DURORUL BAHIYYAH : 3. KITABUL JANAIZ

February 14, 2016 at 10:45 am | Posted in fiqih | Leave a comment

  1. Kitab Jenazah

 

(3 – كتاب الجنائز)

من السُّنَّة عيادة المريض،

Termasuk sunah adalah mengunjungi orang yang sakit[1], mentalqin orang

وتلقين المحتضر الشهادتين،

yang mau meninggal dunia dengan 2 kalimat syahadat[2], menghadapkannya

وتوجيهه وتغميضه إذا مات،

ke arah kiblat[3], memejamkan matanya ketika meninggal dunia[4], membacakan

وقراءة (يس) عليه، والمبادرة بتجهيزه

surat Yasin kepadanya[5], menyegerakan penguburannya –kecuali masih ada

– إلا لتجويز حياته -، والقضاء لدَيْنه، وتسْجِيَته،

kemungkinan masih hidup –[6], melunasi hutangnya[7], membentangkan kain

ويجوز تقبيله، وعلى المريض

diatas jenazah[8], boleh untuk menciumnya[9]. Dan wajib bagi orang yang sakit

أن يُحسن الظن بربه، ويتوب إليه،

(keras) untuk berprasangka baik kepada Rabbnya, bertaubat kepadanya,

ويتخلص عن كل ما عليه.

mengikhlaskan semua yang menimpa dirinya[10].

فصل: ويجب غسل الميت المسلم على الأحياء،

Pasal : bagi orang yang hidup wajib memandikan mayat seorang Muslim[11],

والقريب أولى بالقريب؛

yang memiliki hubungan kerabat dekat yang lebih utama memandikannya,

إذا كان من جنسه، وأحد الزوجين بالآخر،

jika sama jenis kelaminnya[12], suami atau istri bisa memandikan satu sama

ويكون الغسل ثلاثاً، أو خمساً، أو أكثر؛

lainnya[13]. Memandikannya sebanyak 3 kali, atau 5 kali, atau lebih dari itu,

بماء وسدر؛

dengan menggunakan air dan daun bidara, dan pada bilasan akhir dengan

وفي الآخرة كافور، وتُقدَّم الميامن،

kapur barus[14], dahulukan membasuh bagian kanan[15]. Orang yang mati syahid

ولا يُغسَّل الشهيد.

tidak perlu dimandikan[16].

 

فصل: يجب تكفينه بما يستره –

Pasal : wajib mengkafani jenazah dengan apa saja yang menutupinya –

ولو لم يملك غيره -، ولا بأس بالزيادة

sekalipun tidak punya kain kafan[17] – tidak mengapa menambahi –asalkan

– مع التمكن – من غير مغالاة

mampu – dengan tidak berlebih-lebihan[18]. Orang yang mati syahid dikafani

، ويُكفَّن الشهيد في ثيابه التي قُتل فيها،

dengan baju yang ia terbunuh padanya[19]. Disunahkan untuk memberi parfum

وندب تطييب بدن الميت وكفنه.

ke badan jenazah dan kain kafannya[20].

 

فصل: وتجب الصلاة على الميت، ويقوم الإمام حذاء رأس الرجل،

Pasal : wajib mensholati jenazah[21]. Imam berdiri didekat kepalanya untuk

ووسط المرأة،

jenazah laki-laki, dan berdiri di tengah-tengah jenazah perempuan[22]. Sholat

ويُكبِّر أربعاً أو خمساً، ويقرأ بعد التكبيرة الأولى الفاتحة وسورة،

jenazah dengan 4 kali atau 5 kali takbir[23], membaca pada takbir pertama Al

ويدعو بين التكبيرات بالأدعية المأثورة،

Fatihah dan surat[24], berdoa di sisa-sisa takbir berikutnya dengan doa-doa

ولا يصلَّى على الغالِّ،

yang terdapat dalam dalil[25]. Tidak disholati orang yang melakukan ghulul

وقاتل نفسه، والكافر، والشهيد،

(mencuri/korupsi)[26], orang yang bunuh diri[27], orang kafir[28], dan orang yang

ويُصلَّى على القبر، وعلى الغائب.

mati syahid[29]. Boleh melakukan sholat di pekuburan dan kepada jenazah yang ghoib[30].

 

فصل: ويكون المشي بالجنازة سريعاً،

Pasal : berjalan membawa jenazah dengan jalan cepat[31], orang yang

والمشي معها، والحمل لها سُنّة،

mengiringinya[32] dan membawa jenazah (diatas pundak) merupakan sunah[33].

والمتقدم عليها والمتأخِّر عنها سواء،

Orang yang mengiringinya didepan atau dibelakang sama saja[34]. Dimakruhan

ويُكره الرُّكوب، ويحرم النعي،

mengiringi jenazah dengan berkendaraan[35]. Diharamkan na’iy (meratapi mayit)[36],

والنياحة، واتباعها بنار، وشق الجيب،

meraung-raung[37], mengiringi jenazah dengan obor/api[38], merobek-robek

والدعاء بالويل والثبور،

pakaian, berdoa dengan kecelakaan dan kebinasaan[39]. Orang yang

ولا يقعد المتبع لها حتى توضع،

mengiringi jenazah tidak boleh duduk sampai jenazah tersebut diletakkan[40],

والقيام لها منسوخ.

dalam kubur, adapun berdiri untuk menghormati jenazah yang lewat sudah mansukh (terhapus) hukumnya[41].

 

فصل: ويجب دفن الميت في حفرة تمنعه من السِّباع،

Pasal : wajib mengubur jenazah di lubang yang mencegah binatang buas

ولا بأس بالضَّرح،

membongkarnya, tidak mengapa dikuburkan dengan bentuk Dhorh, namun

واللحد أوْلى، ويُدخل الميِّت من مؤخِّر القبر،

bentuk lahad lebih utama[42], memasukkan jenazah dari arah ujung

ويوضع على جنبه الأيمن مستقبلاً،

kuburannya (kaki jenazah)[43], meletakkan jenazah dibaringkan dari sisi

ويستحب حثو التراب – من كل من حضر – ثلاث حثيات،

samping kanannya menghadap kiblat[44]. Disunahkan untuk menaburkan debu sebanyak 3 kali bagi setiap orang yang menghadiri pemakaman[45].

ولا يُرفع القبر زيادةً على شبر.

Tidak meninggikan urugan kuburan lebih dari sejengkal[46].

والزيادة للموتى مشروعة،

Ziyaroh kepada orang yang sudah meninggal disyariatkan[47], peziarah berdiri

ويقف الزائر مستقبلاً للقبلة، ويحرم اتخاذ القبور مساجد،

menghadap kiblat[48]. Diharamkan menjadikan kuburan sebagai masjid[49],

وزخرفتها، وتسريجها، والقعود عليها،

menghias-hiasi kuburan[50], memasang lampu di pekuburan[51], duduk diatas

وسب الأموات.

kuburan dan mencela orang yang sudah meninggal dunia[52]. Takziyah

والتعزية مشروعة، وكذلك إهداء الطعام لأهل الميت.

disyariatkan[53], demikian juga mengirimkan makanan kepada keluarga yang

kematian[54].

 

[1] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu yang masyhur dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

حَقُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ المَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ العَاطِسِ

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 5 : menjawab salam, mengunjunginya ketika sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mengucapkan tasmiyah bagi orang yang bersin (Muttafaqun ‘alaih).

[2] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh dan Abu Sa’id al Khudri rodhiyallahu anhumaa dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Talqinlah orang yang hendak meninggal dengan : ‘Laa Ilaaha illallah’ (HR. Muslim).

[3] Tidak ada hadits yang shahih berkaitan dengan hal tersebut. Lihat pernyataan Imam Al Albani dalam Ahkamul Janaiz (point no. 15).

[4] Berdasarkan hadits Ummu Salamah rodhiyallahu anha beliau berkata :

دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ، فَأَغْمَضَهُ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam masuk mengunjungi Abu Salamah rodhiyallahu anhu yang telah wafat. Mata Abu Salamah rodhiyallahu anhu terbuka, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memejamkannya, lalu berkata : “sesungguhnya ruh ketika dicabut akan diikuti oleh pandangan” (HR. Muslim).

[5] Riwayat yang marfu’ dari Nabi sholallahu alaihi wa salam tidaklah shahih, namun terdapat amalan dari seorang sahabat yang bernama Ghudhoif rodhiyallahu anhu yang minta dibacakan surat Yasin ketika beliau hendak meninggal dunia. Riwayat disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dengan sanad hasan.

[6] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا، وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ، فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

Bersegeralah dalam pengurusan jenazah, jika itu adalah jenazah orang sholih, berarti hal tersebut adalah kebaikan yang kalian dahulukan, namun jika ia bukan orang yang sholih, maka berarti itu adalah kejelakan yang segera kalian angkat dari pundak-pundak kalian (Muttafaqun ‘Alaih).

[7] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

نَفْسُ المُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang Mukmin itu tergantung hutangnya sampai ia ditunaikan (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

[8] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ketika wafat ditutupi kain burdah hibaroh (Muttafaqun ‘Alaih).

[9] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mencium Utsman bin Madh’uun pada saat beliau wafat (HR. Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

[10] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ

Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabbnya (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syu’aib Arnauth).

Adapun bertaubat dan mengikhlaskan diri terhadap takdir Allah yang menimpanya, maka sangat banyak nash-nash yang secara umum memerintahkan hal tersebut.

[11] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara (Muttafaqun ‘Alaih).

[12] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا، فَأَدَّى فِيهِ الْأَمَانَةَ، وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “، قَالَ: ” لِيَلِهِ أَقْرَبُكُمْ مِنْهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ، فَإِنْ كَانَ لَا يَعْلَمُ فَمَنْ تَرَوْنَ أَنَّ عِنْدَهُ حَظًّا مِنْ وَرَعٍ وَأَمَانَةٍ

Barangsiapa yang memandikan jenazah, lalu ia menunaikan amanatnya dan tidak menceritakan apa yang terjadi selama proses pemandiannya, maka akan keluar semua dosanya sebagaimana ia dilahirkan oleh Ibunya. Hendaknya yang memandikan adalah yang paling dekat kekerabatannya jika ia mengetahui tatacara pemandiannya, jika tidak tahu, maka pilihlan orang yang dapat berpegang kuat dengan amanahnya (HR. Ahmad, namun haditsnya dhoif, didhoifkan oleh Syu’aib Arnauth).ang dekat kekerabatannyaan tidak menceritakan apa yang terjadi selama proses pemandiannya, maka a

[13] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah berkata kepadanya :

مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ

Apa yang menyusahkanmu, seandainya engkau mati sebelumku, maka aku akan mengurus jenazahmu, aku akan memandikanmu, mengkafanimu, mensholatimu dan menguburkanmu (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

[14] Berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَتِ ابْنَتُهُ، فَقَالَ: «اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam masuk ketika kami sedang mengurusi jenazah anak Beliau, lalu Beliau berkata : “mandikanlah sebanyak 3 kali, 5 kali, atau labih dari itu, jika kalian memandangnya demikian, mandikanlah dengan air dan daun bidara, dan basuhlah pada akhir bilasannya dengan kapur barus (Muttafaqun ‘alaih).

[15] Berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah rodhiyallahu anha dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الوُضُوءِ مِنْهَا

Mulailah dengan bagian kanan dan anggota wudhunya (Muttafaqun ‘Alaih).

[16] Berdasarkan hadits Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu tentang kisah syuhada Uhud, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

«أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ» وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ بِدِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا

Saya bersaksi (kesyahidan) mereka pada hari kiamat. Lalu Beliau memerintahkan mengubur mereka dengan darah-darah mereka, dan tidak disholati, serta tidak dimandikan (HR. Bukhori).

[17] Berdasarkan hadits Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ

Jika kalian mengkafani saudaranya, maka perbaguslah dalam mengkafaninya (HR. Muslim).

[18] Berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mengkafani (HR. Abu Dawud, dikatakan hasan lighoirihi oleh Syu’aib Arnauth).

[19] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلَى أُحُدٍ أَنْ يُنْزَعَ عَنْهُمُ الْحَدِيدُ وَالْجُلُودُ، وَأَنْ يُدْفَنُوا بِدِمَائِهِمْ وَثِيَابِهِمْ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkan syuhada Uhud untuk dilepas baju besi dan baju kulit mereka, dan agar dikubur dengan darah dan baju-baju mereka (HR. Abu Dawud, dikatakan hasan lighoirihi oleh Syu’aib Arnauth).

[20] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا أَجْمَرْتُمُ الْمَيِّتَ، فَأَجْمِرُوهُ ثَلَاثًا

Jika kalian hendak memberi wangian (dengan mengasapi) jenazah, maka lakukan sebanyak 3 kali (HR. Ahmad, dikatakan sanadnya kuat oleh Syu’aib Arnauth).

[21] Wajibnya adalah fardhu kifayah, karena tidak semua jenazah yang ada pada masa Nabi sholallahu alaihi wa salam, Beliau mensholati semuanya, misalnya hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

مَاتَ إِنْسَانٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَمَاتَ بِاللَّيْلِ، فَدَفَنُوهُ لَيْلًا، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَخْبَرُوهُ، فَقَالَ: «مَا مَنَعَكُمْ أَنْ تُعْلِمُونِي؟» قَالُوا: كَانَ اللَّيْلُ فَكَرِهْنَا، وَكَانَتْ ظُلْمَةٌ أَنْ نَشُقَّ عَلَيْكَ فَأَتَى قَبْرَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ

Seorang meninggal dunia dan sebelumnya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sudah mengunjunginya (pada saat jenazah masih sakit), kemudian ia meninggal di malam hari, maka orang-orang pun mengebumikannya pada malam hari. Keesokan harinya mereka memberitahu Nabi sholallahu alaihi wa salam, maka Beliau bersabda : “apa yang menghalangi kalian untuk memberitahuku?”, mereka menjawab : “ia wafat pada malam hari dan malam sangat gelap, kami khawatir akan memberatkanmu”. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam mendatangi kuburannya dan mensholatinya (HR. Bukhori).

[22] Berdasarkan hadits Abu Ghoolib al-Khiyaath beliau berkata :

شَهِدْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ، فَقَامَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَلَمَّا رُفِعَتْ أُتِيَ بِجِنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ أَوْ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقِيلَ لَهُ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، هَذِهِ جِنَازَةُ فُلَانَةَ ابْنَةِ فُلَانٍ، فَصَلِّ عَلَيْهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا، فَقَامَ وَسَطَهَا وَفِينَا الْعَلَاءُ بْنُ زِيَادٍ الْعَدَوِيُّ، فَلَمَّا رَأَى اخْتِلَافَ قِيَامِهِ عَلَى الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، قَالَ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يصنع يَقُومُ مِنَ الرَّجُلِ حَيْثُ قُمْتَ، وَمِنَ الْمَرْأَةِ حَيْثُ قُمْتَ؟ قَالَ: ” نَعَمْ ” قَالَ: فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا الْعَلَاءُ فَقَالَ: احْفَظُوا

Aku menyaksikan Anas bin Malik rodhiyallahu anhu mensholati jenazah seorang laki-laki, maka beliau rodhiyallahu anhu berdiri di sisi kepalanya, ketika jenazah tersebut diangkat, kemudian didatangkan jenazah seorang wanita dari Quraisy atau dari Anshor, maka ditanyakan kepada beliau : “wahai Abu Hamazah ini adalah Fulanah bin Fulan, sholatilah jenazah ini”. Lalu beliau pun mensholatinya, dan berdiri di tengahnya. Diantaran jama’ah terdapat al-‘Alaa` bin Ziyaad al-‘Adawiyy, maka ketika beliau melihat ada perbedaan berdirinya Anas rodhiyallahu anhu terhadap laki-laki dan wanita, beliau berkata : “wahai Abu Hamzah, demikiankah yang dilakukan oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ketika berdiri terhadap jenazah laki-laki dan wanita?”. Beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “iya”. Maka al-‘Alaa` berkata sambil menoleh kepada kami : “hapalkanlah ini” (HR. Ahmad, dengan sanad yang dishahihkan oleh Syu’aib Arnauth).

[23] Sholat jenazah dilaksanakan dengan berdiri, tidak ada ruku’, I’tidal, dan Sujud. Dilaksanakan dengan takbir sebanyak 4 kali, atau 5 kali, atau 6 kali, atau 7 kali, atau 9 kali.

Adapun takbir 4 kali berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي اليَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى المُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ، وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengumumkan kematian Najasyi rodhiyallahu anhu pada hari wafatnya, lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam keluar menuju tanah lapang, lalu mengatur shaf para sahabat. Beliau bertakbir sebanyak 4 kali takbir (Muttafaqun ‘Alaih).

Takbir sebanyak 5 kali berdasarkan hadits Abdur Rokhman bin Abi Laila beliau berkata :

كَانَ زَيْدٌ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا، وَإِنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ خَمْسًا، فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُهَا»

Zaid bin Arqom rodhiyallahu anhu biasanya bertakbir pada sholat jenazah sebanyak 4 kali, dan beliau sungguh pernah bertakbir sebanyak 5 kali, lalu aku bertanya kepadanya, beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam biasa bertakbir (sebanyak 5 kali) (HR. Muslim).

Takbir sebanyak 6 kali berdasarkan hadits Ali rodhiyallahu anhu bahwa beliau :

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ سِتًّا , وَعَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ خَمْسًا وَعَلَى سَائِرِ النَّاسِ أَرْبَعًا

Bertakbir untuk para veteran perang Badar sebanyak 6 kali, kepada para sahabat Nabi lainnya sebanyak 5 kali dan orang lain sebanyak 4 kali (HR. Daruquthni, dishahihkan oleh Al Albani).

Takbir sebanyak 7 kali berdasarkan hadits Ali rodhiyallahu anhu :

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ صَلَّى عَلَى أَبِي قَتَادَةَ فَكَبَّرَ عَلَيْهِ سَبْعًا وَكَانَ بَدْرِيًّا

Ali rodhiyallahu anhu mensholati Abu Qotadah rodhiyallahu anhu sebanyak 7 kali takbir, dan Abu Qotadah rodhiyallahu anhu adalah veteran perang Badar (HR. Baihaqi dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

Takbir sebanyak 9 kali berdasarkan hadits Abdullah bin Zubair rodhiyallahu anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ يَوْمَ أُحُدٍ بِحَمْزَةَ فَسُجِّيَ بِبُرْدِهِ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهِ , فَكَبَّرَ تِسْعَ تَكْبِيرَاتٍ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkan pada hari Uhud untuk membentangkan kain Burdah diatas jenazah Hamzah rodhiyallahu anhu, lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam mensholatinya dengan bertakbir sebanyak 9 kali (HR. Thahawi dalam Syarah Ma’aanil Atsar, dihasankan oleh Al Albani).

Namun banyak ulama yang merokemandasikan takbir sholat jenazah sebanyak 4 kali.

[24] Berdasarkan hadits Tholhah bin Abdullah bin ‘Auf beliau berkata :

صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: «سُنَّةٌ وَحَقٌّ»

Aku pernah sholat jenazah dibelakang Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, beliau membaca Al Fatihah dan Surat dengan Jahr, hingga kami pun mendengar bacaannya. Ketika selesai, aku memegang tangan beliau, lalu akupun menanyakan hal tersebut, maka beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “itu adalah sunnah dan haq” (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani).

[25] Berdasarkan hadits Abu Umamah bin Sahl rodhiyallahu anhu :

أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ السُّنَّةَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الْإِمَامُ ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى سِرًّا فِي نَفْسِهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَخْلُصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِي التَّكْبِيرَاتِ، لَا يَقْرَأُ فِي شَيْءٍ مِنْهُنَّ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِي نَفْسِهِ

Bahwasanya salah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam mengabarinya bahwa yang sunah dalam sholat jenazah adalah Imam bertakbir, lalu membaca surat Al Fatihah setelah takbir pertama dengan bacaan pelan, lalu bersholawat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam (pada takbir kedua –pent.) dan mengikhlaskan doa untuk jenazah (pada sisa) takbirnya. Tidak ada bacaaan sedikit pun padanya, kemudian salam secara pelan (pada takbir terakhir –pent.) (HR. Syafi’i, dishahihkan oleh Al Albani).

Adapun doanya telah datang riwayat dari Nabi sholallahu alaihi wa salam sebagai berikut :

Hadits ‘Auf bin Maalik rodhiyallahu anhu beliau berkata :

صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ: «اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ – أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ -» قَالَ: «حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الْمَيِّتَ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sholat jenazah, dan aku hapal diantara doa yang Beliau ucapkan yaitu : “Ya Allah ampunilah si mayit, rahmatilah, ampunilah, muliakan tempatnya, luaskanlah kuburannya, basuhlah dengan air, salju dan es, bersihkanlah dari kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran, gantikan tempal tinggalnya dengan yang lebih bagus, keluarganya dengan yang lebih baik, istrinya dengan yang lebih baik, masukanlah kedalam surga, lindungilah dari adzab kubur –atau adzab neraka-.

‘Auf bin Malik rodhiyallahu anhu berkata : “sampai-sampai aku berangan-angan bahwa akulah jenazah tersebut” (HR. Muslim).

Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا، وَمَيِّتِنَا، وَصَغِيرِنَا، وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sholat jenazah lalu Beliau berdoa : “Ya Allah, ampunilah orang yang hidup diantara kami, orang yang mati, anak kecil, orang tua, laki-laki, perempuan, yang hadir, dan yang tidak hadir. Ya Allah barangsiapa yang hidup diantara kami, maka hidupkanlah diatas iman, dan barangsiapa yang wafat diantara kami, maka wafatkanlah diatas Islam. Ya Allah jangan haramkan kami mendapatkan pahala, dan jangan sesatkan kami setelah (mendapat petunjuk) (HR. Ashabus Sunah, dishahihkan Al Albani).

[26] Berdasarkan hadits Zaid bin Khoolid al-Juhaaniy rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذَلِكَ، فَقَالَ: «إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ لَا يُسَاوِي دِرْهَمَيْنِ

Seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam wafat pada waktu perang Khaibar, lalu orang-orang pun mengabari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, namun Beliau berkata : “sholatilah sahabat kalian”. Maka orang-orang pun berubah wajahnya, sehingga Nabi sholallahu alaihi wa salam pun berkata : “sesungguhnya sahabat kalian melakukan ghulul (korupsi) harta sabilillah”. Maka kami pun memeriksa hartanya, dan kami dapati ia mengambil marjan bekas orang Yahudi, yang harganya sekitar 2 dirhaman (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, dan selainnya, dikatakan Syu’aib Arnauth sanadnya mungkin dihasankan).

[27] Berdasarkan hadits Jaabir bin Samurah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

Didatangkan seorang laki-laki kehadapan Nabi sholallahu alaihi wa salam. Laki-laki tersebut mati bunuh diri dengan anak panah, maka Beliau tidak mau mensholatinya (HR. Muslim).

[28] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat At Taubah ayat ke-84 :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

[29] Berdasarkan hadits Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu beliau menyebutkan bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam :

وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

Memerintahkan menguburkan (syuhada Uhud) dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan tidak disholati (HR. Bukhori).

[30] Telah berlalu haditsnya.

[31] Berdasarkan hadits Mahmuud bin Labiid rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَسْرَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَقَطَّعَتْ نِعَالُنَا يَوْمَ مَاتَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

Nabi sholallahu alaihi wa salam membawa jenazah Sa’ad bin Mu’adz rodhiyallahu anhu dengan cepat, sampai-sampai sandal-sandal kami banyak yang putus (HR. Bukhori dalam Tarikhnya dengan sanad yang dihasankan oleh Ali Hasan).

[32] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ

Barangsiapa yang mengiringi jenazah seorang Muslim dengan keimanan dan mengharap pahala, ia mengiringinya hingga mensholatinya dan sampai mengantarkan pekuburannya, maka ia akan kembali dengan membawa 2 qiroth pahala, setiap qiroth sebesar gunung Uhud. Barangsiapa yang hanya sampai mensholatinya kemudian ia kembali sebelum dikuburkan maka ia hanya membawa pahala 1 qiroth (HR. Bukhori).

[33] Berdasarkan hadits Abu Said al-Khudri rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

إِذَا وُضِعَتِ الجِنَازَةُ ، وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً، قَالَتْ: قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ، قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الإِنْسَانَ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ

Jika jenazah diletakkan dan dibawa diatas pundak orang-orang, jika ia orang sholih, maka akan berkata : “cepat bawa aku”. Namun jika bukan orang sholih akan berkata : “celakalah, kemana kalian akan membawaku?”. Suaranya akan didengar oleh seluruh makhluk, kecuali manusia, jika manusia mendengar, pasti mereka akan pingsan (HR. Bukhori).

[34] Berdasarkan hadits Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ، وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا، وَأَمَامَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا

Orang yang berkendaraan berjalan dibelakang jenazah, sedangkan yang jalan kaki berjalan dibelakangnya, didepan, disamping kanan dan kirinya mendekat kepada jenazah (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Al Albani).

[35] Berdasarkan hadits Tsauban rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُتِيَ بِدَابَّةٍ وَهُوَ مَعَ الْجَنَازَةِ فَأَبَى أَنْ يَرْكَبَهَا، فَلَمَّا انْصَرَفَ أُتِيَ بِدَابَّةٍ فَرَكِبَ، فَقِيلَ لَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمَلَائِكَةَ كَانَتْ تَمْشِي، فَلَمْ أَكُنْ لِأَرْكَبَ وَهُمْ يَمْشُونَ، فَلَمَّا ذَهَبُوا رَكِبْتُ»

Bahwa didatangkan binatang tunggangan kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada saat Beliau hendak mengiringi jenazah, namun Beliau enggan untuk menaikinya. Ketika proses penguburan selesai, didatangkan binatang tunggangan kepada Beliau dan Beliau pun menaikinya, ketika ditanyakan berkaitan hal tersebut, Beliau menjawab : “sesungguhnya malaikat tadi berjalan, maka aku tidak mau berkendaraan sedangkan mereka berjalan, ketika mereka selesai, maka aku pun mau menunggangi kendaraan (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani).

[36] Berdasarkan hadits Khudzaifah ibnul Yaman rodhiyallahu anhu beliau berkata :

فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ

Aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang Na’iy (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh Al Albani).

[37] Berdasarkan hadits Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

المَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

Mayit disiksa dalam kuburnya karena niyahah keluarganya (Muttafaqun ‘alaih).

[38] Berdasarkan hadits Abu Burdah beliau berkata :

أَوْصَى أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ حِينَ حَضَرَهُ الْمَوْتُ، فَقَالَ: ” لَا تُتْبِعُونِي بِمِجْمَرٍ، قَالُوا لَهُ: أَوَسَمِعْتَ فِيهِ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “

Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallahu anhu berwasiat ketika datang ajalnya : “janganlah kalian iringi jenazahku dengan obor!”. Mereka pun bertanya : ‘apakah engkau mendengar hal tersebut dari Rasulullah?’, beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “betul, dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

[39] Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Bukanlah termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipinya, merobek-robek bajunya dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (Muttafaqun ‘Alaih).

[40] Berdasarkan hadits Abu Said al-Khudriy rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى تُوضَعَ

Jika kalian melihat jenazah maka berdirilah, barangsiapa yang mengikuti jenazah, janganlah ia duduk sampai jenazah tersebut diletakkan di kuburannya (HR. Muslim).

[41] Berdasarkan hadits Ali rodhiyallahu anhu beliau berkata :

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْجِنَازَةَ، فَقُمْنَا: ثُمَّ جَلَسَ، فَجَلَسْنَا

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berdiri untuk (menghormati) jenazah, maka kami pun ikut beridri, kemudian Beliau duduk (tidak lagi berdiri), maka kami pun ikut duduk (HR. Muslim).

[42] Berdasarkan hadit Anas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

لَمَّا تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بِالْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَلْحَدُ، وَآخَرُ يَضْرَحُ، فَقَالُوا: نَسْتَخِيرُ رَبَّنَا، وَنَبْعَثُ إِلَيْهِمَا، فَأَيُّهُمَا سُبِقَ تَرَكْنَاهُ، فَأُرْسِلَ إِلَيْهِمَا، فَسَبَقَ صَاحِبُ اللَّحْدِ «فَلَحَدُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam wafat ada orang yang biasa menggali kuburan dengan lahad dan ada yang dengan dhorh. Para sahabat berkata : “kita serahkan pilihannya kepada Rabb kita, maka disuruh mereka berdua untuk membuat lubang kuburan, siapa yang lebih dahulu menyelesaikannya itulah yang dipilih, dan ternyata yang lebih dahulu adalah tukang penggali kuburan lahad, sehingga Nabi sholallahu alaihi wa salam pun dikuburkan dengan Lahad (HR. Ibnu Majah, dikatakan hasan shahih oleh Al Albani).

[43] Berdasarkan hadits Abu Ishaq beliau berkata :

أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، ” فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرِ، وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ “

Al-Haarits berwasiat agar disholati oleh Abdullah bin Zaid rodhiyallahu anhu, maka beliau rodhiyallahu anhu pun mensholatinya, lalu memasukkan jeazahnya dari arah kaki kuburannya, beliau berkata : “ini adalah sunnah” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al Albani).

[44] Berdasarkan kebiasaan yang berlaku dari zaman Nabi sholallahu alaihi wa salam sampai sekarang (Ahkamul Janaiz hal. 151).

[45] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا»

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mensholati jenazah lalu mendatangi kuburannya, kemudian Beliau menaburkan debu disisi kepalanya sebanyak 3 kali (HR. Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

[46] Berdasarkan hadits Abul Hayyaaj al-Asadiy beliau berkata :

قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

Ali rodhiyallahu anhu berkata kepadaku : “ingatlah engkau kuutus sebagaimana Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dulu mengutusku, yaitu jangan engkau biarkan patung kecuali engkau hancurkan dan tidak pula kuburan, kecuali engkau ratakan (HR. Muslim).

[47] Berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ

Sesungguhnya aku dulu melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena hal tersebut dapat mengingat akhirat (HR. Ahmad, dikatakan shahih lighoirihi oleh Syu’aib Arnauth).

[48] Berdasarkan hadits Baroo` bin Azib rodhiyallahu anhu beliau berkata :

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ، وَلَمْ يُلْحَدْ بَعْدُ فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَجَلَسْنَا مَعَهُ

Kami keluar bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengantarkan jenazah seorang Anshor, lalu kami sampai di pekuburan, ternyata liang lahadnya belum selesai digali, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam duduk menghadap kiblat, kami pun duduk bersama Beliu (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

[49] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu dan selainnya bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Laknat Allah kepada Yahudi dan Nashroni yang menjadikan kuburan para Nabinya sebagai masjid (Muttafaqun ‘Alaih).

[50] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu beliau berkata :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang untuk mengapur kuburan, duduk diatasnya dan membangun bangunan diatasnya (HR. Muslim).

[51] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ القُبُورِ، وَالمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا المَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melaknat wanita yang berziarah kubur, orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dan yang memasang lampu di pekuburan (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan Tirmidzi).

[52] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

Janganlah kalian mencela orang yang sudah mati, karena ia sudah mendapatkan apa yang ia kerjakan (HR. Bukhori).

[53] Berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu anhu secara marfu’ :

مَنْ عَزَّى أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ مِنْ مُصِيبَةٍ كَسَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُلَّةً يُحْبَرُ بِهَا» قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: مَا يُحْبَرُ بِهَا؟ قَالَ: «يُغْبَطَ بِهَا»

Barangsiapa yang bertakziah kepada saudaranya yang mukmin karena musibah yang menimpanya, maka Allah akan pakaikan perhiasan pada hari kiamat yang akan membuatnya bergembira (HR. Baihaqi dalam al-Adab, Thabrani dalam ad-Duaa`, dengan sanad yang dihasankan oleh Al Albani).

[54] Berdasarkan hadits Abdullah bin Ja’far rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ

Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa perkara yang menyibukannya (pengurusan jenazahnya) (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh Al Albani).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: