TAFSIR SURAT AN NABAA` AYAT 17 – 20

February 20, 2016 at 11:59 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR SURAT AN NABAA’

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا (18) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا (19) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا (20)

Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.

يَوْمَ الْفَصْلِ”, (hari kepurtusan) yaitu hari kiamat sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَذَا يَوْمُ الدِّينِ (20) هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (21) احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22) مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ (23) وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ (24)

Dan mereka berkata:”Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya. (kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya (QS. Ash Shaffaat : 20-24).

Imam Qotadah mengatakan bahwa Yaumul Fash adalah :

وهو يوم عظَّمه الله، يفصِل الله فيه بين الأوّلين والآخرين بأعمالهم

Yaitu hari yang Allah mengagungkannya, Allah memutuskan diantara hambanya yang pertama dan yang terakhir terhadap amalan-amalan yang mereka kerjakan[1].

مِيقَاتًا” (waktu yang ditetapkan), yakni waktu untuk menetapkan berkumpulnya mereka semua dan waktu pemberian ganjaran dan siksa[2].

يَوْمَ” (yaitu hari), ini adalah sebagai badal atau athof bayan dari Yaumal Fashli pada ayat sebelumnya[3]. “يُنْفَخُ فِي الصُّورِ” (ditiupkan Sangkakala pada hari itu), telah masyhur bahwa yang meniupkan Sangkakala adalah malaikat Isrofil alaihi salam berdasarkan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

وقد أُمِرَ إذا رأى إسرافيلُ قد ضم جناحَه أن ينفخَ فى الصور

..sungguh ia telah diperintahkan, yang mana terlihat Isrofiil telah mengumpulkan sayapnya untuk meniup Shuwar (tanduk/sangkakala)”. (HR. Thobroni dalam “Al Ausath”, dihasankan oleh Imam Al Mundziri dan Imam Al Haitsamiy).

Dalam riwayat Musnad Imam Ahmad yang dishahihkan oleh Syaikh Arnauth, Malaikat Israfiil telah bersiap-siap memegang sangkakala menunggu perintah untuk meniupkannya. Nabi r bersabda :

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ، وَأَصْغَى السَّمْعَ مَتَى يُؤْمَرُ “، قَالَ: فَسَمِعَ ذَلِكَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُولُوا: ” حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ “

Bagaimana aku bisa bersenang-senang sedangkan pemegang tanduk/sangkakala (maksudnya Isrofiil u) telah memegang sangkakala bersiap-siap (meniupnya) dan penuh konsentrasi pendengarannya menunggu kapan diperintahkan (meniupkannya). Kemudian setelah para sahabat mendengar hal ini, mereka pun merasa ketakutan, lalu Rasulullah r bersabda : “Katakanlah, ‘cukuplah Allah I sebagai pelindung dan Dia sebaik-baik pelindung.

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa kali Malaikat Isrofil alaihi salam meniup Sangkakala, ada 2 pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa Malaikat Isrofil alaihi salam meniup Sangkakala sebanyak 3 kali, mereka berdalil dengan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إن الله عز وجل لما فرغ من خلق السماوات خلق الصور فأعطاه إسرافيل فهو واضعه على فيه شاخصا بصره إلى العرش ينتظر متى يؤمر ، ينفخ فيه ثلاث نفخات : الأولى نفخة الفزع ، والثانية نفخة الصعق ، والثالثة نفخة القيام لرب العالمين

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika selesai menciptakan langit-langit, Dia menciptakan sangkakala, lalu diberikan kepada Malaikat Isroofiil u dan ia u meletakkannya di mulutnya sambil pandangannya mengarah ke arsy, menunggu kapan diperintahkan (untuk meniupnya). Ia u akan meniupnya sebanyak 3 kali : yang pertama tiupan yang menggetarkan, yang kedua tiupan yang menakutkan dan yang ketiga tiupan yang membangkitkan manusia menuju Robb semesta alam…”. (HR. Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya dan selainnya)

Pendapat kedua mengatakan bahwa tiupan ini tejadi sebanyak 2 kali, mereka berdalil dengan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. (QS. Az Zumar (39) : 68)

Hal ini juga diperkuat dengan sabda Nabi r dari Abu Huroiroh t :

« مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ » . قَالَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا قَالَ أَبَيْتُ . قَالَ أَرْبَعُونَ شَهْرًا قَالَ أَبَيْتُ . قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ . قَالَ « ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً . فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

“diantara dua tiupan terdapat masa 40. Para sahabatnya bertanya, apakah 40 hari (wahai Abu Huroiroh)? Beliau t menjawab : “aku enggan menjawabnya”. Tanya mereka lagi, apakah 40 bulan?. Jawabnya : “aku enggan menjawabnya”. Kemudian Nabi r bersabda : “lalu Allah I menurunkan hujan dari langit, lalu tumbuhlah sebagaimana air hujan menumbuhkan sayur-sayuran. Tidak ada yang tersisa pada diri manusia sedikit pun kecuali tulang ekornya. Darinyalah Allah I membentuknya kembali pada hari kiamat”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Namun pendapat yang rajih adalah bahwa tiupan sangkakala sebanyak 2 kali, karena riwayat yang menyebutkan 3 kali tidak dapat dijadikan hujjah.

فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا” (lalu kalian datang berkelompok-kelompok), Imam Mujahid menafsirkan Afwaajaan dengan Zumaroon Zumaroon (berkelompok berkelompok)[4]. Peristiwa ini terjadi setelah Malaikat Isrofil alaihi salam meniupkan Sangkakala yang kedua kalinya, sebagaimana dalam hadits diatas. Dikatakan juga bahwa nanti mereka akan datang setelah tiupan Sangkakala yang kedua dengan para Nabi dan Rasulnya masing-masing, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya (QS. Al Israa` : 71)[5].

وَفُتِحَتِ” (dan dibukalah), ada yang membaca huruf “ta” dengan tasydid “wa futtihat”, ini adalah qiroahnya Imam Ibnu Katsiir, Naafi, Abu ‘Amr dan ibnu ‘Aamir, serta Imam Abu Bakar (diluar qiroah sab’ah). Dibaca tasydid sesui dengan Firman Allah :

جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ

(yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka (QS. Shaad : 50).

Sedangkan Imam ‘Aashim, Hamzah dan al-Kisaa`i membacanya tanpa tasydid “wa futihat”, ini sesuai dengan Firman-Nya :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka (QS. Al An’aam : 44)[6].

فَكَانَتْ أَبْوَابًا” (maka terdapatlah beberapa pintu), yaitu yang akan menjadi jalan bagi Malaikat yang akan turun ke bumi[7]. Telah tsabit juga dari as-Sunah bahwa langit memiliki pintu-pintu dan pada kondisi tertentu ia akan terbuka, misalnya hadits Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu dimana beliau pernah berkata :

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنَ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟» قَالَ رَجُلٌ مَنِ الْقَوْمِ: أَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ» قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ»

Ketika kami sedang sholat bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, ada salah seorang yang berdoa (dalam iftitah) : “Allah Maha Besar dengan Sebesar-besarnya, dan segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah pada waktu pagi dan sore”. Maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “siapa orang yang berdoa seperti tadi?”, lalu orang tersebut berkata : “saya, wahai Rasulullah”. Beliau sholallahu alaihi wa salam menjawab : “aku kagum dengan doa tersebut, sehingga pintu-pintu langit terbuka karenannya”.

Ibnu Umar rodhiyallahu anhu berkata : “aku sama sekali tidak pernah meninggalkan membaca doa iftitah tersebut, semenjak aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengucapkan hal tersebut” (HR. Muslim).

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ” (dan dijalankanlah gunung-gunung), bentuk berjalannya gunung adalah seperti Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan (QS. An Naml : 88).

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan (QS. Al Qoori’ah : 5).[8]

Fakhruddiin ar-Roozi merinci bahwa kondisi gunung ketika terjadinya hari kiamat ada 3 fase/tahap, yang pertama adalah saling berbenturan, sebagaimana Firman-Nya :

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبالُ فَدُكَّتا دَكَّةً واحِدَةً

dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur (QS. Al Haqqooh : 14).

Tahapan yang kedua, gunung-gunung beterbangan seperti bulu-bulu yang dihamburkan sebagaimana dalam surat Al Qori’ah diatas, kemudian tahapan yang ketiga gunung benar-benar hancur lebur, sebagaimana Firman-Nya :

إِذا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا وَبُسَّتِ الْجِبالُ بَسًّا فَكانَتْ هَباءً مُنْبَثًّا

apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan (QS. Al Waqi’ah : 4-6)[9].

فَكَانَتْ سَرَابًا” (maka menjadi fatamorganalah ia), yakni orang yang memandang dari jauh melihat seperti ada air, namum ketika didekati ternyata tidak ada apa-apanya, fenomena ini disebut dengan fatamorgana. Sehingga ketika gunung-gunung tersebut dihancurkan maka akan terlihat seperti fatamorgana, sebagaimana Firman-Nya :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلا أَمْتًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi (QS. Thaha : 105-107).

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الأرْضَ بَارِزَةً

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar (QS. Al Kahfi : 47)[10].

Imam al-Mawardi mengatakan bahwa gunung-gunung yang dijalankan tersebut akan terlihat seperti debu atau fatamorgana yang dari jauh terlihat ada air, namun sebenarnya tidak ada air sama sekali[11].

 

Faedah ayat ke-17 sampai 20 :

  1. Ayat-ayat diatas adalah sebagian gambaran terjadinya hari kiamat yang merupakan peristiwa yang sangat besar, dimana pada hari itu sudah tidak ada lagi alam dunia dan alam barzakh, dan berganti dengan alam akhirat yang kekal abadi.
  2. Seorang Muslim harus benar-benar yakin bahwa hari kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi dan ini adalah salah satu rukun Iman yang harus ada pada setiap diri yang mengaku beriman kepada Allah, Rabbnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ

dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi (QS. Adz Dzariyaat : 6).

  1. Ayat-ayat diatas semestinya memacu kita untuk giat beramal sebagai bekal persiapan menghadapi hari pembalasan, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada Allah, sebagaimana Firman-Nya :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al Baqoroh : 197).

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki Kekuasaan yang Maha Kuasa, apabila Dia berkehendak maka tidak ada yang mampu menghalangi, hancurnya dunia ini sangat mudah disisi Allah. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan disisi Allah dibandingkan membunuh seorang Muslim (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al Albani).

 

[1] Tafsir at-Thabari (24/157).

[2] Tafsir al-Mawardiy (6/185).

[3] Tafsir al-Baidhowi (5/279).

[4] Tafsir ath-Thabari (24/158).

[5] Opcit.

[6] Al-Hujjah lil Quroo`i as-Sab’ah (6/368), karya al-Hasan bin Ahmad al-Faarisiy (w. 377 H); lihat juga al-Mabshuut fiil Qiroo`atil ‘Asyr (hal. 458) karya Imam ibnu Mihroon an-Naisaaburiy (w. 381 H);

[7] Tafsir as-Sam’aniy (6/138); tafsir Ibnu Katsiir (8/305) dll.

[8] Tafsir Ibnu Katsir (8/305).

[9] Mafaatihul Ghoib (31/13-14).

[10] Tafsir Ibnu Katsir (8/305).

[11] Tafsir al-Mawardi (6/195).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: