TAFSIR SURAT AN NABA` AYAT 1-5

February 6, 2016 at 11:26 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR SURAT AN NABAA’

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

عَمَّ يَتَساءَلُونَ (1) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ (3) كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ (4) ثُمَّ كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ (5)

Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar. yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.

عَمَّ” sebenarnya berasal dari “عن” huruf jaar, dan “ما” istifhamiyyah (kata Tanya)[1]. Ini merupakan qiroah ‘Ikrimah dan Isa bin Umar[2]. Makna istifhamnya adalah besarnya perkara tersebut, seolah-olah Dia berkata : ‘tentang apakah mereka saling bertanya-tanya’[3]. “يَتَساءَلُونَ” (mereka saling bertanya-tanya), mereka disini adalah kafir Quraisy, sebagaimana dalam riwayat Asbabun Nuzul yang dhoif. Kafir Quraisy bertanya tentang apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam ketika diutus untuk mendakwahkan agama Islam, karena mereka mendebat dan memusuhi apa yang dibawa oleh Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam, oleh karenanya Allah berfirman kepada Nabi-Nya Sholallahu ‘alaihi wa salaam : “tentang apakah mereka saling bertanya-tanya dan memusuhinya?”[4]. Abul Manshur al-Maturidiy dalam kitab tafsirnya mengatakan apa saja materi yang orang kafir Quraisy saling bertanya-tanya, apakah tentang perkara Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam yaitu ia seorang Nabi atau bukan?, atau tentang Al Qur’an apakah dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa atau bukan, atau tentang perkara risalah kenabian apakah sebelumnya ada yang sudah mendakwahkan semisal ini kepada mereka atau tidak, atau perkara hari akhir?, atau tentang tauhid?, atau tentang orang kafir. Dan apa yang mereka perselisihkan tersebut tidak benar, sebagaimana Firman-Nya :”Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.”[5].

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ” (tentang berita besar), ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Al Qur’an, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ (67) أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ (68)

Katakanlah: “Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya (QS. Shaad : 67-68)[6].

Imam as-Sam’aaniy mengatakan bahwa Abu Shoolih meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa hal itu adalah pendapatnya. Mesir dengan tahqiq dari DR. kmati sekarang ini melalui salah satu penerbitnyaPendapat ini juga dinukil dari Imam Mujaahid, salah satu ahli tafsir terbaik dari kalangan Tabi’in, beliau juga menulis sebuah kitab tentang tafsir dan karya beliau dapat kita nikmati sekarang ini. Diantara yang telah mencetak kitab ini adalah Daarul Fikr, Mesir dengan tahqiq dari DR. Muha telah mencetak kitab ini adalah Daarul Fikr, mmad Abdus Salam.

Ada juga yang mengatakan itu adalah al-Ba’tsu (hari kebangkitan) dimana kaum Mukminin berselisih dengan Musyrikin, kaum mukminin mengimaninya sedangkan musyrikin mengingkarinya[7]. Pendapat ini dikatakan oleh Qotadah, salah satu Imamul Mufasirin terbaik dari muridnya Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu guru besar tafsir dari kalangan sahabat[8], dan ini juga pendapatnya Abul ‘Aliyah, Robii’ bin Anas, dan sejumlah ulama tafsir[9].

Sedangkan Imam Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hari kiamat[10]. Kemudian Imam al-Mawardiy (w. 450 H) menambahkan bahwa berita besar yang dimaksud adalah perkara kenabian Muhammad sholallahu alaihi wa salam[11], ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bahsri[12].

Imam as-Sam’aniy mengatakan bahwa penafsiran “berita yang besar” dengan Al Qur’an dan hari berbangkit, adalah penafsiran yang ma’ruf.

Fakhruddin ar-Roozi merajihkan bahwa yang dimaksud dengan berita yang besar adalah hari kiamat alasan beliau :

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : “mereka akan mengetahui”, maka hal ini mengisyaratkan bahwa nanti orang-orang yang saling bertanya akan mengetahui kebenaran akan hal tersebut, dan pengetahuannya pada waktu itu tidak bermanfaat, dan dimaklumi bahwa hal tersebut terjadi pada hari kiamat.
  2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan mampu untuk mewujudkan hal-hal yang disebutkan pada ayat berikutnya :

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?…dan seterusnya.

  1. Bahwa al-Adzhim adalah salah satu nama dari hari kiamat sebagaimana Firman-Nya :

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6)

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (QS. Al Muthofifiin : 4-6)[13].

Ini juga yang dirajihkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, yakni bahwa yang dimaksud dengan “an-Nabaa`ul ‘Adzhiim” adalah hari kiamat. Wallahu A’lam.

الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ” (yang mereka berselisih terkait berita besar tersebut), jika berita besar tersebut adalah Al Qur’an, maka bentuk perselisihannya adalah orang-orang musyrik sebagian mengatakan bahwa itu adalah sihir, sebagian lagi mengatakan itu adalah syair, sebagian yang lain mengatakan itu adalah dongengan orang-orang yang terdahulu, dan semisalnya. Begitu juga jika dikatakan bahwa berita besar tersebut adalah nubuwah.

Adapun jika berita besar tersebut adalah hari berbangkit dan kiamat, maka ada 2 pendapat, yang pertama mereka berselisih ketika mendengar tentangnya, sebagian ada yang membenarkan dan beriman, serta sebagian lainnya mendustakannya. Pendapat kedua mengatakan bahwa kaum musyrikin dan kaum Muslimin berselisih tentangnya, kaum Muslimin membenarkannya, sedangkan musyrikin mendustakannya, ini dikatakan oleh Yahya bin Muslim[14].

Orang-orang kafir memang senantiasa mendustakan hari berbangkit, Al Qur’an dan pengutusan para Rasul. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat (QS. Al Furqoon : 11).

Terkait Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mereka juga mendustakannya, sebagaimana Firman-Nya :

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (Al An’aam : 33).

Mereka juga mendustakan Al Qur’an, sebagaimana Firman-Nya :

وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ فَأُولَئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Quran) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka) (QS. Ar Ruum : 16).

كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ” sekali-kali tidak, perkaranya adalah bukan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang kafir dan musyrik, yangmana mereka mengingkari hari berbangkit dan hari kiamat[15]. Demikianlah keyakinan kaum kafirin, dan terus berlangsung keyakinan ini dianut oleh sebagian manusia, hingga hari kiamat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan keyakinan mereka :

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi (QS. Al Mukminun : 37).

Imam Ibnu ‘Aamir membaca “سَيَعْلَمُونَ” dengan “ستعلمون” menggunakan huruf “taa”, yang berarti kata ganti orang kedua/mukhotobah, namun para ulama qiro’ah lainnya tetap membacanya dengan “yaa” yang menunjukkan kata ganti ketiga/ghoib[16].

Pengulangan kalimat “كَلَّا سَيَعْلَمُونَ” sebanyak 2 kali menunjukkan makna untuk taukid (penguat)[17]. Namun kata Imam adh-Dhohaak, kalimat yang pertama untuk orang-orang kafir, sedangkan kalimat yang kedua untuk orang-orang beriman[18]. Adapun Imam al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa : “mereka akan mengetahuinya apa yang menimpa mereka dari adzab pada hari kiamat, dan mereka akan mengetahuinya apa yang menimpa mereka dari adzab jahanam”[19]. Imam as-Sam’aaniy lebih merajihkan bahwa 2 ayat yang tersebut untuk orang kafir seluruhnya.

Fakhruddin ar-Rozi menambahkan bahwa mereka akan mengetahuinya dengan mendapatkan adzab di dunia, sebagaimana yang menimpa kafir Quraisy pada waktu perang Badar, dan mereka akan mengetahuinya dengan mendapatkan adzab pada hari akhir[20].

Imam Abdullah bin Abbas berkata tentang makna Firman Allah “سَيَعْلَمُونَ”, kata beliau :

سَوف يعلمُونَ عِنْد نزُول الْمَوْت مَاذَا يفعل بهم

Kelak mereka akan mengetahuinya ketika kematiannya apa yang telah mereka kerjakan[21].

 

Faedah ayat ke-1 sampai 5 :

  1. Apa yang didakwahkan oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam adalah perkara yang ‘Adhiim (agung), yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepanya. Pada permulaan dakwah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah mengisyaratkan bahwa tugas risalah ini adalah perkara yang besar dan berat, sebagaimana Firman-Nya :

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat (QS. Al Muzammil : 5).

  1. Orang-orang kafir quraisy ragu-ragu terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam, karena bertentangan dengan keyakinan najis mereka, yaitu kesyirikan yang sudah mendarah daging, jika diajak kepada kebenaran mereka akan menjawab :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (QS. Al Maidah : 104).

  1. Hari kiamat yang disebutkan didalam Al Qur’an yang disampaikan melalui lisan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam merupakan berita yang ‘Adhiim (agung), bagaimana tidak agung dimana itu adalah kehidupan abadi yang tidak ada lagi kehidupan sesudahnya. Masing-masing orang akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya, orang-orang kafir akan kekal di neraka, sedangkan orang-orang yang beriman akan kekal di surga –kita berdoa semoga termasuk penghuninya-. Berita ini menggetarkan keyakinan orang-orang kafir quraisy selama ini, dimana mereka meyakini bahwa kehidupan ini hanya di dunia saja, kemudian setelah itu mati dan binasa.
  2. Barangsiapa yang mengingkari hari akhir maka ia telah kafir kepada penciptanya, dan neraka jahanam yang kekal abadi layak menjadi tempatnya jika mati diatas kekafiran. Firman-Nya :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS. Al Baqoroh : 39).

  1. Orang-orang yang mendustakan apa yang dibawa oleh para Rasul, kelak mereka akan menyesal, setelah mengetahui adzab yang akan mereka terima, ketika itu pengetahuan mereka tidak akan bermanfaat lagi. Firman-Nya :

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ قَدْ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.

  1. Ayat diatas sebagai pelajaran untuk diambil faedah agar kita tidak meniru orang-orang yang menyelisihi kebenaran. Orang-orang yang mengambil manhaj setan dalam kehidupannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. An Nuur : 21).

 

 

[1] I’robul Qur’anil Kariim (3/414) karya Ahmad bin Muhammad Hamiidaani.

[2] Al-Kasyaaf (4/683), karya az-Zamakhsyariy.

[3] Opcit (4/684).

[4] Tafsir at-Thabari (24/149).

[5] Tafsir al-Mathuridiy (10/389), karya Abu Manshuur Mathuridiy (w. 333 H) pendiri sekte Maturidiyyah.

[6] Bahrul Uluum (3/536), karya Imam as-Samarqidniy (w. 373 H).

[7] Tafsir Qur’anil Aziiz (5/82) karya Imam ibnu Abi Zam’in (w. 399 H).

[8] Tafsir ats-Tsa’labiy.

[9] Tafsir as-Sam’aaniy (6/135).

[10] Tafsir Thabari (24/150).

[11] Tafsir al-Mawardiy (6/182).

[12] Tafsir as-Sam’aaniy (6/135).

[13] Mafaatihul Ghoib (31/6-7)

[14] Zaadul Masiir (4/388), karya Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H).

[15] Tafsir Thobari (24/150).

[16] Bahrul Uluum (3/536).

[17] Tafsir al-Maturidiy (10/391).

[18] Tafsir ats-Tsa’labiy (10/113).

[19] Tafsir al-Mawardiy (6/183).

[20] Mafaatihul Ghoib (31/8).

[21] Tanwiirul Miqbas min Tafsiiri Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu (hal. 498), ini adalah kitab tafsir yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu, yang dikumpulkan oleh asy-Syaikh Fairuz Abadiy (w. 817 H). Telah dicetak oleh Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Lebanon.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: