PERJALANAN ILMIAH IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARIY (3)

January 31, 2016 at 2:01 am | Posted in Siroh | Leave a comment

C. Dibawah Dekapan Madzah Mu’tazilah

 

Sebagaimana telah disinggung diawal, setelah ibunya menikah lagi dengan Abu Ali al-Juba`i, maka Imam Abul Hasan al-Asy’ari yang pada waktu itu masih kecil, otomatis berada dibawah pengasuhan bapak tirinya ini. Seandainya bapak aslinya beliau tidak meninggal dunia pada waktu beliau masih kecil, tentu akan lain ceritanya. Imam Abul Hasan akan mendapatkan pengajaran sunnah dan madzhab ahli hadits, karena bapaknya adalah teman dekat Al Hafidz Zakariya bin Yahya as-Saajiy, Imam ahlu hadits pada waktu itu.

Namun kelihatannya Abu Ali al-Juba`i dapat menggantikan sosok ayahnya bagi Imam Abul hasan, terbukti beliau bermulazamah lama dengan ayahnya dan tentu saja menelan madzhab batil mu’tazilah yang diberikan oleh ayahnya tersebut. Masa muda Imam Abul Hasan dihabiskan untuk tenggelam didalam syubhat-syubhat sekte sesat Mu’tazilah. Kelihatannya hubungan beliau dengan ayah tirinya cukup harmonis, kita tidak menemukan adanya sikap-sikap yang kasar atau tidak baik selama ayah tirinya membimbing Imam Abul Hasan, sekalipun nanti pada saat menjelang rujuknya beliau dari paham mu’tazilah, maka beliau sempat memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menggugat ekstensi aliran mu’tazilah didalam kebenaran Islam.

Salah satu bukti hubungan baiknya adalah beliau sering ditunjuk oleh ayah tirinya tersebut untuk menggantikan posisinya, jika ayah tirinya berhalangan untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Hal ini menunjukkan Imam Abul Hasan dengan bimbingan intensif dari ayahnya berhasil menjadi salah satu rujukan madzhab Mu’tazilah pada waktu itu. Bahkan Imam Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ismail al-Qofaal asy-Syaasyi, salah seorang Aimah Syafi’iyyah pada waktu itu, pada awal-awalnya mengambil pemahaman mu’tazilah dari Imam Abul Hasan, pada waktu bersamaan juga Imam Abul Hasan belajar fikih darinya, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam as-Subkiy :

أن القفال أخذ علم الكلام عن الأشعري، وأن الأشعري كان يقرأ عليه الفقه، كما كان هو يقرأ عليه الكلام

Imam al-Qofaal mengambil ilmu kalam dari Imam Abul Hasan al-Asy’ariy, dan Imam Abul Hasan belajar fiqih kepadanya, sebagaimana beliau mengajari ilmu kalam kepadanya[1].

Selain beliau yang belajar kepada ayah tirinya, ada juga Abu Haasyim yang merupakan anak kandung dari Abu Ali al-Juba`i sendiri, sehingga Abu Haasyim adalah saudara tiri bagi Imam Abul Hasan. Abu Haasyim yang nama aslinya Abdus Salaam adalah adik tiri Imam Abul Hasan, karena ia dilahirkan pada tahun 277 H[2] yang berarti terpaut 17 tahun dengan Imam Abul Hasan. Abu Haasyim juga berhasil menjadi ulama rujukan kaum mu’tazilah setelah bersungguh-sungguh belajar kepada ayahnya. Hal ini menunjukkan Abu Ali al-Juba`iy adalah seorang pendidik yang telaten kepada anak-anaknya. Tentang kepakaran Abu Haasyim sebagai ulama mu’tazi’ah adalah pada saat ia wafat yang kebetulan juga hari itu wafat juga Muhammad bin al-Hasan bin Duraid (223 H – 321 H) salah seorang Aimah lughoh (pakar bahasa arab), maka orang-orang berkomentar atas kematian mereka berdua pada hari yang sama :

الْيَوْم دفن علم الْكَلَام وَعلم اللُّغَة.

Pada hari ini telah dikubur ilmu kalam dan ilmu bahasa[3].

Dari tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh Imam Abul Hasan yang pernah dihitung oleh Imam Ibnu Hazm sampai berjumlah 55 kitab, sekalipun kemudian dibantah oleh Imam as-Subkiy yang mengatakan bahwa jumlah tersebut adalah yang ditemukan oleh Imam Ibnu Hazm di negerinya, adapun jumlah sebenarnya adalah sangat banyak, yang terdiri dari berbagai cabang ilmu seperti tafsir, hadits, fiqih, aqidah, ushul fiqih dan selainnya[4], saya belum menemukan sebuah pernyataan bahwa beliau menulis sebuah kitab yang berisi pemahaman mu’tazilah sewaktu beliau masih dalam dekapan sekte menyimpang mu’tazilah. Bahkan para ulama kontemporer hanya mendapatkan beberapa karya Imam Abul Hasan yang saat ini dijumpai, dari puluhan karya beliau tersebut. Insya Allah akan datang penyebutan tentang karya-karya yang dapat dinikmati pada zaman kita sekarang ini.

Imam Abul Hasan al-Asy’ariy selain berguru kepada bapaknya dalam bidang aqidah dan ilmu kalam, beliau juga belajar kepada ulama lain terutama dalam bidang fikih, bahkan kemungkinan beliau belajar fikih lintas madzhab, tidak hanya kepada ulama syafi’iyyah saja. Oleh karenanya sebagian ulama ada yang menggolongkan beliau sebagai ulama Malikiyyah, seperti yang dilakukan oleh Qodhi ‘Iyaadh dalam Tartiibul Madaarik (5/24), sedangkan al-Qurosyi mengklaim beliau sebagai penganut madzhab Hanafi dalam kitabnya al-Jawaahirul Madhiyyah (2/545)[5]. Namun yang rajih beliau termasuk pengikut madzhab Syafi’i karena beliau berguru kepada minimal 3 Aimah Syafi’iyyah pada zaman itu yaitu : Imam Abu Ishaq al-Marwaziy, Imam Abul Abbas bin Suraij, dan Imam Abu Bakar al-Qofaal. Imam as-Subkiy (w. 771 H) dalam kitabnya Thobaqootul Syafi’iyyatil Kubro (3/352) berkata memastikan Imam Abul Hasan sebagai penganut madzhab Syafi’iyyah :

وَقد زعم بعض النَّاس أَن الشَّيْخ كَانَ مالكى الْمَذْهَب وَلَيْسَ ذَلِك بِصَحِيح إِنَّمَا كَانَ شافعيا تفقه على أَبى إِسْحَاق المروزى نَص على ذَلِك الْأُسْتَاذ أَبُو بكر ابْن فورك فى طَبَقَات الْمُتَكَلِّمين والأستاذ أَبُو إِسْحَاق الإسفراينى فِيمَا نَقله عَنهُ الشَّيْخ أَبُو مُحَمَّد الجوينى فى شرح الرسَالَة

Sebagian orang mengklaim bahwa Imam Abul Hasan adalah malikiyyah, ini tidak benar, beliau hanyalah syafi’iyyah, karena belajar fiqih kepada Abi Ishaq al-Marwaziy, dinyatakan oleh al-Ustadz Abu Bakar bin Fuurok dalam “Thobaqootul Mutakalimiin”, dan al-Ustadz Abu Ishaq al-Isfirooniy sebagaimana yang dinukil oleh Abu Muhammad al-Juwainiy dalam “Syarhul Risaalah”.

 

 

 

[1] Dinukil dari kitab mauqif Ibnu Taimiyyah ‘anil Asyaa’iroh (hal. 342).

[2] Al-Mutandhim (13/329).

[3] Taarikh ibnul Wardiy (1/256) karya Abu Hafsh Zainuddin ibnul Wardiy (w. 749 H).

[4] Abul Hasan al-Asy’ariy baina al-Mu’tazilah was Salaf (hal. 25) ini adalah thesis S2 dari Haadiy bin Muhammad Ali yang beliau ajukan untuk mendapatkan gelas master dalam jurusan aqidah di Universitas Ummul Qurro.

[5] Mauqif Ibnu Taimiyyah (hal. 340).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: