TAFSIR SURAT AN NABA` AYAT 6 – 16

February 8, 2016 at 11:13 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

  1. TAFSIR SURAT AN NABAA’

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا (13) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?, dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?.

مِهَادًا”, ada yang membacanya dengan “مَهْداً” (Mahdaan) dengan memfathah huruf mim dan mensukunkan huruf Ha[1], dinukil bahwa ini adalah qiro’ahnya Mujaahid, Isa dan sebagian ulama Kufiyyiin[2]. Mihaadaan, kata Qotadah artinya “بساطا” (terbentang)[3], . maksudnya ayat ini adalah bahwa Allah telah menjadikan bumi ini tempat kalian tinggal dan kalian bisa berjalan dengan mudah diatasnya. Ayat ini dan ayat-ayat berikutnya sampai ayat ke-16, berisi tentang penyebutan kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada Kafir Quraiys yang pada ayat sebelumnya mereka saling bertanya-tanya terhadap yang dibawa oleh Muhammad sholallahu alaihi wa salam yang telah Allah utus kepada mereka semuanya[4]. Bumi dan segala isinya telah Allah berikan kepada para manusia sebagai rizki bagi mereka, agar dapat digunakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

كُنَّا نَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ، فَيُحَدِّثُنَا فَقَالَ لَنَا ذَاتَ يَوْمٍ: ” إِنَّ اللهَ قَالَ: إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَلَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ ثَانٍ، وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ، لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِمَا ثَالِثٌ، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، ثُمَّ يَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ “

Kami pernah mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam, tiba-tiba ada wahyu yang diturunkan kepada Beliau, lalu Beliau menceritakannya pada kami pada suatu hari : “sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “sesungguhnya kami menurunkan harta untuk menegakkan sholat, dan menunaikan zakat. Seandainya Ibnu Adam memiliki satu lembah (harta/emas), niscaya ia masih memiliki keinginan untuk memiliki yang kedua, seandainya ia memiliki dua lembah, niscaya ia masih memiliki keinginan untuk memiliki yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut ibnu Adam, kecuali tanah. Kemudian Allah akan menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya (HR. Ahmad, ini hadits hasan)[5].

أَوْتَادًا” yaitu pasak, karena terbukti menurut penelitian ilmu pengetahuan, bahwa salah satu fungsi gunung adalah menjaga bumi agar tidak goncang, sebagaimana Firman-Nya dalam ayat lain :

وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu (QS. An Nahl : 15).

Seandainya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya tidak sayang kepada umatnya niscaya gunung akan ditimpakan kepada mereka karena keingkaran yang dilakukan oleh umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (63) ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”. Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi (QS. Al Baqoroh : 63-64).

Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa pada saat Nabi sholallahu alaihi wa salam ditolak dakwahnya oleh masyarakat Thoif, bahkan dilempari batu sampai Beliau terusir, maka ada suara yang menyeru :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ، ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar ucapan kaummu dan apa yangdilakukan kaummu, dan malaikat penjaga gunung telah diutus kepadamu untuk melaksanakan apa yang engkau perintahkan. Lalu malaikat gunung pun mendekatiku, lalu memberikan salam kepadaku dan berkata : “wahai Muhammad, ucapkanlah apa yang engkau perintahkan, jika engkau mau aku akan menjungkir balikkan gunung al-Akhsyabain menimpa mereka. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “ga usah, aku harap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang hanya menyembah Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya (Muttafaqun ‘alaih).

أَزْوَاجً” (berpasang-pasangan), yaitu Allah menciptakan manusia ada yang laki-laki dan perempuan[6]. Sebagaimana dalam firman-Nya :

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu (QS. Asy Syuuraa : 11).

Kemudian masing-masing pasangan menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga, yang mana dengannya akan didapat ketenangan hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar Ruum :21).

سُبَاتًا” (istirahat), berasal dari kata “السبت” (as-Sabt), oleh karenanya hari sabtu dinamakan sabtu, karena hari itu adalah hari Istirahat[7]ng tidur adalah mekanisme otomatis dari t. Ada keyakinan yang diungkapkan oleh orang-orang Yahudi bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan bumi dan langit serta apa yang ada diantara keduanya selama enam masa, kemudian pada hari Sabtu Allah Subhanahu Wa Ta’ala beristirahat, namun ini adalah keyakinan yang batil, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabari dalam Tafsirnya dengan sanad shahih, para perowinya semunya tsiqoh sampai kepada Qotadah beliau berkata :

قالت اليهود: إن الله خلق السموات والأرض في ستة أيام، ففرغ من الخلق يوم الجمعة، واستراح يوم السبت، فأكذبهم الله، وقال (وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ)

Yahudi berkata : ‘sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi selama enam masa, penciptaan tersebut selesai pada hari Jum’at, lalu Dia beristirahat pada hari sabtu, maka Allah mendustakan mereka, dan Berfirman :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan (QS. Qof : 38).

Dijadikan tidur sebagai istirahat untuk jasmani kita dalah termasuk kenikmatan Allah yang diberikan kepada hambanya, dengan tidur tersebut badan akan kembali segar, dan terkadang tidur adalah mekanisme otomatis dari tubuh ketika badan dalam kondisi sangat lelah atau kelelahan.

Bahkan tidur itu sendiri adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang mau merenunginya, sebagaimana dalam Firman-Nya :

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (QS. Az Zumar : 42).

لِبَاسًا” (pakaian), malam disebut pakaian karena hitam pekatnya malam dan kegelapannya dapat menutupi seolah-olah pakaian yang dapat menutupi badan pemakainya[8]. Dinukil dari Qotadah bahwa Libaasaan, maknanya adalah Sakanan (tempat tinggal)[9].

Sisi malam sebagai nikmat bagi hamba Allah adalah, bahwa malam dapat menutupi seseorang dari pandangan musuh ketika berperang, atau dapat menyembunyikan pandangan manusia dari sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh orang lain[10]. Dari sisi lain bahwa malam pada umumnya memberikan udara yang sejuk, sehingga sangat nyaman untuk beristirahat.

مَعَاشًا” (mencari penghidupan), umumnya siang adalah waktu yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk beraktivitas, baik mencari nafkah, mencari ilmu, atau kebutuhan-kebutuhan lainnya. Rasullah sholallahu alaihi wa salam menganjurkan umatnya agar mulai beraktivitas dari mulai pagi hari, karena ini adalah waktu yang Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berdoa agar umatnya diberkahi :

اللهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Ya Allah berkatilah umatku pada pagi harinya (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al Albani).

سَبْعًا شِدَادًا” (tujuh buah (langit) yang kokoh). Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan langit selama dua masa, sebagaimana Firman-Nya :

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa (QS. Fushshilaat : 12).

Dalam hadits Mi’raj yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim dari jalan Malik bin Sho’sho’ah rodhiyallahu anhu, masing-masing langit dihuni oleh Nabi-Nabi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pada langit pertama dihuni oleh Nabi Adam alaihi salam, pada langit kedua oleh Nabi Yahya dan Isa alaihumaa salam, pada langit ketiga dihuni oleh Nabi Yusuf alaihi salam, pada langit keempat dihuni oleh Nabi Idris alaihi salam, pada langit kelima dihuni oleh Nabi Harun alaihi salam, pada langit keenam dihuni oleh Nabi Musa alaihi salam, dan di langit terakhir yang ketujuh Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam bertemu dengan Nabi Ibrohim alaihi salam[11].

Diantara kenikmatan Allah dalam penciptaan langit adalah melindungi kita dari benda-benda langit yang jatuh ke bumi, seperti meteor, komet dan semisalnya. Sebelum benda-benda tersebut menyentuh bumi, maka akan terbakar di langit, sehingga kalaupun tersisa hanya tinggal bagian kecilnya saja, para ilmuwan antariksa atau yang mengamati benda-benda luar angkasa telah menjelaskan kegunaan-kegunaan langit yang sangat banyak, yang tentunya ini adalah nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada para hamba-Nya.

سِرَاجًا وَهَّاجًا” (pelita yang amat terang (matahari)). Kata Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu Wahhaajaan artinya adalah sinar yang sangat terang[12]. Imam Thabari mengatakan bahwa itu adalah matahari, demikian juga dikatakan oleh Imam al-Kalbi[13], Imam ats-Tsa’labiy[14], Imam Ibnul Jauzi[15], dan ulama tafsir lainnya.

Matahari adalah diantara nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan kepada para hamba-Nya. Dengan adanya matahari, maka bumi ini menjadi terang. Namun ada sekelompok manusia yang tersesat, sehingga saking takjubnya dengan Matahari mereka pun menjadikannya sebagai tuhan yang disembah, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah (QS. Fushilaat : 37).

Dalam sejarah, Al Qur’an menyebutkan bahwa salah satu suku bangsa yang menjadikan matahari sebagai sesembahan adalah kaum Saba`, yang dipimpin ratunya yang bernama Balqis. Firman-Nya :

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan (QS. An Naml : 22-25).

الْمُعْصِرَاتِ” (awan), “مَاءً ثَجَّاجًا” (air yang banyak tercurah), yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan hujan kepada bumi. Pada ayat lainnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bagaimana Allah menurunkan hujan dari awan, Firman-Nya :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan (QS. An Nuur : 43).

Hujan merupakan salah satu nikmat Allah terbesar, namun terkadang ia berubah menjadi adzab, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh alaihi salam. Oleh karenanya, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada umatnya ketika turun hujan untuk berdoa :

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat kepada kami (HR. Bukhori).

حَبًّا وَنَبَاتًا” (biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan), “وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا” (dan kebun-kebun yang lebat), yakni dengan air hujan Allah suburkan tanah yang dulunya tandus, menjadi tanah yang subur kemudian menumbuhkan didalam biji-bijian dan tanaman yang menjadi bahan makanan bagi manusia dan makhluk lainnya. Air hujan tersebut juga menjadikan kebun-kebun berbuah lebat, yang hasilnya dapat dinikmati oleh manusia. Firman-Nya :

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah : 27).

فَأَنْشَأْنَا لَكُمْ بِهِ جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ لَكُمْ فِيهَا فَوَاكِهُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ (19) وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلْآكِلِينَ (20)

Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan, dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan (QS. Al Mu’minuun : 19-20).

 

Faedah ayat ke-6 sampai 16 :

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam untuk menjelaskan kepada orang-orang yang menentang dakwahnya dan mereka berselisih terhadap apa yang dibawanya, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada mereka, lantas kenapa mereka tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Apa yang disebutkan dalam ayat-ayat diatas atau ayat lainnya, itu adalah sedikit dari nikmat Allah yang sangat luas, yang tidak mungkin seorang pun mampu menghitungnya. Firman-Nya :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (QS. Ibrohim : 34).

  1. Atas nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat banyak itu, kewajiban kita adalah senantiasa bersyukur kepada-Nya, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan orang yang bersyukur dengan tambahan nikmat kepadanya. Firman-Nya :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim : 7).

  1. Ayat-ayat diatas dan yang semisalnya, menunjukkan kasih sayang yang sangat besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan bumi dan segala isinya untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. Sebagaimana dalam Firman-Nya :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (QS. Al Baqoroh : 29).

  1. Oleh karena itu tidak ada Dzat yang berhak untuk dimintai pertolongan, kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar membantu kita semua dalam bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengajari sebuah doa yang sangat bagus, yang selayaknya dibaca setiap selesai sholat :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah bantulah aku untuk (senantiasa) berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan bagus ibadahku kepada-Mu (HR. Abu Dawud, dan Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani).

 

[1] Ma’aanil Qurán (5/271) karya Imam Abu Ishaq az-Zujjaaj (w. 311 H).

[2] Al-Muharrol al-Wajiiz fii Tafsiiril Kitaabil Aziiz (5/424), karya Abu Muhmmad ibnu ‘Athiyyah (w. 542 H).

[3] Tafsir Thobari (24/151)

[4] Lihat tafsir Thobari.

[5] Lihat takhrij kami terhadap hadits ini di website kami.

[6] Tafsir az-Zujjaaj (5/272).

[7] Tafsir Thobari (24/151).

[8] Tafsir Thabari (24/151).

[9] Opcit, dan Buhuurul Ilmi (3/573).

[10] Mafaatihul Ghoib (31/10).

[11] HR. Bukhori no. 3887 dan Muslim no. 264.

[12] Imam Bukhori menukil penafsiran Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu ini dalam kitab shahihnya secara mu’alaq, disambungkan sanadnya oleh Imam Thabari dalam Tafsirnya (24/153).

[13] Tafsir Ibnu Abi Zam’in (5/83).

[14] Tafsir ats-Tsa’labiy (10/114).

[15] Zaadul Masiir (4/388).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: