AL WALIID BIN ‘UQBAH RODHIYALLAHU ANHU KAH YANG DISINGGUNG DALAM SURAT AL HUJURAAT AYAT 6?

January 3, 2016 at 12:50 am | Posted in AL QUR'AN | 2 Comments

AL WALIID BIN ‘UQBAH RODHIYALLAHU ANHU KAH

YANG DISINGGUNG DALAM SURAT AL HUJURAAT AYAT 6?

 

Siapakah orang fasik yang disebutkan dalam surat Al Hujuraat ayat ke-6?, apakah sebab ayat tersebut turun berkenaan dengan perbuatan salah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam?, apakah orang tersebut bernawa al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu? Berikut jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Imam Ibnu Katsiir –rahimahullah- berkata dalam kitab Tafsirnya terkait asbaabun nuzul ayat diatas, kata beliau :

وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِي الْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، حِينَ بَعَثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي الْمُصْطَلِقِ. وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ مِنْ طُرُقٍ، وَمِنْ أَحْسَنِهَا مَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ رِوَايَةِ مَلِكِ بَنِي الْمُصْطَلِقِ، وَهُوَ الْحَارِثُ بْنُ ضِرَار، وَالِدُ جُويرية  بِنْتِ الْحَارِثِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا،

Banyak ulama tafsir menyebutkan ayat ini turun berkenaan dengan al-Waliid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith rodhiyallahu anhu ketika diutus Rasulullah sholallahu alaihi wa salam untuk menarik zakat dari Bani al-Mustholiq. Telah diriwayatkan[1] kisah tersebut dari beberapa jalan, dan jalan yang paling bagus adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari riwayat kepala suku Bani al-Mustholiq, yaitu al-Haarits bin Dhiroor rodhiyallahu anhu, ayah Juwairiyyah bin al-Haarits rodhiyallahu anha, Ummul Mukminin.

Riwayat Imam Ahmad dapat kita lihat dalam al-Musnad (no. 18459 –cet. Ar-Risaalah) beliau menuliskan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ دِينَارٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، أَنَّهُ، سَمِعَ الْحَارِثَ بْنَ أَبِي ضِرَارٍ الْخُزَاعِيِّ، قَالَ: قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَدَعَانِي إِلَى الْإِسْلَامِ، فَدَخَلْتُ فِيهِ، وَأَقْرَرْتُ بِهِ، فَدَعَانِي إِلَى الزَّكَاةِ، فَأَقْرَرْتُ بِهَا، وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرْجِعُ إِلَى قَوْمِي، فَأَدْعُوهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَدَاءِ الزَّكَاةِ، فَمَنْ اسْتَجَابَ لِي جَمَعْتُ زَكَاتَهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا لِإِبَّانِ كَذَا وَكَذَا لِيَأْتِيَكَ مَا  جَمَعْتُ مِنَ الزَّكَاةِ، فَلَمَّا جَمَعَ الْحَارِثُ الزَّكَاةَ مِمَّنْ اسْتَجَابَ لَهُ، وَبَلَغَ الْإِبَّانَ الَّذِي أَرَادَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبْعَثَ إِلَيْهِ، احْتَبَسَ عَلَيْهِ الرَّسُولُ، فَلَمْ يَأْتِهِ، فَظَنَّ الْحَارِثُ أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ فِيهِ سَخْطَةٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولِهِ، فَدَعَا بِسَرَوَاتِ قَوْمِهِ، فَقَالَ لَهُمْ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ وَقَّتَ لِي وَقْتًا يُرْسِلُ إِلَيَّ رَسُولَهُ لِيَقْبِضَ مَا كَانَ عِنْدِي مِنَ الزَّكَاةِ، وَلَيْسَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخُلْفُ، وَلَا أَرَى حَبْسَ رَسُولِهِ إِلَّا مِنْ سَخْطَةٍ كَانَتْ، فَانْطَلِقُوا، فَنَأْتِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلِيدَ بْنَ عُقْبَةَ إِلَى الْحَارِثِ لِيَقْبِضَ مَا كَانَ عِنْدَهُ مِمَّا جَمَعَ مِنَ الزَّكَاةِ، فَلَمَّا أَنْ سَارَ الْوَلِيدُ حَتَّى بَلَغَ بَعْضَ الطَّرِيقِ، فَرِقَ، فَرَجَعَ، فَأَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الْحَارِثَ مَنَعَنِي الزَّكَاةَ، وَأَرَادَ قَتْلِي، فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَعْثَ إِلَى الْحَارِثِ، فَأَقْبَلَ الْحَارِثُ بِأَصْحَابِهِ إِذْ اسْتَقْبَلَ الْبَعْثَ وَفَصَلَ مِنَ الْمَدِينَةِ، لَقِيَهُمُ الْحَارِثُ، فَقَالُوا: هَذَا الْحَارِثُ، فَلَمَّا غَشِيَهُمْ، قَالَ لَهُمْ: إِلَى مَنْ بُعِثْتُمْ؟ قَالُوا: إِلَيْكَ، قَالَ: وَلِمَ؟ قَالُوا: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَعَثَ إِلَيْكَ الْوَلِيدَ بْنَ عُقْبَةَ، فَزَعَمَ أَنَّكَ مَنَعْتَهُ الزَّكَاةَ، وَأَرَدْتَ قَتْلَهُ قَالَ: لَا، وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالْحَقِّ، مَا رَأَيْتُهُ بَتَّةً، وَلَا أَتَانِي فَلَمَّا دَخَلَ الْحَارِثُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنَعْتَ الزَّكَاةَ، وَأَرَدْتَ قَتْلَ رَسُولِي؟ ” قَالَ: لَا، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا رَأَيْتُهُ، وَلَا أَتَانِي، وَمَا أَقْبَلْتُ إِلَّا حِينَ احْتَبَسَ عَلَيَّ رَسُولُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَشِيتُ أَنْ تَكُونَ كَانَتْ سَخْطَةً مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَسُولِهِ. قَالَ: فَنَزَلَتِ الْحُجُرَاتُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ، فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} [الحجرات: 6] إِلَى هَذَا الْمَكَانِ: {فَضْلًا مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [الحجرات: 8]

Haddatsanaa Muhammad bin Saabiq, haddatsanaa Isa bin Diinaar, haddatsanaa Bapakku, bahwa ia mendengar al-Haarits bin Abi Dhiroor al-Khuza’iy Rodhiyallahu ‘anhu be       liau berkata : “aku pernah mendatangi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu Beliau mengajakku untuk masuk Islam, maka aku pun masuk islam, dan mengakui kebenaran Islam. Kemudian Beliau menyeruku untuk berzakat, maka aku pun menyetujuinya, lalu kukatakan : “wahai Rasulullah aku nanti akan kembali ke kaumku, aku akan menyeru mereka untuk masuk Islam, dan membayat zakat, sehingga siapa yang menerima seruanku, aku akan mengumpulkan zakat dari mereka. Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengutus seorang utusan untuk menemuiku pada waktu yang telah ditentukan dalam rangka mengumpulkan zakat.

Al-Haarits pun mengumpulkan zakat dari orang-orang yang menerima ajakannya, dan sampailah waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk mengutus seorang utusan yang akan menemuinya. Namun ternyata utusan itu tertahan dan tidak jadi mendatanginya. Al-Harits Rodhiyallahu ‘anhu menduga telah terjadi kemarahan dari Allah azza wa Jalla kepadanya, sehingga Beliau pun mengumpulkan tokoh-tokoh kaumnya dan berkata kepada mereka : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam telah menentukan waktu bagiku bahwa ada utusan yang akan mendatangiku untuk mengambil zakat, namun kenyataannya sampai sekarang tidak ada utusan yang datang, dan aku menduga utusan tersebut tidak jadi datang karena ada sesuatu yang membuatnya murka. Kemudian al-Harits dan kaumnya mendatangi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

Sebenarnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengutus al-Waliid bin ‘Uqbah Rodhiyallahu ‘anhu kepada al-Haarits, untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan tadi, ketika al-Walid dalam perjalanan menunju kesana, tiba-tiba ia kembali, lalu mendatangi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya al-Haarits menghalangiku untuk mengambil zakat dan ia ingin membunuhku, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengutus utusan yang lain untuk memanggil al-Harits, kemudia al-Haarits dan kaumnya berpapasan dengan utusan tersebut di perbatasan Madinah. Mereka berkata : “ini al-Haarits Rodhiyallahu ‘anhu, ketika al-Harits bertemu dengan utusan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, ia berkata : “kepada siapa kalian diutus?”, jawab mereka : “kepada engkau”, lanjutnya : “kenapa?”, mereka berkata : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam telah mengutus al-Waliid bin ‘Uqbah kepada engkau, dan ia menuduh engkau tidak mau membayar zakat dan berkehendak membunuhnya”. Al-Harits berkata : “tidak mungkin, demi yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku tidak melihatnya sama sekali dan ia tidak mendatangiku sedikit pun”.

Ketika al-Harits masuk menemui Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Beliau berkata : “engkau tidak mau membayar zakat, dan hendak membunuh utusanku?”, al-Haarits Rodhiyallahu ‘anhu menjawab : “tidak mungkin, demi yang mengutus engkau dengan kebenaran aku tidak melihat dan ia tidak mendatangiku, aku tidak menjumpainya, kecuali aku menduga utusan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tertahan oleh sesuatu, maka aku khawatir ada kemarahan dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu turunlah surat Al Hujuraat ayat ke-6 sampai ke-8.

Sanad hadits diatas dhoif, ayah Isa bin Diinaar al-Kuufiy adalah Maula ‘Amr bin al-Haarits bin Abi Dhiroor rodhiyallahu anhu. Tidak ada yang memberika tautsiq kepadanya selain Imam Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam kitabnya ats-Tsiqoot (4/218 no. 2589). Dan sudah maklum Imam Ibnu Hibban ulama yang Tasaahul (gampang) dalam memberikan tautsiq.

Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liqnya ’liqnya terhadap Musnad Ahmad memberikan penilaian Hasan lighoirihi karena adanya syawahid. Kemudian Imam Al Albani dalam Silsilah Ahaadits ash-Shahihah (no. 3088) mengatakan setelah menyebutkan hadits diatas :

قلت: وهذا إسناد صحيح؛ رجاله كلهم ثقات مترجمون في “التهذيب “. ولذلك قال الحافظ ابن كثير في “التفسير”:

“إنه من أحسن طرق الحديث “. وقال السيوطي في “الدر المنثور” (6/87) : “سنده جيد”.

Ini sanadnya shahih, para perowinya semuanya tsiqoh, biografinya terdapat dalam at-Tahdziib. Oleh karenanya al-Hafidz Ibnu Katsiir dalam tafsirnya mengatakan : “ini adalah yang paling bagus sanadnya”. Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur (6/87) mengatakan : “sanadnya jayyid” –selesai-.

Namun bagaimana mungkin sanadnya diatas jayyid apalagi shahih, sedangkan ia berporos kepada Diinaar al-Kuufiy perowi yang tidak dikenal, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali anaknya Isa bin Diinaar, dan tidak diketahui apakah ia mendengar dari al-Haarits bin Diinaar atau tidak.

Semoga Allah merahmati al-‘Alamah Muqbil bin Hadi yang tidak melirik riwayat-riwayat terkait asbabun nuzul surat Al Hujuraat ayat ke-6 dalam kitabnya ash-Shahihul Musnad min Asbaabin Nuzul, dimana dalam kitab tersebut beliau hanya memasukkan hadits-hadits yang dapat dijadikan hujjah dalam menentukan asbaabun nuzul suatu ayat. Begitu juga asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy dan asy-Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr, yang mana keduanya adalah diantara murid Imam Al Albani yang terbaik, telah melakukan kolaborasi dalam melakukan penelitian terkait riwayat-riwayat asbabun nuzul dalam kitab yang berjudul al-Isti’aab fii bayaanil asbaab. Setelah membawakan hadits riwayat Imam Ahmad diatas, mereka berkata :

قلنا: وهذا سند ضعيف؛ مداره على دينار -والد عيسى-؛ لم يرو عنه إلا ابنه، ولم يوثقه إلا ابن حبان، وفي “التقريب”: “مقبول”.

Sanadnya lemah, porosnya ada pada Diinaar –bapaknya Isa-, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain anaknya, dan  tidak ada yang meriwayatkan darinya selain anaknya,tidak ada yang mentsiqohkannya, selaian Ibnu Hibban. Dalam at-Taqriib, Al Hafidz memberikan penilaian : “maqbul”.

Kemudian kita akan bahas, jalan-jalan lain yang disebutkan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dan Imam Al Albani sebagai syawahid (penguat) untuk hadits-hadits diatas :

  1. Dari Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam Tafsirnya dan Imam Baihaqi dalam Sunan Kubro, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth. Namun beliau sendiri mengatakan tentang sanadnya :

وفي إسناده الحسين بن الحسن بن عطية العوفي وأبوه وجده، وهم ضعفاء.

Dalam sanadnya terdapat al-Husain bin al-Hasan bin ‘Athiyyah al-‘Aufiy, bapaknya dan kakeknya, mereka semuanya adalah para perowi yang lemah.

Imam Al Albani yang menjadikan hadits ini sebagai sumber pentakhrijan dalam kitabnya Silsilah ahaadits ash-Shahihah (no. 3088) mengatakan juga tentang sanadnya :

وهذا إسناد ضعيف؛ لضعف عطية وبعض من دونه

Sanad ini dhoif, karena kedhoifan ‘Athiyyah dan sebagian perowi dibawahnya.

Sementara penulis kitab al-Isti’aab mengatakan :

قلنا: وسنده ضعيف جداً؛ مسلسل بالعوفيين الضعفاء.

Sanadnya sangat lemah sekali, terdiri dari rantai periwayatan al-‘Aufiyyiin para perowi yang lemah –selesai-.

Sehingga sanad ini tidak layak dijadikan penguat apalagi sebagai hujjah.

  1. Dari Ummu Salamah rodhiyallahu anha, diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya dan Imam ath-Thabrani dalam Mu’jamnya, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth, namun beliau berkata di akhirnya :

وفي إسناده موسى بن عبيدة، وهو ضعيف، وثابت مولى أم سلمة مجهول، ومع ذلك ذكره ابن حبان في “الثقات” 4/95، وقال: روى عنه أهل المدينة.

Dalam sanadnya terdapat Musa bin ‘Ubaidah perowi yang dhoif dan Tsaabit Maula Ummu Salamah perowi Majhul, bersamaan dengan itu Ibnu Hibban menyebutkan dalam ats-Tsiqoot (4/95) dan berkata : “penduduk Madinah meriwayatkan darinya”.

Imam Al Albani dalam Ash-Shahihah (no. 3088) juga mengatakan untuk sanad ini :

وموسى بن عبيدة ضعيف

Musa bin ‘Ubaidah, perowi dhoif –selesai-.

Penilain senada juga diberikan oleh penulis kitab al-Isti’aab yang berkata :

قلنا: وهذا سند ضعيف؛ مداره على موسى بن عبيدة وهو ضعيف، وبه أعله الهيثمي في “مجمع الزوائد” (7/ 111)، وثابت لم يوثقه إلا ابن حبان (4/ 95) وقال: “روى عنه أهل المدينة”؛ فمثله يكون في عداد المجهول -والله أعلم-.

Sanad ini dhoif, porosnya ada pada Musa bin ‘Ubaidah perowi dhoif, demikian pencacatan al-Haitsami dalam “Majmuz Zawaid” (7/111). Tsaabit tidak ditsiqohkan kecuali oleh Ibnu Hibban (4/95) yang berkata : ‘penduduk madinah meriwayatkan darinya’. Maka orang semisal ini terhitung sebagai perowi majhul. Wallahu A’lam.

  1. ‘Alqomah bin Naajiyyah rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashiim dalam al-Afrood dan Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 3088). Kemudian beliau berkata tentang sanadnya :

ما روى يعقوب بن حميد: ثنا عيسى بن الحضرمي بن كلثوم بن علقمة بن ناجية بن الحارث الخزاعي عن جده كلثوم عن أبيه علقمة

Apa yang diriwayatkan Ya’quub bin Humaid, haddatsanaa Isa bin al-Hadhromiy bin Kultsuum bin ‘Alqomah bin Naajiyyah ibnul Haarits al-Khuzaa’iy dari Kakeknya Kultsuum dari Bapaknya ‘Alqomah rodhiyallahu anhu : “kisah yang mirip”.

Kemudian Imam Al Albani menilai sanad ini :

قلت: وهذا إسناد حسن؛ كما سيأتي بيانه في حديث آخر برقم (3232) . وقال الهيثمي في ” مجمع الزوائد” (7/ 110) : “رواه الطبراني بإسنادين؛ في أحدهما يعقوب بن حميد بن كاسب، وثقه ابن حبان، وضعفه الجمهور، وبقية رجاله ثقات “. قلت: الراجح في يعقوب هذا أنه حسن الحديث؛ كما بينت هناك، وأما الإسناد الآخر الذي أشار إليه الهيثمي؛ ففيه يعقوب بن محمد الزهري؛ فهو ضعيف. ثم إن متنه مختصر جداً؛ مع زيادة فيه غريبة،

Sanadnya hasan, sebagaimana akan datang penjelasannya pada hadits lain no. 3232. Al-Haitsami dalam “Majmuz Zawaid” (7/110) berkata : ‘diriwayatkan oleh Thabrani dengan 2 sanad, salah satunya oleh Ya’quub bin Humaid bin Kaasib, ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban dan didhoifkan oleh jumhur ulama, sisa perowinya adalah tsiqoh.

Al Albani berkata : ‘yang rajih Ya’quub adalah hasan haditsnya, sebagaimana aku jelaskan disana. Adapun sanad lain yang diisyaratkan oleh al-Haitsami, maka didalamnya adalah Ya’quub bin Muhammad az-Zuhri, ia perowi dhoif, lalu matannnya juga sangat ringkas sekali, disamping ada tambahan yang aneh’ –selesai-.

Penulis al-Isti’aab juga memberikan penilaian senada terhadap sanad ini, yakni dihukumi sebagai hadits hasan.

Ya’quub ini sebenarnya didhoifkan oleh Imam Abu Hatim, Imam Nasa’I, dan Imam Ibnu Ma’in dalam kesempatan lain, ada juga yang menilainya ia memiliki hadits-hadits yang mungkar (sebagaimana disebutkan dalam tahdzibain).

  1. Dari Jaabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikatakan oleh penulis al-Isti’aab yang berkata :

أخرجه الطبراني في “المعجم “الأوسط” (4/ 133، 134 رقم 3797)، وابن مردويه في “تفسيره”؛ كما في “الفتح السماوي” (3/ 1002) من طريق عبد الله بن عبد القدوس ثنا الأعمش عن موسى بن المسيب عن سالم بن أبي الجعد عن جابر به.

قلنا: وهذا سند ضعيف؛ فيه علتان:

الأولى: الأعمش؛ مدلس وقد عنعنه.

الثانية: عبد الله بن عبد القدوس؛ ضعيف.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Ausath (4/133-134 no. 3797) dan Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, sebagaimana dalam “al-Fath as-Samaawiy” (3/1002) dari jalan Abdullah bin Abdul Quduus, haddatsanaa al-A’masy, dari Musa ibnul Musayyib dari Saalim bin Abil Ja’diy dari Jaabir Rodhiyallahu ‘anhu. Hadits dhoif, ini memiliki 2 cacat : (i) al-A’masy mudalis dan ia meriwayatkan dengan ‘an’anah, (ii) Abdullah bin Abdul Quduus, perowi lemah. 

  1. Kemudian sisanya terdapat hadits-hadist Mursal yang telah disinggung oleh Imam Ibnu Katsir dan selainnya.

Sebagaimana yang kita lihat memang banyak ulama yang menetapkan bahwa orang fasik yang disebutkan dalam ayat ke-6 surat Al Hujuraat tertuju kepada al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu. Bahkan asy-Syaikh Syu’aib menukil perkataan Imam Ibnu Abdil Bar yang mengatakan :

وقد نقل الحافظ في “الإصابة” في ترجمة الوليد بن عقبة عن ابن عبد البر قوله: لا خلاف بين أهل العلم بتأويل القرآن أنها نزلت فيه. يعني في الوليد.

Al-Hafidz menukil dalam al-Isoobah di biografi al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu dari Ibnu Abdil Bar yang mengatakan : “tidak ada perselisihan dikalangan ulama tafsir, bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan al-Waliid rodhiyallahu anhu”.

Namun kami tidak setuju dengan penetapan bahwa ayat ke-6 surat Al Hujuraat turun berkenaan dengan al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu dengan alasan sebagai berikut :

  1. Jalur-jalur periwayatan asbaabun nuzul terkait dengan pengutusan al-Waliid rodhiyallahu anhu ke Bani Mustholiq untuk mengambil zakat, kemudian terjadilah apa yang terjadi, semuanya lemah, berisi para perowi yang tidak selamat dari kritikan Aimah Jarh wa Ta’dil.
  2. Riwayat diatas bertentangan dengan informasi yang menyebutkan bahwa pada saat masuk Islam yaitu pada hari penaklukan kota Mekkah, al-Waliid bin ‘Uqbah masih berusia balita, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 4181) dari jalan Abdullah al-Hamdaaniy dari al-Waliid rodhiyallahu anhu beliau berkata :

«لَمَّا فَتَحَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ، جَعَلَ أَهْلُ مَكَّةَ يَأْتُونَهُ بِصِبْيَانِهِمْ ، فَيَدْعُو لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ»، قَالَ: «فَجِيءَ بِي إِلَيْهِ وَأَنَا مُخَلَّقٌ، فَلَمْ يَمَسَّنِي مِنْ أَجْلِ الْخَلُوقِ

Ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam menaklukkan Mekkah, penduduk Mekkah mendatangi Beliau dengan membawa balitanya, lalu Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka dan mengusap kepalanya.

Lalu aku pun dibawa kehadapan Beliau, dalam kondisi aku berlumuran minyak wangi, maka Beliau tidak menyentuhku karena lumuran minyak wangi.

Namun sebagian ulama melemahkan hadits ini dengan sebab Abdullah al-Hamdani perowi yang majhul.

Imam Ibnul Atsir dalam Asadul Ghobah (5/420) juga menukil ucapan Imam Ibnu Maakuulaa yang berkata :

وقال ابن ماكولا: رأى الوليد رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهو طفل صغير.

Al-Waliid rodhiyallahu anhu melihat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada saat beliau masih anak kecil.

  1. Perkataan Imam Ibnu Abdil Bar –rahimahullah- bahwa para ulama tidak berbeda pendapat akan kepastian bahwa ayat ke-6 surat Al Hujuraat turun kepada al-Waliid rodhiyallahu anhu, tidak sepenuhnya benar, karena asy-Syaikh Saamiy Muhammad Salamah, pentahqiq kitab Tafsir Ibnu Katsir menukil perkataan Imam Ibnul Arobiy yang mengingkari kebenaran kisah tersebut, kata beliau :

وقد ذهب إلى ذلك كثير من المفسرين، وهذا القول فيه نظر؛ فإن الروايات التي ساقت القصة معلولة، وأحسنها وهي رواية أحمد عن الحارث بن ضرار الخزاعي، وفي إسنادها مجهول، وقد أنكر القاضي أبو بكر بن العربي في كتابه “العواصم من القواصم” (ص102) هذه القصة قال: “وقد اختلف فيه، فقيل: نزلت في ذلك -أي في شأن الوليد. وقيل: في علي والوليد في قصة أخرى- وقيل: إن الوليد سيق يوم الفتح في جملة الصبيان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فمسح روءسهم وبرك عليهم إلا هو فقال: إنه كان على رأسي خلوق، فامتنع صلى الله عليه وسلم من مسه، فمن يكون في مثل هذه السنن يرسل مصدقا

Sebagian besar ahli tafsir berpendapat demikian, tapi pendapat tersebut perlu dipertimbangkan, karena riwayat-riwayat yang menyebutkan kisah ini terdapat cacat, dan riwayat yang paling bagus adalah riwayatnya Ahmad dari al-Haarits bin Dhiroor al-Khuzaa’iy rodhiyallahu anhu, namun dalam sanadnya terdapat perowi yang majhul.

Al-Qodhiy Abu Bakar Ibnul Arobiy dalam kitabnya al-‘Awaashim minal Qowaashim (hal. 102) mengingkari kisah ini dan berkata : “terjadi perbedaan tentang kisah tersebut, dikatakan bahwa turun terkait dengan al-Waliid, ada yang mengatakan terkaiat al-Waliid dan Ali dalam kisah yang lain, ada yang mengatakan al-Waliid pada hari penaklukkan Mekkah masih balita yang dibawa kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, sebagaimana balita lainnya, kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam mengusap kepada dan mendoakan keberkahan kepada balita-balita tersebut, kecuali dia, karena kepalanya ada minyak wangi, sehingga Nabi sholallahu alaihi wa salam enggan memegangnya, maka anak seusia tersebut bagaimana bisa menjadi utusan untuk mengambil zakat.

Begitu juga Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Isoobah fii Tamyiizis Shohabah (6/482) pada saat menyebutkan biografi al-Waliid rodhiyallahu anhu, kemudian beliau menukil riwayat tentang asbaabun nuzul diatas, namun beliau memberi komentar :

ويعارض ذلك ما أخرجه أبو داود في السنن من طريق ثابت بن الحجاج، عن أبي موسى عبد اللَّه الهمدانيّ، عن الوليد بن عقبة، قال: لما افتتح رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم مكة جعل أهل مكة يأتونه بصبيانهم فيمسح على رءوسهم، فأتى بي إليه، وأنا مخلق فلم يمسني من أجل الخلوق.

Dan yang menentang kebenaran kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya ….. (al Hadits).

  1. Dari segi matan hadits terkait asbabun nuzul diatas ada keanehan yaitu mengapa tanpa alasan yang jelas al-Waliid bin Uqbah melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut, dan beliau berbohong demi menimpakan kerugian pada pihak lain, dan berbohong dalam ucapan serta perbuatan makar kepada kaum Muslimin adalah ciri khas orang munafik, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafiq ada 3 : jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat (muttafaqun alaih).

Pada zaman Nabi sholallahu alaihi wa salam orang-orang munafik berasal dari Madinah yakni mereka pura-pura masuk Islam karena alasan politis, sedangkan karakter orang-orang Mekkah adalah jujur apa adanya, ketika mereka tidak mengakui kenabian Muhammad sholallahu alaihi wa salam, mereka menjadi pengingkar yang keras, namun setelah hidayah menyapa, mereka menjadi orang-orang Islam yang teguh keimanannya, dan al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu adalah termasuk penduduk Mekkah.

  1. Seandainya kisah ini benar, tentu ini adalah kejadian besar, dan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak akan tinggal diam, karena merasa dikhianati, dan sebelum memutuskan hukuman Beliau akan melakukan klarifikasi dulu, sebagaimana dalam kisah Haatib bin Abi Baltah rodhiyallahu anhu yang membocorkan rencana Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyerang Kota Mekkah dengan mengirim surat kepada keluarganya di Mekkah, setelah Rasullah sholallahu alaihi wa salam diberi tahu tentang hal tersebut, maka Beliau memanggil Haatib rodhiyallahu anhu untuk mengklarifikasi apa maksud beliau dari melakukan perbuatan yang membahayakan tersebut. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 4890) :

سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالمِقْدَادَ، فَقَالَ: «انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ، فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا» فَذَهَبْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى أَتَيْنَا الرَّوْضَةَ، فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ، فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الكِتَابَ، فَقَالَتْ: مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ، فَقُلْنَا: لَتُخْرِجِنَّ الكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ، فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا، فَأَتَيْنَا بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ المُشْرِكِينَ مِمَّنْ بِمَكَّةَ، يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا هَذَا يَا حَاطِبُ؟» قَالَ: لاَ تَعْجَلْ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مِنْ قُرَيْشٍ، وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ المُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِمَكَّةَ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ، أَنْ أَصْطَنِعَ إِلَيْهِمْ يَدًا يَحْمُونَ قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ ذَلِكَ كُفْرًا، وَلاَ ارْتِدَادًا عَنْ دِينِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكُمْ» فَقَالَ عُمَرُ: دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ، فَقَالَ: ” إِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ؟ لَعَلَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ ” قَالَ عَمْرٌو: وَنَزَلَتْ فِيهِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ} [الممتحنة: 1] قَالَ: «لاَ أَدْرِي الآيَةَ فِي الحَدِيثِ أَوْ قَوْلُ عَمْرٍو»، حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، قَالَ: قِيلَ لِسُفْيَانَ: فِي هَذَا فَنَزَلَتْ: {لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ} [الممتحنة: 1] الآيَةَ، قَالَ سُفْيَانُ: هَذَا فِي حَدِيثِ النَّاسِ حَفِظْتُهُ مِنْ عَمْرٍو، مَا تَرَكْتُ مِنْهُ حَرْفًا وَمَا أُرَى أَحَدًا حَفِظَهُ غَيْرِي

….  Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta’ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?” Maka oleh Hatib dijawab dengan nada terputus-putus: “Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu kulakukan karena aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”..

Dalam hadits diatas Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melakukan klarifikasi terhadap Haatib rodhiyallahu anhu, sedangkan dalam kisah al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu seandainya itu terjadi, seharusnya terdapat riwayat klarifikasi juga dari Beliau, karena apa yang dilakukan oleh al-Waliid adalah masalah yang sangat besar, namun ternyata tidak ada semua itu, seolah-olah memang tidak ada kejadian tersebut.

  1. Pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan rodhiyallahu anhu, beliau mengangkat al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu sebagai gubernurnya untuk wilayah Irak, seandainya kisah al-Waliid yang pernah berkhianat menjadi petugas pajak zaman Rasulullah sholallahu alaihi wa salam masyhur dikalangan sahabat, maka ketika Utsman mengangkatnya menjadi gubernur, tentu akan banyak sahabat yang memprotesnya, jika tidak berarti al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu memang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang memadai, sehingga Utsman rodhiyallahu anhu mempercayai kursi gubernur kepadanya, sekalipun pada akhirnya, Utsman rodhiyallahu anhu memakzulkan juga al-Waliid dari gubernur, namun bukan karena kesalahan Utsman atau al-Waliid rodhiyallahu anhuma, hal ini semata-mata karena tuntutan penduduk Irak, sebagaimana Utsman memakzulkan Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu anhu juga sebelumnya dari kursi gubernur Irak.

Kesimpulannya, kami sekali lagi mendukung al-‘Alamah Muqbil bin Hadi –rahimahullah- yang tidak memasukkan kisah ini dalam kitabnya ash-Shahihul Musnad min Asbaabin Nuzul sebagai asbabun nuzul dalam surat Al Hujuraat ayat ke-6, karena tidak validnya hal tersebut. Semoga kita termasuk dalam keutamaan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10).

[1] Perkataan Imam Ibnu Katsiir : qod ruwiya (telah diriwayatkan) dengan bentuk kalimat pasif, memberikan isyarat bahwa beliau mendhoifkan kisah al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu, namun barangkali beliau belum memberikan sikap tegas penolakan atas kebenaran kisah diatas, karena melihat banyak ulama tafsir yang menyebutkannya. Pada akhir penyebutan riwayat-riwayat kisah al-Waliid bin ‘Uqbah, Imam Ibnu Katsir berkata :

وَكَذَا ذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ، مِنْهُمْ: ابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَيَزِيدُ بْنُ رُومَانَ، وَالضَّحَّاكُ، وَمُقَاتِلُ بْنُ حَيَّان، وَغَيْرُهُمْ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Telah disebutkan lebih dari satu ulama salaf, diantaranya Ibnu Abi Laila, Yaziid bin Ruumaan, adh-Dhohaak, Muqootil bin Hayyaan –rahimahumullah- dan selainnya bahwa ayat ini turun berkenaan dengan al-Waliid bin ‘Uqbah rodhiyallahu anhu. Wallahu A’lam.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] [1] Perkataan Imam Ibnu Katsiir : qod ruwiya (telah diriwayatkan) dengan bentuk kalimat pasif, memberikan isyarat bahwa beliau mendhoifkan kisah al-Waliid bin ‘Uqbah ra, namun barangkali beliau belum memberikan sikap tegas penolakan atas kebenaran kisah diatas, karena melihat banyak ulama tafsir yang menyebutkannya. Pada akhir penyebutan riwayat-riwayat kisah al-Waliid bin ‘Uqbah, Imam Ibnu Katsir berkata : […]

    Like

  2. […] [1] Perkataan Imam Ibnu Katsiir : qod ruwiya (telah diriwayatkan) dengan bentuk kalimat pasif, memberikan isyarat bahwa beliau mendhoifkan kisah al-Waliid bin ‘Uqbah ra, namun barangkali beliau belum memberikan sikap tegas penolakan atas kebenaran kisah diatas, karena melihat banyak ulama tafsir yang menyebutkannya. Pada akhir penyebutan riwayat-riwayat kisah al-Waliid bin ‘Uqbah, Imam Ibnu Katsir berkata : […]

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: