DURORUL BAHIYYAH : 4C. ZAKAT PERTANIAN

February 19, 2016 at 11:57 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

4C. Zakat Pertanian

 

(باب زكاة النّبات)

يجب العشر في الحنطة، والشعير، والذرة، والتمر، والزبيب؛

Wajib berzakat 10%[1] untuk gandum, selai, Jagung, Kurma, dan Anggur

وما كان يُسقى بالمسنيِّ منها؛

Kering (Kismis)[2]. Jika disirami tanaman tersebut dengan kincir Air (atau yang

ففيه نصف العشر، ونصابها خمسة أوسق،

sejenisnya –pent.), maka zakatnya 5%. Nishob zakatnya adalah 5 Wasaq[3].

ولا شيء فيما عدا ذلك، كالخضروات وغيرها،

Tidak ada zakat selain dari 5 tanaman diatas, seperti sayur-sayuran dan

ويجب في العسل العشر.

semisalnya[4]. Wajib zakat 10% untuk madu[5]. Boleh untuk menyegerakan

ويجوز تعجيل الزكاة،

membayar zakat[6]. Wajib bagi Imam untuk mengambil zakat dari orang-orang

وعلى الإمام أن يرد صدقات أغنياء كل محل في فقرائهم،

kaya sesuai dengan yang diwajibkan kepada mereka, yang kemudian

ويبرأ رب المال بدفعها إلى السلطان – وإن كان جائراً -.

disalurkan kepada orang-orang fakir[7]. Pemilik harta (yang wajib zakat) yang

telah menyetorkan zakatnya kepada penguasa –sekalipun penguasanya

jahat-, berarti telah terbebas beban kewajiban zakat padanya[8].

 

[1] Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam :

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْرِ

Tanaman yang disirami dengan air hujan, atau mata air, atau dari Blumbang (bs. Jawa –pent.) maka zakatnya adalah 1/10 (10%), sedangkan tanaman yang disirami dengan penyiraman (seperti menggunakan alat bantu, misal pompa air dll –pent.), maka zakatnya 5% (HR. Bukhori).

[2] Berdasarkan hadits Abu Burdah :

عَنْ أَبِي مُوسَى , وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ , حِينَ بَعَثَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ يُعَلِّمَانِ النَّاسَ أَمْرَ دِينِهِمْ: ” لَا تَأْخُذُوا الصَّدَقَةَ إِلَّا مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ: الشَّعِيرِ وَالْحِنْطَةِ وَالزَّبِيبِ وَالتَّمْرِ “

Dari Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ketika mereka berdua diutus Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ke negeri Yaman untuk mengajari penduduk disana perkara agama mereka yaitu : “janganlah kalian mengambil zakat (pertanian) kecuali 4 hal berikut : “Selai, Gandum, Kismis dan Kurma (HR. Daruquthni, dishahihkan oleh Al Hakim, adz-Dzahabi, dan Al Albani).

Adapun untuk Jagung berdasarkan hadits berikut :

  1. Dari Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya, beliau berkata :

إِنَّمَا سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فِي هَذِهِ الْخَمْسَةِ: فِي الْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالذُّرَةِ

Sesungguhnya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mensyariatkan zakat pada 5 tanaman berikut : Gandum, Selai, Kurma, Kismis, dan Jagung (HR. Ibnu Majah, didhoifkan oleh Al Albani).

  1. Dari Mujahid beliau berkata :

لَمْ تَكُنِ الصَّدَقَةُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا فِي خَمْسَةِ أَشْيَاءَ: الْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالذُّرَةِ

Senantiasa zakat tanaman pada zaman Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, tidak lebih dari 5 jenis tanaman berikut : Gandum, Selai, Kurma, Kismis, dan Jagung (hadits ini bersama kemursalannya juga sanadnya dhoif, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al Albani).

  1. Dari Al Hasan al-Bashri dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau berkata :

” لَمْ يَفْرِضْ إِلَّا فِي عَشْرَةِ أَشْيَاءَ: الْإِبِلِ، وَالْبَقَرِ، وَالْغَنَمِ، وَالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ، وَالزَّبِيبِ قَالَ: ابْنُ عُيَيْنَةَ أُرَاهُ قَالَ: وَالذُّرَةِ،

Tidak diwajibkan zakat kecuali dari 10 hal berikut : Unta, Sapi, Kambing, Emas, Perak, Gandum, Selai, Kurma, Kismis. Ibnu Ubaid berkata : ‘aku kira Beliau mengatakan Jagung’ hadits ini bersama kemursalannya juga sanadnya dhoif, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al Albani).

Lihat penjelasan rinci Imam Al Albani dalam Tamaamul Minah (hal 369-372).

[3] Berdasarkan hadits Abu Said al-Khudri rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam :

لَيْسَ فِيمَا أَقَلُّ مِنْ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

Tidak ada zakat dibawah 5 wasaq (Muttafaqun ‘Alaih).

S wasaq setara dengan 825.3 Kg (Taliq Musnad Ahmad oleh Syu’aib Arnauth (15/121)).

[4] Berdasarkan hadits Mu’adz rodhiyallahu anhu :

أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ عَنِ الخَضْرَاوَاتِ وَهِيَ البُقُولُ؟ فَقَالَ: «لَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ»

Beliau menulis surat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam bertanya tentang zakatnya sayur-mayur, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “tidak ada zakat padanya” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

[5] Berdasarkan hadits ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya dari Nabi sholallahu alaihi wa salam :

أَنَّهُ أَخَذَ مِنَ الْعَسَلِ الْعُشْرَ

Nabi sholallahu alaihi wa salam mengambil zakat 10% dari Madu (HR. Ibnu Majah, dikatakan Al Albani Hasan Shahih).

Nisobnya adalah 5 wasaq (DR. Hisamuddin ‘Afanah dalam Fatawa Yas’alunak (7/91)).

[6] Berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ، فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ»، قَالَ مَرَّةً: فَأَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ،

Al-‘Abbas bin Abdil Mutholib rodhiyallahu anhu bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam terkait menyegerakan zakat sebelum jatuh tempo (haulnya), untuk memudahkannya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam mengizinkannya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh Al Albani).

[7] Berdasarkan hadits Mu’ad bin Jabal rodhiyallahu anhu ketika beliau diutus Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ke Yaman, diantara pesannya adalah :

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Lalu ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kayanya, yang kemudian disalurkan kepada orang-orang Fakirnya (Muttafaqun ‘Alaih).

[8] Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

«سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ»

Kelak akan datang pemimpin yang lebih mementingkan harta yang menjadi haknya dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?”. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menjawab : “tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka, dan mintalah hak kalian kepada Allah” (Muttafaqun ‘Alaih).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: