PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

January 21, 2016 at 2:05 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

 

Makalah ini merupakan pembahasan yang komprehensif terkait pembatal-pembatal wudhu, yang kami kumpulkan dari penjelasan para ulama terkait pembahasan tersebut. Kami curahkan perhatian dalam menyebutkan dalil-dalil terkait point-point yang disebut sebagai pembatal wudhu.

Ada beberapa hal berkaitan dengan masalah pembatal wudhu, yaitu : Pembatal-pembatal wudhu juga berlaku untuk pembatal tayamum, Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” berkata :

وَنَاقِضُ الْوُضُوءِ : نَاقِضٌ لِلتَّيَمُّمِ ، فَإِنَّهُ بَدَلٌ عَنْهُ

“Pembatal wudhu adalah pembatal tayamum, karena ia adalah pengganti wudhu”.

Kami akan membagi pembatal wudhu, menjadi 3 macam, yakni pembatal wudhu yang telah disepakati, pembatal yang diperselisihkan, namun yang rojih sebagai pembatal wudhu dan yang diperselisihkan, namun yang rajih tidak membatalkannya.

  • Jenis yang pertama, yaitu pembatal wudhu yang disepakati, sebagaimana telah berlalu perkataan Imam Ibnul Mundzir :

“para ulama bersepakat bahwa keluarnya kotoran dari dubur dan keluarnya kencing dari kemaluan laki-laki, demikian juga wanita, keluarnya sperma, kentut dari dubur, hilang akal, karena apapun sebabnya, semuanya membatalkan kesucian dan wajib wudhu lagi. Para ulama juga sepakat bahwa darah haidh membatalkan wudhu, Robiah bersendirian dengan mengatakan bahwa hadih tidak membatalkan wudhu”.

Dari penjelasan Imam Ibnul Mundzir, pembatal wudhu yang disepakati adalah : 1. Buang air besar; 2. Kencing; 3. Keluarnya sperma; 4. Kentut dari dubur; 5. Hilang akal; 6. Darah haidh.

Diantara dalil-dalil hal tersebut :

1&2 Untuk buang air besar dan kencing, hadist dari Shofwan bin ‘Asal Rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Rasulullah r memerintahkan kami jika kami bersafar, untuk tidak melepas sepatu kami selama 3 hari 3 malam, kecuali karena mandi wajib, buang air besar, kencing dan tidur” (HR. Tirmidzi dan Nasa’I, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

3). Keluar sperma dalilnya riwayat Imam Bukhori :

أَنْ زَيْدَ بْنَ خَالِدٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – قُلْتُ أَرَأَيْتَ إِذَا جَامَعَ فَلَمْ يُمْنِ قَالَ عُثْمَانُ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، وَيَغْسِلُ ذَكَرَهُ . قَالَ عُثْمَانُ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَسَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ عَلِيًّا ، وَالزُّبَيْرَ ، وَطَلْحَةَ ، وَأُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ – رضى الله عنهم – فَأَمَرُوهُ بِذَلِكَ

bahwa ia bertanya kepada Ustman bin ‘Affaan Rodhiyallahu anhu, aku bertanya : ‘bagaimana pendapatmu, jika seorang berhubungan badan, namun tidak keluar sperma?’. Ustman menjawab : ‘ia berwudhu, seperti wudhunya sholat, dan mencuci dzakarnya’. Ustman berkata : ‘aku mendengarnya dari Rasulullah r. Aku juga bertanya kepada Ali, Zubair, Tholhah dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhum, semuanya memerintahkan seperti itu”.

namun keluarnya sperma tidak hanya membatalkan wudhu, namun ia juga mewajibkan mandi janabah, sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim Rodhiyallahu anha bahwa ia bertanya :

سَأَلَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْمَرْأَةِ تَرَى فِى مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ »

“bertanya kepada Nabi r tentang seorang wanita yang bermimpi, seperti mimpinya laki-laki, Maka Rasulullah r menjawab : “jika wanita bermimpi seperti itu (lalu keluar sperma-pent.) maka wajib mandi” (HR. Muslim).

Dari Ali Rodhiyallahu anhu beliau berkata :

سَأَلْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْمَذْىِ فَقَالَ « مِنَ الْمَذْىِ الْوُضُوءُ وَمِنَ الْمَنِىِّ الْغُسْلُ »

“aku bertanya kepada Nabi r tentang madzi, maka beliau menjawab : “karena madzi berwudhu, sedangkan karena sperma mandi” (HR. Tirmidzi, dikatakan Imam Tirmidzi hadits ini Hasan Shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Permasalahan keluarnya sperma, wajib mandi telah disepakati kaum muslimin. Syaikh Mahmud Abdul Latif dalam “Jaamiul Ahkamis Sholat” berkata :

وجوب الغسل من الجنابة مُجمعٌ عليه من المسلمين ، وهو معلوم من الدين بالضرورة

“wajibnya mandi karena janabah, telah disepakati oleh kaum muslimin dan ini adalah sesuatu yang diketahui dalam agama dengan darurat”.

Barangkali Imam Bukhori menukil pendapat ulama yang mengatakan bahwa seorang jika berhubungan badan dengan istrinya, lalu belum sampai keluar spermanya, maka cukup berwudhu saja. Namun yang rajih bahwa, seorang yang telah berhubungan badan, yakni jika kemaluannya telah masuk kedalam kemaluan istrinya, sekalipun tidak keluar spermanya, maka wajib mandi. Berdasarkan hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi r bersabda :

« إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ ». وَفِى حَدِيثِ مَطَرٍ « وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ »

“Jika seseorang menduduki 4 sisi, lalu bersungguh-sungguh (kiasan untuk jimak-pent.), maka wajib mandi”. Dalam haditsnya Mathor : “sekalipun tidak keluar spermanya” (HR. Muslim).

4). kentut dari dubur, dalilnya adalah riwayat Imam Bukhori pada awal-awal kitab wudhu dan hadits pada bab ini no. 176 dan 177.

5). Hilang akal dengan sebab apapun, seperti pingsan, karena ketika itu ahliyahnya sebagai mukallaf telah hilang dan kembali lagi ketika ia sadar. Ustman Rodhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi r bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena dari 3 golongan, dari orang gila yang dikuasai akalnya, sampai ia sadar, dari orang yang tidur sampai ia bangun dan dari anak kecil sampai ia bermimpi (baligh)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

6). Darah haidh, sebenarnya hal ini adalah yang mewajibkan mandi dan ini sesuatu yang telah disepakati, syaikh Mahmud Abdul Latif berkata :

والحيض يجب له الغسل بلا خلاف، وهو معلوم من الدين بالضرورة

“Haidh wajib mandi tanpa ada perselisihan dan ini adalah sesuatu yang diketahui dalam agama dengan darurat”.

Ibunda Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ

“bahwa Asmaa bertanya kepada Nabi r tentang mandi haidh, maka Beliau menjawab : “engkau ambil air dan daun bidara, lalu bersuci dengan sebagus-bagusnya, lalu siramkan air diatas kepalamu, lalu digosok-gosokkan dengan keras hingga sampai ke akar rambut, lalu siram airnya. Lalu ambil kapas, digosok-gosokkan, lalu bersihkan dengannya”. Asmaa’ berkata, bagaimana cara membersihkannya?, Nabi menjawab : “Subhanallah, bersihkan dengannnya”. Aisyah berkata, seolah-olah ia tidak mengetahui untuk membersihkan bekas darahnya” (HR. Muslim).

   Kemudian terdapat tambahan penukilan ijma tentang batalnya wudhu dari Imam Syafi’I, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Bar dalam “Al Istidzkaar” :

كل ما خرج من السبيلين الذكر والدبر من دود أو حصاة أو دم أو غير ذلك ففيه الوضوء لإجماعهم على أن المذي والودي فيهما الوضوء وليسا من المعتادات التي يقصد الغائط لهما

“semua yang keluar dari 2 jalan kemalauan dan pantat, baik berupa cacing, batu, darah atau selainnya maka wajib wudhu, alasannya karena kesepakatan para ulama bahwa madzi dan wadiy wajib wudhu, dan itu bukan berupa kotoran yang akan dikeluarkan seseorang ketika buang air”.

7). Madziy yaitu kata syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” :

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر، وهو نجس باتفاق العلماء، إلا أنه إذا أصاب البدن وجب غسله وإذا أصاب الثوب اكتفي فيه بالرش بالماء، لان هذه نجاسة يشق الاحتراز عنها، لكثرة ما يصيب ثياب الشاب العزب، فهي أولى بالتخفيف من بول الغلام.

“yaitu air yang putih bening yang keluar jika membayangkan berjima’ atau ketika pemanasan. Biasanya seorang tidak akan terasa ketika keluar madziy. Terjadi pada laki-laki dan wanita, namun pada wanita biasanya lebih sering. Ia adalah najis berdasarkan kesepakatan ulama. Namun jika terkena badan wajib dicuci, Jika mengenai pakaian cukup diperciki dengan air, karena ini adalah najis yang susah untuk bisa terbebas darinya, karena seringnya mengenai pakaian pemuda yang belum menikah. Maka tentu lebih utama untuk mendapatkan keringanan dibandingkan kecingnya bayi laki-laki”.

   Dalil wajibnya madziy adalah hadits no. 178 pada bab ini. Sahabat Sahal bin Khunaif Rodhiyallahu anhu berkata :

كُنْتُ أَلْقَى مِنَ الْمَذْىِ شِدَّةً وَكُنْتُ أُكْثِرُ مِنْهُ الاِغْتِسَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا يُجْزِيكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِى مِنْهُ قَالَ « يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تُرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ »

“aku sangat sering keluar madziy, lalu aku sering sekali mandi karenanya, aku bertanya kepada Rasulullah r tentang hal ini. Kata Beliau : “hanyalah hal tersebut cukup bagimu berwudhu saja”. Aku bertanya lagi, wahai Rasulullah bagaimana jika madziy tersebut mengenai bajuku?’. Jawab nabi r : “cukup bagimu mengambil satu telapak tangan air lalu dipecikkan ke bajumu yang kamu lihat madziy mengenainya” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Al Albani).

8). Wadiy adalah kata Syaikh Sayyid Sabiq :

وهو ماء أبيض ثخين يخرج بعد البول وهو نجس من غير خلاف.

“air putih yang keruh yang keluar setelah kencing dan ia najis tanpa ada perbedaan pendapat”.

Dalilnya adalah perkataan Ibunda Aisyah Rodhiyallahu anha :

وأما الودي فإنه بعد البول يغسل ذكره وأنثييه ويتوضأ ولا يغتسل

“Adapun Wadiy adalah keluar setelah kencing, dicuci kemaluannya, lalu berwudhu tidak (perlu) mandi” (HR. Ibnul Mundzir dalam Al Ausath no. 26)

Kedudukan sanad : Imam Ibnul Mundzir meriwayatkannya dari jalan :

حدثنا محمد بن يحيى ، ثنا أبو حذيفة ، ثنا عكرمة ، عن عبد ربه بن موسى ، عن أمه ، أنها سألت عائشة عن المذي

“Haddatsanaa Muhammad bin Yahya, haddatsanaa Abu Khudzaifah, haddatsanaa ‘Ikrimah dari Abdu Robbihi bin Musa dari Ibunya, bahwa ia bertanya kepada Aisyah Rodhiyallahu anha tentang madziy?”.

Semua perowinya shoduq, menurut penilaian Al Hafidz dalam “At Taqriib”. Kecuali Abdu Robbihi dan Ibunya, saya belum menemukan bigrafinya. Syaikh Sayyid Sabiq menyebutkan hadits ini dalam Fiqhus Sunnah dan tidak ada komentar dari Imam Al Albani dalam Tamamul minnah, kitab khusus yang mengomentari fiqhus sunnah.

Sahabat Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu juga berkata :

الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ فَالْمَنِىُّ مِنْهُ الْغُسْلُ وَمِنْ هَذَيْنِ الْوُضُوءُ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Mani, Madziy dan Wadiy, maka untuk mani wajib mandi, sedangkan madziy dan wadiy, (wajib) wudhu dan mencuci kemaluannya lalu berwudhu” (HR. Baihaqi no. 576).

Kedudukan sanad : Imam Baihaqi meriwayatkannya dari jalan :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ وَأَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِى عَمْرٍو قَالاَ أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أُسَيْدُ بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ مُوَرِّقٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

“Akhbaronaa Abu Abdillah Al Hafidz dan Abu Sa’id bin Abi ‘Amr mereka berdua berkata, akhbaronaa Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub, haddatsanaa Usaid bin ‘Aashim, haddatsanaa Al Husain bin Hafsh dari Sufyan dari Manshur dari Mujahid dari Muwariq dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu”.

Semua perowinya tsiqoh, menurut penilaian Al Hafidz dalam “At-Taqriib”. Kecuali Usaid bin ‘Aashim, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Jarh wa Ta’dil”. Dan juga Al Husain bin Hafsh hanya dinilai shoduq oleh Al Hafidz. Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub dinilai tsiqoh sebagaimana dinukil oleh Imam Al Albani dalam “Silsilah hadits Shahihah”.

Kesimpulannya sanad riwayat ini hasan. Wallahu A’lam.

 

  • Sesuatu yang diperselishkan membatalkan wudhu, namun yang rajih (kuat) sebagai pembatal wudhu, yaitu :

1). Tidur, para ulama berselisih pendapat tentang apakah tidur membatalkan wudhu atau tidak? Syaikh Mahmud berkata :

اختلف العلماء والأئمة اختلافاً واسعاً في حكم النوم من حيث نقض الوضوء على ثمانية مذاهب جمعها النووي في شرح صحيح مسلم كما يلي :

الأول: إن النوم لا ينقض الوضوء على أي حال كان، وهو رأي أبي موسى الأشعري وسعيد بن المسيب وأبي مجلز وحميد الأعرج وشعبة.

الثاني: إن النوم ينقض الوضوء بكل حال ، وهو مذهب الحسن البصري والمُزَني وأبي عبيد القاسم بن سلاَّم وإسحق بن راهُوَيه وابن المنذر، وروي عن ابن عباس وأنس وأبي هريرة.

الثالث: إن كثير النوم ينقض بكل حال ، وقليله لا ينقض بحال، وهو مذهب الزُّهري وربيعة والأوزاعي ومالك وأحمد في إحدى الروايتين عنه.

الرابع: إذا نام على هيئة من هيئات المُصلِّين كالراكع والساجد والقائم والقاعد لا ينتقض وضوؤه، سواء كان في الصلاة أو لم يكن، وإن نام مضطجعاً أو مستلقياً على قفاه انتقض، وهو مذهب أبي حنيفة وداود، وهو قول للشافعي غريب.

الخامس: إنه لا ينقض إلا نوم الراكع والساجد ، روي هذا عن أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى.

السادس: إنه لا ينقض إلا نوم الساجد، ورُوي أيضاً عن أحمد رضي الله عنه.

السابع:لا ينقض النوم في الصلاة بكل حال، وينقض خارج الصلاة وهو قول ضعيفٌ للشافعي.

الثامن: إنه إذا نام جالساً ممكِّناً مقعدته من الأرض لم ينتقض، وإلا انتقض سواء قلَّ أو كثر، سواء كان في الصلاة أو خارجها، وهذا مذهب الشافعي رحمه الله تعالى.

“Para ulama berbeda pendapat secara luas tentang hukum tidur dari sisi apakah ia membatalkan wudhu kepada 8 pendapat yang telah dikumpulkan oleh Imam Nawawi dalam Syaroh Shahih Muslim, sebagai berikut :

  1. Tidur tidak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah pendapatnya Abu Musa Al Asy’ari, Sa’id Ibnul Musayyib, Abu Mijlaz, Humaid, Al A’roj dan Syu’bah.
  2. Tidur membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah madzhabnya Hasan Al Bashri, Al Muzaniy, Abi Ubaid, Al Qosim bin Sallaam, Ishaq bin Roohawaih, Ibnul Mundzir, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Anas dan Abi Huroiroh.
  3. Tidur yang banyak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, sedangkan tidur yang sedikit tidak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah pendapatnya Az Zuhriy, Robi’ah, Al Auzaa’I, Malik, Ahmad pada salah satu riwayat darinya.
  4. Jika tidur pada posisi seperti orang yang sholat, seperti ruku’, sujud, berdiri dan duduk tidak membatalkan wudhunya, sama saja apakah didalam sholat, maupun diluar sholat. Jika ia tidur dengan berbaring atau terlentang diatas lehernya, maka ini membatalkan wudhu, ini adalah madzhabnya Abu Hanifah, Dawud dan pendapat Syafi’I yang asing.
  5. Tidak membatalkan wudhu kecuali tidur pada posisi ruku’ dan sujud, ini pendapatnya Ahmad.
  6. Tidak membatalkan wudhu kecuali tidur pada posisi sujud, diriwayatkan juga dari Ahmad.
  7. Tidak membatalkan wudhu didalam sholat pada kondisi apapun dan membatalkannya jika diluar sholat, ini pendapat Syafi’I yang lemah.
  8. Jika tidur pada posisi duduk tegak diatas tanah, tidak membatalkan wudhu, sama saja apakah sedikit maupun banyak, sama saja apakah didalam sholat atau diluar sholat, ini adalah madzhabnya Syafi’i.

Untuk merajihkan pendapat tentang tidur, maka ada baiknya kita perlu meninjau beberapa hadits berikut :

  1. Hadist Shofwan bin Asal diatas yang menunjukan bahwa tidur secara mutlak membatalkan wudhu.
  2. Hadits Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu bahwa ia berkata :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى عَهْدِهِ – يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ، ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

“adalah sahabat-sahabat Rasulullah r pada zaman Nabi r, menunggu sholat Isya (tidur) hingga kepalanya terangguk-angguk (tegluk-tegluk-bs. Jawa-pent.) lalu sholat, tanpa berwudhu lagi” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Imam Daruquthni, asalnya pada Shahih Muslim).

Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” menyebutkan kisah lain tentang sifat tidur para sahabat tersebut, kata beliau :

فَالْأَحَادِيثُ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى خَفْقَةِ الرَّأْسِ ، وَعَلَى الْغَطِيطِ ، وَعَلَى الْإِيقَاظِ وَعَلَى وَضْعِ الْجُنُوبِ ، وَكُلُّهَا وَصَفَتْ بِأَنَّهُمْ لَا يَتَوَضَّئُونَ مِنْ ذَلِكَ

“hadits-hadits dalam masalah ini diriwayatkan dengan (sifat) terangguk-angguk kepalanya, mendengkur, tidur diatas lambung, semuanya ini disifatkan bahwa setelah itu mereka tidak berwudhu lagi”.

Dalam riwayat ini, seolah-olah tidur tidak membatalkan wudhu secara mutlak, karena mereka para sahabat langsung sholat tanpa berwudhu lagi dan bagi mereka yang mentakwil bahwa ini adalah tidur yang sedikit, maka tertolak dengan adanya sifat mereka tidur mendengkur, yang menunjukan bahwa itu adalah tidur yang banyak.

  1. Hadits Ali Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi r bersabda :

وِكَاءُ السَّهِ الْعَيْنَانِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Pengikat dubur adalah kedua mata, barangsipa yang tertidur, maka hendaknya berwudhu” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Dalam lafadz Muawiyyah bin Abi Sufyan, sabda Nabi r :

الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَإِذَا نَامَتِ الْعَيْنُ اسْتَطْلَقَ الْوِكَاءُ

“Kedua mata adalah pengikat dubur, jika mata tertidur (terpejam), maka lepaslah ikatannya” (HR. Daruquthni dan selainnya).

  1. Hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi r bersabda :

وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى صَلاَةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ ، وَتُصَلِّى – يَعْنِى عَلَيْهِ – الْمَلاَئِكَةُ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ »

“Jika ia masuk masjid, ia dihitung sedang sholat selama ia menunggunya dan para malaikat bersholawat (mendoakannya) selama ia masih ditempat duduk yang ia mengerjakan sholat padanya. Malaikat berdoa : “Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, selama ia tidak berhadatas” (Muttafaqun Alaih).

Dari hadits-hadits diatas, nampaknya kita mulai menemukan titik yang jelas, perbedaan antara tidur yang membatalkan wudhu dan yang tidak, yakni salah satu alasan kuat, kenapa tidur membatalkan wudhu adalah yang pertama ia menghilangkan akal, sehingga ia dihukumi seperti orang yang hilang akalnya. Yang kedua, ia tidak bisa mengontrol dirinya apakah ia telah berhadats atau tidak, karena Rasulullah r telah mensifatkan kedua mata, sebagai pengikat dubur, artinya dengan kedua mata yang masih dapat merasakan kondisi sekelilingnya, maka ia bisa mengetahui dirinya apakah telah kentut atau tidak.

Imam Al Albani dalam “Tamamul Minnah” telah menceritakan sebuah kisah yang menarik kata beliau :

مال إليه أبو عبيد القاسم بن سلام في قصة طريفة حكاها عنه ابن عبد البر في ” شرح الموطأ ” ( 1 / 117 / 2 ) قال : ” كنت أفتي أن من نام جالسا لا وضؤ عليه حتى قعد إلى جنبي رجل يوم الجمعة فنام فخرجت منه ريح فقلت : قم فتوضأ

فقال : لم أنم فقلت : بلى وقد خرجت منك ريح تنقض الوضوء فجعل يحلف بالله ما كان ذلك منه وقال لي : بل منك خرجت فزايلت ما كنت أعتقد في نوم الجالس وراعيت غلبة النوم ومخالطته القلب

“Abu ‘Ubaid bin Salaam condong kepada pandapat tersebut dalam kisah unik yang diceritakan oleh Ibnu Abdil Bar dalam “Syaroh Muwatho” (1/117/2) ia berkata : ‘saya berfatwa bahwa orang yang tidur dalam keadaan duduk tidak perlu berwudhu, sampai suatu ketika aku duduk disamping orang pada waktu sholat Jum’at, lalu orang tersebut tertidur, lalu keluar darinya suara kentut. Aku berkata kepadanya : ‘bangunlah, lalu berwudhu’. Ia berkata, ‘aku tidak tidur’. Aku berkata : ‘bahkan engkau telah kentut yang membatalkan wudhu, aku sampai bersumpah demi Allah, atas hal tersebut’. Ia berkata : ‘mungkin itu darimu’. Setelah itu berubahlah apa yang aku yakini selama ini tentang tidurnya orang yang duduk yang tidur menguasainya dan mencampur adukan hatinya”.

Sehingga pendapat yang rajih adalah bahwa tidur yang membuat pelakunya tidak menyadari apakah ia telah berhadats atau tidak, itulah tidur yang dapat membatalkan wudhu. Imam Al Abani telah menukil penjelasan dari Imam Al Khothoobiy tentang definisi tidur dengan mengantuk, kata beliau :

قال الخطابي في ” غريب الحديث ” ( ق 32 / 2 ) : ” وحقيقة النوم هو الغشية الثقيلة التي تهجم على القلب فتقطعه عن معرفة الأمور الظاهرة

و ( الناعس ) : هو الذي رهقه ثقل فقطعه عن معرفة الأحوال الباطنة ”

وبمعرفة هذه الحقيقة من الفرق بين النوم والنعاس تزول إشكالات كثيرة ويتأكد القول بأن النوم ناقض مطلقا

“Al Khothoobiy dalam “Ghoribul Hadits” (2/32Q) berkata : “hakikat tidur adalah sesuatu yang menguasai sangat berat yang menyebabkan hati tertutupi, sehingga terputus darinya mengenali hal-hal yang dhohir.

Sedangkan kantuk adalah rasa yang berat yang menghalangi mengetahui perkara-perkara yang batin”.

Kata Al Albani : ‘mengetahui hakikat perbedaan antara tidur dan kantuk, menghilangkan keraguan-keraguan yang banyak dan menguatkan pendapat bahwa tidur membatalkan wudhu secara mutlak”.

2). Darah istihadhoh, Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

جَاءَتْ فَاطِمَةُ ابْنَةُ أَبِى حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ ، أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ ، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِى الصَّلاَةَ ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّى »

“Fatimah Binti Abu Hubaisy Rodhiyallahu anha mendatangi Nabi r, ia berkata : ‘wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang istihadhoh, maka aku tidak suci, apakah aku perlu meninggalkan sholat?’. Rasulullah r menjawab : “Jangan, itu hanyalah peluh, bukan haidh, jika tiba waktu haidhmu, maka baru tinggalkan sholat, jika telah lewat haidhmu, cucilah darah tersebut lalu sholat” (Muttafaqun Alaih).

Dalam Lafadz Bukhori terdapat tambahan :

ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ

“lalu engkau berwudhu tiap kali sholat”.

Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya wudhu bagi wanita yang istihadhoh, Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” menyebutkan 3 pendapat berkaitan dengan hal ini, kata beliau :

فَهَذِهِ الزِّيَادَةُ هِيَ الْحُجَّةُ عَلَى أَنَّ دَمَ الِاسْتِحَاضَةِ حَدَثٌ مِنْ جُمْلَةِ الْأَحْدَاثِ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ وَلِهَذَا أَمَرَ الشَّارِعُ بِالْوُضُوءِ مِنْهُ لِكُلِّ صَلَاةٍ ، إنَّمَا رَفَعَ الْوُضُوءُ حُكْمَهُ لِأَجْلِ الصَّلَاةِ ، فَإِذَا فَرَغَتْ مِنْ الصَّلَاةِ نُقِضَ وُضُوءُهَا ؛ وَهَذَا قَوْلُ الْجُمْهُورِ أَنَّهَا تَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ

“tambahan ini (dalam riwayat Bukhori) adalah hujjah bahwa darah istihadhoh itu adalah hadats, termasuk hadats-hadats yang membatalkan wudhu, oleh karenanya syariat memerintahkan berwudhu tiap kali sholat, hanyalah digugurkan wudhu hukumnya karena sholat, jika telah selesai sholat maka (kelurnya) darah istihadhoh membatalkan wudhunya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa wajib bagi wanita mustahadhoh berwudhu setiap kali sholat”.

Ini adalah pendapat yang pertama, lalu lanjut beliau :

وَذَهَبَتْ الْهَادَوِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ إلَى أَنَّهَا تَتَوَضَّأُ لِوَقْتِ كُلِّ صَلَاةٍ ، وَأَنَّ الْوُضُوءَ مُتَعَلِّقٌ بِالْوَقْتِ ، وَأَنَّهَا تُصَلِّي بِهِ الْفَرِيضَةَ الْحَاضِرَةَ وَمَا شَاءَتْ مِنْ النَّوَافِلِ

“Hadawiyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa ia berwudhu setiap waktu sholat, jadi wudhunya dikaitkan dengan waktu, ia melakukan sholat wajib dan sholat sunnah sekehendaknya (pada waktu tersebut)”.

Dan pendapat yang terakhir kata beliau :

ذَهَبَتْ الْمَالِكِيَّةُ إلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ الْوُضُوءُ وَلَا يَجِبُ إلَّا لِحَدَثٍ آخَرَ

“Malikiyah berpendapat disunahkan berwudhu, tidak diwajibkan kecuali karena hadats yang lain”.

   Perbedaan tersebut disebabkan salah satunya karena perbedaan didalam menerima keshahihan tambahan riwayat Bukhori yang mengatakan bahwa bagi wanita mustahadhoh diperintahkan untuk berwudhu tiap kali sholat, dan kami telah menyusun sebuah artikel yang menguatkan pendapat tentang keshahihan tambahan ini. Sehingga pendapat yang rajih dalam hal ini adalah darah istihadhoh sebagai pembatal wudhu, hanya saja dimaafkan ketika mengerjakan sholat, sebagaimana kondisi orang yang memiliki penyakit beser.

3). Menyentuh kemaluan, para ulama berbeda pendapat tentang apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudhu atau tidak? Dalam permasalahan ini terdapat 2 buah jenis hadits yang seolah-olah saling bertentangan, dimana 1 jenis hadits mengatakan menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu dan jenis yang lain mengatakan membatalkan wudhu. Berikut haditsnya :

  1. Hadits Busroh bintu Shofwaan, bahwa Nabi r bersabda :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلاَ يُصَلِّ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka janganlah ia sholat, hingga berwudhu terlebih dahulu” (HR. 4 ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

   Dalam riwayat ini orang yang menyentuh kemaluannya dapat membatalkan wudhu.

Dalam riwayat Nasa’I lafadznya :

أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَكَرَ مَا يُتَوَضَّأُ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيُتَوَضَّأُ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ »

“bahwa Busroh mendengar Rasulullah r menyebutkan apa saja yang diwajibkan wudhu, maka Rasulullah r bersabda : “diwajibkan wudhu orang yang menyentuh kemaluan” (Dishahihkan oleh Imam Al Albani).

   Dalam hadits ini terkandung makna bahwa orang yang menyentuh kemaluan, baik kemaluannya sendiri atau kemaluan orang lain, maka ia wajib berwudhu. Lajnah Daimah Saudi Arabia pernah ditanya :

السؤال الخامس من الفتوى رقم 10447

س: هل لمس عورة صغيري أثناء تغيير ملابسه ينتقض وضوئي؟

ج: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه.. وبعد: لمس العورة بدون حائل ينقض الوضوء سواء كان الملموس صغيرا أو كبيرا. لما ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « من مس فرجه فليتوضأ » . وفرج الممسوس مثل فرج الماس.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // نائب الرئيس // الرئيس //

عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Soal : Apakah menyentuh aurat anak kecilku, pada saat mengganti pakaiannya, dapat membatalkan wudhuku?

Jawab : setelah pujian dan sholawat. Menyentuh aurat tanpa penghalang dapat membatalkan wudhu, sama saja apakah yang disentuh auratnya anak kecil maupun orang dewasa, karena hadits tsabit bahwa Nabi r bersabda : “Barangsiapa yang menyentuh farajnya, maka berwudhulah”. Faraj yang disentuh sama seperti menyentuh farajnya.

Masih dalam kitab yang sama, lafadznya :

مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka beruwudhulah” (Dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam riwayat Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya, lafadznya :

إذا مس أحدكم فرجه فليتوضأ والمرأة مثل ذلك

“Jika kalian menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah begitu juga wanita seperti itu” (Syaikh Syu’aib Arnauth mengatakan, para perowinya tsiqoh).

Kata Syaikh Mahmud, bahwa faraj dalam bahasa Arab mencakup qubul (kemaluan) dan dubur (pantat), sehingga barangsiapa yang menyentuh baik itu kemaluan atau pantatnya, dapat membatalkan wudhu, baik laki-laki, maupun perempuan.

Dalam lafadz Imam Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi r bersabda :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ، وَأَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فَلْتَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah, wanita mana saja yang menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah” (Imam Haitsami berkata : ‘diriwayatkan Ahmad didalamnya ada Baqiyah ibnul Walid ia seorang Mudallis dan disini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah’. Namun Syaikh Syu’aib dalam Ta’liq Musnad Ahmad mengatakan : ‘sanadnya Hasan, dan Baqiyah meriwayatkan dengan jelas’).

2) dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi r bersabda :

إذا أفضي أحدكم بيده إلى فرجه وليس بينهما ستر ولا حجاب فليتوضأ

“Jika kalian menyentuh dengan tangannya kemaluannya tanpa ada pembatas dan penghalang, maka berwudhulah” (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Hadits jenis ini menunjukan bahwa yang membatalkan bila menyentuhnya secara langsung, adapun jika kemaluan tersebut tertutupi atau terhalangi atau ia memakai sarung tangan misalnya, maka tidak membatalkan wudhu.

   Kedua jenis pada point 1 dan 2, sebagian ulama berpendapat dengannya, yaitu menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Syaikh Mahmud dalam “Jamiul Ahkamis Sholat” berkata :

وخالفهم آخرون ذاهبين إلى إيجاب الوضوء من مسِّه ، وممن رُوي عنهم الإيجاب من الصحابة – حسب ما ذكر الحازمي – عمر بن الخطاب وابنه عبد الله وأبو أيوب الأنصاري وزيد بن خالد وأبو هريرة وعبد الله بن عمرو وجابر وعائشة وأم حبيبة وبُسرة بنت صفوان وسعد بن أبي وقاص في الرواية الثانية عنه وابن عباس في الرواية الثانية عنه، ومن التابعين عروة بن الزبير وسليمان بن يسار وعطاء بن أبي رباح وأبان بن عثمان وجابر بن زيد والزُّهري ومصعب بن سعد ويحيى بن أبي كثير وسعيد بن المسيِّب في أصح الروايتين عنه وهشام بن عروة والأوزاعي والشافعي وأحمد وإسحق والمشهور من قول مالك.

“Sebagian yang lain menyelisihinya dengan berpendapat wajibnya wudhu orang yang menyentuh auratnya, ulama yang diriwayatkan berpendapat atas wajibnya wudhu –sesuai dengan yang disebutkan Al Haazimiy- dari kalangan sahabat Umar bin Khothob, anaknya Abdullah, Abu Ayyub Al Anshoriy, Zaid bin Khoolid, Abu Huroiroh, Abdullah bin ‘Amr, Jabir, Aisyah, Ummu Habibah, Busroh bintu Shofwan, Sa’ad bin Abi Waqqoosh dalam pendapat kedua darinya dan Ibnu Abbas dalam pendapat kedua darinya Rodhiyallahu anhum. Dari kalangan Tabi’in yakni, Urwah bin Zubair, Sulaiman bin Yassaar, ‘Athoo’ bin Abi Robaah, Abaan bin Utsman, Jabir bin Zaid, Zuhri, Mush’ab bin Sa’ad, Yahya bin Abi Katsir, Sa’id ibnul Musayyib dari pendapatnya yang palih shahih diantara 2 pendapatnya, Hisyaam bin Urwah, Al Auzaa’iy, Syafi’iy, Ishaq dan pendapat Malik yang masyhur”.

3) hadits Tholiq, bahwa ia berkata :

قَدِمْنَا عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، مَا تَرَى فِي مَسِّ الرَّجُلِ ذَكَرَهُ بَعْدَ مَا يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ: «هَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْهُ»، أَوْ قَالَ: «بَضْعَةٌ مِنْهُ»

“kami sedang bersama Nabi r, lalu datang seseorang yang sepertinya adalah orang baduwi, ia berkata : ‘wahai Nabi Allah, apa pendapatmu tentang orang yang menyentuh dzakarnya, setelah ia berwudhu?. Nabi r menjawab : “bukankah ia daging yang tumbuh darinya” atau Beliau berkata : “bagian dari tubuh”” (HR. 4 ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, Thobroni, Ibnu Hazm dan Al Albani).

   Hadits ini menunjukan bahwa karena kemaluan adalah bagian dari tubuh, sehingga menyentuhnya sama seperti menyentuh bagian tubuh yang lain, seperti hidung dan semisalnya, yang tentu saja tidak membatalkan wudhu. Diantara ulama yang berpendapat tidak batal wudhu yaitu kata syaikh Mahmud :

فذكر الحازمي أن علي بن أبي طالب وعمار بن ياسر وعبد الله بن مسعود وابن عباس في إحدى الروايتين عنه، وحذيفة بن اليمان وعمران بن حصين وأبا الدرداء وسعد بن أبي وقاص في إحدى الروايتين عنه، وسعيد بن المسيِّب في إحدى الروايتين عنه، وسعيد بن جبير وإبراهيم النخعي وربيعة بن عبد الرحمن وسفيان الثوري وأبا حنيفة وأصحابه رأوا ترك الوضوء من مسِّ الذَّكر.

“Al Hazimiy menyebutkan bahwa Ali bin Abi Tholib, ‘Amaar bin Yaasir, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas dalam salah satu pendapatnya, Khudzaifah ibnul Yamaan, ‘Imroon bin Khushain, Abu Dardaa’, Sa’ad bin Abi Waqoosh dalam salah satu pendapatnya, Sa’id ibnul Musayyib dalam salah satu pendapatnya, Sa’id bin Jubair, Ibrohim An Nakhoo’iy, Robii’ah bin Abdur Rokhman, Sufyaan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan teman-temanya berpendapat tidak berwudhu bagi orang yang menyentuh kemaluan”.

   Untuk melakukan tarjih dari 2 pendapat para ulama yang bertentangan ada yang melakukannya dengan metode tarjih dan ada juga yang melakukannya dengan metode penggabungan. Bagi sebagian ulama yang melakukan tarjih, maka mereka akan memilih pendapat batalnya wudhu, karena menyentuh kemaluan. Alasan mereka, sebagaimana dikatakan Syaikh Mahmud :

قال البيهقي (يكفي في ترجيح حديث بُسرة ـ أي الأول ـ على حديث طلق ـ أي الرابع ـ أن حديث طلق لم يحتجَّ الشيخان بأحد من رواته، وحديث بسرة قد احتجا بجميع رواته) فهذه أولى الحجج في ترجيح الإيجاب على عدمه.

“Baihaqi berkata : “cukup melakukan tarjih pada haditsnya Busroh-yang pertama- (yang mewajibkan wudhu), atas haditsnya Tholaq-yang keempat- (yang tidak mewajibkan wudhu). Alasannya, hadits Tholaq para perowinya tidak dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim, sedangkan hadits Busroh, semua perowinya dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim. Maka ini lebih utama berhujjah untuk menguatkan pendapat yang wajibkan wudhu dibanding pendapat yang menafikannya”.

   Alasan lainnya lagi, kata Syaikh Mahmud :

إن حديث طلق ضعَّفه عدد كبير من الأئمة المعتبرين. قال الشافعي: قد سألنا عن قيس بن طلق فلم نجد من يعرفه. وقال أبو حاتم وأبو زُرعة: قيس بن طلق ممن لا تقوم به حجة. والمعلوم أن حديث طلق بن علي هو من رواية ابنه قيس بن طلق، في حين أن الأئمة الذين ضعَّفوا حديث بسرة إنما ضعَّفوه من طريق عروة عن مروان عن بُسرة، ومروان مطعون في عدالته، ولكن ابن خُزَيمة وغيره جزموا بأن عُروة سمعه من بُسرة مباشرة، ففي صحيح ابن حِبَّان وسنن الدار قطني «قال عروة فسألت بُسرة فصدَّقته». وبمثل هذا أجاب ابن خُزَيمة والحاكم ، فيسقط تضعيفهم هذا.

“Hadits Tholaq dilemahkan oleh banyak Aimah yang mu’tabar. Syafi’I berkata : ‘kami bertanya tentang Qois bin Tholaq, maka kami tidak mendapatkan orang yang mengenalnya’. Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata : ‘Qois bin Tholaq adalah dari kalangan perowi yang tidak bisa tegak padanya hujjah. Sudah diketahui bahwa haditsnya Tholaq bin Ali Rodhiyallahu anhu adalah dari riwayat anaknya Qois bin Tholaq. Sedangkan Aimah yang mendhoifkan hadits Busroh Rodhiyallahu anhu, hanyalah mendhoifkannya dari jalan Urwah dari Marwan dari Busroh, Marwan tercela dalam ‘adalahnya, namun Ibnu Khuzaimah dan selainnya memastikan bahwa Urwah mendengar langsung dari Busroh. Dalam Shohih Ibnu Hibban dan Sunan Daruquthni : “Urwah berkata, aku bertanya kepada Busroh, lalu ia membenarkannya”. Dengan riwayat seperti ini, Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim telah menjawab alasan pelemahannya, maka gugurlah pendhoifan haditsnya Busroh”.

   Imam Ibnu Utsaimin dalam “Al Ushul min ilmil Ushul” menambahkan sisi tarjihnya, kata beliau :

فيرجح الأول؛ لأنه أحوط، ولأنه أكثر طرقاً، ومصححوه أكثر، ولأنه ناقل عن الأصل، ففيه زيادة علم.

“Yang Rojih yang pertama (wajib wudhu), karena ini lebih hati-hati, lebih banyak jalannya dan dishahihkan oleh lebih banyak ulama. Juga ini adalah memalingkan dari hukum asal, maka didalamnya ada tambahan ilmu”.

   Adapun sebagiannya lagi melakukan jam’ul dalilain (mengkompromikan 2 dalil) yakni mereka mengatakan yang membatalkan wudhu apabila menyentuhnya dengan syahwat. Imam Al Albani dalam “Tamamul Minnah” berkata :

قلت : قوله صلى الله عليه وسلم : ” إنما هو بضعة منك ” فيه إشارة لطيفة إلى أن المس الذي لا يوجب الوضوء إنما هو الذي لا يقترن معه شهوة لأنه في هذه الحالة يمكن تشبيه مس العضو بمس عضو آخر من الجسم بخلاف ما إذا مسه بشهوة فحينئذ لا يشبه مسه مس العضو الآخر لأنه لا يقترن عادة بشهوة وهذا أمر بين كما ترى وعليه فالحديث ليس دليلا للحنفية الذين يقولون بأن المس مطلقا لا ينقض الوضوء بل هو دليل لمن يقول بأن المس بغير شهوة لا ينقض وأما المس الشهوة فينقض بدليل حديث بسرة وبهذا يجمع بين الحديثين وهو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية في بعض كتبه على ما أذكر

والله أعلم

“Sabda Nabi r : ‘ia hanyalah bagian tubuhmu”. Ini adalah isyarat yang halus bahwa menyentuh yang tidak mewajibkan wudhu, hanyalah jika tidak dibarengi dengan syahwat, karena dalam hal ini, dapat diserupakan dengan menyentuh anggota tubuh lainnya dari tubuh, berbeda jika menyentuhnya dengan syahwat, maka ketika itu tidak dapat diserupakan dengan menyentuh anggota tubuh lainnya, karena umunya menyentuh bagian anggota tubuh selain faraj tidak dibarengi syahwat. Ini adalah perkara yang jelas, sebagaimana engkau lihat. Hadits ini bukan dalil bagi Hanafiyah yang berpendapat menyentuh faraj secara mutlak tidak membatalkan wudhu, namun ini adalah dalil bagi yang berpendapat menyentuh tanpa syahwat dapat membatalkan wudhu. Adapun menyentuhnya dengan syahwat dapat membatalkan wudhu dengan dalil hadits Busroh. Ini adalah cara mengkompromikan 2 hadist ini dan ini adalah pilihannya Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam sebagian kitab-kitabnya yang aku sebutkan. Wallohu A’lam”.

   Kami memandang lebih tepat menggunakan metode jama’ (kompromi), karena dengannya kita dapat mengamalkan 2 hadits ini secara bersamaan. Terlebih lagi kedua hadits ini shahih. Apa yang dinukilkan oleh Syaikh Mahmud bahwa hadits Tholaq terdapat masalah pada sanadnya karena perowinya, yakni anak Tholaq Rodhiyallahu anhu sendiri Qois bin Tholaq, dimajhulkan dan dilemahkan oleh para ulama, kami jawab : bahwa Qois bin Tholaq telah ditsiqohkan oleh sebagian ulama lainnya, kata Imam Ibnu Ma’in : “شيوخ يمامية ثقات” (Syaikh Yamamiyah, tsiqoh). Begitu juga Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban mentautsiqnya. Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan haditsnya berkata :

وَهَذَا الْحَدِيثُ أَحْسَنُ شَىْءٍ رُوِىَ فِى هَذَا الْبَابِ

”hadits ini adalah yang paling bagus dari beberapa hadits yang diriwayatkan dalam bab ini”.

Dalam “Subulus Salam” Imam Shon’aniy menukil perkataan Imam Thohawi :

وَقَالَ الطَّحَاوِيُّ : إسْنَادُهُ مُسْتَقِيمٌ غَيْرُ مُضْطَرِبٍ وَصَحَّحَهُ الطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ حَزْمٍ

”Sanadnya lurus, tidak goncang, dishahihkan oleh Imam Thobroniy dan Ibnu Hazm”.

Bahkan Imam Syaukani dalam “Nailul Author” menukil ulama yang menguatkan haditsnya sahabat Tholaq dibanding shohabiyah Busroh, kata beliau :

وَصَحَّحَهُ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ الْفَلَّاسُ وَقَالَ : هُوَ عِنْدَنَا أَثْبَتُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ .

وَرُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ أَنَّهُ قَالَ : هُوَ عِنْدَنَا أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ

”Dishahihkan oleh ‘Amr bin Ali Al Falaas, katanya : ‘ia menurut kami lebih kokoh dari haditsnya Bushroh”. Diriwayatkan dari Ali Ibnul Madiniy bahwa ia berkata : ‘ia menurut kami lebih bagus dari haditsnya Busroh’”.

       Kami memandang yang rajih adalah dengan menggunakan teknik jama’ (penggabungan) hadits-hadits tersebut, dimana pendapat yang terpilih adalah batalnya wudhu jika menyentuh kemaluan dengan syahwat, sebagaimana yang dirajihkan oleh Imam Al Albani.

4). Makan Daging Onta

Para ulama berselisih pendapat tentang batalnya wudhu bagi yang memakan daging unta. Syaikh Mahmud menyebutkannya, kata beliau :

وقد اختلف المسلمون في أكل لحم الجمال من حيث نقضُ الوضوء على رأيين: فنُسب إلى الخلفاء الأربعة وابن مسعود وأُبيِّ بن كعب وابن عباس وأبي الدرداء وأبي أمامة ومالك وأبي حنيفة والشافعي أن أكل لحم الجَزور لا ينقض الوضوء. وذهب أحمد وإسحق بن راهُوَيه وابن المنذر وابن خُزَيمة والبيهقي وأصحاب الحديث مطلقاً، وجماعةٌ من الصحابة إلى أن أكل لحم الجَزُور ينقض الوضوء، ونُسب هذا الرأي إلى الشافعي في قول له، وإلى محمد بن الحسن من الأحناف. هذا وقد روي عن الإمام الشافعي أنه قال: إن صحَّ الحديث في لحوم الإبل قلنا به. ونحن نقول نعم قد صح الحديث. قال البيهقي وهو شافعيُّ المذهب (بلغني عن أحمد بن حنبل وإسحق بن إبراهيم الحنظلي ـ أي ابن راهُوَيه ـ أنهما قالا قد صح في هذا الباب حديثان عن النبي – صلى الله عليه وسلم – حديث البراء بن عازب وحديث جابر بن سمرة)

”Kaum Muslimin berselisih pendapat tentang hukum memakan daging unta dari sisi membatalkan wudhu kepada 2 pendapat. Dinisbahkan kepada kholifah yang 4, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abu Dardaa’ dan Abu Umaamah Rodhiyallahu anhum, Malik, Abu Hanifah dan Syafi’I bahwa memakan daging unta tidak membatalkan wudhu.

Ahmad, Ishaq bin Rohawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ulama hadits secara mutlak dan sekelompok sahabat, berpendapat bahwa memakan daging unta membatalkan wudhu. Dinisbahkan pendapat ini juga kepada Syafi’I tentang ucapannya dalam masalah ini dan kepada Muhammad ibnul Hasan dari kalangan Hanafiyah. Ini karena diriwayatkan bahwa Imam Syafi’I berkata : ‘jika shahih haditsnya tentang memakan unta (dapat membatlkan wudhu), maka kami berpendapat dengannya. Kami katakan benar shahih haditsnya. Baihaqi berkata yang ia merupakan ulama madzhab Syafi’I : ‘telah sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrohim yakni Ibnu Rohawaih, keduanya berkata bahwa telah shahih dalam bab ini 2 hadits dari Nabi r, haditsnya Baroo’ bin Aazib dan haditsnya Jaabir bin Samuroh’”.

Haditsnya sebagai berikut :

  1. Hadits Baroo’ bin ‘Aazib Rodhiyallahu anhu, bahwa ia berkata :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْوُضُوءِ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ فَقَالَ « تَوَضَّئُوا مِنْهَا ». وَسُئِلَ عَنْ لُحُومِ الْغَنَمِ فَقَالَ « لاَ تَتَوَضَّئُوا مِنْهَا ». وَسُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِى مَبَارِكِ الإِبِلِ فَقَالَ « لاَ تُصَلُّوا فِى مَبَارِكِ الإِبِلِ فَإِنَّهَا مِنَ الشَّيَاطِينِ ». وَسُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ فَقَالَ « صَلُّوا فِيهَا فَإِنَّهَا بَرَكَةٌ »

“Rasulullah r ditanya tentang wudhu karena makan daging unta, maka jawaban Nabi r : “Berwudhu karenanya”. Ditanya tentang makan daging Kambing, jawabnya : “tidak berwudhu karenanya”. Ditanya tentang sholat di kandang Unta, jawabnya : “janganlah sholat di kandang Unta, karena ini sarangnya setan”. Ditanya tentang sholat di kandang Kambing, jawabnya : “sholat disana karena itu berkah” (HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Hadits Jaabir bin Samuroh Rodhiyallahu anhu, bahwa ia berkata :

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ ». قَالَ أُصَلِّى فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ أُصَلِّى فِى مَبَارِكِ الإِبِلِ قَالَ « لاَ »

“bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah r : ‘apakah aku berwudhu kerena makan daging kambing?’. Nabi r menjawab : “Jika mau berwudhu, jika mau tidak usah berwudhu”. Tanyanya lagi : ‘apakah berwudhu karena memakan daging unta?’. Jawab Beliau : “iya berwudhu karena memakan daging unta”. Tanyanya lagi : ‘bolehkah aku sholat di kandang Kambing?’. Jawabnya : “Iya”. Tanyanya lagi : ‘Bolehkan sholat di kandang Unta?’. Jawabnya : “Tidak boleh”” (HR. Muslim).

   Sehingga berdasarkan hadits yang shahih ini, maka pendapat yang kuat makan daging Unta membatalkan wudhu, dan tidak perlu ragu untuk menerima pendapat ini demi melihat 4 kholifah dikatakan tidak berpendapat dengannya. Imam Al Albani berkata ketika mengkritik pihak yang merasa aneh dalam masalah ini, kata beliau :

وقال النووي : هذا المذهب أقوى دليلا وإن كان الجمهور على خلافه . انتهى

إلا أنه يقال : كيف خفي حديث جابر والبراء على الخلفاء الراشدين والجمهور الأعظم من الصحابة والتابعين ” قلت : هذا الاستفهام لا طائل تحته بعد أن صح الحديث عنه صلى الله عليه وسلم باعتراف المؤلف فلا يجوز تركه مهما كان المخالفون له في العدد والمنزلة فإن حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما ” يثبت بنفسه لا بعمل غيره من بعده “

”Imam Nawawi berkata : ‘madzhab ini lebih kuat dalillnya, sekalipun jumhur menyelisihinya-selesai-.

Namun perkataan Imam Nawawi : ‘bagaimana bisa ini tersembunyi, haditsnya Jaabir dan Baroo’ dari kholifah 4 dan mayoritas besar dari kalangan sahabat dan Tabi’in?’. aku (Imam Al Albani) berkata : ‘pertanyaan ini tidak layak diajukan setelah hadistnya Shahih dari Nabi r dengan sepengatahuan penulisnya, maka tidak boleh meninggalkannya sekalipun banyak yang menyelisihinya, karena hadits Rasulullah r hanyalah ia tetap dengan dirinya sendiri, tidak karena diamalkan oleh selainnya setelahnya”.

  1. Yang diperselisihkan sebagai pembatal wudhu, namun yang kuat adalah tidak membatalkan wudhu.

1). Menyentuh wanita secara mutlak. Para ulama berselisih pendapat tentangnya, Syaikh Mahmud berkata :

اختلف الأئمة والفقهاء في لمس المرأة هل ينقض الوضوء أم لا ينقض، على أقوال: فذهب عبد الله بن مسعود وعبد الله بن عمر والزُّهري وربيعة والشافعي إلى أن لمس المرأة ينقض الوضوء. وذهب علي بن أبي طالب وعبد الله بن عباس وأبيُّ بن كعب والحسن ومجاهد وقتادة وسعيد بن جبير والشعبي وعطاء وطاووس وأبو حنيفة وأبو يوسف وابن جرير الطبري إلى أنه غير ناقض. وقال أبو حنيفة وأبو يوسف: إلا إذا تباشر الفرجان وانتشر الذَّكَر وإن لم يُمْذٍ. وذهب مالك وأحمد وإسحق بن راهُويه إلى أن اللمس بشهوة ناقض

”para Imam dan Fuqoha berselisih pendapat tentang menyentuh wanita, apakah membatalkan wudhu atau tidak, menjadi beberapa pendapat :

Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhuma, Zuhriy, Robi’ah dan Syafi’I berpendapat bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu. Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Abbas dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhum, Hasan (Al bashri), Mujahid, Qotadah, Sa’id bin Jubair, Sya’bi, Athoo’, Thawus, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Ath-Thobari berpendapat tidak membatalkan wudhu. Abu Hanifah dan Abu Yusuf berkata : ‘kecuali jika kemaluan laki-laki dan wanitanya bersentuhan, dan kemaluannya menegang sekalipun belum keluar madzinya. Malik, Ahmad, Ishaq bin Rohawaih berpendapat menyentuh wanita dengan syahwat membatalkan wudhu”.

   Dalil bagi yang berpendapat menyentuh wanita membatalkan wudhu adalah dhohir ayat Al Qur’an, dimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

“atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu” (QS. An Nisaa’ (4) : 43 & QS. Al Maidah (5) : 6).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa “menyentuh perempuan”, mereka beristidlaal dengan dhohirnya, yakni batalnya tayamum/wudhu karena menyentuh perempuan secara mutlak. Mereka juga berdalil dengan perkataan Umar Rodhiyallahu ‘Anhu, kata beliau :

إِنَّ الْقُبْلَةَ مِنَ اللَّمْسِ فَتَوَضَّئُوا مِنْهَا

“Sesungguhnya mencium termasuk menyentuh, maka berwudhulah darinya” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan Imam Daruquthni).

Juga perkataan anaknya, Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘Anhu :

أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِى قُبْلَةِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَجَسِّهِ بِيَدِهِ مِنَ الْمُلاَمَسَةِ وَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ

“bahwa Ibnu Umar berkata tentang seorang yang mencium wanita dan meraba dengan tangannya termasuk adalah menyentuh dan barangsiapa yang mencium istrinya atau merabanya dengan tangannya, maka wajib baginya berwudhu” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Daruquthni).

Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu berkata juga :

الْقُبْلَةُ مِنَ اللَّمْسِ وَفِيهَا الْوُضُوءُ

“Mencium adalah menyentuh dan wajib wudhu padanya” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Daruquthni).

Dan juga dengan hadits dari Muadz bin Jabal Rodhiyallahu ‘Anhu kata beliau:

أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ رَجُلاً لَقِىَ امْرَأَةً وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا مَعْرِفَةٌ فَلَيْسَ يَأْتِى الرَّجُلُ شَيْئًا إِلَى امْرَأَتِهِ إِلاَّ قَدْ أَتَى هُوَ إِلَيْهَا إِلاَّ أَنَّهُ لَمْ يُجَامِعْهَا. قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ) فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَيُصَلِّىَ. قَالَ مُعَاذٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَهِىَ لَهُ خَاصَّةً أَمْ لِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً قَالَ « بَلْ لِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً »

“Seorang mendatangi Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, ia berkata : ‘wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang bertemu dengan wanita yang tidak dikenalnya, laki-laki tadi bukan mendatangi istrinya, namun ia berbuat dengan perempuan tersebut namun tidak sampai berhubungan badan?’. Lalu turunlah ayat : “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud (11) : 114). Maka Beliau memerintahkan untuk berwudhu lalu sholat. Muadz berkata : ‘wahai Rasulullah apakah itu khusus baginya atau untuk semua mukmin. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menjawab : “Bahkan untuk semua Mukmin”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan selainnya).

   Namun istidlaal madzhab yang mengatakan wajibnya wudhu bagi yang menyentuh wanita, dapat didiskusikan sebagai berikut :

  1. Makna ayat yang mengatakan “atau menyentuh wanita”, tidak dipahami sebagaimana dhohirnya. Karena menyentuh wanita dalam ayat diatas yang dimaksud adalah Jimaa’ (berhubungan badan), alasannya :
    1. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :

وأما قوله: { أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ } فقرئ: “لَمَسْتم” و”لامستم” واختلف المفسرون والأئمة في معنى ذلك، على قولين: أحدهما: “أن ذلك كناية عن الجماع؛ لقوله { وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ } [البقرة: 237] وقال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا } [الأحزاب: 49].

قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو سعيد الأشج، حدثنا وَكِيع، عن سفيان، عن أبي إسحاق، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس في قوله: { أَوْ لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ } قال: الجماع. ورُوي عن علي، وأبيّ بن كعب، ومجاهد، وطاوس، والحسن، وعُبَيد بن عمير، وسعيد بن جبير، والشَّعْبي، وقتادة، ومقاتل بن حيَّان -نحوُ ذلك.

وقال ابن جرير: حدثني حُمَيد بن مَسْعَدةَ، حدثنا يزيد بن زُرَيع، حدثنا شُعبة، عن أبي بِشْر، عن سعيد بن جبير قال: ذكروا اللمس، فقال ناس من الموالي: ليس بالجماع. وقال ناس من العرب: اللمس الجماع: قال: فأتيت ابن عباس فقلت له: إن ناسا من الموالي والعرب اختلفوا في اللمس، فقالت الموالي. ليس بالجماع. وقالت العرب: الجماع. قال: من أيّ الفريقين كنت؟ قلت: كنت من الموالي. قال: غُلب فريقُ الموالي. إن اللمس والمس والمباشرة: الجماع، ولكن الله يكني ما شاء بما شاء.

“adapun firman Allah : “atau menyentuh wanita”, maka dibaca ‘lamastum’ dan ‘laamastum’. Para ahli tafsir dan Aimah berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut, salah satunya berkata : ‘maknanya adalah kiasan dari berhubungan badan’. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu” (QS. Al Baqoroh : 237) dan Firman-Nya : “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu” (QS. Al Ahzaab : 49).

Ibnu Abi Hatim berkata : ‘haddatsanaa Abul Asyji, haddatsanaa Wakii’, dari Sufyaan dari Abi Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya : “atau menyentuh wanita”, beliau berkata, yakni berhubungan badan. Diriwayatkan dari Ali dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘Anhuma, Mujahid, Thawus, Hasan, ‘Ubaid bin ‘Umair, Sa’id bin Jubair, Sya’biy, Qotadah dan Muqotil bin Hayyan, semisal hal tersebut.

Ibnu Jariir berkata : ‘haddatsanii Humaid bin Mas’adah, haddatsanaa Yaziid bin Zuroi’, haddatsanaa Syu’bah, dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair ia berkata, mereka menyebutkan tentang makna menyentuh. Berkata para mawali (bekas budak) : ‘itu bukan Jimaa’’. Orang Arab berkata : ‘menyentuh adalah jimaa’’. Oleh karena aku menemui Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu , lalu aku berkata : ‘orang-orang dari kalangan mawali dan arab asli, berselisih tentang makna menyentuh, mawali berkata, bukan jimaa’, sedangkan orang arab berkata, jimaa’. Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu berkata : ‘engkau berada di pihak mana dari dua kelompok ini?’. Aku menjawab : ‘dari pihak mawali’. Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu berkata : ‘mawali telah dikalahkan, sesungguhnya menyentuh dan mubasyaroh adalah jimaa’, namun Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengkiasannya sesuai yang dikehendakinya”.

Namun sebagian ulama yang berpendapat menyentuh wanita membatalkan wudhu menyodorkan makna lain, bahwa menyentuh disini adalah dalam makna hakikinya, yakni menyentuh dengan tangan, sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ نزلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ

“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri” (QS. Al An’aam (6) : 7).

Dan juga hadits tentang kisah Maiz Rodhiyallahu ‘Anhu yang mengaku telah berbuat zina, maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam mengkonfirmasinya :

لعلك قبلت أو لمست

“Mungkin engkau menciumnya atau merabanya” (HR. Bukhori).

Dalam hadits yang shahih, Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

واليد زناها اللمس

“tangan, zinanya meraba”.

Yang rajih dari makna ini adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Thobari yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya :

ثم قال ابن جرير: وأولى القولين في ذلك بالصواب قول من قال: عنى الله بقوله: { أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ } الجماع دون غيره من معاني اللمس، لصحة الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قَبّل بعض نسائه ثم صلى ولم يتوضأ

“Ibnu Jariir berkata : ‘yang lebih utama dari 2 pendapat ini yang benar adalah, Allah memaksudkan “atau menyentuh perempuan” dengan Jimaa’ bukan makna menyentuh lainnya, karena shahihnya kabar dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bahwa Beliau mencium sebagian istri-istrinya, lalu sholat dan tidak berwudhu lagi”

Kemudian Imam Thobari menyebutkan riwayat-riwayatnya yang nanti akan kita bawakan Insya Allah.

  1. Jika dilihat dari susunan pada ayat ini, maka makna menyentuh disitu adalah berhubungan badan. Demikian bunyi ayat lengkapnya :

“dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)” (QS. Al Maidah (5) : 6).

Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syaroh Mumti’” berkata :

أنَّ في الآية دليلاً على ذلك حيث قُسِّمت الطَّهارةُ إلى أصليَّة وبدل، وصُغرى وكُبرى، وبُيِّنَت أسباب كلٍّ من الصُّغرى والكُبرى في حالتي الأصل والبدل، وبيان ذلك أن الله تعالى قال: يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين {المائدة: 6} فهذه طهارة بالماء أصليَّة صُغرى.

ثم قال: وإن كنتم جنبا فاطهروا. وهذه طهارة بالماء أصليَّة كُبرى.

ثم قال: وإن كنتم مرضى” أو على” سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لامستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا فقوله “فتيمَّمُوا” هذا البدل، وقوله: أو جاء أحد منكم من الغائط هذا بيانُ سبب الصُّغرى، وقوله: أو لامستم النساء هذا بيان سبب الكُبرى.

ولو حملناه على المسِّ الذي هو الجسُّ باليد، لكانت الآية الكريمة ذكر الله فيها سببين للطَّهارة الصُّغرى، وسكت الله عن سبب الطَّهارة الكُبرى مع أنَّه قال: وإن كنتم جنبا فاطهروا وهذا خلاف البلاغة القرآنية.

وعليه؛ فتكون الآية دالة على أن المُراد بقوله: أولامستم النساء أي: “جامعتم”، ليكون اللهُ تعالى ذكر السَّببين الموجبين للطَّهارة، السَّببَ الأكبر، والسَّببَ الأصغَر، والطَّهارتين الصُّغرى في الأعضاء الأربعة، والكُبرى في جميع البدن، والبدُل الذي هو طهارةُ التيمُّمِ في عضوين فقط؛ لأنَّه يتساوى فيها الطَّهارة الكُبرى والصغرى.

فالرَّاجح: أن مسَّ المرأة، لا ينقضُ الوُضُوءَ مطلقاً إلا إذا خرج منه شيءٌ فيكون النَّقضُ بذلك الخارج.

“dalam ayat ini menunjukan bahwasanya thoharoh dibagi menjadi ashliyah dan badal (pengganti), sughro (kecil) dan Kubro (besar). Dijelaskan juga setiap sughro dan kubro terdapat dalam 2 kondisi yakni pada asal dan badalnya. Penjelasannya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” .

Maka ini adalah thoharoh dengan air ashliyah yang sughro.

Lalu firman-Nya : “dan jika kamu junub maka mandilah”.

Maka ini adalah thoharoh dengan air ashliyah yang kubro.

Lalu firman-Nya : “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah”.

Maka makna bertayamumlah adalah badal dan ucapannya “atau kembali dari tempat buang air (kakus)” ini adalah penjelasan sebab sughro. Dan ucapannya “atau menyentuh perempuan” ini adalah sebab kubro.

Seandainya kita bawa makna menyentuh disitu adalah meraba dengan tangan, niscaya ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’alaa menyebutkan 2 sebab untuk thoharoh sughro, lalu Allah Subhanahu wa Ta’alaa mendiamkan sebab thoharoh kubro, bersamaan dengan firman-Nya : “jika kamu junub, maka mandilah”. Maka hal ini menyelisihi sisi Balaghoh Al Qur’an”.

  1. Perkataan sahabat mulia Umar bin Khothob, anaknya Abdullah dan Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhum, bahwa menyentuh yang membatalkan wudhu termasuk mencium dan meraba dengan tangan adalah pendapat pribadi mereka masing-masing, dan sejumlah ulama seperti Ali, Ubay dan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhum jelas menyelisihi mereka, sehingga hal ini dikenal dalam istilah ulama ushul fiqih sebagai fatwa/madzhab shahabi. Dimana ketika terjadi perselisihan diantara mereka, maka wajib bagi seorang untuk mencari dalil terkuat yang dibawakan oleh masing-masing mereka sebagai ulamanya para sahabat. Dan kami condong kepada pendapatnya sahabat yang mengatakan tidak batalnya wudhu karena menyentuh wanita, selain Jimaa’ berdasarkan pada perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam yang mencium sebagian istrinya dan Beliau Sholallahu ‘Alaihi wa Salam langsung sholat tanpa mengulangi wudhunya kembali. Haditsnya Insya Allah akan kami bawakan.
  2. Pendalilan mereka dengan kisah asbabun nuzul ayat 114 surat Hud, yang terdapat didalamnya perintah berwudhu, maka pada asalnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dan ini lafadz Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَالَجْتُ امْرَأَةً فِى أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَإِنِّى أَصَبْتُ مِنْهَا مَا دُونَ أَنْ أَمَسَّهَا فَأَنَا هَذَا فَاقْضِ فِىَّ مَا شِئْتَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ لَقَدْ سَتَرَكَ اللَّهُ لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ – قَالَ – فَلَمْ يَرُدَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئًا فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ فَأَتْبَعَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً دَعَاهُ وَتَلاَ عَلَيْهِ هَذِهِ الآيَةَ (أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ ) فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ يَا نَبِىَّ اللَّهِ هَذَا لَهُ خَاصَّةً قَالَ « بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً ».

“Seorang mendatangi Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, lalu berkata : ‘wahai Rasulullah aku bersentuhan dengan seorang wanita di pojok kota, aku bercumbu dengannya tanpa aku berjima dengannya, maka sekarang ini putuskan hukuman untukku’. Umar Rodhiyallahu ‘Anhu berkata kepadanya : ‘Allah telah menutupi aibmu, sekiranya engkau menutupi dirimu sendiri’. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam tidak bereaksi apapun. Maka laki-laki tadi pergi. Lalu Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menyuruh memanggil laki-laki tersebut dan membacakan ayat : “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud (11) : 114)”. Berkata seseorang diantara para sahabat, ‘Wahai Nabi Allah apakah ini khusus baginya?’. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “Bahkan ini untuk manusia seluruhnya”.

    Adapun adanya tambahan dalam riwayat ini, dimana Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam memerintahkan berwudhu kepadanya maka jawabannya dari 2 sisi :

  1. Imam Tirmidzi dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari jalan Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Muadz bin Jabal. Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi berkata :

هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمُتَّصِلٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِى لَيْلَى لَمْ يَسْمَعْ مِنْ مُعَاذٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ مَاتَ فِى خِلاَفَةِ عُمَرَ وَقُتِلَ عُمَرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِى لَيْلَى غُلاَمٌ صَغِيرٌ ابْنُ سِتِّ سِنِينَ وَقَدْ رَوَى عَنْ عُمَرَ وَرَآهُ. وَرَوَى شُعْبَةُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى لَيْلَى عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مُرْسَلٌ.

“hadits ini tidak bersambung sanadnya. Abdur Rokhman bin Abi Lailaa tidak mendengar Muadz bin Jabal, karena Muadz meninggal pada masa kekhilafahan Umar, sedangkan Abdur Rokhman masih berumumur 6 tahun ketika Umar meninggal dunia, ia meriwayatkan dari Umar dan melihatnya. Syu’bah meriwayatkan hadits ini dari Abdul Malik bin Umair dari Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Nabi r secara mursal”.

Dari penjelasan Imam Tirmidzi, maka riwayat ini yang shahih adalah mursal dan mursal termasuk kategori hadits dhoif.

  1. Seandainya kita terima bahwa riwayat ini adalah shahih, maka tidak serta merta dapat dijadikan dalil wajibnya wudhu karena menyentuh wanita, hanyalah perintah wudhu disitu untuk meminta agar diampuni kesalahannya dengan cara mengerjakan sholat atau berdoa. Dalam riwayat ini jelas sekali, bahwa wudhu tersebut karena untuk mengerjakan sholat. Imam Zailaa’I dalam “Nashbur Rayyah” berkata :

وَهَذَا الْحَدِيثُ مَعَ ضَعْفِهِ وَانْقِطَاعِهِ لَيْسَ فِيهِ حُجَّةٌ ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا أَمَرَهُ بِالْوُضُوءِ لِلتَّبَرُّكِ وَإِزَالَةِ الْخَطِيئَةِ لَا لِلْحَدَثِ .

وَلِذَلِكَ قَالَ لَهُ : { تَوَضَّأْ وُضُوءًا حَسَنًا } وَقَدْ وَرَدَ { أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ اُدْعُ اللَّهَ لِي أَنْ يُعَافِيَنِي مِنْ الْخَطَايَا فَقَالَ لَهُ : اُكْتُمْ الْخَطِيئَةَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءًا حَسَنًا ، ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ فَذَكَرَ دُعَاءً } . وَفِي مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثُ خُرُوجِ الْخَطَايَا مِنْ كُلِّ عُضْوٍ يَغْسِلُهُ فِي الْوُضُوءِ

“hadits ini bersamaan dengan kelemahan dan keterputusan sanadnya tidak ada padanya hujah (wajibnya wudhu karena menyentuh wanita-pent.). hanyalah perintah wudhu untuk mencari berkah dan menghapuskan kesalahan bukan untuk hadats. Oleh karenanya, Nabi r bersabda : “berwudhulah dengan wudhu yang bagus”. Telah datang riwayat bahwa seseorang mendatangi Nabi r lalu berkata : ‘wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah untukku agar mengampuni kesalahan-kesalahanku’. Maka Nabi r bersabda : “sembunyikan kesalahanmu, lalu berwudhulah dengan wudhu yang bagus, lalu sholat 2 rakaat, lalu berdoa “Allahumma” dst..”. dalam riwayat Muslim dari Abi Huroiroh tentang hadits keluarnya kesalahan dari setiap anggota wudhu ketika dibasuh dalam berwudhu”.

   Berikut akan kami bawakan hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh sekelompok ulama yang berpendapat tidak batalnya wudhu, karena menyentuh wanita secara mutlak. Diantaranya :

  1. Hadits Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu anha dengan berbagai lafadznya, yakni :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“bahwa Nabi r mencium sebagian istrinya, lalu keluar sholat tanpa berwudhu lagi” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Namun riwayat ini terdapat cacat, yakni riwayat ini berasal dari Habiib bin Abi Tsabit dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Cacatnya adalah Habiib, sekalipun perowi yang tsiqoh dan ulama fiqih, namun tidak pernah mendengar dari Urwah. Imam Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini :

قَالَ وَسَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ يُضَعِّفُ هَذَا الْحَدِيثَ وَقَالَ حَبِيبُ بْنُ أَبِى ثَابِتٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عُرْوَةَ

“aku mendengar Muhammad bin Ismail –Imam Bukhori- mendhoifkan hadits ini, katanya Habiib bin Abi Tsaabit tidak pernah mendengar dari Urwah”.

Pendapat senada, bahwa Habiib tidak pernah mendengar dari Urwah, dikatakan juga oleh Imam Abu Zur’ah, bahkan Imam Abu Hatim, sebagaimana yang dinukil oleh anaknya Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Al Maroosil” berkata :

أهل الحديث اتفقوا على ذلك ـ يعنى على عدم سماعه منه ( أى عن عروة ) ـ قال : و اتفاقهم على شىء يكون حجة

“Ulama hadits bersepakat atas hal tersebut”. Yakni tidak mendengarnya Habiib dari Urwah. Kesepakatan mereka atas sesuatu adalah hujjah”.

  1. Lafadz lain :

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيُصَلِّى وَإِنِّى لَمُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ اعْتِرَاضَ الْجَنَازَةِ حَتَّى إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ مَسَّنِى بِرِجْلِهِ

“jika Rasulullah r hendak sholat –aku (Aisyah) tidur dihadapan Beliau, seperti terbentangnya jenazah dihadapan Beliau- sehingga jika Nabi r hendak sholat witir, beliau menyentuh kakiku (agar Aisyah minggir-pent.)” (HR. Nasa’I, Ahmad dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Lafadz lain :

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ

“aku kehilangan Rasulullah r pada suatu malam dari tempat tidurku, maka aku mencari-carinya, maka tanganku mendapati kedua telapak kakinya sedangkan beliau dalam keadaan sujud, kedua telapak kakinya tegak” (HR. Muslim dan selainnya).

  1. Lafadz lain :

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ مِنَ الْجَنَابَةِ

“aku pernah mandi janabah bersama Rasulullah r dari satu bejana, tangan kami saling berebutan menciduk air” (Muttafaqun alaih, ini lafadz Muslim).

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah :

كنت أغتسل أنا والنبي – صلى الله عليه وسلم – من إناء واحد نضع أيدينا معاً

“aku mandi bersama Nabi r dari satu bejana, kami mengambil air dengan tangan kami bersama-sama”.

Istidlalnya, bahwa mandi janabah adalah ibadah untuk bersuci, bahkan ada wudhu didalamnya, seandainya menyentuh wanita membatalkan berwudhu/bersuci, niscaya Nabi r tidak akan mandi bareng dengan istrinya, karena pasti tidak terlepas dari saling menyentuh, apalagi digambarkan dalam hadits ini, tangan Nabi r saling bersentuhan dengan istri Beliau.

  1. Lafadz lain :

كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى ، فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا

“aku tidur disisi Rasulullah r, sedangkan kedua kakiku diarah kiblat, jika Beliau r sujud, maka Beliau menyentuh kakiku, aku pun menariknya, jika Beliau berdiri, aku membentangkannya lagi” (Muttafaqun ‘Alaih).

  1. Dari Ummu Salamah Rodhiyallahu anha, beliau berkata :

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يُقَبِّلها وهو صائم ثم لا يُفطر ولا يُحدث وضوءاً

“bahwa Rasulullah r menciumnya, padahal Nabi sedang puasa, lalu Beliau tidak berbuka dan tidak memperbaharui wudhunya” (HR. Ibnu Jariir Ath-Thobari dan dishahihkannya).

   Dari hadits-hadits yang kami tampilkan ini, sangat jelas sekali perbuatan Nabi r dan pernyataan istri-istri Beliau seperti Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu anhumaa yang menegaskan bahwa Nabi r menyentuh para istrinya dalam keadaan punya wudhu dan Beliau tidak mengulangi wudhunya lagi. Sehingga madzhab yang rajih adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak.

   Hanya saja pendapat yang mengatakan menyentuh wanita dengan syahwat dapat membatalkan wudhu tidak jauh dari kebenaran, namun batalnya bukan karena menyentuhnya, tapi karena biasanya seorang yang bersyahwat ketika menyentuh wanita akan keluar madzi yang telah disepakati bahwa keluarnya madzi membatalkan wudhu. Barangkali ini adalah isyarat dari perkataan istri Nabi r, Aisyah Rodhiyallahu anha :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ ، وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

“Nabi r mencium (istrinya) dalam keadaan berpuasa, namun Beliau adalah orang yang lebih kuat menjaga dirinya dibandingkan kalian” (Muttafaqun ‘Alaih).

Imam Shon’aniy dalam Subulus Salam berkata tentang makna perkataan Ibunda Aisyah Rodhiyallahu anha :

قَالَ الْعُلَمَاءُ : مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَنْبَغِي لَكُمْ الِاحْتِرَازُ مِنْ الْقُبْلَةِ وَلَا تَتَوَهَّمُوا أَنَّكُمْ مِثْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اسْتِبَاحَتِهَا ؛ لِأَنَّهُ يَمْلِكُ نَفْسَهُ وَيَأْمَنُ مِنْ وُقُوعِ الْقُبْلَةِ أَنْ يَتَوَلَّدَ عَنْهَا إنْزَالٌ أَوْ شَهْوَةٌ أَوْ هَيَجَانُ نَفْسٍ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَأَنْتُمْ لَا تَأْمَنُونَ ذَلِكَ فَطَرِيقُكُمْ كَفُّ النَّفْسِ عَنْ ذَلِكَ

“berkata ulama, makna hadits adalah hendaknya kalian menjauhi mencium istri, janganlah kalian merasa seperti diri Rasulullah r dalam masalah kebolehan mencium istri, karena Nabi r adalah orang yang dapat mengontrol dirinya dan aman dari perbuatannya mencium istrinya, keluar sperma atau syahwat atau terangsang dan semisalnya. Sedangkan kalian tidak akan aman dari tidak tercontrolnya nafsu kalian”.

2). Muntah

Para ulama berbeda pendapat apakah muntah dapat membatalkan wudhu atau tidak. Syaikh Mahmud dalam “Al Jaami’” berkata :

وهو ما عليه أبو حنيفة وأحمد والثوري والأوزاعي، خلافاً لمالك والشافعي وأصحابهما

“yaitu wajibnya wudhu karena muntah adalah pendapatnya Abu Hanifah, Ahmad, Ats-Tsauri dan Al Auzaa’I, yang berseberangan pendapatnya adalah Malik, Syafi’I dan para sahabatnya”.

Kemudian syaikh Mahmud menyebutkan beberapa dalil yang menunjukan bahwa muntah dapat membatalkan wudhu, yaitu :

  1. Haditsnya Abu Dardaa’ Rodhiyallahu anhu, kata beliau :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَاءَ فَأَفْطَرَ فَتَوَضَّأَ. فَلَقِيتُ ثَوْبَانَ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ صَدَقَ أَنَا صَبَبْتُ لَهُ

“bahwa Rasulullah r muntah, lalu berbuka puasa, lalu berwudhu. Kemudian aku bertemu dengan Tsaubaan di masjid Damsyiq, lalu aku menceritakan hal tersebut kepadanya, maka beliau berkata : ‘benar, aku yang membawakan air wudhu untuk Beliau’” (HR. Tirmidzi dan selainnya, Imam Tirmidzi berkata : ‘hadits Husain yang paling shahih dalam bab ini’. Dishahihkan juga oleh Imam Al Albani).

       Namun berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan bahwa muntah membatalkan wudhu, ada 2 hal yang perlu diperhatikan :

  1. Sebagian ulama melemahkan hadits ini, Imam Nawawi dalam “Al Majmu” (2/55) berkata :

وأما الجواب عن احتجاجهم بحديث أبي الدرداء فمن أوجه أحسنها انه ضعيف مضطرب قاله البيهقى وغيره من الحفاظv

“Adapun jawaban terhadap pendalilan mereka dengan haditsnya Abu Darda, dari sisi ini adalah sanad yang paling baik, maka sebenarnya hadits ini adalah dhoif dan goncang, sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dan selainnya dari kalangan Hufadz”.

  1. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarah Mumti’” berkata :

وأيضاً: هو مجرد فعل، ومجرد الفعل لا يدلُّ على الوجوب؛ لأنه خالٍ من الأمر

“dan juga, sekedar hal tersebut perbuatan Nabi r tidak menunjukan atas wajibnya hal itu, karena tidak ada perintah didalamnya”.

 

 

 

  1. Haditsnya Aisyah Rodhiyallahu anha, kata beliau :

إِذَا قَاءَ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ أَوْ قَلَسَ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لْيَبْنِ عَلَى مَا مَضَى مِنْ صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ

“Jika kalian muntah dalam sholat atau qolasa, maka berpalinglah, dan hendaknya berwudhu, lalu tetap lanjutkan sholat sebelumnya, selama tidak berbicara” (HR. Baihaqi, Daruquthni dan selainnya).

Setelah Imam Daruquthni menyebutkan jalan-jalan yang banyak untuk hadits ini, beliau berkata :

قَالَ لَنَا أَبُو بَكْرٍ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَحْيَى يَقُولُ هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ وَهُوَ مُرْسَلٌ وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ أَبِى مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ الَّذِى يَرْوِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ فَلَيْسَ بِشَىْءٍ

“Abu Bakar berkata kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata : ‘ini adalah shahih dari Ibnu Juraij yaitu secara mursal. Adapun hadits Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah Rodhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Ayyaasy, maka tidak ada apa-apanya”.

Imam Baihaqi setelah meriwayatkan hadits ini dalam sunnannya berkomentar :

قَالَ الشَّافِعِىُّ فِى حَدِيثِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِيهِ : لَيْسَتْ هَذِهِ الرِّوَايَةُ بِثَابِتَةٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-

“Imam Syafi’I berkata tentang hadits Ibnu Juraij dari bapaknya, riwayat ini tidak tsabit dari Nabi r”.

Imam Baihaqi sebelumnya juga berkomentar :

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ : هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ ابْنُ عَيَّاشٍ مَرَّةً هَكَذَا ، وَمَرَّةً قَالَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَكِلاَهُمَا غَيْرُ مَحْفُوظٍ.

{ج} وَأَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ أَبِى عِصْمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو طَالِبٍ : أَحْمَدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ يَقُولُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ مَا رَوَى عَنْ الشَّامِيِّينَ صَحِيحٌ ، وَمَا رَوَى عَنْ أَهْلِ الْحِجَازِ فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ. قَالَ : وَسَأَلْتُ أَحْمَدَ عَنْ حَدِيثِ ابْنِ عَيَّاشٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ أَبِى مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَنْ قَاءَ أَوْ رَعَفَ ». الْحَدِيثَ فَقَالَ هَكَذَا رَوَاهُ ابْنُ عَيَّاشٍ ، وَإِنَّمَا رَوَاهُ ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِيهِ وَلَمْ يُسْنِدْهُ عَنْ أَبِيهِ لَيْسَ فِيهِ عَائِشَةَ.

“Abu Ahmad berkata : ‘hadits ini yang diriwayatkan Ibnu ‘Ayyaasy terkadang seperti ini dan terkadang dari Ibnu Juraij dari Bapaknya dari Aisyah, kedua riwayat ini tidak mahfuudz (terjaga).

Akhbaronaa Abu Sa’ad, akhbaronaa Abu Ahmad, haddatsanaa Abdul Wahhaab bin Abi ‘Ishmah, haddatsanaa Abu Thoolib Ahmad bin Humaid ia berkata, aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : ‘Ismail bin ‘Ayyaasy, jika meriwayatkan dari para perowi syam haditsnya shahih dan jika meriwayatkan dari Ahlul Hijaz, maka tidak shahih. Ia berkata : ‘aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang hadits Ibnu ‘Ayyash dari Ibnu Juraij dari Bapaknya dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah bahwa Nabi r berkata : ‘barangsiapa yang muntah atau mimisan’. Hadits yang disabdakan demikian diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ayyasy, hanyalah diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Bapaknya dan tidak ada sanadnya dari Bapaknya didalamnya sahabat Aisyah Rodhiyallahu anha”.

Imam Ibnul Jauzi dalam “Ilaal mutanahiyah” berkata :

واما الثاني فقد ذكرنا ان اسماعيل بن عياش تغير فصار يخلط قال ابن عدي وقد قال في هذا الحديث عن ابن جريج عن ابي عن عائشة وكلا الطريقين غير محفوظ

“adapun yang kedua, kami telah menyebutkan bahwa Ibnu ‘Ayyaasy telah berubah hapalannya, sehingga ia mukhtalith. Imam Ibnu ‘Adiy berkata : ‘hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Bapaknya dari Aisyah, kedua jalan ini tidak mahfuudz (terjaga)”.

Imam Ibnu Abi Hatim dalam “ilalul hadits” pernah bertanya kepada Bapaknya, Imam Abu Hatim tentang hadits ini, maka jawaban Bapaknya :

قَالَ أَبِي هَذَا خَطَأٌ ، إِنَّمَا يَرْوُونَهُ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، مُرْسَلا وَالْحَدِيثُ هَذَا

“ini adalah keliru, hanyalah diriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Bapaknya dari Ibnu Abi Mulaikah dari Nabi r secara mursal, hadits ini”.

Selain kepada Bapaknya, Imam Ibnu Abi Hatim bertanya juga kepada rekan Bapaknya, yakni Imam Abu Zur’ah, jawaban beliau :

قَالَ أَبُو زُرْعَةَ هَذَا خَطَأٌ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، مُرْسَلٌ

“ini adalah keliru, diriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Bapaknya dari Ibnu Abi Mulaikah dari Nabi r secara mursal”.

Kesimpulannya : ini adalah hadits mursal, yang dikategorikan dalam ilmu hadits sebagai hadits yang lemah, sehingga riwayat ini tidak dapat dijadikan hujjah.

       Sehingga dalam masalah wudhu karena muntah pendapat yang rajih adalah muntah bukan sebagai pembatal wudhu, karena tidak shahihnya riwayat yang jelas mengatakan muntah dapat membatalkan wudhu. Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” berkata, ketika menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan wudhu, diantaranya :

القئ: سواء أكان مل ء الفم أو دونه، ولم يرد في نقضه حديث يحتج به.

“Muntah, sama saja apakah memenuhi mulut atau kurang dari itu, karena tidak hadits yang mengatakan batalnya muntah, hadits yang dapat dijadikan hujjah”.

 

 

3). Tertawa didalam sholat

Telah berlalu penjelasan hal ini, dan pendapat yang terpilih, ia bukan pembatal wudhu.

4). Keluar darah dari anggota tubuh, selain darah haidh, nifas dan istihadhoh.

Juga pembahasan sebelumnya bahwa yang terkuat, ia bukan pembatal wudhu.

5). Memandikan atau mengantarkan mayit

Telah terdapat sebuah dalil yang menunjukan perintah mandi bagi yang memandikan jenazah dan berwudhu bagi orang yang membawa mayat. Diriwayatkan Nabi r bersabda :

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawa mayat, hendaknya berwudhu”.

Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu secara marfu kepada Nabi r, melalui beberapa jalan :

  1. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” (3163) dari jalan :

أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى فُدَيْكٍ حَدَّثَنِى ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Ahmad bin Shoolih, haddatsanaa Ibnu Abi Fudaik, haddatsanii Ibnu Abi Dzi’b dari Al Qoosim bin ‘Abbaas dari ‘Amr bin ‘Umair dari Abi Huroiroh bahwa Rasulullah r bersabda : ‘Al hadits’”.

Kedudukan sanad : semua perowinya tsiqoh, selain Ibnu Abi Fudaik dinilai shoduq oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”, sekalipun ia adalah perowi Bukhori-Muslim. Dikecualikan ‘Amr bin ‘Umair, ia dinilai majhul oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”.

Namun terdapat beberapa jalan lainnya lagi :

  1. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam “Musnad” (no. 10118), Imam Baghowi dalam “Syarhus Sunnah” (1/261), Imam Ibnul Ja’ad dalam “Musnad” (no. 2754) dan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam “Mushonaf” (no. 11153) melalui jalan :

ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ عَنْ صَالِحٍ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Ibnu Abi Dzi’b dari Shoolih Maulaa At-Tauamah dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, Rasulullah r bersabda : ‘Al Hadits’”.

Kedudukan sanad : Ibnu Abi Dzi’b telah berlalu sebelumnya. Shoolih (w. 125/126 H), Syu’bah tidak mau mengambil hadits darinya dan melarang mengambil haditsnya; Imam Yahya bin Sa’id menilainya, lam yakun bitsiqoh (tidak tsiqoh); Imam Malik menilainya, laisa bitsiqoh (tidak tsiqoh); didhoifkan juga oleh Imam Abu Zur’ah, Imam Abu Hatim dan Imam Nasa’i. Imam Ibnu Ma’in dan Imam Al’ijli mentautsiqnya. Barangkali untuk mengklarifikasi statusnya, kita dengarkan penjelasan Imam Ibnu ‘Adiy sebagaimana yang dinukil Imam Al Mizzi dalam “At-Tahdziib”:

لا بأس به إذا سمعوا منه قديما مثل ابن أبى ذئب ، و ابن جريج ، و زياد بن سعد ، و غيرهم . و من سمع منه بأخرة و هو مختلط مثل مالك و الثورى ، و غيرهما . و حديثه الذى حدث به قبل الاختلاط ، لا أعرف له حديثا منكرا إذا روى عنه ثقة ، و إنما البلاء ممن دون ابن أبى ذئب ، فيكون ضعيفا ، فيروى عنه ، و لا يكون البلاء من قبله ، و صالح لا بأس به و برواياته و حديثه .

“tidak mengapa (haditsnya) jika yang mendengarnya adalah murid-murid lamanya, seperti Ibnu Abi Dzi’b, Ibnu Juraij, Ziyaad bin Sa’ad dan selain mereka. Sedangkan murid yang mendengar pada masa akhir hidupnya (rowi Sholih ini-pent.) maka beliau telah bercampur hapalannya, seperti : Malik, Ats-Tsauriy dan selainnya. Hadits yang diriwayatkan darinya sebelum berubah hapalannya, aku tidak mengetahuinya ada haditsnya yang mungkar jika diriwayatkan dari orang yang tsiqoh, hanyalah kesalahan dari orang selain Ibnu Abi Dzi’b, maka itulah yang lemah. Maka yang meriwayatkan dari Shoolih dan tidak ada kesalahan sebelumnya, maka Shoolih tidak mengapa dengan riwayat dan haditsnya”.

Sebelumnya Ahmad bin Sa’ad bin Abi Maryam berkata:

و قال أحمد بن سعد بن أبى مريم : سمعت يحيى بن معين يقول : صالح مولى التوأمة ، ثقة حجة ، قلت له : إن مالكا ترك السماع منه ، فقال : إن مالكا إنما أدركه بعد أن كبر و خرف ، و سفيان الثورى إنما أدركه بعد أن خرف ، فسمع منه سفيان أحاديث منكرات ، و ذلك بعدما خرف ، و لكن ابن أبى ذئب سمع منه قبل أن يخرف

“aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata : ‘Shoolih Maulaa At-Taumah, tsiqoh hujjah’. Aku berkata kepadanya : ‘sesungguhnya Malik meninggalkan mendengar darinya?’. Beliau menjawab : ‘Imam Malik hanyalah menemuinya setelah Shoolih lanjut usia dan berubah, Sufyan Ats-Tsauriy (juga) menemuinya setalah lanjut usia dan setelah berubah hapalannya, aku mendengar Sufyaan hadits-hadits mungkar dari Shoolih, yang demikian setelah berubah. Namun Ibnu Abi Dzi’b mendengar darinya sebelum berubah hapalannya”.

 

  Shoolih mendapatkan mutaba’ah dari :

  1. Abu Shoolih, riwayatnya ditulis Imam Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/500), dari jalan :

محمد بن جعفر بن أبي كثير عن محمد بن عجلان عن القعقاع بن حكيم عن أبي صالح عن أبي هريرة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

“Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsiir dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari Al Qo’qoo’a bin Hakiim dari Abi Shoolih dari Abi Huroiroh bahwa Rasulullah r bersabda : “Al Hadits””.

Kedudukan sanad : semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Muhammad bin ‘Ajlaan, Imam Bukhori hanya meriwayatkannya sebagai mu’alaq dan Al Qo’qoo’a, hanya diriwayatkan Bukhori dalam kitab “Adabul Mufrod”.

       Al Qo’qoo’a mendapatkan mutaba’ah dalam meriwayatkan dari Abi Shoolih dari anaknya Abu Shoolih yakni Suhail bin Abi Shoolih, sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1178), melalui jalan :

إبراهيم بن الحجاج السامي ، حدثنا حماد بن سلمة ، عن سهيل بن أبي صالح ، عن أبيه ، عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم

“Ibrohim ibnul Hajjaaj As-Saamiy, haddatsanaa Hammaad bin Salamah dari Suhail bin Abi Shoolih dari Bapaknya (Abu Shoolih) dari Nabi r : “Al Hadits”.

Kedudukan sanad : semua perowinya tsiqoh, kecuali Suhail dinilai shoduq oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”.

  1. Ishaq bin Abdullah bin Abi Tholhah, riwayatnya ditulis Imam Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/301), dari jalan :

قال البخاري وقال معمر عن يحيى بن أبي كثير عن اسحاق عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم.

“Bukhori berkata : ‘Ma’mar berkata, dari Yahya bin Abi Katsiir dari Ishaq dari Abi Huroiroh dari Nabi r : “Al Hadits””.

Kedudukan sanad : semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

  1. Abdur Rokhman bin Ya’qub, riwayatnya ditulis oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Kubro (1/302) dan Imam Thobroni dalam “Mu’jam Kabiir (no. 336) “Ausath” (no. 998) dari jalan :

زُهَيْرُ بن مُحَمَّدٍ، عَنِ الْعَلاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

“Zuhair bin Muhammad dari Al’Alaa’ dari Bapaknya dari Abu Huroiroh, Rasulullah r bersabda : “Al Hadits””.

Kedudukan sanad : semua perowinya tsiqoh, kecuali Al’Alaa’ seorang perowi shoduq.

 

  1. Kemudian terdapat syahid dari riwayatnya sahabat Abu Sa’id Al Khudri, yang haditsnya ditulis oleh Imam Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/301), melalui jalan :

محمد بن اسمعيل البخاري حدثني يحيى بن سليمان عن ابن وهب عن اسامة عن سعيد بن أبي سعيد مولى المهري عن اسحاق مولى زائدة عن أبي سعيد

“Imam Bukhori, haddatsanii Yahya bin Sulaiman dari Ibnu Wahhab dari Usalamah dari Sa’id bin Abi Sa’id Maula Al Mahriy dari Ishaq Maula Zaidah dari Abu Sa’id Rodhiyallahu anhu.

Kedudukan sanad : Yahya bin Sulaiman dinilai shoduq oleh Al Hafidz; Ibnu Wahhab, Al hafidz menilainya tsiqoh; Usamah bin Zaid, dinilai shoduq oleh Al Hafidz; Sa’id bin Abi Said ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban; Ishaq bin Abdullah, ditsiqohkan oleh Imam Al’ijli, sebagaimana dinukil Al Hafidz dalam “At-Taqriib” dan juga ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, sebagaimana ditulis Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Jarh wa Ta’dil”.

  1. Mauquf kepada Abu Huroiroh, ditulis sanadnya oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam “Mushonaf” (no. 11152), melalui jalan :

, حدثنا عبدة بن سليمان عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن ابي هريرة أنه كان يقول من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ

“haddatsanaa Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin ‘Amr dari Abi salamah dari Abi Huroiroh bahwa ia berkata : ‘Al hadits’”.

Kedudukan sanad : semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, dan semuanya tsiqoh, kecuali Muhammad bin ‘Amr, dinilai shoduq lahu auham oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”.

   Kesimpulannya hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya. Setelah kita melihat shahihnya hadits tersebut, maka ada 2 pembahasan yakni berkaitan dengan wajib tidaknya mandi bagi orang yang memandikan jenazah, yang mana seandainya mandi tersebut wajib, maka berarti perkara memandikan jenazah adalah pembatal wudhu, karena suatu hal yang menyebabkan batalnya thoharoh besar, membatalkan juga thoharoh kecil, Syaikh Mahmud dalam “Al Jaami’” berkata :

ما ينقض الطهارة الكبرى يعتبر ناقضاً للوضوء

“Sesuatu yang membatalkan thoharoh besar, maka dianggap juga membatalkan wudhu”.

Kemudian pembahasan kedua adalah wajib tidaknya wudhu, karena membawa jenazah, seandainya hal ini diwajibkan, berarti membawa jenazah adalah perkara yang membatalkan wudhu.

    Kita mulai dengan pembahasan pertama berkaitan dengan perkara mandi karena memandikan jenazah. Para ulama berselisih hukum mandi ini, Imam Syaukaniy dalam “Nailul Author” berkata :

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الْغُسْلِ مِنْ غَسْلِ الْمَيِّتِ وَالْوُضُوءِ عَلَى مَنْ حَمَلَهُ ، وَقَدْ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ فَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَحَدِ قَوْلَيْ النَّاصِرِ وَالْإِمَامِيَّةِ أَنَّ مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ لِهَذَا الْحَدِيثِ . وَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ الْآتِي ، وَذَهَبَ أَكْثَرُ الْعِتْرَةِ وَمَالِكٌ وَأَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ إلَى أَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ وَحَمَلُوا الْأَمْر عَلَى النَّدْبِ

“Hadits ini menunjukan atas wajibnya mandi karena memandikan mayat dan wudhu karena membawanya. Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, diriwayatkan dari Ali, Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhuma, salah satu pendapat An-Naashir dan Imaamiyyah bahwa memandikan mayat mengharuskan mandi berdasarkan hadits ini dan haditsnya Aisyah yang akan datang.

Mayoritas ulama seperti Malik, sahabatnya Syafi’I berpendapat bahwa ia adalah sunah dan mereka membawa perintah tersebut kepada dianjurkannya”.

    Imam Nawawi menyebutkan adanya 2 pendapat ini dalam kalangan Syafi’iyyah, kata beliau dalam “Al Majmu” :

قال اصحابنا في الغسل من غسل الميت طريقان (المذهب) الصحيح الذى اختاره المصنف والجمهور انه سنة سواء صح فيه حديث ام لا فلو صح حديث حمل علي الاستحباب (والثانى) فيه قولان الجديد انه سنة والقديم انه واجب ان صح الحديث والا فسنة

“berkata sahabat-sahabat kami tentang masalah mandi karena memandikan mayit menjadi 2 pendapat : (madzhab) yang shahih yang dipilih penulis (Al Muhadzab) dan mayoritas ulama, bahwa hal tersebut sunah, baik haditsnya shahih ataupun tidak, jika haditsnya shahih maka dibawa kepada dianjurkannya. (yang kedua) ada dua pendapat, dalam ucapan Imam Syafi’I yang baru, hal tersebut sunnah, sedangkan pendapatnya yang lama, bahwa hal tersebut wajib, jika shah haditsnya, jika tidak maka itu adalah sunnah”.

    Dalil pendapat yang mengatakan wajib adalah hadits perintah ini dan riwayat dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha, kata beliau :

يُغْتَسَلُ مِنْ أَرْبَعٍ : مِنْ الْجُمُعَةِ ، وَالْجَنَابَةِ ، وَالْحِجَامَةِ ، وَغَسْلِ الْمَيِّتِ

“(diwajibkan mandi) karena 4 perkara : karena hari Jum’at, Janabah, Berbekam dan memandikan mayat” (HR. Ahmad, Daruquthni dalam riwayat Abu Dawud lafadznya :

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يغتسل من أربع من الجنابة ويوم الجمعة ومن الحجامة وغسل الميت

“bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam mandi karena 4 hal yakni, karena janabah, hari jum’at, berbekam dan memandikan mayat”.

Namun pendalilan dengan hadits ini tidak tepat, karena haditsnya lemah. Imam Syaukani dalam “Nailul Author” berkata :

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالدَّارَقُطْنِيّ وَأَبُو دَاوُد وَلَفْظُهُ : إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ . وَهَذَا الْإِسْنَادُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ لَكِنْ قَالَ الدَّارَقُطْنِيّ : مُصْعَبُ بْنُ شَيْبَةَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ وَلَا بِالْحَافِظِ ) .

الْحَدِيثُ أَخْرَجَهُ أَيْضًا الْبَيْهَقِيُّ وَمُصْعَبٌ الْمَذْكُورُ ضَعَّفَهُ أَبُو زُرْعَةَ وَأَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ ، وَصَحَّحَ الْحَدِيثَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْغُسْلَ مَشْرُوعٌ لِهَذِهِ الْأَرْبَع .

“diriwayatkan oleh Ahmad, Daruquthni dan Abu Dawud dengan lafadz : ‘bahwa Nabi r mandi…’. Sanad ini atas persyaratan Muslim, namun Daruquthni berkata : ‘Mus’ab bin Syaibah tidak kuat dan tidak hapal’.

Haditsnya dikeluarkan juga oleh Baihaqi, dan (didalamnya ada) Mus’ab yang telah disebutkan, ia didhoifkan oleh Abu Zur’ah, Ahmad dan Bukhori. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan hadits ini menunjukan bahwa mandi disyariatkan pada 4 keadaan ini”.

Pendapat yang rajih, bahwa hadits ini dhoif, sebagaimana pendhoifan Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya, karena kelemahan rowi Mus’ab ini.

    Ulama yang mewajibkan mandi, karena memandikan mayat berdalil dengan hadits kematian Bapaknya sahabat Ali, yang juga paman Nabi r yaitu Abu Thoolib, yang mana ia mati diatas kekufuran. Sahabat Usamah bin Zaid Rodhiyallahu anhu berkata :

دَخَلَ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَوْتِ أَبِى طَالِبٍ ، فَقَالَ :« فَاذْهَبْ فَاغْسِلْهُ ، وَلاَ تُحْدِثَنَّ شَيْئًا حَتَّى تَأْتِيَنِى ». فَغَسَلْتُهُ وَوَارَيْتُهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ فَقَالَ :« اذْهَبْ فَاغْتَسِلْ »

“Ali bin Abi Tholib menemui Nabi r untuk mengabarkan kematian Abu Tholib, Nabi r berkata : “pergilah, lalu mandikan ia dan jangan engkau mengatakan kepadaku sesuatu, sampai engkau menemuiku lagi”. Lalu aku (Ali) memandikan Abu Tholib dan menguburkannya, lalu aku mendatangi Nabi r, maka Beliau bersabda : “pergilah dan mandilah” (HR. Baihaqi dan didhoifkan oleh beliau sendiri).

Jadi hadits ini yang menunjukan perintah mandi dari Nabi r kepada Ali, setelah memandikan ayahnya yang mati diatas kekafiran, tidak dapat dijadikan hujjah, karena kelemahan riwayatnya.

    Kemudian setelah kita tetapkan keshahihan hadits yang menunjukan perintah Nabi r kepada orang yang memandikan mayat, maka ulama yang berpendapat bahwa perintah tersebut adalah sunnah, berdasarkan keterangan berikut :

  1. Hadits dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi r bersabda :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِى غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَّلْتُمُوهُ ، إِنَّهُ مُسْلِمٌ مُؤْمِنٌ طَاهِرٌ ، وَإِنَّ الْمُسْلِمَ لَيْسَ بِنَجِسٍ ، فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوا أَيْدِيَكُمْ

“Tidak wajib bagi kalian ketika memandikan mayat untuk mandi karena seorang Muslim itu suci dan seorang Muslim tidak najis, cukup bagi kalian mencuci tangannya saja” (HR. Baihaqi).

Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Baihaqi berkata :

هَذَا ضَعِيفٌ. {ج} وَالْحَمْلَ فِيهِ عَلَى أَبِى شَيْبَةَ كَمَا أَظُنُّ ، وَرُوِىَ بَعْضُهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا

“ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah, menurut dugaanku, diriwayatkan oleh sebagian ulama dari sisi lain dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu secara marfu’”.

Namun Al Hafidz Ibnu Hajar menyanggah penilaian pendhoifan Imam Baihaqi ini, sebagaimana dinukil oleh Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam”, kata beliau :

وَتَعَقَّبَهُ الْمُصَنِّفُ ؛ لِأَنَّهُ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ : هَذَا ضَعِيفٌ ، وَالْحَمْلُ فِيهِ عَلَى أَبِي شَيْبَةَ فَقَالَ الْمُصَنِّفُ : أَبُو شَيْبَةَ هُوَ إبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ شَيْبَةَ ” ، احْتَجَّ بِهِ النَّسَائِيّ ؛ وَوَثَّقَهُ النَّاسُ ، وَمَنْ فَوْقَهُ احْتَجَّ بِهِمْ الْبُخَارِيُّ إلَى أَنْ قَالَ : فَالْحَدِيثُ حَسَنٌ ، ثُمَّ قَالَ فِي الْجَمْعِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَمْرِ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ ” ، إنَّ الْأَمْرَ لِلنَّدْبِ

“Penulis (Ibnu Hajar) mengkritik Imam Baihaqi yang berkata : “ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah”. Ibnu hajar berkata : ‘Ibrohim bin Abi Bakar bin Syaibah dijadikan hujjah oleh Nasa’I dan ditsiqohkan oleh para ulama, sedangkan rowi yang diatasnya, dijadikan hujjah oleh Bukhori, sampai pada perkataannya, bahwa hadits ini hasan. Lalu Al Hafidz berkata, dalam mengkompromikan antara perintah dalam hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah sunnah”.

  1. Hadits Abdullah bin Abi Bakr, bahwa ia berkata :

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ عُمَيْسٍ غَسَّلَتْ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ حِينَ تُوُفِّىَ ثُمَّ خَرَجَتْ فَسَأَلَتْ مَنْ حَضَرَهَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فَقَالَتْ إِنِّى صَائِمَةٌ وَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ شَدِيدُ الْبَرْدِ فَهَلْ عَلَىَّ مِنْ غُسْلٍ فَقَالُوا لاَ

“bahwa Asmaa’ binti ‘Umais memandikan Abu Bakar Ash-Shidiiq ketika beliau wafat, lalu beliau keluar dan bertanya kepada orang yang hadir dari kalangan Muhajirin, beliau berkata : ‘aku sedang puasa dan pada hari ini sangat dingin sekali, apakah wajib bagi saya berwudhu?’. Mereka menjawab : ‘tidak wajib’”. (HR. Malik).

Bisa jadi ulama yang berpendapat wajibnya mandi, akan mengatakan bahwa Asmaa’ diberikan keringanan karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk mandi, sehingga gugurlah kewajiban kepadanya. Selain itu juga kisah ini tidak shahih, Imam Al Albani dalam “Tamaamul Minnah” berkata :

يوهم أن القصة صحيحة الإسناد وليس كذلك لانقطاعه فإن مالكا أخرجها في ” الموطأ ” ( 1 / 222 – 223 ) عن عبد الله بن أبي بكر أن أسماء بنت عميس غسلت أبا بكر الصديق حين توفي ثم خرجت . . وعبد الله بن أبي بكر هذا ليس هو ابن أبي بكر الصديق كما قد يتوهم بل هو عبد الله بن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم الأنصاري وهو ثقة إمام من شيوخ مالك ولكنه لم يدرك أسماء بنت عميس فإن وفاتها قبل سنة خمسين وولادة عبد الله بعد سنة ستين كما يستفاد من ” التهذيب ” وغيره

“terpahami disini bahwa kisah ini shahih sanadnya, namun sebenarnya tidak seperti itu, karena terjadi keterputusan sanad didalamnya, karena Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini dalam “Al Muwatho (1/222-223), dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa Asmaa binti ‘Umais….dst.

Abdullah bin Abi Bakar ini bukan anaknya Abu Bakar Rodhiyallahu anhu, sebagaimana yang dipahami, namun beliau adalah Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm Al Anshori, perowi tsiqoh termasuk gurunya Imam Malik, namun beliau tidak pernah bertemu Asmaa’ Rodhiyallahu anha, karena Asmaa’ wafat sebelum tahun 50 H, sedangkan Abdullah dilahirkan setelah tahun 60 H, sebagaimana yang terdapat dalam “At-Tahdziib” dan selainnya”.

        Baiklah, namun kami masih memiliki satu hadits lagi yang menunjukan tidak wajibnya mandi, karena memandikan jenazah, yaitu

  1. Hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu anhuma, beliau berkata :

كُنَّا نُغَسِّلُ الْمَيِّتَ فَمِنَّا مَنْ يَغْتَسِلْ وَمِنَّا مَنْ لَا يَغْتَسِلْ

“Kami (para sahabat) memandikan mayat, diantara kami ada yang mandi dan ada juga yang tidak” (HR. Daruquthni dan Al Khothib)

Hadits ini dishahihkan Al Hafidz, kata Imam Shon’ani :

قَالَ الْمُصَنِّفُ : إسْنَادُهُ صَحِيحٌ ، وَهُوَ أَحْسَنُ مَا جُمِعَ بِهِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ .

“sanadnya shahih dan ini yang paling bagus dalam mengkompromikan hadits-hadits dalam masalah ini”.

Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya juga menshahihkannya, beliau berkata dalam “Ahkamul Janaiz” (masalah no. 31) setelah menshahihkan hadits perintah mandi, karena memandikan mayat (hadits Abu Huroiroh) :

وقال: وظاهر الامر يفيد الوجوب، وإنما لم نقل به لحديثين

“dhohirnya perintah menunjukan kewajiban, (seandainya) tidak dinukil 2 buah hadits”.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan 2 buah hadits yaitu haditsnya Ibnu Abbas yang menunjukan cukup mencuci tangan saja dan hadits Ibnu Umar ini, dan kedua hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani.

        Berdasakan pemaparan diatas, maka pendapat yang terpilih adalah mandi karena memandikan mayat, maksimalnya hukumnya adalah sunnah, dianjurkan untuk dikerjakan.

 

    Adapun perkara kedua yakni masalah membawa jenazah, apakah wajib wudhu atau tidak, berikut pembahasannya :

  1. Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” berkata :

وَأَمَّا قَوْلُهُ : [ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ ] فَلَا أَعْلَمُ قَائِلًا يَقُولُ بِأَنَّهُ يَجِبُ الْوُضُوءُ مِنْ حَمْلِ الْمَيِّتِ وَلَا يَنْدُبُ ، قُلْت : وَلَكِنَّهُ مَعَ نُهُوضِ الْحَدِيثِ لَا عُذْرَ عَنْ الْعَمَلِ بِهِ ، وَيُفَسِّرُ الْوُضُوءَ بِغَسْلِ الْيَدَيْنِ كَمَا يُفِيدُهُ التَّعْلِيلُ بِقَوْلِهِ [ إنَّ مَيِّتَكُمْ يَمُوتُ طَاهِرًا ] فَإِنَّ لَمْسَ الطَّاهِرِ لَا يُوجِبُ غَسْلَ الْيَدَيْنِ مِنْهُ ، فَيَكُونُ فِي حَمْلِ الْمَيِّتِ غَسْلُ الْيَدَيْنِ نَدْبًا تَعَبُّدًا ، إذْ الْمُرَادُ إذَا حَمَلَهُ مُبَاشِرًا لِبَدَنِهِ بِقَرِينَةِ السِّيَاقِ

“adapun sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Maka aku tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah dan tidak juga pendapat yang menganjurkannya. Aku berkata : ‘namun bersamaan dengan adanya hadits ini, maka tidak masalah untuk mengamalkannya, dan wudhu yang dimaksud disini ditafsirkan dengan mencuci kedua tangan, sebagaimana diambil faedah dari Sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “sesungguhnya mayit kalian, meninggal dalam keadaan suci” (Al Hadits). Karena menyentuh sesuatu yang suci tidak mengharuskan untuk mencuci kedua tangan, maka dalam masalah membawa jenazah, mencuci kedua tangan adalah sunnah ibadah, yang mana jika dalam membawa jenazah tersebut bersentuhan langsung badannya, sebagaimana konteks sabda tersebut”.

Alhamdulillah kami menemukan ucapan ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah. Imam Thohawi dalam “Hasiyyah ‘alaal Maroqiy” (2/82) berkata :

قوله : ومن حمله فليتوضأ أخذ به الإمام أحمد فأوجبه فيندب الوضوء خروجا من الخلاف وعملا بالحديث

“sabdanya : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Imam Ahmad berdalil dengan hadits ini, maka beliau mewajibkannya. (Imam Thohawi) berpendapat, hal tersebut adalah disunnahkan saja untuk keluar dari perselisihan dan mengamalkan hadits ini”.

Bahkan Al Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan adanya pendapat ulama yang memasukkan membawa jenazah sebagai pembatal wudhu, dimana beliau memasukan hadits ini dalam kitabnya “Bulughul Marom” di bab “Pembatal-pembatal wudhu”.

Ibnu Rusydi dalam “Bidayatul Mujtahid” (1/36) juga mengisyaratkan adanya sekelompok ulama yang mewajibkan wudhu karena membawa jenazah, kata beliau :

المسألة السابعة: وقد شذ قوم فأوجبوا الوضوء من حمل الميت وفيه أثر ضعيف: من غسل ميتا، فليغتسل، ومن حمله فليتوضأ.

“masalah yang ketujuh, suatu kaum telah berpendapat ganjil, mereka mewajibkan wudhu bagi orang yang membawa jenazah, (berdalil) dengan atsar lemah : “Barangsiapa yang memandikan mayit hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawanya, hendaknya berwudhu”.

Apa yang dikatakan Ibnu Rusydi bahwa sekelompok ulama tersebut ganjil, maka tidak benar, karena shahihnya atsar tersebut dan tidak salah bagi seseorang berpendapat dengan dhohirnya hadits.

  1. Dhahirnya hadits ini memberikan faedah wajibnya wudhu karena membawa jenazah, sekalipun ini dikatakan pendapat yang ganjil, karena tidak diketahuinya ulama baik salaf maupun muta’akhirin yang berpendapat dengannya. Namun kami berpandangan bahwa lafadz perintah “hendaknya wudhu” pada hadits ini, tidak menunjukan wajib, dengan alasan sebagai berikut :
  1. Definisi suatu amalan dikategorikan sebagai kewajiban adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Abdul Wahhab Kholaf dalam kitabnya “Ilmu Ushul Fiqih” :

الواجب شرعا: هو ما طلب الشارع فعله من المكلف طلبا حتما بأن اقتران طلبه بما يدل على تحتيم فعله، كما إذا كانت صيغة الطلب نفسها تدل على التحتيم، أو دل على تحتيم فعله ترتيب العقوبة على تركه، أو آية قرينة شرعية أخرى .

“Wajib secara istilah adalah sesuatu yang dituntut oleh pembuat syariat untuk mengerjakannya kepada mukallaf dengan tuntutan yang pasti. Indikasinya menunjukan atas kepastian mengerjakannya, sebagaimana jika bentuk kalimat tuntutannya itu sendiri menunjukan atas kepastian, atau menunjukan kepastian mengerjakannya akan berakibat hukuman jika meninggalkannya, atau adanya tanda indikasi syariat lainnya”.

Dari definisi ini, maka perintah dalam hadits ini tidak pasti yang konsekuensinya adalah wajib, karena sekalipun hadits ini dapat dijadikan hujjah, namun tidak sedikit juga Aimah yang melemahkannya, maka lebih baik kalau perintah ini dibawa kepada sunnah. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syaroh Mumti’” berkata :

قالوا: وهذا الحديث فيه الأَمْرُ، والأَمْرُ الأصل فيه الوُجوب، لكن لمَّا كان فيه شيء من الضَّعف لم يَنتهضْ للإلزام به. وهذا مبنيٌّ على قاعدة وهي: أنَّ النَّهْيَ إذا كان في حديث ضعيف لا يكون للتَّحريم، والأمرُ إذا كان في حديث ضعيف لا يكون للوُجوب، لأنَّ الإلزام بالمنْعِ أو الفعل يحتاج إلى دليل تبْرأُ به الذِّمة لإلزام العباد به.

وهذه القاعدة أشار إليها ابنُ مفلح في “النُّكَت على المحرَّر” في باب موقف الإمام والمأموم؛ ومراده ما لم يكن الضَّعف شديداً بل محتَمِلاً للصِّحَّة، فيكون فِعْلُ المأمور وتَرْكُ المنهيّ من باب الاحتياط، والاحتياط لا يوجب الفعل أو الترك.

“mereka berkata : ‘hadits ini terdapat perintah didalamnya, perintah pada asalnya adalah wajib, namun ketika ada sesuatu kedhoifan padanya, maka tidak bisa tegak kepastian padanya. Hal ini dibangun berdasarkan kaedah “bahwa larangan jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk pengharaman, begitu juga perintah, jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk mewajibkan, karena konsekuensi larangan atau perbuatan butuh kepada dalil yang melepaskan dari pembebanan, yang mengharuskan beribadah dengannya. Kaedah ini, diungkapkan oleh Ibnu Muflih dalam “An-Nukat ‘alaal Muharror” di bab mauqif Imam dan Makmum. Yang dimaksud adalah haditsnya bukan dhoif yang parah, namun ada kemungkinan shahih, sehingga mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan larangan, karena kehati-hatian dan kehati-hatian tidak mewajibkan mengerjakan atau meninggalkannya”.

  1. Sebagian ulama mengatakan, kemungkinan yang dimaksud berwudhu ketika membawa mayat adalah hal tersebut dilakukan dalam rangka wudhu untuk sholat jenazah, karena konteks kalimatnya mengisyaratkan hal tersebut, yakni setelah mayat dimandikan dan dikafani, maka sebelum dikuburkan, dilakukan sholat jenazah, sehingga bagi siapa yang akan turut mengantarkan jenazah tersebut, hendaknya ia berwudhu lalu ikut menyolatkannya sebagai fardhu kifayah. Imam Majduddin Ibnu Taimiyyah berkata dalam “Muntaqol Akhbaar” :

وَقَالَ بَعْضُهُمْ : مَعْنَاهُ مَنْ أَرَادَ حَمْلَهُ وَمُتَابَعَتَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ مِنْ أَجْلِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ

“Sebagian ulama berkata : ‘maknanya barangsiapa yang membawa dan mengikuti jenazah, maka hendaknya berwudhu karena untuk mengerjakan sholat jenazah”.

Imam Ibnu Hazm dalam “Al Muhallaa” meriwayatkan :

ورويناه بالسند المذكور إلى حماد بن سلمة عن أيوب السختيانى عن محمد بن سيرين قال: كنت مع عبد الله بن عتبة بن مسعود في جنازة، فلما جئنا دخل المسجد، فدخل عبد الله بيته يتوضأ ثم خرج إلى المسجد فقال لى: أما توضأت؟ قلت: لا، فقال: كان عمر بن الخطاب ومن دونه من الخلفاء إذا صلى أحدهم على الجنازة ثم أراد أن يصلى المكتوبة توضأ، حتى إن أحدهم كان يكون في المسجد فيدعو بالطشت فيتوضأ فيها

“Kami meriwayatkan dengan sanad yang disebutkan kepada Hammaad bin Salamah dari Ayyub As-Sikhtiyaaniy dari Muhammad bin Siriin ia berkata : ‘aku bersama Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dalam jenazah, maka ketika kami masuk masjid, lalu Abdullah masuk ke rumahnya untuk berwudhu, lalu keluar ke masjid. Ia berkata kepadaku : ‘apa engkau tidak berwudhu?’, aku berkata : ‘tidak’. Ia berkata : ‘Umar bin Khothob dan kholifah setelahnya, jika mereka sholat jenazah, lalu hendak melakukan sholat wajib, mereka berwudhu, hingga salah seorang diantara mereka dalam masjid meminta air dalam baskom, lalu berwudhu darinya”.

Kemudian Imam Ibnu Hazm berkomentar :

قال أبو محمد: لا يجوز أن يكون وضوءهم رضى الله عنهم لان الصلاة على الجنازة حدث، ولا يجوز أن يظن بهم إلا اتباع السنه التي ذكرنا، والسنة تكفى.

“tidak bisa dibawa maknanya wudhu mereka sebagai hadats, karena sholat jenazah dan tidak boleh menyangka bahwa yang mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan karena mengikuti sunah yang telah kami sebutkan, maka mengikuti sunah mencukupinya”.

Maksudnya adalah wudhu karena membawa jenazah adalah sunah yang diamalkan oleh Kholifah sahabat Rodhiyallahu ‘Anhum.

  1. Dalam riwayat Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 1009) yang dishahihkan Imam Al Albani, lafadznya :

مِنْ غُسْلِهِ الْغُسْلُ وَمِنْ حَمْلِهِ الْوُضُوءُ

“Karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawanya, ia berwudhu”.

Dalam lafadz ini, terdapat isyarat sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Majduddin, bahwa ia melakukan wudhu untuk sholat jenazah, bukan semata-mata karena membawa jenazah.

        Kita tutup pembahasan ini dengan fatwa dari DR. Abdullah Faqiih dalam “Fatawaa syabkah Islamiyyah” :

55003

هل يشرع الغسل بعد الرجوع من دفن الميت

الفهرس » فقه العبادات » الجنائز » غسل الميت وتكفينه » أحكام أخرى (17)

رقم الفتوى : 55003

عنوان الفتوى : هل يشرع الغسل بعد الرجوع من دفن الميت

تاريخ الفتوى : 12 رمضان 1425

السؤال

هل هناك حديث وارد عن الرسول صلى الله عليه وسلم بالاغتسال بعد الرجوع من دفن الميت؟ وجزاكم الله خيرا.

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فإنا لم نطلع على حديث ولا على أثر يدل على الأمر بالاغتسال بعد الرجوع من الدفن، وإنما الوارد هو الأمر باغتسال من غسل ميتا. ووضوء من حمله، ففي سنن أبي داود عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من غسل ميتا فليغتسل ومن حلمه فليتوضأ . والغسل من غسل الميت مستحب عند الجمهور وليس بواجب، وكذلك الوضوء من حمله. قال في عون المعبود شرح سنن أبي داود قال الخطابي : لا أعلم أحدا من الفقهاء يوجب الا غتسال على من غسل الميت، ولا الوضوء على من حمله، ويشبه أن يكون الأمر في ذلك على الاستحباب . قال ومن حمله فليتوضأ قد قيل في معناه أي ليكون على وضوء ليتهيأ للصلاة على الميت والله أعلم. انتهى. وعلى هذا المعنى فالمطلوب الوضوء قبل حمل الميت إلى مكان الصلاة وليس الوضوء بعد حمله، والظاهر المعنى الأول بدليل لفظ الترمذي: من غسله الغسل ومن حمله الوضوء. والله أعلم.

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Soal : Apakah terdapat hadits dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam masalah mandi setelah pulang dari menguburkan mayit? Jazakumullah khoir.

Jawab : segala puji bagi Allah, sholawat dan salam terlimpah curahkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, kepada keluarganya dan para sahabatnya, Amma Ba’du :

Kami belum pernah melihat hadits dan juga atsar yang menunjukan perintah mandi setelah pulang dari penguburan, yang ada hanyalah perintah mandi karena memandikan mayat dan berwudhu karena membawanya. Dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaknya mandi dan barangsiapa yang 0membawanya, hendaknya berwudhu”.

Mandi karena memandikan mayat itu dianjurkan menurut mayoritas ulama, bukan wajib. Demikian juga berwudhu karena membawanya. Dalam “’Aunul Maubud syaroh Sunan Abi Dawud, Imam Al Khothoobiy berkata : ‘aku tidak mengetahui seorang fuqoha pun yang mewajibkan mandi karena memandikan mayat dan tidak juga mewajibkan wudhu karena membawanya, yang mendekatinya bahwa perintah dalam hal ini adalah disunahkan saja. Sabdanya, barangsiapa yang membawa jenazah, hendaknya berwudhu, maka dikatakan maksudnya adalah wudhu tersebut dilakukan karena akan melakukan sholat jenazah untuk mayit tersebut, Wallahu A’lam. Selesai.

Berdasarkan hal ini, maka perintah wudhunya adalah sebelum membawa jenazah sampai ke tempat sholat, bukan wudhu setelah membawanya (dari tempat sholat). Selesai.

Berdasarkan hal ini, maka perintah wudhunya adalah sebelum membawa jenazah sampai ke tempat sholat, bukan wudhu setelah membawanya (dari tempat sholat ke tanah pekuburan-pent.), dhohir makna tersebut dengan dalil riwayat dari Imam Tirmidzi : “karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawa nya, ia berwudhu”. Wallahu A’lam”.          

6). Wudhu karena memakan sesuatu yang dipanggang dengan api.

Imam Muslim telah membuat satu judul bab dalam kitab shahihnya, yakni bab “باب الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ” (berwudhu karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api), kemudian beliau menurunkan beberapa hadits dari para sahabat, yaitu :

  1. Sahabat Zaid bin Tsaabit Rodhiyallahu anhu, beliau berkata :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ »

“aku mendengar Rasulullah r bersabda : “berwudhu karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api”.

  1. Abdullah bin Ibrohim bin Qooridh berkata :

أَنَّهُ وَجَدَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ عَلَى الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّمَا أَتَوَضَّأُ مِنْ أَثْوَارِ أَقِطٍ أَكَلْتُهَا لأَنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ ».

“bahwa ia mendapati Abu Huroiroh sedang berwudhu di masjid, lalu beliau Rodhiyallahu anhu berkata : ‘aku hanyalah berwudhu karena memakan susu beku yang telah dipanaskan dengan api, karena aku mendengar Rasulullah r bersabda : “Berwudhulah karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api”.

  1. Sahabat Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ »

“Berwudhulah karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api”.

Dari ketiga hadits ini, sebagian ulama memandang wajibnya wudhu karena memakan sesuatu yang disentuh oleh api. Imam Ibnu Abdil bar dalam “Al Istidzkar” menyebutkan nama-nama ulama yang berpendapat seperti ini, kata beliau :

وممن روي عنه إيجاب الوضوء مما مست النار زيد بن ثابت وعبد الله بن عمر – على اختلاف عنه – وأنس بن مالك – على اختلاف عنه – وبه قال خارجة بن زيد بن ثابت وأبو بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام وابنه عبد الملك ومحمد بن المنكدر وعمر بن عبد العزيز وبن شهاب فهؤلاء كلهم مدنيون

وقال به من أهل العراق أبو قلابة والحسن البصري ويحيى بن يعمر وأبو مجلز لاحق بن حميد وكل هؤلاء بصريون ولا أعلم كوفيا قال به

“ulama yang diriwayatkan berpendapat wajibnya wudhu karena memakan sesuatu yang disentuh api, yakni Zaid bin Tsaabit, Abdullah bin Umar –dinukil pendapat yang berbeda darinya-, Anas bin Malik –dinukil pendapat yang berbeda darinya- Rodhiyallahu anhum. Khoorijah bin Zaid bin Tsabit, Abu Bakar bin Abdur Rokhman ibnul Harits bin Hisyaam dan anaknya Abdul Malik, Muhammad ibnul Munkadir, Umar bin Abdul Aziz dan Ibnu Syihaab (Az-Zuhri) mereka semuanya adalah ulama Madinah.

Yang berpendapat seperti ini dari kalangan ulama Iroq yaitu, Abu Qilaabah, Al Hasan Al Bashriy, Yahya bin Ya’mar, Abu Mijlaz dan Laahiq bin Humaid, mereka semua adalah ulama Bashroh. Aku tidak mengetahui ulama Kufah berpendapat seperti ini”.

       Kemudian Imam Muslim membuat judul bab lagi setelah bab ini, yakni bab “باب نَسْخِ « الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ » (Penghapus wudhu karena memakan sesuatu yang disentuh dengan api). Kemudian Imam Muslim menurunkan beberapa hadits berikut :

  1. Dari sahabat Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhum, beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَكَلَ كَتِفَ شَاةٍ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“bahwa Rasulullah r makan pundak kambing, lalu sholat dan tidak mengulangi wudhunya lagi”.

  1. Masih dari beliau, katanya :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَكَلَ عَرْقًا – أَوْ لَحْمًا – ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يَمَسَّ مَاءً.

“bahwa Rasulullah r makan urat atau daging, lalu sholat tanpa berwuhdu lagi dan tanpa menyentuh air”.

  1. Dari ‘Amr bin Umayyah, bahwa ia :

أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفٍ يَأْكُلُ مِنْهَا ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ.

“bahwa ia melihat Rasulullah r memotong pundak kambing, lalu memakannya, lalu sholat, tanpa mengulangi wudhunya”.

  1. Masih dari beliau, katanya :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَدُعِىَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَامَ وَطَرَحَ السِّكِّينَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“aku melihat Rasulullah r memotong pundak kambing, lalu memakannya, lalu ditegakkan sholat, maka Beliau berdiri dan melemparkan pisau, lalu sholat, tanpa berwudhu lagi”.

  1. Dari Maimunah Ummul Mukminin Rodhiyallahu anha, beliau berkata :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَكَلَ عِنْدَهَا كَتِفًا ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ.

“bahwa Nabi r makan pundak (kambing), lalu sholat dan tidak berwudhu lagi”.

  1. Dari Abu Roofi’ Rodhiyallahu anhu, beliau berkata :

أَشْهَدُ لَكُنْتُ أَشْوِى لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَطْنَ الشَّاةِ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ.

“aku bersaksi, akulah yang memanggangkan untuk Rasulullah r perut kambing, lalu Beliau sholat dan tidak mengulangi wudhunya lagi”.

  1. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu, beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمَعَ عَلَيْهِ ثِيَابَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأُتِىَ بِهَدِيَّةٍ خُبْزٍ وَلَحْمٍ فَأَكَلَ ثَلاَثَ لُقَمٍ ثُمَّ صَلَّى بِالنَّاسِ وَمَا مَسَّ مَاءً.

“bahwa Rasulullah r mengumpulkan ujung bajunya, lalu keluar sholat, Beliau diberi hadiah roti dan daging, maka Beliau memakan 3 suapan, lalu mengimami manusia dan tidak menyentuh air”.

       Hadits-hadits tersebut memberikan faedah tidak wajibnya wudhu karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api. Imam Ibnu Abdil Bar dalam “Al Istidzkaar” menyebutkan deretan ulama yang berpendapat seperti ini, kata beliau :

وممن قال بإسقاط الوضوء مما مست النار أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وبن عباس وبن مسعود وعامر بن ربيعة وأبي بن كعب وأبو الدرداء وأبو أمامة

وعلى ذلك جماعة فقهاء الأمصار مالك وأصحابه والثوري والأوزاعي وأبو حنيفة وأصحابه والحسن بن حي وبن أبي ليلى والشافعي وأصحابه وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد وداود بن علي ومحمد بن جرير الطبري

إلا أن أحمد وإسحاق وطائفة من أهل الحديث يقولون من أكل شيئا من لحم الجزور خاصة فقد وجب عليه الوضوء

“ulama yang berpendapat gugurnya kewajiban wudhu karena memakan sesuatu yang dimasak api adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Abbaas, Ibnu Mas’ud, ‘Aamir bin Robii’ah, Ubay bin Ka’ab, Abu Darda dan Abu Umaamah Rodhiyallahu anhum.

Karenanya sejumlah fuqoha beperndapat seperti ini yaitu, Malik dan para sahabatnya, Ats-Tsauriy, Al Auzaa’I, Abu Hanifah dan para sahabatnya, Al Hasan bin Hay, Ibnu Abi Lailaa, Syafi’I dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Dawud bin Ali, Muhammad bin Jariir Ath-Thobariy.

Namun Ahmad, Ishaq dan sekelompok ulama ahlul hadits berpendapat khusus memakan daging unta, wajib berwudhu”.

 

       Masalah wajibnya wudhu karena memakan daging unta sudah kami bahas dalam point sesuatu yang diperselisihkan sebagai pembatal wudhu dan yang rajih sebagai pembatal wudhu, silakan melihatnya bagi yang mau merujuk kembali.

       Kami tutup dengan nukilan jawaban fatwa DR. Abdullah Faqiih dalam “Fatwa Syabkah Islamiyyah” (tanggal 10 Jumadi Tsaniyah 1425 H) berikut :

وأما الوضوء مما مسته النار، فقد صح الأمر به من حديث مسلم وغيره أن النبي صلي الله عليه وسلم قال: توضؤوا مما مست النار . ولكن العمل به ترك، إما لكونه نسخ، أو لكون المقصود به غسل الفم والكفين لا الوضوء الشرعي. قال النووي في شرح صحيح مسلم : وأجابوا ـ يعني جمهور العلماء ـ عن حديث الوضوء مما مست النار بجوابين، أحدهما: أنه منسوخ بحديث جابر رضي الله عنه قال: كان آخر الأمرين من رسول الله صلى الله عليه وسلم ترك الوضوء مما مست النار ، وهو حديث صحيح. والجواب الثاني: أن المراد بالوضوء غسل الوجه والكفين .

“adapun wudhu kerena memakan sesuatu yang dimasak dengan api, telah shahih perintah dalam hadits Shahih Muslim dan selainnya bahwa Nabi r bersabda : “berwudhulah karena memakan sesuatu yang disentuh api”. Namun amalan wajib ini ditinggalkan, bisa karena ia telah dihapus hukumnya atau yang dimaksud dengannya adalah mencuci mulut dan kedua telapak tangannya, bukan wudhu yang syar’i. Imam Nawawi berkata dalam Syaroh Shahih Muslim : ‘mereka jumhur ulama menjawab hadits wudhu karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api, dengan 2 jawaban : 1). Bahwa hadits tersebut telah dihapus hukumnya oleh hadits Jaabir Rodhiyallahu anhu bahwa ia berkata : ‘akhir dari 2 perkara Rasulullah r adalah meninggalkan berwudhu karena memakan sesuatu yang dimasak dengan api’. Ini adalah hadits yang shahih. 2). Yang dimaksud dengan wudhu disini adalah mencuci wajah dan kedua telapak tangan”.

7). Keluar angin dari kemaluan

Biasanya yang sering terjadi adalah pada wanita, yaitu apakah keluar angin sehingga terkadang berbunyi seperti suara kentut, dapat membatalkan wudhu? Jawabanya :

       Dinukil dari Imam Ahmad bahwa beliau mengatakan hal tersebut sebagai pembatal wudhu. Imam Ibnu Qudamah dalam “Al Mughni” berkata :

( 235 ) فَصْلٌ : وَقَدْ نَقَلَ صَالِحٌ ، عَنْ أَبِيهِ ” فِي الْمَرْأَةِ يَخْرُجُ مِنْ فَرْجِهَا الرِّيحُ : مَا خَرَجَ مِنْ السَّبِيلَيْنِ فَفِيهِ الْوُضُوءُ .

وَقَالَ الْقَاضِي : خُرُوجُ الرِّيحِ مِنْ الذَّكَرِ وَقُبُلِ الْمَرْأَةِ يَنْقُضُ الْوُضُوءَ .

“pasal (235) telah dinukil dari Shoolih dari Bapaknya (Imam Ahmad) tentang wanita yang keluar dari kemaluannya angin? Jawabnya : ‘apa yang keluar dari 2 jalan (kemaluan dan pantat), maka wajib wudhu padanya’.

Al Qodhi berkata : ‘keluarnya angin dari kemaluan laki-laki dan wanita, dapat membatalkan wudhu’”.

       Pembahasan selanjutnya kami serahkan kepada DR. Abdullah Faqiih untuk berfatwa :

عنوان الفتوى : أثر خروج الريح من الذكر على الصلاة

تاريخ الفتوى : 12 صفر 1427

السؤال

بسم الله الرحمن الرحيم

إني أعاني من صدور رائحة من الذكر لذلك أخشى على الصلاة فهل يجوز الصلاة ؟

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فإذا كانت الرائحة التي تجدها ناشئة عن خروج الريح التي هي من نواقض الوضوء فالمسألة محل خلاف بين أهل العلم هل الوضوء في هذه الحالة باطل أم لا ؟

فعند المالكية والحنفية لا تنقض الوضوء قال المواق في التاج والإكليل وهو مالكي : وكذلك الريح من القبل لا وضوء فيه عند مالك وأبي حنيفة وهو كالجشاء خلافا للشافعي . انتهى

وفي المبسوط للسرخسي وهو حنفي : فإن خرج الريح من الذكر فقد روي عن محمد رحمه الله تعالى أنه حدث لأنه خرج من موضع النجاسة وعامة مشايخنا يقولون هذا لا يكون حدثا وإنما هو اختلاج فلا ينقض الوضوء . انتهى . وعند الحنابلة إذا حصل يقين بوجوده نقض الوضوء قال ابن قدامة في المغني وهو حنبلي : وقال القاضي : خروج الريح من الذكر وقبل المرأة ينقض ، وقال ابن عقيل : يحتمل أن يكون الأشبه بمذهبنا في الريح يخرج من الذكر أن لا ينقض ، لأن المثانة ليس لها منفذ إلى الجوف ، ولا جعلها أصحابنا جوفا ، ولم يبطلوا الصوم بالحقنة فيه ، ولا نعلم لهذا وجودا ولا نعلم وجوده في حق أحد ، وقد قيل : إنه يعلم وجوده بأن يحس الإنسان في ذكره دبيبا ، وهذا لا يصح فإن هذا لا يحصل به اليقين والطهارة لا تنقض بالشك ، فإن قدر وجود ذلك يقينا نقض الطهارة ، لأنه خارج من أحد السبيلين ، فنقض قياسا على سائر الخوارج . انتهى .

أما الشافعية فالوضوء باطل عندهم في هذه الحالة قال النووي في المجموع : فالخارج من قبل الرجل أو المرأة أو دبرهما ينقض الوضوء ، سواء كان غائطا أو بولا أو ريحا أو دودا أو قيحا أو دما أو حصاة أو غير ذلك ولا فرق في ذلك بين النادر والمعتاد ، ولا فرق في خروج الريح بين قبل المرأة والرجل ودبرهما ، نص عليه الشافعي رحمه الله في الأم ، واتفق عليه الأصحاب ، قال أصحابنا : ويتصور خروج الريح من قبل الرجل إذا كان آدر ، وهو عظيم الخصيين ، وكل هذا متفق عليه في مذهبنا . انتهى .

وإن كانت الرائحة المذكورة لا علاقة لها بالريح الناقضة للوضوء فلا يترتب عليها نقض للوضوء ولا تمنع الصلاة ولا تبطلها, واحرص على النظافة دائما لأن الإسلام يحث عليها .

إضافة إلى استعمال الطيب دائما اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم فإنه كان يحبه ويحث على استعماله ، وراجع المزيد في الفتوى رقم : 50154 . ولا بأس بعرض حالتك على طبيب مختص في هذا المجال .

والله أعلم .

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Soal : saya yakni terhadap angin yang keluar dari kemaluan, karenanya aku khawatir terhadap sholatku, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam sholat?

Jawab : Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya. Amma Ba’du :

Jika angin yang engkau dapati muncul dari angin yang ia merupakan pembatal wudhu, maka masalahnya adalah telah terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama, apakah wudhu pada keadaan ini batal atau tidak?

Menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah, hal ini tidak membatalkan wudhu. Berkata Al Muwafir dalam “At-Taaj wal Ikliil dan beliau dari madzhab Maliki : ‘demikian juga angin yang keluar dari kemaluan, maka tidak ada wudhu padanya, menurut Malik dan Abu Hanifah, hal ini seperti kerikil (keluar ketika kencing batu-pent.) berbeda dengan (pendapatnya) Syafi’I, selesai.

Dalam “Al Mabsuut” tulisan As-Sarkhosiy dari kalangan Hanafiy : ‘keluarnya angin dari kemaluan, telah diriwayatkan dari Muhammad bahwa ia adalah hadats, karena keluarnya dari tempat najis. Adapun umumnya guru-guru kami berkata, hal tersebut bukan hadats, ia hanyalah getaran, maka tidak membatalkan wudhu’. Selesai.

Menurut Hanabilah, jika yakin keluarnya angin dari kemaluan, membatalkan wudhu, Ibnu Qudamah ulama hambali dalam “Al Mughni” berkata : ‘Al Qodhi berkata : ‘keluarnya angin dari kemaluan laki-laki dan wanita membatalkan wudhu. Ibnu ‘Uqol berkata : ‘mungkin yang samar dalam madzhab kami tentang angin yang keluar dari kemaluan , bahwa hal tersebut tidak membatalkan wudhu, karena kandung kencing/kemih tidak memiliki saluran ke perut. Sahabat-sahabat kami tidak menganggapnya sebagai perut, sehingga tidak batal puasa dengan memberikan obat lewat lubang darinya, kami tidak mengetahui angin tersebut benar-benar ada, kami tidak mengetahui hal tersebut terjadi pada diri seorang pun. Dikatakan, sesungguhnya hal tersebut diketahui adanya angin yang keluar tersebut, yang mana seseorang akan merasa pada kemaluannya ada aliran udara. Ini tidak benar, oleh karena hal ini tidak menghasilkan keyakinan, sedangkan kesucian tidak dapat dibatalkan dengan keragu-raguan, jika ditetapkan adanya angin tersebut secara yakin, maka dapat membatalkan kesucian, karena ia keluar dari salah satu 2 lubang, maka ia membatalkan wudhu dikiaskan dengan hal-hal lainnya yang keluar (dari 2 lubang tersebut).

Adapun Syafi’iyyah, maka wudhu batal menurut mereka pada kondisi ini. Nawawi berkata dalam “Al Majmu’” : ‘maka sesuatu yang keluar dari kemaluan laki-laki dan perempuan atau dari pantatnya, membatalkan wudhu, sama saja apakah berupa tahi, air kencing, angin, cacing, nanah, darah, kerikil, atau selainnya dan tidak ada perbedaan antara sedikit atau banyak, tidak ada perbedaan keluarnya angin antara kemaluan laki-laki dan wanita dengan yang keluar dari dubur, ini adalah ucapan Imam Syafi’I dalam “Al Umm”, yang disepakati oleh sahabat-sahabat kami. Sahabat kami berkata : ‘deskripsi keluarnya angin dari kemaluan laki-laki adalah jika keluar dari Aadar yaitu tulang pada dua pinggang, semua ini disepakati dalam madzhab kami’. Selesai.

Jika angin yang disebutkan diatas tidak berkaitan dengan angin (kentut) yang membatalkan wudhu, maka hal tersebut tidak menyebabkan batal wudhunya dan tidak terhalangi untuk mengerjakan sholat dan tidak juga membatalkannya, bersungguh-sungguhlah menjaga kebersihan selalu, karena Islam menganjurkan hal tersebut.

Kebersihan dengan menggunakan pewangi senantiasa mengikuti Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, karena Beliau mencintai menyukai dan menganjurkan menggunakannya. Rujuklah untuk tambahan pengetahuan fatwa no. 50154. Tidak mengapa enggan untuk menggunakan parfum dikhususkan pada kondisi ini. Wallohu A’lam”.

       Kesimpulannya, angin yang keluar dari kemaluan laki-laki dan wanita tidak membatalkan wudhu, karena tidak didapatkan dalil dalam syariat yang menganggapnya sebagai hadats atau sebagai pembatal wudhu.

8). Ragu-ragu apakah wudhunya telah batal

Yakni jika seseorang dalam kondisi yakin telah berwudhu, kemudian timbul keraguan pada dirinya, apakah telah keluar sesuatu atau tidak, biasanya kentut pada dirinya, apakah keragu-raguanny tadi dapat membatalkan wudhu?, Jawab : kami akan menyerahkannya kepada Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” :

وَهَذَا الْحَدِيث أَصْل مِنْ أُصُول الْإِسْلَام وَقَاعِدَة عَظِيمَة مِنْ قَوَاعِد الْفِقْه ، وَهِيَ أَنَّ الْأَشْيَاء يُحْكَم بِبَقَائِهَا عَلَى أُصُولهَا حَتَّى يُتَيَقَّن خِلَاف ذَلِكَ . وَلَا يَضُرّ الشَّكّ الطَّارِئ عَلَيْهَا . فَمِنْ ذَلِكَ مَسْأَلَة الْبَاب الَّتِي وَرَدَ فِيهَا الْحَدِيث وَهِيَ أَنَّ مَنْ تَيَقَّنَ الطَّهَارَة وَشَكَّ فِي الْحَدَث حُكِمَ بِبَقَائِهِ عَلَى الطَّهَارَة ، وَلَا فَرْق بَيْن حُصُول هَذَا الشَّكّ فِي نَفْس الصَّلَاة ، وَحُصُوله خَارِج الصَّلَاة . هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب جَمَاهِير الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف . وَحُكِيَ عَنْ مَالِك – رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى – رِوَايَتَانِ : إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ يَلْزَمهُ الْوُضُوء إِنْ كَانَ شَكُّهُ خَارِج الصَّلَاة ، وَلَا يَلْزَمُهُ إِنْ كَانَ فِي الصَّلَاة ، وَالثَّانِيَة يَلْزَمُهُ بِكُلِّ حَالٍ ، وَحُكِيَتْ الرِّوَايَة الْأُولَى عَنْ الْحَسَن الْبَصْرِيّ وَهُوَ وَجْه شَاذّ مَحْكِيّ عَنْ بَعْض أَصْحَابنَا ، وَلَيْسَ بِشَيْءٍ قَالَ أَصْحَابنَا : وَلَا فَرْق فِي الشَّكّ بَيْن أَنْ يَسْتَوِي الِاحْتِمَالَانِ فِي وُقُوع الْحَدَث وَعَدَمه ، أَوْ يَتَرَجَّح أَحَدهمَا ، أَوْ يَغْلِب عَلَى ظَنّه ، فَلَا وُضُوء عَلَيْهِ بِكُلِّ حَال

”hadits ini merupakan pokok dari pokok-pokok Islam dan kaedah besar dalam kaedah Fiqihiyah, yaitu bahwa segala sesuatu dihukumi tetap atas asalnya sampai secara yakin menyelisihi hal tersebut, tidak memudhorotkan keraguan yang timbul darinya. Termasuk dalam masalah ini yang datang padanya hadits bahwa orang yang yakin telah berwudhu, lalu timbul keraguan terjadinya hadats pada dirinya, maka hukumnya tetap diatas kesucian, tidak ada perbedaan munculnya keraguan didalam sholat ataukah diluar sholat. Ini adalah madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama baik dari salaf maupun kholaf. Diceritakan dari Malik 2 riwayat, riwayat pertama mengharuskan wudhu jika keraguan terjadi diluar sholat, namun tidak mengharuskan jika didalam sholat, yang kedua mengharuskan wudhu pada semua keadaan. Diceritakan juga riwayat yang pertama dari Al Hasan Al Bashri dan ini adalah sisi yang ganjil yang dikisahkan dari sebagian madzhab kami, tidak ada apa-apanya.

sahabat kami berkata : ‘tidak ada perbedaan terhadap keraguan antara hal yang sama dari 2 kemungkinan pada saat terjadinya hadats dan tidak terjadi atau terajihkan salah satunya atau kuat dugaan salah satunya, maka tidak harus berwudhu pada seluruh kondisi tersebut”.

       Hujjah yang digunakan jumhur ulama adalah hadist berikut :

  1. Hadits Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu ‘Anhu, bahwa ia berkata :

شُكِيَ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ ، فَقَالَ : لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“dilaporkan kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam seorang yang terbayang bahwa ia mendapatkan sesuatu dalam sholat, maka Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “jangan berpaling! Sampai ia mendengar suara atau mencium baunya” (HR. Jama’ah kecuali Tirmidzi).

  1. Hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

إذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجْ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Jika seorang mendapatkan sesuatu didalam perutnya, lalu terbayang telah keluar sesuatu atau tidak darinya, maka janganlah keluar dari masjid sampai mendengar suara atau mencium baunya” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Sekalipun point-point yang disebutkan sebagai sesuatu yang tidak rajih/marjuh dapat membatalkan wudhu, namun demi keluar dari perselisihan yang terjadi, maka dianjurkan baginya berwudhu jika memungkinkan. Karena memperbaharui wudhu sendiri merupakan amalan yang dianjurkan. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ بِوُضُوءٍ

“Sekiranya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka setiap sholat untuk berwudhu” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: