UBAIDILLAH BIN JAHSY MATI DALAM KEADAAN MURTAD?

January 26, 2016 at 2:48 pm | Posted in Siroh | 3 Comments

UBAIDILLAH BIN JAHSY MATI DALAM KEADAAN MURTAD?

 

Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahihnya (1/15) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah ibnul Mubarok, sebuah perkataan yang layak ditulis dengan tinta emas, yaitu beliau berkata :

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Sanad adalah termasuk agama, kalau tidak ada sanad, maka setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya.

Terkait dengan sejarah Islam, kita tidak akan peduli apa yang dikatakan oleh ahli sejarah, sekalipun mereka bersepakat untuk menyebutkan sebuah cerita, jika tidak ada sanad yang shahih yang menunjukkan kebenaran cerita tersebut, maka itu layak dilemparkan ke tembok. Kebanyakan ahli sejarah hanya mengumpulkan cerita, dan jarang diantara mereka yang meneliti kebenaran akan ceritanya, mungkin dengan cukup menyebutkan sanadnya, mereka sudah merasa bahwa pembacanya akan menyeleksi kebenaran cerita tersebut, namun sayangnya banyak pembaca yang tidak melakukan hal tersebut, sehingga mereka pun turut dalam menyebarkannya, tanpa menyebutkan benar tidaknya cerita tersebut.

Ini adalah apa yang dialami dalam kisah murtadnya Ubaidillah bin Jahsy rodhiyallahu anhu, para ahli sejarah, bahkan mereka adalah ulamanya Islam, menyebutkan kisah murtadnya Ubaidillah bin Jahsy tanpa ada keterangan apakah kisah ini benar-benar tsabit. Asy-Syaikh DR. Akram dhiyaul Umariy dalam kitabnya Siroh Nabawiyyah ash-Shahihah (1/176) berkata :

المشهور عند أهل المغازي أنه تنصر قبل وفاته (ابن إسحاق: كتاب السير والمغازي 259 والواقدي كما في طبقات ابن سعد 1/ 208)

Yang masyhur di kalangan pakar sejarah bahwa Ubaidillah bin Jahsy masuk Nasroni sebelum wafatnya (Ibnu Ishaq Kitab as-Siyar wal Maghooziy (hal. 259) dan al-Waaqidiy, sebagaimana dalam thobaqoh Ibnu Sa’ad (1/208).

Begitu juga Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth menukil keterangan Imam Ibnul Jauzi yang dihikayatkan dari Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, ketika menyebutkan kisah pernikahan Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan Ummu Habibah Romlah binti Abi Sufyan rodhiyallahu anha, kata beliau :

وقد اتهموا به عكرمة بن عمار راوي الحديث قال: وإنما قلنا: إن هذا وهم، لان أهل التاريخ أجمعوا على أن أم حبيبة كانت تحت عبيد الله بن جحش، وولدت له، وهاجر بها وهما مسلمان إلى أرض الحبشة، ثم تنصر، وثبتت أم حبيبة على دينها، فبعث رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى النجاشي يخطبها عليه، فزوجه إياها وأصدقها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أربعة آلاف درهم، وذلك في سنة سبع من الهجرة،

Ikrimah bin ‘Ammaar perowi hadits tersebut sungguh telah memperingatkan ketika beliau berkata : “kami mengatakan itu adalah lemah (yaitu kisah yang menikahkan Ummu Habibah adalah Abu Sufyan –pent), karena para pakar sejarah mereka telah bersepakat bahwa Ummu Habiibah adalah istri Ubadillah bin Jahsy, yang melahirkan anak untuknya, lalu keduanya hijrah dalam kondisi sebagai muslim ke negeri Habasyah, kamudian Ubadillah bin Jahsy masuk nasroni, sedangkan Ummu Habibah rodhiyallahu anhu masih kokoh dalam agama Islam, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengutus Najasyi untuk melamarnya, kemudian menikahinya dan memberikan mahar sebanyak 4000 dirham, yang demikian terjadi pada tahun 7 H.

Ikrimah bin ‘Ammaar (w. Sebelum 160 H), termasuk thobaqoh Tabi’i shoghir, perowi yang tsiqoh, menurut penilaian Imam adz-Dzahabi, dipakai hujjah oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, sedangkan Imam Bukhori hanya meriwayatkan haditsnya sebagai mu’alaq.

Namun kita tidak peduli jika benar mereka memang bersepakat untuk mengisahkan kemurtadan Abdullah bin Jahsy, jika mereka tidak mampu menunjukkan sanad yang shahih yang dapat dijadikan pegangan dalam kisah ini, karena bisa jadi mereka hanya menukil satu sama lainnya. Kita perlu melihat sanadnya apakah kisah tersebut dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya berdasarkan kaedah-kaedah dalam kritik sanad.

Berikut riwayat-riwayat yang menyebutkan kemurtadan Ubaidillah bin Jahsy :

  1. Ummu Habibah rodhiyallahu anhu berkata :

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ جَحْشٍ زَوْجِي بِأَسْوَإِ صُورَةٍ وَأَشْوَهِهِ فَفَزِعْتُ، فَقُلْتُ: تَغَيَّرَتْ وَاللَّهِ حَالُهُ، فَإِذَا هُوَ يَقُولُ حِينَ أَصْبَحَ: يَا أُمَّ حَبِيبَةَ، إِنِّي نَظَرْتُ فِي الدِّينِ فَلَمْ أَرَ دِينًا خَيْرًا مِنَ النَّصْرَانِيَّةِ وَكُنْتُ قَدْ دِنْتُ بِهَا، ثُمَّ دَخَلْتُ فِي دِينِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى النَّصْرَانِيَّةِ، فَقُلْتُ: وَاللَّهِ مَا خَيْرٌ لَكَ وَأَخْبَرْتُهُ بِالرُّؤْيَا الَّتِي رَأَيْتُ لَهُ، فَلَمْ يَحْفَلْ بِهَا وَأَكَبَّ عَلَى الْخَمْرِ حَتَّى مَاتَ

Aku melihat dalam mimpi bahwa Ubadillah bin Jahzy suamiku dengan bentuk yang sangat jelek dan buruk, lalu aku terbangun, dan berkata : “ia berubah keadaanya, ketika pagi harinya ia berkata : “wahai Ummu Habibah, aku telah meneliti agama-agama, aku tidak melihat agama yang lebih baik dari Nasroni, kemudian aku pun memeluknya, kamudian aku masuk agama Muhammad, lalu aku telah kembali kepada agama Nasroni”. Ummu Habibah berkata : “demi Allah, itu tidak baik, lalu aku kabarkan mimpi yang tadi malam aku lihat, dan ia tetap tidak bergeming dan tenggelam dalam minum minuman keras, sampai matinya”.

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok (no. 6770) dari jalan Muhammad bin Umar al-Waqidiy, haddatsanaa Abdullah bin ‘Amr bin Zuhair, dari Ismail bin ‘Amr bin Sa’ad bin al-‘Ash ia berkata, Ummu Habibah rodhiyallahu anhu berkata : “Al Hadits”.

Sanad ini memiliki kelemahan yaitu : al-Waqidiy perowi matruk; Abdullah bin ‘Amr, asy- Syaikh Akram bin Muhammad Ziyadah mengatakan tentangnya, “aku tidak mengetahuinya, dan aku belum menemukan biografinya”[1];  Ismail tidak diketahui bahwa ia mendengar Ummu Habibah, karena Ummu Habibah rodhiyallahu anhu wafat pada tahun 42 atau 44 atau 49 atau 59 H, sedangkan Ismail wafat pada tahun lebih dari 130 H. Kemungkinan besar ia tidak pernah mendengar dari Ummu Habibah rodhiyallahu anhu. Namun apapun itu adanya al-Waqidy dalam sanad diatas cukup untuk mengatakan hadits ini sangat lemah.

  1. Urwah bin Zubair berkata ketika menyebutkan orang-orang dari Bani Asad bin Khuzaimah yang ikut hijrah ke Habasyah, diantaranya adalah Ubaidillah bin Jahsy, beliau berkata tentangnya :

مَاتَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ نَصْرَانِيًّا وَمَعَهُ أُمُّ حَبِيبَةَ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ، وَاسْمُهَا رَمْلَةُ

Ubaidillah mati di negeri Habasyah dalam keadaan Nasroni, dan ia hijrah bersama istrinya Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang nama aslinya Romlah rodhiyallahu anha.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 401) dari jalan Muhammad bin ‘Amr bin Khoolid dari Bapaknya, dari Ibnu Luhaiah, dari Abil Aswad dari Urwah bin Zubair.

Sanad diatas memiliki cacat, yaitu : Ibnu Luhaiah seorang perowi mudallis dan disini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah; kemudian Urwah bin Zubair adalah seorang Tabi’i dan disini ia meriwayatkannya secara mursal.

Kesimpulannya sanad ini lemah.

  1. Imam az-Zuhri berkata :

فَتَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ، وَكَانَتْ قَبْلَهُ تَحْتَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ الْأَسَدِيِّ أَسَدِ خُزَيْمَةَ، فَمَاتَ عَنْهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ وَكَانَ خَرَجَ بِهَا مِنْ مَكَّةَ مُهَاجِرًا، ثُمَّ افْتُتِنَ وَتَنَصَّرَ، فَمَاتَ وَهُوَ نَصْرَانِيٌّ، وَأَثْبَتَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ لِأُمِّ حَبِيبَةَ وَالْهِجْرَةَ، ثُمَّ تَنَصَّرَ زَوْجُهَا وَمَاتَ وَهُوَ نَصْرَانِيٌّ وَأَبَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ أَنْ تَتَنَصَّرَ، وَأَتَمَّ اللَّهُ تَعَالَى لَهَا الْإِسْلَامَ وَالْهِجْرَةَ حَتَّى قَدِمَتِ الْمَدِينَةَ فَخَطَبَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَزَوَّجَهَا إِيَّاهُ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menikahi Ummu Habibah binti Abi Sufyan, beliau sebelumnya adalah istri Ubaidillah bin Jahsy al-Asadiy Asad Khuzaimah, ia meninggal di bumi Habasyah, ia hijrah dari Mekkah, lalu terkena fitnah, sehingga masuk agama Nasroni, dan mati diatas agama nasroni….

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok (no. 6768), Imam Baihaqi dalam Sunan Kubro (no. 13423) –dengan kisah yang panjang- semuanya dari jalannya sampai kepada Hajjaaj bin Abi Manii’ dari kakeknya dari az-Zuhri. Namun ini adalah hadits mursal yang tergolong sebagai hadits dhoif. dan mursalnya az-Zuhri disebutkan oleh para ulama sebagai hadits mu’dhol (yaitu terputus sanadnya lebih dari 2 perowi secara berurutan –pent.).

  1. Muhammad bin Jubair bin Ja’far berkata :

كَانَ عُبَيد اللَّهِ بْنُ جَحْشٍ-حِينَ تَنَصَّرَ- يَمُرُّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُمْ هُنَالِكَ مِنْ أَرْضِ الْحَبَشَةِ فَيَقُولُ: فقَّحْنا وصَأصَأتم، أَيْ أَبْصَرْنَا وأنتم تلتمسون البصر، ولم تُبصروا بعد،

Ubaidillah bin Jahsy –ketika masuk agama Nasroni- kalau melewati para sahabat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam yaitu pada waktu hijrah ke negeri Habasyah, ia berkata : “faqohnaa wa sho`sho`tum” yaitu kami telah melihat, sedangkan kalian masih meraba-raba, dan tidak bisa melihat setelah itu”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hisyam dalam Sirohnya (1/205) dari jalannya sampai kepada Imam Ibnu Ishaq beliau berkata, haddatsanaa Muhammad bin Ja’far bin Zubair beliau berkata : “Al Hadits”.

Muhammad bin Ja’far bin Zubair bin al-‘Awwaam, seorang tabi’i shoghir, oleh karenya hadits ini mursal bahkan bisa dikatakan mu’dhol. Dan tentu saja lemah haditsnya.

Berdasarkan pemaparan jalan-jalan riwayat terkait murtadnya Ubaidillah bin Jahsy, maka tidak ada satu pun riwayat yang shahih, sehingga hal tersebut dapat dijadikan pegangan. Asy-Syaikh Muhammad bin Hammad ash-Shuuyaaniy dalam Siroh Nabawiyyah kamaa jaa`at fiil ahaadits ash-Shahihah (3/149) berkata :

روي أن عبيد الله مات نصرانيًا على أرض الحبشة مرتدًا عن الإِسلام، لكنني لم أجد حديثًا صحيحًا يثبت ذلك، إنما وجدت العكس وهو الحديث التالي والله أعلم.

Diriwayatkan bahwa Ubaidillah mati dalam keadaan Nasroni di negeri Habasyah murtad dari Islam, namun aku belum menemukan satu hadits shahih pun yang menetapkan hal tersebut, hanyalah aku mendapatkan kebalikan dari kisah ini dalam hadits berikut. Wallahu A’lam.

Asy-Syaikh Mahmuud bin Muhammad al-Malaah dalam Ta’liqnya terhadap kitab ar-Rohiqul Makhtuum (karya asy-Syaikh Safiyyurokhman al-Mubarokfuriy) berkata :

تحقيق دعوى ردة عبيد الله بن جحش قال أخونا الفاضل الشيخ:: محمد بن عبد الله العوشن في كتابه (ما شاع ولم يثبت في السيرة) ص (37 – 42): (اشتهر في كتب السيرة أن عبيد الله بن جحش قد تنصّر في أرض الحبشة، وكان قد هاجر إليها مع زوجه أم حبيبة – رضي الله عنها -؛ فهل ثبتت ردّته بسند صحيح؟

Kebenaran klaim murtadnya Ubaidillah bin Jahsy, maka saudara kami asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah al-‘ Uusyun dalam kitabnya “Maa syaa’a wa lam yatsbut fii as-Siiroh” (hal. 37-42) berkata : “telah masyhur dalam kitab sejarah bahwa Ubaidillah bin Jahsy memeluk agama Nasroni di negeri Habasyah, ia berhijrah bersama istrinya Ummu Habibah Rodhiyallahu ‘anha. Lalu apakah tsabit kemurtadannya dengan sanad yang shahih?

Kemudian beliau menukil penjelasan asy-Syaikh al-‘Uusyuun dan kesimpulan beliau dalam kitabnya diatas adalah:

مما سبق يتبين -والله أعلم- أن قصة ردة عبيد الله بن جحش لم تثبت

Dari penjelasan sebelumnya –wallahu A’lam- bahwa kisah kemurtadan Ubaidillah bin Jahsy tidaklah tsabit (shahih).

Yang mengisyaratkan kisah murtadnya Ubaidillah tidak benar adalah bahwa ulama hadits yang kitabnya dijadikan sebagai pegangan (ushul) yaitu Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah ibnul Mubarok dari Ma’mar dari az-Zuhri dari Urwah dari Ummu Habiibah :

أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ فَمَاتَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ «فَزَوَّجَهَا النَّجَاشِيُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمْهَرَهَا عَنْهُ أَرْبَعَةَ آلَافٍ وَبَعَثَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ شُرَحْبِيلَ ابْنِ حَسَنَةَ».

Beliau adalah istri Ubadillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu, lalu Beliau meninggal di negeri Habasyah, lalu Najasyi menikahkan Ummu Habibah Rodhiyallahu ‘anhu untuk Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Beliau memberinya mahar 4000, lalu beliau diutus kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersama dengan Syurohbiil bin Hasanah.

Imam Al Albani dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth menshahihkan hadits ini. Oleh karenanya memang benar bahwa Ubaidillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu meninggal di negeri habasyah dan istrinya setelah itu dinikahi oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, namun sebab meninggalnya tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, adapun adanya tambahan cerita bahwa beliau dalam kondisi murtad ketika wafat, maka tambahan tersebut melalui jalan-jalan yang lemah, sehingga tambahan ini dihukumi sebagai tambahan yang mungkar.

Bahkan dalam riwayat shahih lainnya bahwa kematian Ubaidillah bin Jahsy adalah karena sakit, bukan karena murtad, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

هَاجَرَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ جَحْشٍ بِأُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ وَهِيَ امْرَأَتُهُ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ أَرْضَ الْحَبَشَةِ مَرِضَ، فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ: أَوْصَى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ حَبِيبَةَ وَبَعَثَ مَعَهَا النَّجَاشِيُّ شُرَحْبِيلَ بْنَ حَسَنَةَ

Ubaidillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu berhijrah bersama Ummu Habibah bin Abi Sufyan Rodhiyallahu ‘anha ke negeri Habasyah, ketika sampai di negeri Habasyah, Ubaidillah Rodhiyallahu ‘anhu sakit dan ketika menjelang wafatnya beliau berwasiat kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menikahi Ummu Habibah dan an-Najasyi mengutus bersamanya Syurohbiil bin Hasanah (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth).

Seandainya memang benar Ubaidillah Rodhiyallahu ‘anhu meninggal dalam kondisi murtad, tentu Aisyah Rodhiyallahu ‘anha akan menyebutkannya, karena murtad adalah perkara besar, sehingga ketika tidak disebutkan menunjukkan bahwa kisah ini tidak benar dikalangan sahabat Rodhiyallahu ‘anhum, dan karena terkena distorsi mungkin para tabi’in tidak dapat menyeleksi kebenaran kisah kemurtadan Ubaidillah, sehingga mereka menukilkannya kepada kita tanpa menyandarkannya kepada seorang sahabat Nabi satupun.

Alaa kulli haal, para ulama telah mengingatkan bahwa telah terjadi distorsi sejarah islam, oleh karenanya kita perlu jeli dalam menerima kisah-kisah dalam sejarah yang memiliki keanehan-keanehan, dan para ulama sejarah kebanyakan adalah para pengumpul cerita, jarang yang menyeleksi kisah-kisah sejarah yang mereka bawakan dalam kitab sejarahnya. Berdasarkan hal ini kita tidak ragu lagi untuk menetapkan Suhbah atau persahabatan Ubaidillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Dan tidak layak menyebarkan kisah murtadnya Ubaidillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu, setelah mengetahui ketidakvalidan kisahnya. Wallahu A’lam.

[1] Al-Mu’jam shoghiroh (1/319).

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. أهلا كيف حالكم أود أن أشكر
    لمدير هذا هذه المدونة

    Like

  2. الحمد لله بخير

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: