HARTA DITURUNKAN UNTUK MENEGAKKAN SHOLAT

January 18, 2016 at 3:10 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

HARTA DITURUNKAN UNTUK MENEGAKKAN SHOLAT

 

Diriwayatkan bahwa Abu Waaqid al-Laitsiy rodhiyallahu anhu berkata :

كُنَّا نَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ، فَيُحَدِّثُنَا فَقَالَ لَنَا ذَاتَ يَوْمٍ: ” إِنَّ اللهَ قَالَ: إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَلَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ ثَانٍ، وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِمَا ثَالِثٌ، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، ثُمَّ يَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ “

Kami pernah mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam, tiba-tiba ada wahyu yang diturunkan kepada Beliau, lalu Beliau menceritakannya pada kami pada suatu hari : “sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “sesungguhnya kami menurunkan harta untuk menegakkan sholat, dan menunaikan zakat. Seandainya Ibnu Adam memiliki satu lembah (harta/emas), niscaya ia masih memiliki keinginan untuk memiliki yang kedua, seandainya ia memiliki dua lembah, niscaya ia masih memiliki keinginan untuk memiliki yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut ibnu Adam, kecuali tanah. Kemudian Allah akan menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya.

Takhrij Hadits :

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 21906), Imam ad-Daulabiy dalam “al-Kunaa wal Asmaa” (1/176), Imam Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabiir (no. 3301) “al-Mu’jam al-Ausath (no. 2446), dan Imam al-Qothii’iy (w. 368 H) dalam “Juz Alfu Diinaar” (no. 176), semuanya dari jalan :

هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ

Hisyaam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Athoo’ bin Yasaar, dari Abi Waaqid al-Laitsiy rodhiyallahu anhu.

Semuanya perowinya tsiqoh, kecuali Hisyaam bin Sa’ad, para ulama berbeda pendapat dalam mengomentari beliau :

A. Imam Abu Hatim mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “لم يكن هشام بن سعد بالحافظ” (Hisyam bin Sa’ad tidak haafidz).

Sedangkan anak beliau Abdullah bin Imam Ahmad menukil bahwa Imam Ahmad berkata : “هشام بن سعد كذا و كذا ، كان يحيى ابن سعيد لا يروى عنه” (Hisyam bin Sa’ad demikian, demikian, Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan darinya). Versi dari Abu Tholib mengatakan bahwa Imam Ahmad berkata : “ليس هو محكم الحديث” (dia tidak muhkam haditsnya).

B. ‘Abbaas ad-Duuriy mengatakan bahwa Imam Yahya bin Ma’in berkata tentangnya : “هشام بن سعد ضعيف” (Hisyam bin Sa’ad dhoif). Abu Bakar bin Abi Khoitsamah meriwayatkan versi lain, bahwa ia mendengar Yahya bin Ma’in berkata : “هشام بن سعد صالح ، ليس بمتروك الحديث” (Hisyam bin Sa’ad Shoolih, bukan matruk haditsnya). Adapun versi Mu’awiyyah bin Shoolih dari Yahya bin Ma’in beliau berkata : “ليس بذاك القوى” (tidak kuat). Murid lainnya lagi yaitu Ahmad bin Sa’ad bin Abi Maryam menukil dari Imam Yahya bin Ma’in bahwa beliau berkata : “ليس بشىء” (tidak ada apa-apanya).

C. Imam al-‘Ijli berkata : “جائز الحديث ، حسن الحديث” (boleh haditsnya, hasan haditsnya).

D. Imam Abu Zur’ah berkata : “شيخ محله الصدق” (syaikh kejujuran tempatnya).

E. Imam Abu Hatim berkata : “يكتب حديثه ، و لا يحتج به” (ditulis haditsnya, namun tidak dijadikan hujjah).

F. Abu Ubaid al-Ajuriy menukil dari Imam Abu Dawud yang berkata : “هشام بن سعد أثبت الناس فى زيد بن أسلم” (Hisyaam bin Sa’ad adalah perowi yang paling tsabit dalam meriwayatkan dari Zaid bin Aslam).

G. Imam Nasa`i berkata : “ضعيف الحديث” (lemah haditsnya) dalam tempat lain beliau berkata : “ليس بالقوى” (tidak kuat).

Poin A sampai G dinukil dari kitabnya Imam al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal.

H. Imam Ibnu Sa’ad berkata : “كان كثير الحديث يستضعف ، و كان متشيعا” (dia banyak haditsnya yang didhoifkan, dan ia seorang syiah).

I. Ibnu Abi Syaibah menukil dari Imam Ali ibnul Madiniy yang berkata : “صالح ، و ليس بالقوى” (shoolih, tidak kuat).

J. Imam as-Saajiy berkata : “صدوق” (jujur).

K. Imam Ya’qub bin Sufyan memasukkannya dalam kitabnya “adh-Dhu’aafaa`”.

L. Imam Muslim hanya menjadikannya sebagai syahid (penguat), sebagaimana dituturkan oleh Imam Al Hakim.

Point H sampai L dinukil dari kitabnya Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib.

Beberapa ulama muta’akhirin mencoba membuat kesimpulan dalam menilai Hisyaam bin Sa’ad, berdasarkan perbedaan penilaian ulama Jarh wa Ta’dil terhadapnya sebagai berikut :

  • Al Hafidz Ibnu Hajar berkesimpulan bahwa Hisyam bin Sa’ad : “صدوق له أوهام ، و رمى بالتشيع” (jujur, memiliki kekeliruan, dan tertuduh dengan syiah).
  • Imam adz-Dzahabi berkesimpulan bahwa beliau hasan haditsnya.
  • Imam Al Albani senada dengan Imam adz-Dzahabi yang menilai haditsnya hasan.
  • Asy-Syaikh Syu’aib Arnaut berkesimpulan : “أنه يعتبر به في المتابعات والشواهد” (ia dapat dijadikan sebagai penguat).
  • Imam al-Haitsami dalam Majmuz Zawaid berlebihan dengan mengatakan bahwa semua perowinya Imam Ahmad adalah para perowi Shahih.

Oleh karenanya jika kita mengambil pendapat ulama yang menjarh Hisyam, tentu kita akan mengatakan hadits diatas adalah dhoif, atau mengambil pertengahan, maka kita nilai haditsnya Hasan, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah (no. 1639) dimana setelah beliau melakukan takhrij terhadap hadits diatas, beliau berkata :

وهذا إسناد حسن، وهو على شرط مسلم، وفي هشام بن سعد كلام لا يضر

Sanad ini Hasan, yaitu atas syarat Muslim, dan Hisyaam bin Sa’ad ada kritikan yang tidak memudhorotkannya.

Sedangkan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq alaa Musnad Ahmad, karena beliau berpendapat bahwa Hisyaam hanya perowi ahlu Mutaba’ah/syawahid (sekedar perowi yang dapat dijadikan penguat, tapi haditsnya sendiri adalah lunak/layyin), maka sanad hadits diatas kata beliau lemah.

Kemudian ternyata Hisyaam bin Sa’ad mendapatkan penguat/mutaba’ah dari “مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُحَبَّرٍ” (Muhammad bin Abdur Rokhman bin Muhabbar) dari Zaid bin Aslam dari Athoo’ bin Yasaar dari Abu Waaqid rodhiyallahu anhu. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 3302). Namun Muhammad bin Abdur Rokhman bin Muhabbar, dikatakan oleh Imam Al Albani sebagai perowi matrukul hadits, sedangkan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth mengatakan bahwa ia perowi yang wahiyal Hadits (sangat lemah haditsnya), sehingga perowi model seperti ini tidak dapat digunakan sebagai penguat, apalagi sebagai hujjah.

Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth menyebutkan mutaba’ah lain dari jalan Abdullah bin Ja’far dari Zaid bin Aslam dst. Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Namun kata asy-Syaikh Abdullah bin Ja’far bin Nujaih, adalah perowi dhoif.

Kemudian Hisyaam bin Sa’ad diselisihi oleh Robi’ah bin Utsman yang meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari Abu Muroowih dari Abu Waaqid, sebagaimana dalam riwayat Thabrani di Mu’jam Kabiirnya (no. 3303). Robi’ah ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma’in, sedangkan Abu Muroowih dikatakan beliau adalah sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam, ada juga yang mengatakan beliau adalah seorang Tabi’i yang tsiqoh. Namun kelihatannya asy-Syaikh Syu’aib Arnauth lebih condong bahwa haditsnya Robi’ah diatas adalah mursal, kata beliau :

هو أن الحديث إنما وقع في كتابه: عن زيد بن أسلم، عن أبي مراوح مرسلاً؛ بدليل أن ابن منده وأبا نعيم رواياه في “معرفة الصحابة” كما في “أسد الغابة” 6/281-282 مرسلاً من طريق أحمد بن الفرج، عن ابن أبي فديك، عن ربيعة بن عثمان، عن زيد بن أسلم، عن أبي مراوح الليثي: أن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: “قال الله تعالى: إنا أنزلنا المال لإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة”.

Yaitu hadits ini ada di kitabnya (Imam Baihaqi “Syu’abul Iman”) dari Zaid bin Aslam dari Abi Muroowih secara mursal, dengan bukti bahwa Ibnu Mandah dan Abu Nu’aim meriwayatkan dalam “Ma’rifatus Shohabat”, sebagaiman juga dalam “Asadul Ghoobah” (6/281-282) secara mursal dari jalannya Ahmad bin al-Faroh, dari Ibnu Abi Fudaik, dari Robi’ah bin Utsman, dari Zaid bin Aslam, dari Abi Muroowih al-Laitsiy beliau berkata : “bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : Al Hadits”.

Namun jika kita mengikuti kaedah ilmu mustholah hadits bahwa hadits mursal yang dikuatkan dengan jalan lain yang bersambung, sekalipun dari jalan yang dhoif munjabir (yang masih bisa dikuatkan), maka akan naik derajatnya menjadi hasan lighoirihi. Apalagi jika kita katakan bahwa haditsnya Hisyaam bin Sa’ad bernilai hasan lidzatihi.

Kesimpulannya hadits diatas minimal derajatnya adalah hasan, bahkan Imam al-Iroqiy, gurunya Al Hafidz Ibnu hajar, dalam Takhrijul Ihya Ulumuddin mengatakan setelah menyebutkan hadits diatas :

رواه أحمد والبيهقي في الشعب بسند صحيح

Diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi dalam Syuabul Iman dengan sanad shahih.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: