DURORUL BAHIYYAH : 2H. SUJUD SAHWI

February 5, 2016 at 10:59 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

2H. Sujud Sahwi

 

(باب سجود السهو)

وهو سجدتان قبل التسليم أو بعده؛

Yaitu dua sujud yang dilakukan sebelum[1] atau sesudah salam[2], dilakukan dengan

وبإحرام، وتشهد، وتحليل، ويُشرع لترك مسنون،

takbirotul Ihrom[3], tasyahud[4] dan tahliil (salam), disyariatkan ketika meninggal amalan

وللزيادة – ولو ركعة – سهواً،

sholat yang sunah[5], atau karena menambahi –sekalipun satu rokaat- ketika lupa[6],

وللشك في العدد، وإذا سجد الإمام

atau karena ragu-ragu jumlah rokaat yang sudah dikerjakan. Jika Imam sujud, maka

تابعه المؤتم.

makmum ikut sujud juga[7].

 

 

 

 

 

[1] Berdasarkan hadits Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

Jika kalian ragu dalam sholatnya, dan ia tidak ingat apakah sudah sholat 3 rokaat atau 4 rokaat, maka buanglah keraguannya, dan tetapkan diatas apa yang ia yakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata ia mengerjakan sholat 5 rokaat, maka sujudnya tadi sebagai penggenapnya, dan jika sebenarnya sudah sempurna 4 rokaat, maka sujudnya sebagai kemalangan bagi setan (HR. Muslim).

[2] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، فَقِيلَ: صَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat Dhuhur 2 rokaat, maka ada yang berkata : “engkau sholat 2 rokaat?”. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat 2 rokaat lagi, lalu salam, kemudian sujud (sahwi) dua kali sujud (HR. Bukhori).

Dalam riwayat Muslim dari Imroon bin Khusoin ada tambahan : “kemudian Beliau salam lagi”.

[3] Berdasarkan hadits Abdullah bin Bukhainah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ، فَمَضَى فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ انْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ، فَكَبَّرَ وَسَجَدَ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَسَلَّمَ

Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat mengimami kami, lalu Beliau berdiri pada rokaat kedua, tanpa duduk tasyahud, Beliau terus melanjutkan sholatnya, ketika selesai sholatnya, orang-orang menunggu untuk salam, ternyata Beliau bertakbir lalu sujud sebelum salam, lalu mengangkat kepalanya dari sujud, kemudian bertakbir dan kembali bersujud, lalu mengangkat kepalanya dari sujud, baru kemudian salam (HR. Bukhori).

[4] Berdasarkan hadits Imroon bin Khusoin rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ

Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat mengimami kami, lalu Beliau lupa, kemudian sujud dengan dua sujud, lalu bertasyahud, kemudian salam (HR. Abu Dawud, dan Tirmidzi, Imam Al Albani menghukumi lafadz tasyahud sebagai tambahan yang syadz, sementara Al Hafidz Ibnu Hajar menghasankan tambahan ini karena ada syawahidnya).

[5] Berdasarkan hadits Tsaubah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ

Setiap kelupaan, maka sujud 2kali setelah salam (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani).

[6] Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu bahwa Beliau bersabda :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا، فَقِيلَ لَهُ: أَزِيدَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ؟» قَالَ: صَلَّيْتَ خَمْسًا، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sholat Dhuhur 5 rokaat, maka ditanyakan kepada Belau : “apakah engkau menambahi sholat?”, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata : “apa itu ?”, engkau telah sholat bersama kami sebanyak 5 rokaat, lalu Beliau sujud – lalu sujud sebanyak dua kali, setelah salam (muttafaqun ‘alaih).                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

 

[7] Berdasarkan hadits Umar rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لَيْسَ عَلَى مَنْ خَلْفَ الْإِمَامِ سَهْوٌ , فَإِنْ سَهَا الْإِمَامُ فَعَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ خَلْفَهُ السَّهْوُ

Tidak ada lupa sahwi bagi orang yang sholat dibelakang Imam (makmum maksudnya –pent), jika Imam lupa maka wajib bagi Imam dan makmum untuk sujud sahwi (HR. Daruquthni, didhoifkan oleh Al Albani).

Namun hadits pada pembahasan sebelumnya dimana Imam dijadikan untuk diikuti, termasuk didalamnya sujud sahwi.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: