DURORUL BAHIYYAH : 2B. BAB ADZAN

January 30, 2016 at 3:00 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

2B. BAB ADZAN

 

(2 – باب الأذان)

يُشرع لأهل كل بلد أن يتخذوا مؤذنا؛

Disyariatkan bagi setiap negeri untuk mengangkat seorang mudzin[1] yang

يُنادي بألفاظ الأذان المشروعة عند دخول وقت الصلاة،

mengumandangkan adzan dengan lafadz-lafadz adzan yang disyariatkan ketika

ويُشرع للسامع أن يتابع المؤذن،

masuk waktu sholat[2]. Disyariatkan bagi pendengarnya untuk mengikuti ucapan

ثم تُشرع الإقامة على الصفة الواردة.

muadzin[3]. Kemudian disyariatkan iqomat dengan bentuk sebagaimana yang ada[4].

 

[1] Berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا، لَمْ يَكُنْ يَغْزُو بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ،

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam jika beserta kami menyerbu suatu kaum, Beliau tidak langsung menyerbu, namun menunggu sampai keesokan harinya, jika Beliau mendengar adzan, maka Beliau akan menahan diri untuk menyerangnya, namun jika tidak mendengar adzan, maka Beliau akan menyerbunya (ini lafadz Imam Bukhori).

[2] Lafadz adzan yang masyhur adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid rodhiyallahu anhu :

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Allah maha besaar, Allah maha besar, Allah maha besaar, Allah maha besar, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mari mengerjakan sholat, mari mengerjakan sholat, mari menuju kebahagian, mari menuju kebahagian, Allah maha besar, Allah maha besar, tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah (HR. Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

 

[3] Berdasarkan hadits Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “

Jika muadzin berkata : Allah maha besar, Allah maha besaar, maka kalian mengucapkan : Allah maha besar, Allah maha besaar, jika muadzin berkata : aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, maka kalian mengucapkan : aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, jika muadzin berkata : aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka kalian mengucapkan : aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, jika muadzin berkata : mari mengerjakan sholat, maka kalian mengucapkan : tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, jika muadzin berkata : mari menuju kebahagian, maka kalian mengucapkan : tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, jika muadzin berkata : Allah maha besar, Allah maha besar, maka kalian mengucapkan : Allah maha besar, Allah maha besar, jika muadzin berkata : tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, maka kalian mengucapkan : tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Barangsiapa yang mengucapkan dari lubuk hatinya maka ia akan masuk surga (HR. Muslim).

 

[4] Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid seperti diatas dengan lafadznya :

وَتَقُولُ: إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

Jika iqomat mengucapkan : Allah maha besaar, Allah maha besar, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mari mengerjakan sholat, mari menuju kebahagian, sholat akan ditegakkan, sholat akan ditegakkan, Allah maha besar, Allah maha besar, tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syu’aib Arnauth juga).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: