SYARAT PENGKAFIRAN MENURUT IMAM IBNU UTSAIMIN

December 9, 2015 at 12:17 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

SYARAT PENGKAFIRAN MENURUT IMAM IBNU UTSAIMIN

 

Imam Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Qowaidul Mutsla` (hal. 196-198)[1] menyebutkan tentang permasalahan mengkafirkan dan memfasikan seorang Muslim, kata beliau :

قلنا: الحكم بالتكفير والتفسيق ليس إلينا؛ بل هو إلى الله – تعالى – ورسوله – صلى الله عليه وسلم -، فهو من الأحكام الشرعية التي مَرَدُّهَا إلى الكتاب والسنة، فيجب التثبت فيه غاية التثبت، فلا يُكَفَّر ولا يُفَسَّق إلا من دَلَّ الكتاب والسنة على كفره أو فسقه.

والأصل في المسلم الظاهر العدالة – بقاءُ إسلامِهِ، وبقاءُ عدالتِهِ – حتى يتحقق زوال ذلك عنه بمقتضى الدليل الشرعي.

ولا يجوز التساهل في تكفيره أو تفسيقه؛ لأن في ذلك محذورين عظيمين:

أحدهما: افتراء الكذب على الله – تعالى – في الحكم، وعلى المحكوم عليه في الوصف الذي نبزه به.

الثاني: الوقوع فيما نبز به أخاه إن كان سالمًا منه.

ففي صحيح مسلم عن عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إذا كَفَّرَ الرجلُ أخاه فقد باء بها أحدهما “، وفي رواية: ” إن كان كما قال، وإلا رجعت عليه ” ، وفيه عن أبي ذر – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم -: ” ومن دعا رجلًا بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه “.

وعلى هذا فيجب قبل الحكم على المسلم بكفر أو فسق أن ينظر في أمرين:

أحدهما: دلالة الكتاب أو السنة على أن هذا القول أو الفعل موجب للكفر أو الفسق.

الثاني: انطباق هذا الحكم على القائل المعين أو الفاعل المعين بحيث تتم شروط التكفير أو التفسيق في حقه وتنتفي الموانع.

ومن أهم الشروط: أن يكون عالمًا بمخالفته التي أوجبت أن يكون كافرًا أو فاسقًا؛ لقوله تعالى: ” وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً ” [النساء: 115]، وقوله: ” وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْماً بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ* إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ ” [التوبة: 115 – 116].

ولهذا قال أهل العلم: لا يُكَفَّر جاحدُ الفرائض إذا كان حديثَ عهد بإسلام حتى يبين له.

ومن الموانع: أن يقع ما يوجب الكفر أو الفسق بغير إرادة منه، ولذلك صور:

منها: أَنْ يُكْرَهَ على ذلك فيفعله لداعي الإكراه لا اطمئنانًا به، فلا يكفر حينئذ؛ لقوله تعالى: ” مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْأِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ” [النحل: 106].

ومنها: أَنْ يُغْلَقَ عليه فِكْرُهُ، فلا يدري ما يقول لشدة فَرَحٍ أو حزن أو خوف أو نحو ذلك.

ودليله ما ثبت في صحيح مسلم عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” لله أشد فرحًا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها، فأتى شجرة فاضطجع في ظلها قد أيس من راحلته، فبينما هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده، فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح: اللهم أنت عبدي وأنا ربك! أخطأ من شدة الفرح “

Hukum penkafiran dan pemfasikan bukan hak kita, namun itu adalah hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya sholallahu alaihi wa salam. Ini adalah hukum-hukum syariat yang sumbernya Kitab dan Sunnah, sehingga wajib memastikannya dengan sebenar-benarnya kepastian, tidak mengkafirkan atau memfasikan, kecuali apa yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah tentang kekafiran dan kefasikannya. Pada asalnya seorang Muslim, dhohirnya adalah adil dan tetap keislamannya, tetap keadilannya, sampai terkonfirmasi hilangnya itu semua dengan dalil syar’i. Tidak boleh bermudah-mudahan dalam pengkafiran dan pemfasikan, dikarenakan ada 2 bahaya yang sangat besar, yaitu :

  1. Berdusta atas nama Allah dalam penghukumannya dan kepada yang divonis yang mana ia (sebenarnya) terbebas dari hal tersebut;
  2. Mendapatkan apa yang divonis kepada saudaranya, jika ternyata saudaranya terbebas dari vonis tersebut.

Dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka akan kembali ke salah satu dari keduanya”. Dalam lafadz lain : “jika memang faktanya seperti itu, maka apa yang ia katakan, namun jika ternyata faktanya tidak seperti itu, maka akan kembali kepada yang menuduhkannya”.

Dalam hadits Abu Dzar rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda : “barangsiapa yang menuduh orang lain kafir atau musuh Allah, namun faktanya tidak seperti itu, maka ucapannya akan kembali kepadanya”.

Thus, wajib sebelum memvonis seorang Muslim dengan kekafiran atau kefasikan, untuk memperhatikan 2 hal berikut :

  1. Penunjukkan Kitab dan Sunnah bahwa ucapan atau perbuatan tersebut, mengharuskan kekafiran atau kefasikan;
  2. Penerapan hukum tersebut kepada (Muslim) tertentu yang mengucapkan atau melakukan perbuatan kufur, harus terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan pemfasikan, serta tidak ada lagi penghalang-penghalangnya.

Diantara syarat yang paling penting adalah ia mengetahui bahwa yang melakukan perbuatan/perkataan tersebut mengharuskan kekafiran atau kefasikan, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : {Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali} [QS. An Nisaa` : 115], dan Firman-Nya : {Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah} [QS. At Taubah : 115-116].

Berdasarkan hal ini para ulama mengatakan, tidak dikafirkan orang yang mengingkari kewajiban agama, jika ia baru masuk Islam, sampai ia diberi penjelasan.

Diantara penghalangnya adalah Ia terjatuh dalam perbuatan yang mengharuskan kekafiran atau kefasikan, namun bukan atas kehendaknya, contoh dalam hal ini :

  1. Dipaksa untuk melakukannya, sehingga ia melakukannya karena terpaksa buka karena hatinya tenang, maka dalam hal ini ia tidak dikafirkan, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : {Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar} [QS. An Nahl : 106];
  2. Tertutup pikiranya, sehingga ia tidak sadar karena saking senangnya, atau saking sedihnya, atau saking takutnya, atau yang semisalnya. Dalilnya adalah dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata : “Allah sangat senang sekali dengan taubat seorang hamba, ketika ia bertaubat kepadanya, dibandingkan salah seorang diantara kalian yang kehilangan kendaraannya di padang pasir, padahal diatas kendaraannya ada makanan, minuman dan bekal hidupnya, kemudian orang tersebut mendatangi pohon, lalu berbaring dibawah naungannya, ia telah berputus asa, karena kehilangan kendaraannya, ketika dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba binatang kendaraannya ada disampingnya, sehingga ia langsung memegang tali kendalinya sambil berkata karena saking gembiranya : “Ya Allah Engkau hambaku, dan aku Rabbmu!, ia keliru karena saking gembiranya”.

 

[1] Cetakan Daaru at-Tadmuriyyah, cetakan ke-1, 1431, dilengkapi dengan Ta’liq dari asy-Syaikh Abdur Rokhman bin Naashir al-Barook

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: