DURORUL BAHIYYAH : 2G. SHOLAT JAMA’AH

February 4, 2016 at 11:54 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

2G. Sholat Jama’ah

 

(7 – باب صلاة الجماعة)

هي من آكد السنن؛ وتنعقد باثنين

Sholat Jama’ah hukumnya sunah muakkad[1], minimal terdiri dari 2 orang[2], jika

وإذا كثر الجمع؛ كان الثواب أكثر،

semakin banyak jama’ahnya, maka semakin banyak pahalanya[3]. Sah bermakmum

وتصح بعد المفضول، والأوْلى أن يكون الإمام من الخِيار،

dibelakang Imam yang tidak lebih utama[4]. Yang lebih baik adalah Imam berasal dari

، ويؤم الرجل بالنساء – لا العكس -،

orang pilihan[5]. Laki-laki mengimami wanita, dan tidak sebaliknya[6], orang yang sholat

والمفترض بالمُتنفِّل – والعكس -،

wajib dapat mengimami orang yang sholat sunah, begitu juga sebaliknya[7]. Wajib

وتجب المتابعة في غير مبطل،

mengikuti gerakan imam pada semua gerakannya[8], selain gerakan yang

ولا يؤم الرجل قوماً هم له كارهون،

membatalkan sholat. Seseorang tidak boleh mengimami suatu kaum yang mereka

ويصلي بهم صلاة أخفهم،

tidak suka kepadanya[9]. (hendaknya) mengimami sholat mereka dengan sholat yang

ويُقدَّم السلطان، ورب المنزل،

ringan (tidak panjang)[10]. Didahulukan yang menjadi Imam adalah penguasa, tuan

والأقرأ، ثم الأعلم، ثم الأسن،

rumah[11], dan yang lebih banyak hapalan Al Qur’annya, lalu yang lebih paham

وإذا اختلَّت صلاة الإمام؛ كان ذلك عليه لا على المؤتمِّين به،

sunnah, lalu yang lebih tua[12]. Jika ada kekeliruan pada sholatnya Imam, maka itu

وموقفهم خلفه؛

ditanggung Imam bukan ditanggung makmumnya[13]. Tempat berdiri makmum,

إلا الواحد فعن يمينه، وإمامة النساء وسط الصف،

dibelakang Imam namun jika hanya satu, maka berdiri disamping kanannya.

وتقدم صفوف الرجال، ثم الصبيان،

Imamnya wanita berada ditengah shof[14]. Didahulukan laki-laki dewasa dalam shof,

ثم النساء، والأحق بالصف الأول أولو الأحلام والنُّهَى،

kemudian anak laki-laki,kemudian wanita[15]. Yang lebih berhak berada di shof pertama

وعلى الجماعة أن يُسوَوُّا صفوفهم، وأن يسدوا الخَلل،

adalah orang yang lebih berilmu[16]. (seyogyanya) dalam berjamaah untuk

وأن يُتموا الصف الأول، ثم الذي يليه، ثم كذلك.

meluruskan, shof merapatkan celah[17], memenuhi shof yang pertama, kemudian shof berikutnya dan seterusnya[18].

 

 

[1] Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Sholat berjamaah lebih utama dibandingkan sholat sendirian sebanyak 27 derajat (ini lafadz Muslim).

[2] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي «فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ»

Saya pernah menginap di rumah bibiku (maimunah Rodhiyallahu ‘anha yang juga istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam), lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengerjakan sholat malam, aku pun ikut sholat bersama Beliau, aku berdiri disamping kiri Beliau, lalu Beliau memegang kepalaku dan menggeserku ke sebelah kanannya (ini lafadz Bukhori).

[3] Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya sholat seseorang bersama satu orang lainnya lebih direkomendasikan dibandingkan sholat sendirian, sholatnya bersama dengan dua orang lebih direkomendasikan dibandingkan sholat bersama satu orang dan semakin banyak jama’ahnya maka semakin dicintai Allah Subhanahu wa Ta’alaa (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani).

[4] Karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah bermakmum kepada Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu.

[5] Terdapat sebuah hadits yang didhoifkan oleh Imam Al Albani dari hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

اجْعَلُوا أَئِمَّتَكُمْ خِيَارَكُمْ

Jadikalanlah orang-orang pilihan kalian sebagai Imam kalian (HR. Daruquthni).

[6] Berdasarkan hadits Anas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ، فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

Saya sholat bersama dengan anak yatim di rumah kami dibelakang Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu ibuku Ummu Sulaim juga sholat dibelakang kami (ini lafadz Bukhori).

[7] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu beliau berkata :

كَانَ مُعَاذٌ، يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ، فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ

Mu’adz rodhiyallahu anhu sholat bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu ia mendatangi kaumnya dan mengimami mereka, beliau sholat Isya bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam lalu mendatangi kaumnya dan mengimami mereka (ini lafadz Muslim).

[8] Berdasarkan hadits Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya rodhiyallahu anhum bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

Sesungguhnya dijadikan Imam iu untuk diikuti (muttafaqun ‘alaih).

[9] Berdasarkan hadits Abu Umaamah rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

…dan Imam suatu kaum yang mereka membencinya (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani).

[10] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ، فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ مِنْهُمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Jika kalian mengimami sholat, maka ringankanlah, karena ada diantara mereka yang lemah, sakit dan sudah renta. Jika kalian sholat sendiri maka perpanjanglah sesuka kalian (Muttafaqun ‘alaih).

[11] Berdasarkan hadits Abu Mas’ud al-Anshori rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَلا يُؤَمُّ الرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ وَلا سُلْطَانِهِ

Janganlah seseorang mengimami orang lain di rumahnya atau wilayah kekuasaannya (HR. Sirooj, dengan sanad berdasarkan persyaratan Muslim).

[12] Berdasarkan hadits Abu Mas’ud rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

يَؤُمُّ الْقَوْمُ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ فِي الْهِجْرَةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا

Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hapalan Al Qur’annya, jika sama dalam hapalan, maka dahulukan yang lebih dulu berhijran, jika sama hijrahnya, maka yang paling tahu masalah sunnah, jika sama juga, maka dahulukan yang lebih tua (HR. Muslim dan Ashabus Sunnan, ini lafadz Nasa’i).

[13] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

يُصَلُّونَ بِكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Mereka sholat bersama kalian, jika mereka benar maka pahalanya untuk kalian dan mereka, namun jika mereka salah, maka pahala untuk kalian dan kesalahan ditanggung mereka (HR. Ahmad, dishahihkan Syu’abi Arnauth).

[14] Berdasarkan riwayat Ibrohim an-Nakho’iy dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha :

أَنَّهَا كَانَتْ تَؤُمُّ النِّسَاءَ فِي رَمَضَانَ تَطَوُّعًا، وَتَقُومُ فِي وَسَطِ الصَّفِّ

Bahwa Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengimami wanitasholat sunah pada bulan romadhon, beliau berdiri ditengah-tengah shof (Atsar Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibaaniy dari jalan Imam Abu Hanifah dari Hammad bin Abi Sulaiman, dari Ibrohim. Semua perowinya tsiqoh, Aimah fiqih yang masyuhur).

[15] Berdasarkan hadits Abu Malik al-Asy’ariy Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

وَيَجْعَلُ الرِّجَالَ قُدَّامَ الْغِلْمَانِ، وَالْغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ، وَالنِّسَاءَ خَلْفَ الْغِلْمَانِ

Beliau menjadilan laki-laki dewasa didepan anak kecil, dan wanita dibelakang anak kecil (HR. Ahmad, didhoifkan oleh Al Albani).

Hadits Anas Rodhiyallahu ‘anhu sebelumnya mengisyaratkan bahwa shof wanita dibelakang laki-laki.

[16] Berdasarkan hadits Abu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ،

Yang dibelakangku adalah orang yang berilmu, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya (HR. Muslim).

[17] Berdasarkan hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ

Luruskan shof, sejajarkan bahu dan tutuplah celah yang kosong (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani).

[18] Berdasarkan hadits Jaabir bin Samurah Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

«أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟» فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: «يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ»

Ketahuilah! Bershoflah kalian sebagaimana pada malaikat bershof dihadapan Rabbnya. Maka kami bertanya : “wahai Rasulullah, bagaimana bentuk shofnya Malaikat didepan Rabbnya?”. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “menyempurnakan shof yang pertama lalu baru menyusun shof berikutnya”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: