DURORUL BAHIYYAH : BAB MANDI

January 23, 2016 at 11:59 am | Posted in fiqih | Leave a comment

E. Bab Mandi

 

يجب بخروج المنيّ بشهوة – ولو بتفكر -، وبالتقاء الختانين، وبانقطاع الحيض والنفاس، وبالاحتلام –

Mandi wajib karena keluarnya mani dengan syahwat–sekalipun keluarnya karena membayangkan-, atau karena bertemunya dua khitan (berhubungan badan)[1]. Wajib mandi juga karena berhentinya darah haidh[2], dan nifas. Mandi juga karena mimpi basah

مع وجود بلل -، وبالموت، وبالإسلام.

–ketika ada bekas maninya-, juga karena meninggal dunia, dan masuk Islam[3].

فصل:

والغسل الواجب هو: أن يُفيض الماء على جميع بدنه، أو ينغمس فيه، مع المضمضة والاستنشاق،

Pasal : mandi yang wajib adalah mengguyurkan air ke seluruh anggota badan, atau berendam di air, sambil berkumur-kumur dan menghirup/mengeluarkan air dari hidung,

والدَّلك لما يُمكن دلكه، ولا يكون شرعيا إلا بالنية لرفع موجبه، ونُدب تقديم غسل أعضاء الوضوء إلا

kemudian digosok anggota badan, yang memungkinkan untuk digosok. Mandi tidaklah dianggap secara syar’i, kecuali dengan niat untuk mengangkat apa yang mewajibkannya mandi. Dianjurkan untuk mendahulukan mencuci anggota wudhu,

القدمين، ثم التيامن.

kecuali dua kaki, kemudian baru membasuh anggota tubuh bagian kanan[4].

فصل:

ويشرع لصلاة الجمعة، والعيدين، ولمن غسّل ميتاً، وللإحرام، ولدخول مكة.

Pasal : disyariat mandi ketika hendak sholat Jum’at[5], sholat hari raya[6], bagi orang yang memandikan jenazah[7], bagi orang yang ihram[8], dan ketika hendak masuk kota Mekkah[9].

 

[1] Berdasarkan hadits Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

Sesungguhnya hanyalah air itu (maksudnya mandi –pent.), karena keluarnya air (maksudnya mani –pent.) (HR. Musilim).

Namun ketika seorang berhubungan badan, dan dua kemaluan sudah saling bertemu, maka tetap baginya mandi, sekalipun tidak sampai keluar mani, berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu secara marfu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda :

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ

Jika suami telah berada diantara 4 cabang, lalu ia sudah bersungguh-sungguh (untuk berhubungan badan), maka wajib baginya mandi (HR. Muslim).

Dalam lafadz lain ada tambahan :

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

Sekalipun tidak sampai keluar maninya (HR. Muslim).

[2] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 222 :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

                                                                                                                                                                                     Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa Firman-Nya : “sebelum mereka suci”, yakni yang dimaksud adalah “sebelum mereka mandi wajib”.

Juga berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ، سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ، فَقَالَ: «لاَ إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي»

Fathimah binti Abi Hubaisy rodhiyallahu anha bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam : “sesungguhnya aku istihadhoh, tidak suci, apakah aku harus meninggalkan sholat?”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “jangan, itu hanya peluh, namun engkau tinggalkan sholat sesuai dengan hari kebiasaan haidhmu, kemudian mandilah, baru mengerjakan sholat (HR. Bukhori).

 

[3] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ ثُمَامَةَ الْحَنَفِيَّ أُسِرَ فَأَسْلَمَ , «فَجَاءَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَعَثَ بِهِ إِلَى حَائِطِ أَبِي طَلْحَةَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَغْتَسِلَ» , فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ حَسُنَ إِسْلَامُ أَخِيكُمْ»

Tsumaamah al-Hanafiy tertawan, lalu beliau masuk Islam, kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam mendatanginya dan mengutus Haith Abi Tholhah kepadanya, kemudian memerintahkan Tsumaamah rodhiyallahu anhu untuk mandi. Lalu beliau mandi dan sholat 2 rokaat. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sungguh bagus keislaman saudara kalian ini”.

[4] Berdasarkan hadits Maimunah rodhiyallahu anha –ummul Mukminin- beliau berkata :

«تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُضُوءهُ لِلصَّلاَةِ، غَيْرَ رِجْلَيْهِ، وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَيْهِ المَاءَ، ثُمَّ نَحَّى رِجْلَيْهِ، فَغَسَلَهُمَا، هَذِهِ غُسْلُهُ مِنَ الجَنَابَةِ»

“Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berwudhu dengan wudhu untuk sholat, selain kedua kakinya. Lalu Beliau mencuci kemaluannya dan bagian yang terkena mani, lalu Beliau mengguyurkan air keseluruh tubuhnya, lalu Beliau mencuci kedua kakinya. Ini adalah (sifat) mandi janabah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam”.

[5] Berdasarkan hadits Abu Said rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

Mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang baligh (Muttafaqun ‘alaih).

 

[6] Berdasarkan atsar dari Naafi’ beliau berkata :

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ، قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Bahwa Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu senantiasa mandi pada hari raya Idhul Fitri, sebelum berangkat ke tanah lapang (HR. Malik, dishahihkan oleh asy-Syaikh Ali Hasan).

Asy-Syaikh Ali Hasan dalam Ahkaamul ‘Idain (hal. 35) berkata :

وأمّا الذي رُوي عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في ذلك، فهو ضعيفٌ

Adapun yang diriwayatkan dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tentang mandi pada hari raya, maka haditsnya dhoif.

[7] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا، فَلْيَغْتَسِلْ

Barangsiapa yang memandikan jenazah, maka hendaknya mandi (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani).

[8] Berdasarkan hadits Zaid bin Tsaabit rodhiyallahu anhu :

أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجَرَّدَ لِإِهْلَالِهِ وَاغْتَسَلَ»

Beliau melihat Nabi sholallahu alaihi wa salam memakai baju yang tidak dijahit ketika hendak ihram, kemudian mandi (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata :

«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ» وَقَدْ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ الِاغْتِسَالَ عِنْدَ الإِحْرَامِ، وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ “

Hadits ini hasan ghoriib, sebagian ulama menganjurkan mandi ketika ihram, dan ini adalah pendapatnya Syafi’i.

 

[9] Berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu :

كَانَ لَا يَقْدَمُ مَكَّةَ إِلَّا بَاتَ بِذِي طَوًى، حَتَّى يُصْبِحَ وَيَغْتَسِلَ ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا، وَيَذْكُرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فَعَلَهُ

Bahwa Ibnu Umar rodhiyallahu anhu tidak mendatangi Mekkah kecuali bermalam dulu di Dzi Tuwaa, hingga keesokan harinya, lalu mandi kemudian masuk Ke Mekkah pada siang harinya. Beliau menyebutkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan hal tersebut (HR. Muslim).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: