DURORUL BAHIYYAH : 2C. SYARAT-SYARAT SHOLAT

January 31, 2016 at 9:06 am | Posted in fiqih | Leave a comment

2C. Bab Syarat-Syarat Sholat

(3 – باب شروط الصلاة)

ويجب على المصلي تطهير ثوبه وبدنه

Wajib bagi orang yang sholat untuk mensucikan pakaian[1], badan[2], dan tempat

ومكانه من النجاسة، وستر عورته؛ ولا يشتمل الصَّمَّاء،

sholatnya dari najis[3]. Wajib juga menutup aurat[4], jangan memakai pakaian ash-

ولا يَسدل، ولا يُسبل، ولا يَكفت، ولا يصلي في ثوب حرير،

shommaa[5]`, jangan sadl[6], jangan isbal[7], jangan kafat[8], jangan sholat menggunakan baju

ولا ثوب شهرة، ولا مغصوب،

sutera[9], jangan juga memakai baju syuhroh (mencari ketenaran)[10], dan jangan pula

وعليه استقبال عين الكعبة

baju hasil ghoshob[11]. Wajib baginya menghadap ka’bah –jika ia melihatnya langsung

– إن كان مُشاهداً لها أو في حكم المشاهد -،

atau secara hukum melihatnya langsung-, sedangkan bagi yang tidak melihatnya

وغير المشاهد يستقبل الجهة بعد التحري.

secara langsung ia menghadap arah ka’bah setelah berusaha untuk menentukannya[12].

 

[1] Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Mudatsir ayat ke-4 :

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

dan pakaianmu bersihkanlah.

[2] Berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

Berbersilah dari air kencing, sebab kebanyakan adzab kubur karena air kencing (HR. Daruquthni, dishahihkan oleh asy-Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman).

[3] Berdasarkan hadits tentang kencingnya orang badui di masjid, sebagaimana diceritakan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu :

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي المَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

Seorang badui kencing di masjid, maka orang-orang berusaha menghalaunya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada mereka : “biarkan dia, siramilah bekas kencingnya dengan satu timba air, sesungguhnya kalian hanyalah diutus untuk memudahkan bukan untuk menyulitkan (ini lafadz Bukhori).

[4] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al A’raf ayat 31 :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.

Maksudnya adalah menutup aurat ketika hendak tiap kali sholat (Fiqhuh Sunnah (1/125).

[5] Ash-Shomaa` adalah baju yang menutup seluruh tubuh yang tidak ada lubang untuk mengeluarkan tangannya. Jaabir rodhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَأْكُلَ الرَّجُلُ بِشِمَالِهِ، أَوْ يَمْشِيَ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ، وَأَنْ يَشْتَمِلَ الصَّمَّاءَ، وَأَنْ يَحْتَبِيَ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ كَاشِفًا عَنْ فَرْجِهِ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang makan dengan tangan kiri, berjalan dengan satu sandal, memakai baju ash-Shomaa`, dan memakai baju satu yang jika duduk akan tersingkap kemaluannya (ini lafadz Muslim).

[6] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang as-Sadl dalam sholat (HR. Abu Dawud, dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani).

Sadl adalah menjulurkan pakaian tanpa menyatkukan kedua sisinya ke depan dan masih banyak arti lainnya untuk ini (Shahih Ibnu Hibban dengan tahqiq dari asy-Syaikh Syu’aib Arnauth (6/67)).

[7] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

Tidak diterima sholatnya orang yang isbal kain sarungnya (HR. Abu Dawud, didhoifkan Al Albani).

Imam Nawawi menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Riyaadhul Sholihin, namun yang rajih hadits ini dhoif karena salah satu perowinya yang bernama Abu Ja’far dinilai majhul oleh para ulama hadits. Namun sekalipun demikian, isbal dalam kondisi apapun adalah haram berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Apa yang berada dibawah kedua mata kaki berupa kain sarung, maka tempatnya di neraka (HR. Bukhori).

[8] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكُفُّ شَعَرًا وَلاَ ثَوْبًا

Aku diperintahkan untuk sujud diatas 7 anggota tubuh dan tidak boleh mengikat rambut dan baju (menggulung pakaian –pent.) (HR. Bukhori).

[9] Berdasarkan hadits Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ

Janganlah kalian memakai pakaian sutera, karena barangsiapa yang memakainya di dunia, ia tidak akan memakainya di akhirat (ini lafadz Muslim).

[10] Berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ

Barangsiapa yang memakai pakaian syuhroh (agar tenar dihadapan manusia), maka Allah akan memakaikan pakaian kehinaan pada hari kiamat (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

Ancaman tersebut menunjukkan bahwa memakai pakaian-pakaian tersebut haram pada setiap waktu, maka waktu sholat tentu lebih utama lagi pengharamannya (Roudhotun Nadhiyyah 1/257).

[11] Berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu yang dimarfu’kannya :

مَنِ اشْتَرَى ثَوْبًا بِعَشَرَةِ دَرَاهِمَ، وَفِيهِ دِرْهَمٌ حَرَامٌ، لَمْ يَقْبَلِ اللهُ لَهُ صَلَاةً مَادَامَ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang membeli sebuah baju dengan harga 10 dirham dan padanya terdapat dirham dari perbuatan yang haram, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima sholatnya selama memakai pakaian tersebut (HR. Ahmad, dikatakan sanadnya sangat lemah oleh Syu’aib Arnaut).

Namun tentunya para ulama telah sepakat diharamkan memanfaatkan barang hasil ghoshob (merampas hak orang lain) dan perbuatan ghoshob itu sendiri.

[12] Berdasarkan surat Al Baqoroh ayat 144 :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: