalah ini dibangun –wallahu A’lam- diatas permasalah kapan seorang dianggap mendapatkan jama’ah. Mayoritas ulama berpendapat jama’ah didapatkan jika ia mendapatkan bagian apapun dalam sholat, berbeda dengan Malikiyyah yang mengatakan bahwa jama’ah tidak didapatkan kecuali dengan minimal mendapatkan 1 rokaat sholat. Dan tarjih dalam masalah ini menentukan pentarjihan dalam masalah yang kita bahas.

Catatan :

Perincian masalah diatas yakni musafir bermakmum dengan imam yang mukim ditengah-tengah sholat, adalah khusus jika musafir mengetahui atau kuat dugaan bahwa Imamnya mukim, sebagaimana kalau ia sholat di masjid penduduk setempat, adapun jika ia mengetahui bahwa imam tersebut musafir juga atau kuat dugaannya seperti itu, seperti jika ia sholat di masjid yang merupakan persinggahan bagi musafir pada umumnya, atau ia ragu terkait hal tersebut, bolah baginya untuk mengqoshor, karena hukum asal bagi musafir adalah qoshor, maka hal tersebut tidak memalingkannya dari hukum asal. Wallahu A’lam.

 

Tambahan penerjemah :

Catatan diatas menurut kami adalah jika musafir mendapatkan 2 rokaat atau kurang dari 2 rokaat dan ia tidak tahu apakah imamnya musafir atau mukim pada saat ia sholat di masjid tempat persinggahan, namun jika ia mendapatkan 3 rokaat, maka sudah dapat dipastikan bahwa sang Imam melaksanakan sholat yang 4 rokaat, sehingga musafir harus menambah 1 rokaat yang ketinggalan, menurut pendapat yang mengatakan musafir harus mengikuti sholatnya orang yang mukim.

 

Penulis : Naashir bin Abdur Rokhman bin Naashir

Sumber : http://www.feqhweb.com/vb/archive/index.php/t-5933.html

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: