DURORUL BAHIYYAH : 2A. WAKTU-WAKTU SHOLAT

January 29, 2016 at 4:05 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

2. KITAB SHOLAT

 

2A. Bab Waktu-Waktu Sholat

 

(2 – كتاب الصلاة)

(1 – باب مواقيت الصلاة)

أول وقت الظهر

Awal waktu dhuhur adalah zawal[1] (tergelincirnya matahari pada saat tengah hari –

وآخره مصير ظل الشيء مثله –

pent.), dan akhir waktu sholat dhuhur ketika bayangan matahari setinggi bendanya –

سوى فيء الزوال -، وهو أول وقت العصر،

selain bayangan zawal- dan ini adalah awal waktu bagi sholat Ashar, sedangkan

وآخره ما دامت الشمس بيضاء نقية،

akhir sholat Ashar selama matahari masih bersinar cerah[2]. Awal waktu sholat

وأول وقت المغرب غروب الشمس، وآخره ذهاب الشفق الأحمر،

Maghrib adalah tenggelamnya matahari, dan akhirnya adalah ketika ufuk merah

وهو أول العشاء،

sudah menghilang, dan ini adalah awal waktu sholat Isya, sedangkan akhirnya

وآخره نصف الليل، وأول وقت الفجر إذا انشق الفجر،

adalah tengah malam[3]. Awal waktu sholat Subuh adalah jika fajar telah merekah,

وآخره طلوع الشمس، ومن نام عن صلاته

sedangkan akhinya adalah terbitnya matahari. Barangsiapa yang tertidur dari sholat

، أو سها عنها فوقتُها حين يذكرها،

atau lupa menunaikannya pada waktunya, maka waktu mengerjakannya adalah

ومن كان معذوراً وأدرك من الصلاة ركعة

ketika ingat[4]. Barangsiapa yang memiliki udzur dan ia mendapatkan satu rokaat dari

الزوال فقد أدركها،

waktu sholat, maka ia telah mendapatkan sholat pada waktunya[5]. Waktu-waktu

والتوقيت واجب،

sholat adalah wajib[6], menjamak (menggabungkan dua sholat dalam salah satu

والجمع لعذر جائز،

waktunya) karena ada udzur diperbolehkan[7]. Orang yang bertayamum dan kurang

والمتيمم وناقص الصلاة – أو الطهارة – يصلون كغيرهم من غير تأخير،

sholatnya –yaitu bersucinya-, maka ia sholat seperti lainnya, tanpa menunda-

وأوقات الكراهة – في غير مكة -: بعد الفجر

nundanya. Waktu-waktu makruh –selain di Mekkah-[8] adalah : setelah sholat Subuh

حتى ترتفع الشمس، وعند الزوال – في غير يوم الجمعة -،

sampai matahari sudah meninggi[9], ketika zawal –selain sholat Jum’at-[10], dan setelah

وبعد العصر حتى تغرب.

Ashar sampai tenggelamnya matahari.

 

[1] Berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr bin Ash rodhiyallahu anhumaa, dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ

Waktu sholat Dhuhur ketika matahari mulai tergelincir sampai bayangan seseorang seperti tinggi orang tersebut, selama belum datang waktu Ashar. Waqtu sholat Ashar, selama matahari masih menguning. Waktu sholat Maghrib selama ufuk hilang. Waktu sholat Isya sampai setengah malam yang pertengahan. Waktu sholat Subuh dari mulai terbitnya fajar, sampai terbitnya matahari, jika matahari telah terbit, maka berhentilah melakukan sholat, karena ia terbit diantara dua tanduk setan (HR. Muslim).

[2] Terdapat hadits lain yang menunjukkan akhir waktu Ashar adalah sebelum tenggelamnya matahari, sebagaimana hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

Barangsiapa yang mendapatkan satu rokaat Ashar sebelum matahari terbenam, maka ia telah mendapatkan sholat Ashar (ini lafadz Muslim).

[3] Terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa akhir waktu sholat Isya adalah sampai menjelang sholat Subuh, berdasarkan hadits Abu Qotadah rodhiyallahu anhu secara marfu’ bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى

Bukanlah meremehkan orang yang tertidur, namun yang meremehkan adalah mereka yang tidaklah sholat, kecuali sampai datang waktu sholat lainnya (HR. Muslim).

[4] Berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda :

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

Barangsiapa yang lupa mengerjakan sholat, maka sholatlah ketika ingat, tidak ada kafarah, selain mengerjakannya pada waktu itu (Muttafaqun ‘alaih).

[5] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu secara marfu’ :

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Barangsiapa yang mendapatkan satu rokaat sholat, maka ia telah mendapatkan sholat (Muttafaqun ‘alaih).

[6] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat An Nisa ayat 103 :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

[7] Yaitu menjamak sholat Dhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’, berdasarkan hadits Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu anhu beliau berkata :

فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلَاةَ، فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menjamak sholat, Beliau sholat Dhuhur dan Ashar dijamak dan Maghrib dan Isya dijamak (HR. Muslim).

[8] Berdasarkan hadits Jubair bin Muth’im rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Wahai bani Abi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorang pun untuk thowaf di Baitullah dan sholat disitu waktu kapan pun baik siang maupun malam (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani).

[9] Berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallahu anhu dari Nabi Sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

Tidak ada sholat setelah sholat Ashar sampai matahari tenggelam, dan tidak ada sholat setelah sholat Subuh, sampai matahari terbit (ini lafadz Muslim).

[10] Berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu beliau berkata :

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: «حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Ada 3 waktu yang Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang kami untuk sholat dan menguburkan jenazah yaitu : ketika terbitnya matahari sebentar sampai meninggi, ketika matahari tepat ada diatas sampai tergelincir, dan ketika matahari mulai tenggelam sampai tenggelamnya (ini lafadz Muslim).

Adapun pengkhususan dengan sholat Jum’at karena sebagian riwayat menunjukkan bahwa pada zaman Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat Jum’at pernah dikerjakan pada waktu zawal, sebagaimana hadits Salamah bin Akwa rodhiyallahu anhu beliau berkata :

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami sholat Jum’at bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, ketika matahari berada di zawal, kemudian ketika kami selesai sholat, kami mencari-cari tempat berteduh (ini lafadz Muslim).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: