MENGGEMBIRAKAN ORANG LAIN TERMASUK AMALAN UTAMA

February 9, 2016 at 10:39 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

MENGGEMBIRAKAN ORANG LAIN TERMASUK AMALAN UTAMA

 

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُسْلِمِ

Sesungguhnya Amal yang paling dicintai Allah setelah amalan-amalan wajib adalah memasukkan kebahagian kepada seorang Muslim.

Takhrij Hadits :

Hadits diatas diriwayatkan dari beberapa jalan sahabat dengan lafadz yang semakna. Berikut jalan-jalannya :

  1. Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu ini adalah lafadz dari jalan beliau yang ditampilkan diatas. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 11079) & Ausath (no. 7911) dari jalan :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ الْفَرَجِ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرٍو، نا شَرِيكٌ، وَجَرِيرٌ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Haddatsanaa Mahmuud bin al-Faraj, haddatsanaa Ismail bin ‘Amr, haddatsanaa Syariik dan Jariir, dari Laits, dari Mujaahid, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam : “Al Hadits”.

Imam al-Haitsami dalam Majmuz Zawaid (no. 13718) berkata :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرٍو الْبَجَلِيُّ، وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَضَعَّفَهُ غَيْرُهُ.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Ausath, didalamnya ada Ismail bin ‘Amr al-Bahiliy, ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban, dan didhoifkan oleh selainnya.

  1. Abu Syariik rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abdullah ibnul Mubarok dalam az-Zuhud (no. 684) dari jalan :

أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ الْغَازِي، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِي شَرِيكٍ

Akhbaronaa Hisyaam bin al-‘Ghaziy, dari seorang laki-laki dari Abi Syariik rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Hisyaam ditsiqohkan oleh Al Khothib Al Bahgdadiy dalam Thobaqotul Kubro (no. 3915). Abu Syariik rodhiyallahu anhu ditetapkan kesahabatannya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishoobah (no. 10123). Namun terdapat perowi mubham diantara Hisyaam dengan Abu Syariik rodhiyallahu anhu. Sehingga sanad ini lemah.

  1. Dari Al Hasan bin Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhumaa dari Nabi sholallahu alaihi wa salam. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 2731) dari jalan :

جَهْمُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَسَنِ بْنِ حَسَنٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ

Jahm bin Utsmaan, dari Abdullah bin Hasan bin Hasan, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Jahm bin Utsmaan, dikatakan tidak kuat oleh Imam Daruquthni dalam Man Takalama fiihi Daruquthni (no. 69) karya Asy-Syaikh Ibnu Zuraiq (w. 803 H). Sehingga sanad ini pun lemah.

  1. Dari Abu Darda rodhiyallahu anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam asy-Syamiyyiin (no. 28) dari jalan :

نا يَحْيَى بْنُ عُمَرَ بْنِ سَاجٍ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ،

Akhbaronaa Yahya bin Umar bin Saaj, haddatsanaa Sulaiam bin Wahab, dari Ibrohim bin ‘Ablah, dari Khoolid bin Ma’daan, dari Abu Dardaa rodhiyallahu anhu, dari Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Yahya bin Umar bin Saaj, saya belum mendapati biografinya.

  1. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim dalam Hilyaatul Aulia (6/348) dari jalan :

ثَنَا عَلِيُّ بْنُ رُسْتُمَ، ثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ خَالِدٍ، ثَنَا مُوسَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُوَقَّرِيُّ، ثَنَا مَالِكُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ

Haddatsanaa Ali bin Rustum, haddatsanaa al-Haitsam bin Khoolid, haddatsanaa Musa bin Muhammad, haddatsanaa Malik bin Abdullah bin Diinaar dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu .

Saya belum mendapatkan biografi Malik bin Abdullah bin Diinar.

  1. Dari Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu. Imam Al Albani menyebutkannya dalam Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah (no. 2291) dari jalan Muhammad bin al-Munkadir dari Jaabir bin Abdullah secara marfu’, namun beliau merajihkan hadits ini mursal dan dengan adanya syawahid, maka naik derajatnya menjadi hasan.

Berdasarkan hal tersebut, maka kesimpulannya hadits diatas minimal Hasan lighoirihi.

 

Faedah Hadits :

  1. Membahagiakan orang lain adalah amalan ringan, namun memiliki timbangan yang berat disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  2. Minimal dengan wajah yang berseri-seri ketika berjumpa dengan saudaranya, maka ini juga terkadang membuat hatinya senang.
  3. Bahkan ketika saudaranya sakit, dianjurkan bagi kita untuk memberikan rasa optimisme terhadap kesembuhannya. Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا»

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam mengunjungi orang Badui yang sedang sakit –Nabi sholallahu alaihi wa salam biasanya jika mengunjungi orang sakit akan mengatakan : “tidak mengapa, sebagai pembersih, Insya Allah”-, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam pun berkata kepadanya : “tidak mengapa, sebagai pembersih Insya Allah”. Namun orang itu malah menjawab : “pembersih, sekali-kali tidak, ini adalah demam yang tinggi yang mengenai seorang yang sudah senja, yang sebentar lagi masuk kubur”. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “kalau begitu ya sudah” (HR. Bukhori).

Kemudian asy-Syaikh Badruddin al-‘Ainiy dalam Umdahtul Qooriy (19/146) menukil kesudahan cerita arab badui yang menolak doa Nabi sholallahu alaihi wa salam, kata Beliau :

أخرجه الطَّبَرَانِيّ وَغَيره من رِوَايَة شُرَحْبِيل، وَالِد عبد الرَّحْمَن، فَذكر نَحْو حَدِيث ابْن عَبَّاس، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ، وَفِي آخر: فَقَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: أما إِذا أَبيت فَهِيَ كَمَا تَقول، وَقَضَاء الله كَائِن، فَمَا أَمْسَى من الْغَد إلاَّ مَيتا. انْتهى

Diriwayatkan Thabrani dan selainnya dari riwayat Syurohbiil, bapaknya Abdur Rokhman, ia menyebutkan semisal hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dan diakhirnya Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “adapun jika enggan, maka sebagaimana yang ia katakan”. Lalu takdir Allah pun terjadi, keesokan harinya orang tersebut mati –selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: