SURAT ABASA MEMBERIKAN AKSES PENDIDIKAN BAGI SEMUA KALANGAN

January 10, 2016 at 1:31 pm | Posted in AL QUR'AN, fiqih | Leave a comment

 SURAT ABASA MEMBERIKAN AKSES PENDIDIKAN BAGI SEMUA KALANGAN

 

Suatu hari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dengan semangatnya mengajak dan senantiasa mengajarkan orang-orang kafir Quraisy agar memeluk agama yang hak ini. Pada hari itu, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengkususkan pengajaran kepada para tokoh Quraisy, diantara yang hadir yaitu : ‘Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahl bin Hisyam, al-‘Abbas bin Abdul Mutholib, Ubay bin Kholaf dan Saudaranya Umayyah bin Kholaf[1]. Di tengah-tengah pengajaran, tiba-tiba datang seorang yang buta, yang disebutkan oleh para ulama bahwa namanya adalah Abdullah Syuraih bin Maalik bin Robi’ah al-Fihriy atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Ummi Maktuum rodhiyallahu anhu[2].

Ibnu Ummi Maktuum rodhiyallahu anhu berkata pada saat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sedang memberikan pengajaran kepada tokoh Quraisy :

يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلِّمْنِي مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ

Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu[3].

Namun Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak menyukai hal tersebut karena merasa disela pembicaraannya, padahal pada saat itu, Beliau sedang mendakwahi tokoh-tokoh Quraisy dan sangat berharap dengan keislaman mereka. Beliau pun berpaling dari menghadap Ibnu Ummi Maktuum sambil berwajah masam, dan tetap menghadapkan wajahnya kepada orang-orang Quraisy. Atas perbuatan Beliau seperti itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegur Beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أُنْزِلَ: {عَبَسَ وَتَوَلَّى} [عبس: 1] فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الأَعْمَى، أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ المُشْرِكِينَ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَرِ، وَيَقُولُ: «أَتَرَى بِمَا أَقُولُ بَأْسًا؟» فَيَقُولُ: لَا، فَفِي هَذَا أُنْزِلَ

Diturunkannya ‘Abasa terkait dengan Ibnu Ummi Maktuum orang yang buta, beliau mendatangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam lalu berkata : “wahai Rasulullah, berilah aku pengajaran”, hal ini terjadi pada saat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sedang memberikan pengajaran kepada para pembesar Musyrikin, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berpaling darinya dan tetap menghadapkan wajahnya kepada para pembesar tersebut, maka Ibnu Ummi Maktuum berkata : “apakah engkau memandang ucapanku ada yang bermasalah?”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “tidak”, oleh karenanya kemudian turun surat tersebut (haditsnya disahihkan oleh Imam Al Albani).

Ayat yang turun berkenaan dengan kisah diatas adalah :

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (12) فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (13) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ (14) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (15) كِرَامٍ بَرَرَةٍ (16)

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.

Allah menyebutkan seorang buta telah datang kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, dan yang dimaksud dengan orang buta tersebut adalah Ibnu Ummi Maktuum rodhiyallahu anhu, maka disini terkandung faedah menyebut seseorang dengan kekurangan yang ada di tubuhnya tidaklah termasuk ghibah, selama memang tujuannya untuk lebih mengidentifikasi orang tersebut. Imam Shon’aniy dalam kitabnya Takhyiir liidhoohi li Ma’aaniy Taisiir (2/434) berkata :

أنه لا غيبة في ذكر الرجل بما ظهر في خلقه من عمى أو عرج إلا أن يقصد به الإزدراءُ

Bukan termasuk ghibah menyebutkan seseorang dengan yang nampak pada tubuhnya, seperti buta atau pincang, kecuali memang tujuannya untuk merendahkannya.

Dalam ayat yang mulia ini terkandung faedah yang sangat besar, bahwa siapapun dia, tidak melihat latar belakangnya, apakah seorang yang miskin, cacat atau kekurangan-kekurangan lain yang biasa dianggap remeh oleh manusia, maka ia berhak untuk mendapatkan akses pengajaran. Ini adalah adab Islam, sebelum orang-orang barat menggembar-gemborkan pelaksanaan hak asasi manusia. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam langsung ditegur oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika memberikan diskrimanasi dalam pengajaran, padahal inti dari dakwah adalah penyampaian, perkara diterima atau ditolak, maka semuanya diserahkan kepada sang Pencipta. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS. Al Qoshos : 56).

Oleh karena akses pendidikan sangat dibuka dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengancam orang-orang yang tidak mau menyebarkan ilmunya, dengan ancaman yang keras yaitu dibelenggu dengan api neraka pada hari kiamat. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abi Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ القِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia tahu, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dibelenggu dengan api neraka (dishahihkan oleh Al Albani).

Bahkan akses pendidikan ini dibuka dengan gratis, tanpa pembebanan yang berat kepada orang-orang yang hendak belajar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang? (QS. At Thuur : 40).

Imam Ibnul Jauzi dalam Zaadul Maisir menjelaskan makna ayat diatas :

هل سألتهم أجراً على ما جئتَ به، فأثقلهم ذلك الذي تطلبه منهم فمنعهم عن الاسلام

Apakah engkau meminta upah kepada mereka, ketika mereka datang (untuk mendapatkan pengajaran –pent.), sehingga hal tersebut memberatkan mereka, yang menyebabkan mereka terhalang dari Islam.

Dalam ayat ini terkandung sebuah isyarat bahwa biaya pendidikan diluar batas kewajaran akan sangat memberatkan, sehingga terpaksa harus berhutang untuk mendapatkan akses pendidikan, dan Islam telah mempelopori untuk meninggalkan cara-cara tersebut. Cukuplah gaji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat besar yang menanti seorang yang mengajarkan ilmunya, sebagaimana Firman-Nya :

أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Atau kamu meminta upah kepada mereka?”, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik (QS. Al Mu’minuun : 72).

Az-Zamakhsyariy dalam Tafsirnya al-Kasyaaf mengatakan maksud ayat diatas :

أم تسألهم على هدايتك لهم قليلا من عطاء الخلق، فالكثير من عطاء الخالق خير

Apakah engkau akan meminta upah atas pengajaran yang engkau berikan kepada mereka dengan upah yang sedikit dari makhluk, sedang upah yang banyak dari sang Khooliq adalah jauh lebih baik.

Yang pertamakali dilakukan Nabi sholallahu alaihi wa salam setelah hijrah ke Madinah ialah membangun masjid dimana disediakan ruangan khusus untuk pendidikan yang disebut “suffah”. Ini dapat kita sebut “perguruan intern yang pertamakali dalam Islam”, sebab tempat ini juga dipakai sebagai “asrama” pelajar yang tidak mampu[4].

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyelenggarakan pendidikan gratis untuk orang-orang yang tinggal di Shuffah yang dikenal dengan istilah Ahlu Suffah. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam membagi-bagi orang ahli Shuffah kepada orang-orang Muhajirin dan Ansar. Bahkan pernah Beliau bersabda : “Barangsiapa yang mempunyai makanan yang cukup untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bersama tiga orang. Dan Beliau sendiri makan bersama sepuluh orang (Musnad Imam Ahmad i:197, iii:490)[5].

[1] Ma’aalimut Tanziil fii Tafsiiril Qur’an, karya Imam al Baghowi (8/332)

[2] opcit

[3] Tafsir Ibnu Abi Haatim (no. 19125) dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu tanpa menyebutkan sanad.

[4] Prof. Dr. M.M Azhami “hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya” (hal. 83 –pustaka Firdaus).

[5] Opcit, hal. 84

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: