PERJALANAN ILMIAH IMAM ABUL HASAN AL ASY’ARIY (4)

February 7, 2016 at 4:12 am | Posted in Siroh | Leave a comment

D. Taubatnya Imam Abul Hasan dari Sekte Mu’tazilah

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika telah memberikan hidayah maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk kepadanya, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya (HR. Muslim).

Para ulama menyebutkan bahwa hidayah ada 2 jenis, untuk menghilangkan kerancuan dalam memahami ayat-ayat atau hadits nabawi yang seolah-olah bertentangan, disatu sisi kaum Musliminin diperintahkan untuk memberikan hidayah kepada orang lain, namun ternyata hidayah tersebut ada di Tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karenanya dengan pembagian 2 jenis hidayah ini, akan memperjelas kedudukan masing-masing dan ditempatkan pada porsinya.

Jenis hidayah pertama disebut dengan hidayah irsyad atau bayan, yaitu seseorang memberikan petunjuk dan penjelasan kepada orang lain untuk menerima kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya. Hidayah jenis inilah yang diperintahkan oleh syariat kepada umatnya, agar mendakwahi manusia kepada hidayah diatas jalan kebenaran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan (QS. Al A’raf : 181).

Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Maka demi Allah, sungguh engkau mampu memberi hidayah kepada satu orang itu lebih baik dari engkau mendapatkan Unta Merah (Muttafaqun ‘alaih).

Syariat senantiasa memotivasi umatnya untuk berusaha sekuat tenaga memberikan petunjuk irsyad dan bayan kepada orang lain, dan ini termasuk amal sholih yang pahalanya tidak akan terputus selama-lamanya, sekalipun jasad sudah berkalang dengan tanah. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalannya orang yang mengikutinya, pahala yang diperolehnya tidak akan mengurangi pahalanya orang yang mengikutinya sedikitpun (HR. Muslim).

Hidayah yang kedua adalah hidayah taufiq, yaitu hidayah agar seseorang beramal sesuai dengan kebenaran. Ini adalah jenis hidayah yang berada di Tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seorang pun tidak mampu mengatur hidayah ini sekalipun kepada orang yang dicintainya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS. Al Qoshosh : 56).

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ibrohim : 4).

Tentunya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan dholim kepada hamba-hamba-Nya, mereka sendiri yang tidak mau menerima petunjuk, setelah datang petunjuk kepada mereka, sehingga akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesatkan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ (32) وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (33)

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.” Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan (QS. Sabaa` : 32-33).

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At Taubah : 115)

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (QS. Al Baqoroh : 175).

Segala puji bagi Allah yang memberikan hidayah-Nya kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ariy –rahimahullah- setelah sekian lama berkecimpung dalam madzhab batil Mu’tazilah, akhirnya beliau dapat lepas dan keluar dari belenggu kesesatan. Beliau telah menghabiskan sebagian besar umurnya menceburkan diri dalam kesesatan sekte Mu’tazilah, dan bahkan menjadi rujukan bagi pengikut sekte ini pada zamannya. Seandainya bukan karena hidayah yang besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tentu beliau terancam dengan dosa-dosa orang yang tersesat karenanya, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti dosanya orang yang mengikutinya, dan dosa tersebut tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim).

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang menjadi pintu hidayah kepada orang lain untuk mendapatkan kebenaran, bukan pembuka pintu kesesatan, sehingga menyesatkan hamba-hamba Allah yang menginginkan petunjuk diatas kebenaran. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya ada diantara manusia, orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, dan ada juga orang-orang yang menjadi pembuka pintu kejelekan dan penutup pintu kebaikan, maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan melalui perantaraan tangannya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan pembuka pintu kejelekan melalui perantaraan tangannya (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Kelihatannya Imam Abul Hasan tidak nyaman dengan pemikiran Mu’tazilah, sekalipun beliau menjadi ulamanya pada waktu itu, namun daya kritisnya masih menolak pandangan-pandangan aneh yang dianut oleh sekte sesat ini. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Taarikh Islam menukil kegusaran Imam Abul Hasan terhadap pemikiran-pemikiran yang menyimpang yang ada didalam sekte mu’tazilah, diantaranya cuplikan dialog antara Abul Hasan al-Asy’ariy dengan gurunya Abu Ali al-Juba`i :

قيل إنّ الأشعريّ سأل أبا عليّ الْجُبّائيّ عن ثلاثة إخوة مؤمن تقيّ وكافر وصبيّ ماتوا، ما حالهم؟

قال: المؤمن في الجنّة، والكافر في النّار، والصّغير من أهل السّلامة.

فقال: إن أراد الصّغير أن يرقى إلى دَرَجة التّقّي هل يأذن له؟ قال: لا. يُقال له إنّ أخاك إنّما نال هذه الدّرجة بطاعاته وليس لك مثلها. قال: فإن قال: التقصير ليس منّي، فلو أحييتني حتّى كنتُ أطعتك. قال: يقول الله له: كنت أعلم أنّك لو بقيت لعصيت ولعوقبت فراعيت مصلحتك.

فقال أبو الحسن: فلو قال الأخ الكافر: يا ربّ علمتَ حاله كما علمتَ حالي فهلا راعيتَ مصلحتي مثله.

فانقطع الْجُبّائيّ

Abul Hasan pernah bertanya kepada Abu Ali Al Juba`i tentang 3 orang yang bersaudara, yang satu Mukmin lagi bertakwa, yang satu kafir, dan yang satu lagi masih kecil, mereka semuanya meninggal dunia, maka bagaimana keadaannya?

Abu Ali menjawab : ‘yang mukmin di surga, yang kafir di neraka, dan yang kecil termasuk yang diselamatkan dari neraka’.

Abul Hasan berkata lagi : ‘jika yang kecil ingin naik ke derajat saudaranya yang bertakwa, apakah ia akan dizinkan?’.

Jawabnya : ‘tidak diizinkan, dikatakan kepadanya, sesungguhnya saudaramu ini mencapai derajat tersebut, karena ketaatan yang dilakukannya, sedangkan engku tidak seperti itu’.

Lanjut Abul Hasan : ‘jika si kecil protes, kekurangan bukan ada padaku, seandainya Engkau (Ya Allah) membiarkanku hidup (sampai besar), niscaya aku akan melakukan ketaatan kepada-Mu’.

Abu Ali berkomentar : ‘Allah akan mengatakan kepadanya, Aku mengetahui seandainya engkau Aku biarkan hidup panjang, niscaya engkau akan bermaksiat kepada-Ku, maka Aku memperhatikan kemaslahatanmu’.

Abul Hasan menyambung : ‘seandainya saudaranya yang kafir berkata, wahai Rabb Engkau mengetahui keadaannya sebagaimana Engkau juga tahu keadaanku, lalu mengapa Engkau tidak memelihara kemaslahatan untukku, sebagaimana kemaslahatan bagi si kecil’.

Maka Abu Ali pun terdiam[1].cil ta lagi : yang kecil termasuk yang diselamatkan dari nerakau kafir, dan yang satu lagi masih kecil, mereka semu

Imam Ibnul Jauzi menukil Imam al-Ahwaaziy yang berkata :

قال الأهوازي: وسمعت أبا عبد الله الحمراني سنة خمس وسبعين وثلاثمائة يقول: لم نشعر يوم جمعة وإذا بالأشعري قد طلع على منبر الجامع بالبصرة [بعد صلاة الجمعة] ومعه شريط فشده على وسطه، ثم قطعه وقال: اشهدوا أني تائب مما كنت فيه من القول بالاعتزال،

Aku mendengar Abu Abdillah al-Himrooniy pada tahun 375 H, beliau berkata : ‘tidak terasa pada hari Jum’at tiba-tiba Abul Hasan al-Asy’ariy muncul diatas mimbar masjid jaami’ kota Basroh (setelah sholat Jum’at), beliau memegang tali, kemudian beliau luruskan, lalu diputuskan, kemudian berkata : “saksikanlah aku taubat dari apa yang dulu aku katakan berupa ucapan Mu’tazilah”[2].

Taubatnya Imam Abul Hasan dari sekte Mu’tazilah telah dikonfirmasi oleh para penulis pakar sejarah dan biografi, tidak ada satu pun dari mereka yang berbeda pendapat tentang hal ini. Berikut nukilan-nukilan dari Aimah kita yang menjelaskan taubatnya Imam Abul Hasan dari sekte Mu’tazilah :

  • Imam Abu Bakar as-Soirofiy (w. 330 H) –salah seorang ulama yang syafi’iyyah yang ahli fiqih dan memiliki banyak tulisan yang bermutu[3]– berkata :

كانت المعتزلة قد رفعوا رؤوسهم حتى أظهر الله الأشعري فحجرهم في أقماع السمسم

Dulu Mu’tazilah tegak kepala-kepala mereka, sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala menampakan Abul Hasan al-Asy’ariy, lalu ia pun mengisolir mereka dalam ketundukan yang hina[4].

  • Imam ibnul Mustaufiy (w. 637 H) berkata :

وكان على مذهب المعتزلة مدة طويلة، قيل انها كانت 40 سنة، ثم خالفهم وفنّد حججهم.

Abul Hasan dulunya diatas madzhab Mu’tazilah selama waktu yang panjang, dikatakan sampai 40 tahun, kemudian beliau menyelisihi mereka dan mendustakan hujah-hujah mereka[5].

  • Imam adz-Dzahabi (w. 748 H) berkata :

وكان معتزليًا، ثمّ تابَ مِن الاعتزال. وصعِد يوم الجمعة كُرْسيًّا بجامع البصرة ونادى بأعلى صوته: مَن عرفني فقد عرفني، ومَن لم يعرفني فأنا فلان بن فلان، كنت أقول بخلْق القرآن، وأنّ الله لا يرى بالأبصار، وأنّ أفعال الشر أنا أفعلها، وأنا تائبٌ معتقد الرّدّ على المعتزِلة، مُبيّنٌ لفضائحهم

Abul Hasan dulunya seorang mu’tazilah, kemudian bertaubat dari mu’tazilah. Beliau baik kursi pada hari Jum’at di masjid Jaami’ kota Bashroh, lalu lantang bersuara : ‘barangsiapa yang mengenaliku maka ia telah mengenalku, dan barangsiapa yang belum mengenalku maka aku adalah Fulan bin Fulan, dulu aku mengatakan kemakhlukan Al Qur’an, dan Allah tidak akan dilihat oleh mata, aku melakukan kejelakan adalah aku sendiri yang melakukannya, dan sekarang aku bertaubat dari keyakinan-keyakinan tersebut sebagai bantahan kepada Mu’tazilah dan sebagai penjelasan terhadap penyimpangan mereka[6].

  • Imam as-Subkiy (w. 771 H) berkata tentang taubatnya beliau :

يُقَال أَقَامَ على الاعتزال أَرْبَعِينَ سنة حَتَّى صَار للمعتزلة إِمَامًا فَلَمَّا أَرَادَهُ الله لنصر دينه وَشرح صَدره لاتباع الْحق غَابَ عَن النَّاس فى بَيته خَمْسَة عشر يَوْمًا ثمَّ خرج إِلَى الْجَامِع وَصعد الْمِنْبَر وَقَالَ معاشر النَّاس إِنَّمَا تغيبت عَنْكُم هَذِه الْمدَّة لأنى نظرت فتكافأت عندى الْأَدِلَّة وَلم يترجع عندى شَيْء على شَيْء فاستهديت الله تَعَالَى فهداني الى اعْتِقَاد مَا أودعته فِي كتبي هَذِه وانخلعت من جَمِيع مَا كنت أعتقده كَمَا انخلعت من ثوبي هَذَا وانخلع من ثوب كَانَ عَلَيْهِ وَرمى بِهِ وَدفع الْكتب الَّتِى ألفها على مَذَاهِب أهل السّنة إِلَى النَّاس

Dikatakan Abul Hasan menganut paham mu’tazilah selama 40 tahun, hingga ia menjadi Imam bagi sekte mu’tazilah, lalu Allah menghendaki menolong agamanya, sehingga dilapangkan dadanya untuk mengikuti kebenaran. Beliau sempat menghilang dari pandangan manusia, dan mengurung diri di rumahnya selama 15 hari, kemudian keluar ke masjid Jaami dan naik mimbar lalu berkata : ‘wahai manusia, sesungguhnya aku sengaja menghilang dari kalian selama beberapa lama, aku telah meneliti dan mengamati dalil-dalil yang membuatku rujuk sedikit demi sedikit, lalu aku memohon hidayah kepada Allah, dan Dia memberikan petunjuk kepadaku menuju keyakinan seperti yang aku persembahkan dalam kitabku ini, ini adalah sebagai pelepasan diri dari seluruh keyakinanku dulu, sebagaimana aku melepaskan bajuku ini’.

Kemudian beliau melapas bajunya dan melemparkannya, lalu membagi-bagikan kitab yang beliau tulis diatas madzhab ahlus sunnah kepada orang-orang yang hadir[7].

  • Imam Ibnu Katsiir (w. 774 H) berkata :

م فارقه الأشعري ورجع عن الاعتزال، وأظهر ذلك إظهارا، فصعد منبر البصرة يوم الجمعة، ونادى بأعلى صوته: من عرفني فقد عرفني، ومن لم يعرفني أنا فلان بن فلان، كنت أقول بخلق القرآن، وأن الله لا يُرَى في الدار الآخرة بالأبصار، وأن العباد يخلقون أفعالهم، وها أنا ذا تائب من الاعتزال، معتقد الرد على المعتزلة، مبينا لفضائحهم،

Kemudian Abul Hasan al-Asy’ariy berpisah dengan gurunya (Abu Ali) dan rujuk dari mu’tazilah. Beliau menerangkan tobatnya dengan sejelas-jelasnya, lalu naik mimbar di masjid Basroh pada hari Jum’at, dan berteriak dengan suara lantang : ‘barangsiapa yang mengenaliku maka ia telah mengenalku, dan barangsiapa yang belum mengenalku maka aku adalah Fulan bin Fulan, dulu aku mengatakan kemakhlukan Al Qur’an, dan Allah tidak akan dilihat oleh mata pada hari akhir, dan seorang hamba yang menciptakan perbuatannya sendiri, inilah aku sekarang bertaubat dari keyakinan-keyakinan tersebut sebagai bantahan kepada Mu’tazilah dan sebagai penjelasan terhadap penyimpangan mereka[8].

Kemudian saya mendapati dalam kata sambutan asy-Syaikh Hammaad al-Anshariy terhadap kitab al-Ibanah, nukilan-nukilan dari Aimah kita yang mengkonfirmasi bahwa Imam Abul Hasan telah taubat dari Mu’tazilah, yaitu Imam ibnu Uzrah, Imam Abu Bakar ibnu Faurak, Imam Ibnu Khalkan, Imam Ibrahim bin Ali al-Ya’mari (w. 799 H), asy-Syaikh Muhammad al-Husaini az-Zubaidiy (w. 1145 H), dan selain mereka. Seandainya tidak khawatir berkepanjangan tentu akan kami nukilkan perkataan mereka[9].

  1. Abdur Rokhman bin Shoolih menyebutkan sebab-sebab Imam Abul Hasan taubat dari Mu’tazilah dan saya akan meringkasnya untuk pembaca yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
  2. Mimpi, beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada saat hatinya galau dengan keanehan-keanehan keyakinan sekte mu’tazilah, lalu dalam mimpinya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berpesan agar beliau berpegang dengan Sunnahnya.
  3. Diskusi-diskusi beliau dengan ayah tiri sekaligus gurunya yaitu Abu Ali al-Juba`i tentang keyakinan-keyakinan mu’tazilah, salah satu cuplikan diskusi tersebut sudah kami tampilkan sebelumnya. Dari diskusi-diskusi tersebut, beliau tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya tersebut.
  4. Hasil penelitian dan perenungan beliau terhadap dalil-dalil keyakinan sekte mu’tazilah, hingga akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan hidayah untuk meninggalkan keyakinan batil sekte mu’tazilah.
  5. Pengaruh kisah diujinya Imam Ahmad oleh penguasa yang berkolaborasi dengan mu’tazilah pada waktu itu.
  6. Pengaruh guru-gurunya dari kalangan ulama hadits dan fiqih yang masih berpegang dengan madzhab salaf[10].

Taubatnya Imam Abul Hasan secara terang-terangan dan aktivitas beliau sesudahnya yang membongkar borok mu’tazilah, merupakan bentuk pengamalan dari Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ (159) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (160)

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al Baqoroh : 159-160).

Terdapat sebuah hadits yang menunjukkan bahwa ahlu bid’ah akan terhalangi menerima taubat, yaitu sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

نَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ، عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

Sesungguhnya Allah menghalangi taubatnya setiap pelaku bid’ah (HR. Ishaq bin Rohawiah, Thabrani dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

Kisah taubatnya Imam Abul Hasan menunjukkan bahwa hadits ini tidak bisa dipahami secara dhohirnya, karena juga bertentangan dengan nash-nash yang mutawatir dan gamblang yang memberikan faedah bahwa Allah menerima taubat dari hamba-Nya, siapapun ia, sebesar atau separah apapun dosa yang dibawanya, asal mau bertaubat Allah akan menerimanya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي

Wahai anak adam, seandainya dosa-dosamu sampai memenuhi langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosamu seluruhnya, dan Aku tidak perduli (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albani).

Oleh karenanya pada kisah taubatnya Imam Abul Hasan dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua, untuk tidak larut dalam kesesatan dan segera kembali kepada kebenaran, kembali kepada pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dipahami oleh salafunaa sholih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ

kebenaran itu lebih berhak diikuti (QS. Yunus : 35).

[1] Taarikh Islam (24/122)

[2] Al-Muntadhim (14/30).

[3] Biografinya dapat dilihat di Wafiyaatul A’yaan (4/199), Thobaqitus Syaifi’iyyah Kubro (1/184-185).

[4] Taarikh Islam (24/120).

[5] Tarikh Irbil (3/370).

[6] Taarikh Islam (24/120).

[7] Thobaqotus Syafi’iyyah Kubro (3/348).

[8] Thobaqotus Syafi’iyyah (1/208-209).

[9] Terjemahan buku al-Ibanah diterbitkan oleh At-Tibyan, cetakan ke-XII, September 2014 (hal. 5-10).

[10] Mauqif Ibnu Taimiyyah minal Asyaa’iroh (1/371-377).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: