PERJALANAN ILMIAH IMAM ABUL HASAN AL ASY’ARIY (1)

January 23, 2016 at 1:40 am | Posted in Siroh | Leave a comment

PERJALANAN ILMIAH IMAM ABUL HASAN AL ASY’ARIY

 

 A. Kelahiran Beliau

 

Beliau dilahirkan pada tahun 260 H[1] di Baghdad[2], ada juga yang mengatakan beliau dilahirkan di Basroh[3]. Asy-Syaikh DR. Ali Muhammad ash-Shalabiy merajihkan bahwa Imam Abu Hasan dilahirkan di Baghdad, karena para ulama mengatakan tentangnya : “orang Bashroh, tinggal di Baghdad”[4].

Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyir Ishaq bin Saalim bin Ismail bin Abdullah bin Abi Bilaal bin Abi Burdah bin Abi Musa Abdullah bin Qois al-As’ariy[5]. Jadi beliau adalah keturunan dari seorang sahabat yang mulia Abu Musa al-Asy’ariy rodhiyallahu anhu. Ismail bapaknya adalah seorang ulama suni ahli hadits, karena bapaknya ketika menjelang wafat berwasiat kepada Imam Zakariya bin Yahya as-Saajiy, ulama ahli hadits pada zaman tersebut. Bapaknya wafat pada saat Imam Abul Hasan masih kecil[6].

Imam Abul Hasan dibesarkan dibawah asuhan bapak tirinya yang bernama Abu Ali al-Juba’iy, salah seorang Imamnya Mu’tazilah pada waktu itu. Abu Ali al-Juba’iy dilahirkan pada tahun 253 H dan wafat pada tahun 303 H[7]. Imam Thobari menyebutkan bahwa pada saat menjelang ajalnya, para sahabatnya berkumpul untuk mentalqinnya agar bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak ada seorang pun yang berani untuk mentalqinnya, karena merasa segan kepadanya, sampai kemudian ada seorang yang paling muda diantara mereka, membacakan ayat ini didepan Abu Ali al-Juba’iy yang sedang menghadapi ajalnya, yaitu ayat ke-31 dari surat An Nuur :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Maka setelah mendengar ayat ini dibacakan, Abu Ali al-Juba’iy membuka matanya lalu berkata :

اللَّهُمَّ اني تائب اليك من كل قَول نصرته كَانَ الصَّوَاب عنْدك غَيره واشتبه عَليّ امْرَهْ فَقَالَ من حَضَره لَو كَانَ عَليّ ذَنْب غير هَذَا لذكره

Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu dari semua ucapan yang aku sebarkan yang itu benar disisi-Mu dan selainnya, serta perkara yang masih tersamarkan olehku. Kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang hadir : “seandainya aku memiliki dosa selain ini, niscaya akan aku sebutkan”.

Sosok Abu Ali al-Juba’iy tentu tidak bisa dilepaskan dari pribadi Imam Abul Hasan al-Asy’ariy, karena beliau adalah ayat tirinya, sekaligus yang mendidiknya dari kecil sampai dewasa. Dikatakan bahwa beliau berpegang dengan madzhab ayahnya selama 40 tahun. Nama Abu Ali adalah Muhammad bin Abdul Wahab al-Bashriy, dia adalah dedengkotnya kaum filsafat dan ahli kalam, memiliki banyak makalah dan tulisan[8]. Abu Ali al-Juba’iy pernah mengatakan :

الحديث لأحمد بن حنبل، والفقه لأصحاب أبي حنيفة، والكلام للمعتزلة، والكذِب للرافضة

Hadits pakarnya adalah Ahmad bin Hanbal, Fiqih adalah Ashabnya Abu Hanifah, Kalam miliknya Mu’tazilah dan kedustaan capnya Rofidhoh[9].

Imam Abul Hasan menjadi anak tiri, sekaligus muridnya yang bermulazamah lama kepadanya, sehingga apabila Abu Ali al-Juba’iy berhalangan untuk mengisi majelis taklimnya, ia mengutus Imam Abu Hasan untuk menggantikannya.

Namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ariy, sehingga setelah berpuluh-puluh tahun berkecimpung dalam madzhab mu’tazilah, beliau pun mengikrarkan diri untuk berlepas diri dari madzhab batil tersebut. Bahkan beliau mengkritik kitab tafsir yang dikarang oleh ayah tirinya, Abu Ali al-Juba’iy, sebuah kitab tafsir yang besar dimana Abu Ali al-Juba’iy memiliki pendapat-pendapat aneh didalamnya. Imam Abul Hasan mengkritisinya dengan mengatakan :

وكأن القرآن نزل في لغة أهل جباء

Seolah-olah Al Qur’an turun dengan bahasa penduduk Jubaa`[10].

Jubaa` adalah sebuah nama daerah yang masuk wilayah Kurdistan, ini adalah daerah kelahiran Abu Ali al-Juba’iy.

Imam Abul Hasan al-Asy’ariy hidup pada masa-masa daulah Abbasiyyah mulai mengalami kelemahan, akibat pemberontakan-pemberontakan yang muncul dari bangsa Turki[11]. Kholifah daulah Abbasiyyah pada zaman Imam Ahmad pernah menjadilan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara dalam bidang aqidah, kemudian munculah finah slogan “Al Qur’an Makhluk”, yang membawa Imam Ahmad dan orang-orang yang tidak setuju dengan slogan tersebut, mengalami berbagai macam intimidasi dan siksaan dari penguasa.

Namun pada zaman Imam Abul Hasan hidup, masih banyak ulama-ulama kibar ahlu sunnah seperti Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam ad-Darimiy, Imam Abdullah bin Imam Ahmad, Imam Thobari, Imam Muhammad bin Naashir al-Marwaziy dan selain mereka[12]. Sekalipun juga di pihak lain pembesar-pembesar dari kalangan ahlu bid’ah masih memiliki tanduk untuk menyebarkan kebatilan-kebatilan mereka.

Secara fiqih, Imam Abul Hasan menganut madzhab syafi’i, oleh karenanya Imam Ibnu Katsiir memasukkan nama beliau dalam kitabnya Thobaqotus Syafi’iyyah. Imam Ibnu Katsiir menyebutkan alasan memasukkan nama beliau sebagai pengikut madzhab Syafi’i dalam kitabnya tersebut sebagai berikut :

وذكر من ينسب إلى مذهبه من العلماء من بعده، فذكر عامتهم من الشافعية، وهذا هو الذي حملني على ذكره في طبقات الشافعية، ليعرف زمانه وفضله ومحله، والله يرحمه آمين، وأيضا فإنه أخذ العلم عن زكريا ابن يحيى الساجي، وقد تقدم ذكره في أصحاب الشافعي، وجالس الشيخ أبا إسحاق المروزي أيام الجمعات، قاله الخطيب البغدادي، وحكى الشيخ أبو محمد الجويني، والد إمام الحرمين، وهو أحد أئمة الشافعية

Ulama yang menyebutkan penisbatan madzhab fiqih Imam Abu Hasan, kebanyakan mereka menyebutkan bahwa beliau termasuk Syafi’iyyah, oleh karenanya aku memasukkan beliau dalam thobaqotus Syafi’iyyah, untuk mengenal zamannya, keutamaan dan kedudukannya, semoga Allah merahmatinya Amiin.

Dan juga Imam Abul Hasan pernah mengambil ilmu dari Zakariya bin Yahya as-Saajiy, dan telah aku sebutkan sebelumnya bahwa beliau adalah ulama Syafi’iyyah. Disamping itu juga Imam Abul Hasan belajar kepada Abu Ishaq al-Marwaziy pada setiap hari Jum’at, sebagaimana dikatakan oleh al-Khothiib al-Baghdaadiy. Dinukil dari asy-Syaikh Abu Muhammad al-Juwainiy, bapaknya Imamul Haromain bahwa Abu Ishaq al-Marwaziy adalah salah seorang ulama Syafi’iyyah[13].

 

[1] Tarikh Thobari (11/334)

[2] Al-Mukhtashor fii Akbaril Basyar (2/89) karya Abul Fida Ismail bin Ali bin Mahmud (w. 732 H).

[3] Dinukil dari al-A’lam karya az-Zarkiliy (4/263) oleh DR. Sholahuddil al-Harowiy dalam ta’liqnya terhadap kital al-Mu’jib.

[4] Daulah Saljuk (hal. 319).

[5] Tarikh Islam (24/152) karya adz-Dzahabi (w. 748 H).

[6] Mauqif Ibnu Taimiyyah minal Asya’iroh (hal. 338), ini adalah disertasi doktoral Abdur Rokhman bin Shoolih untuk memperoleh gelar Doktor di Universitas Muhammad bin Su’ud, di fakultas ushulud diin, jurusan aqidah.

[7] Tarikh Thobari (11/208).

[8] Tarikh Islam (23/127) karya Imam adz-Dzahabi.

[9] Op cit.

[10] Al-Bidayah wan Nihayah (11/142) karya Imam Ibnu Katsiir.

[11] Mauqif Ibnu Taimiyyah minal Asya’iroh (hal. 331.

[12] Op cit (332-334).

[13] Thobaqotus Syafi’iyyah (1/212) karya Imam Ibnu Katsiir.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: