BISMIKA ALLAHUMMA AMUTU WA AHYA ATAU AHYA WA AMUTU

December 24, 2015 at 2:17 am | Posted in fiqih | Leave a comment

BISMIKA ALLAHUMMA AMUTU WA AHYA ATAU AHYA WA AMUTU

 

Para ulama menyebutkan bahwa lafadz doa yang berasal dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bersifat tauqifiyyah, artinya harus sesuai dengan lafadz yang diucapkan atau diajarkan oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam. Al-Baroo` bin ‘Aazib rodhiyallahu anhu pernah mengalami kejadian salah dalam melafadzkan doa, beliau mengganti kata Nabi dengan Rasul, tentu ini bukan kesalahan fatal karena yang dimaksud tetap sama yaitu Muhammad sholallahu alaihi wa salam, namun ternyata Rasulullah sholallahu alaihi wa salam membetulkan ucapan al-Baroo` yang salah sebut tadi. Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari al-Baroo` rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah berkata kepadanya :

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ، فَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ “. قَالَ: فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا بَلَغْتُ: اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، قُلْتُ: وَرَسُولِكَ، قَالَ: «لاَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ»

Jika engkau hendak berbaring, maka berwudhulah seperti wudhu untuk sholat, lalu berbaring disisi sebelah kanan, lalu berdoa : “Ya Allah, aku telah memasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku hadapkan punggungku kepada-Mu, harap dan cemas kepada-Mu, tidak ada jalan keluar dan keselematan kecuali dengan-Mu, Ya Allah aku telah beriman dengan Kitab yaang telah Engkau turunkan, dan Nabi yang telah Engkau utus. Kata Nabi sholallahu alaihi wa salam : “jika engkau mati pada malam tersebut, niscaya engkau mati diatas fitrah, dan jadikan itu sebagai akhir perkataanmu (sebelum tidur)”.

Al-Baroo` berkata : “lalu aku ulang-ulangi dihadapan Nabi sholallahu alaihi wa salam, tatkala sampai di kalimat “Ya Allah, aku telah beriman dengan Kitab yang Engkau turunkan dan Rasul yang telah Engkau utus”. Nabi mengatakan : “bukan, (yang benar) Nabi yang telah Engkau utus”.

Asy-Syaikh Badruddin al-‘Ainiy dalam Umdahtul Qoriy Syarah Bukhori (3/188) berkata :

أَن أَلْفَاظ الْأَذْكَار توقيفية فِي تعْيين اللَّفْظ وَتَقْدِير الثَّوَاب

Bahwa lafadz dzikir adalah tauqifiyyah dalam penentuan lafadz dan jumlah pahalanya –selesai-.

Oleh karena itu, kembali kepada judul pembahasan apakah doa sebelum tidur yang masyhur dibaca dengan “Allahumma Bismika Ahya wa Amuutu” atau “Bismika Allahumma  Amuutu wa Ahya”?, qodarullah saya belum menemukan penjelasan ulama terkait mana yang benar dari lafadz doa tersebut. Kedua lafadz tersebut disandarkan periwayatannya sampai Nabi sholallahu alaihi wa salam dan melalui sahabat yang sama yaitu Khudzaifah ibnul Yaman rodhiyallahu anhu.

Lafadz : “Bismika Allahumma Ahya wa Amuutu”, diriwayatkan oleh beberapa ulama hadits seperti :

  1. Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 7394);
  2. Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 5049);
  3. Imam Nasa’i dalam Sunan Kubro (no. 10516 dan 10517);
  4. Imam Ahmad dalam Musnad (no. 23391).

Semuanya dari jalan Rib’iy bin Khiroosy dari Khudzaifah rodhiyallahu anhu secara marfu’. Rib’iu bin Khiroosy adalah Tabi’i kabiir seorang yang tsiqoh lagi ahli ibadah. Kemudian Rib’iy menurunkan hadits ini kepada :

  1. Abdul Malik bin Umair, seorang Tabi’i tsiqoh, yang diturunkan lagi kepada Sufyan, sebagaimana dalam riwayat Bukhori, Abu Dawud dan Ahmad.
  2. ‘Aamir asy-Sya’biy, seorang Imam yang masyhur, yang diturunkan lagi kepada Abdul Malik bin Umair, sebagaimana dalam riwayat Imam Nasa’i. Jadi dalam sanad ini asy-Sya’biy dimunculkan antara Abdul Malik bin Umair dengan Rib’iy bin Khiroosy, barangkali Abdul Malik melakukan tadlis dalam sanad point. A, karena Al Hafidz memberikan penilaian kepada Abdul Malik dalam at-Taqriib dengan mengatakan bahwa Abdul Malik terkadang melakukan tadlis. Namun bisa juga Abdul Malik mendengar dari keduanya juga, karena Rib’iy adalah syaikhnya, begitu juga dengan ‘Aamir asy-Sya’biy dan kedua perowi yang tsiqoh, sehingga tadlisnya tidak mempengaruhi keshahihan sanadnya, sehingga kita tetapkan sanad pada point A ada unsur tadlisnya Abdul Malik.
  3. Manshuur bin Mu’tamir, seorang Tabi’i shoghir yang tsiqoh lagi tsabat, yang kemudian menurunkannya kepada Sufyan ats-Tsauriy dalam sanadnya Imam Nasa’i.

Jalan-jalan diatas dapat disimpulkan bahwa sanadnya Shahih, karena terdiri dari para perowi yang tsiqoh yang saling bersambung sanadnya. Lafadz diatas dikuatkan juga dengan syahid yang datangnya dari :

  1. Al-Baroo’ bin ‘Aazib dari Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan lafadz :

بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوتُ

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dalam Sunan al-Kubro (no. 10540) dari jalan :

أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ ابْنِ أَبِي السَّفَرِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى، يُحَدِّثُ عَنِ الْبَرَاءِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا نَامَ قَالَ

Semua para perowinya adalah para perowi yang tsiqoh. Sedangkan dalam Shahih Muslim (no. 2711) dengan lafadz :

اللهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا، وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ

  1. Abu Dzar rodhiyallahu anhu, yang diriwayatkan oleh Imam al-Muhaamiliy dalam Amaaliy (no. 408) dari jalan :

ثنا الْحُسَيْنُ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْمُقْرِئُ، ثنا عَمَّارُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ قَالَ: ثنا شَيْبَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ»

Semua perowinya tsiqoh, kecuali ‘Ammaar bin Abdul Jabbar dinilai shoduq oleh Imam adz-Dzahabi. Sehingga hadits ini juga shahih.

 

Adapun lafadz yang kedua yaitu : “بِاسْمِكَ اللهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا”, diriwayatkan oleh beberapa Aimah diantaranya adalah :

  1. Imam Ahmad dalam Musnad (no. 23271);
  2. Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 6312);
  3. Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3417);
  4. Imam Nasa’i dalam Sunan Kubro (no. 10515);

Sanadnya sama persis dengan lafadz yang pertama diatas, kemudian lafadz ini mendapatkan syahid dari Abu Dzar rodhiyallahu anhu, sebagaimana dalam Shahih Bukhori (no. 6324) dan Imam Nasa’i dalam Sunan Kubro (10630) dengan sanad yang persis juga dengan syahid dari Abu Dzar rodhiyallahu anhu pada lafadz pertama.

Agaknya tidak mudah untuk menentukan mana riwayat yang betul dari kedua lafadz yang saling berkebalikan yaitu “Ahyaa wa Amuutu” atau “Amuutu wa Ahyaa”, Imam Nasa’i dalam kitabnya Sunan Kubro telah menyinggung terjadinya perbedaan lafadz tersebut kata beliau dalam memberikan judul bab :

مَا يَقُولُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ، وَذِكْرُ اخْتِلَافِ النَّاقِلِينَ لِخَبَرِ حُذَيْفَةَ فِي ذَلِكَ

Apa yang dibaca ketika hendak tidur dan penyebutan perbedaan penukilan khobar Khudzaifah terkait hal tersebut.

Aman untuk berasumsi bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam mengajarkan kedua lafadz tersebut, sehingga yang mana saja ia baca berarti telah memenuhi sunnah, daripada menimpakan kesalahan kepada rowi hadits yang kita tidak tahu siapa yang salah dalam meriwayatkan lafadz-lafadz tersebut.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: