PERJALANAN ILMIAH IMAM ABUL HASAN AL ASY’ARI (5)

February 21, 2016 at 11:52 am | Posted in Siroh | Leave a comment

E. Imam Abul Hasan Merealisasikan Taubatnya dalam Bentuk Menjelaskan Kesesatan Sekte Mu’tazilah

 

Taubat menurut sebagian ulama tidak cukup hanya dengan sekedar mengatakan : “saya telah bertaubat”, sampai ia merealisasikan perkara yang kedua yang menyelisihi kondisi pertamanya. Jika ia tadinya murtad, lalu kembali masuk Islam maka ia harus menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dalam kehidupannya; jika ia sebelumnya adalah tukang maksiat, maka harus nampak sekarang padanya amalan-amalan sholih. Begitu juga komunitasnya, jika sebelumnya ia larut dalam komunitas penyembah berhala atau kuburan, maka ia sekarang bergabung dengan komunitas ahli tauhid dan orang-orang yang memerangi kesyirikan, dan seterusnya dimana kondisinya sekarang telah berubah dari kondisi sebelum ia bertaubat[1].

Berdasarkan ini maka seorang yang tadinya terjerumus kedalam sekte-sekte aliran sesat, ketika ia bertaubat, maka ia harus meninggalkan komunitas sekte-sekte tersebut dan bergabung dengan komunitas ahlus sunnah wal jama’ah, orang-orang yang mencintai sunah dan menjauhi bid’ah. Namun apabila ia dulunya termasuk tokoh atau dai dari sekte-sekte sesat tersebut, maka ia harus menjelaskan kepada manusia tentang kondisinya sekarang yang telah berlepas diri dari sekte sesat tersebut, dan juga menjelaskan kepada masyarakat umum tentang pemahaman-pemahaman sesat mereka agar masyarakat dapat menjauh dan menolak paham sesat tersebut, sebagaimana dulu ia telah menyesatkan masyarakat dengan menjadi agen propaganda agar masyarakat menganut atau bergabung dengan sekte sesat tersebut. Yang jelas ia mampu menunjukkan aksi nyata bahwa dirinya telah berubah menjadi lebih baik atas taubat yang telah dilakukannya terhadap kesalahan-kesalahan yang telah lalu.

Imam Abul Hasan al-Asy’ariy tentunya paham dengan hukum sebagaimana disebutkan diatas, oleh karenannya sebagai bukti realisasi taubatnya, beliau menulis sebuah kitab yang berisi bantahan dan membongkar kesesatan Mu’tazilah. Ahli sejarah negeri Syam al-Hafidz Abul Qosim Ali bin Hasan Hibatillah bin Asaakir ad-Dimasyqy (w. 571 H) berkata dalam kitabnya at-Tabyiin : “Abu Ismail bin Abu Muhammad bin Ishaq al-Azdiy al-Qoiruwaaniy yang ma’ruf dengan sebutan Ibnu ‘Uzrah berkata : “Abul Hasan al-Asy’ariy adalah seorang yang bermazhab Mu’tazilah dan memegang mazhab ini selama 40 tahun. Dalam pandangan mereka beliau adalah seorang Imam. Kemudian beliau menghilang selama lima belas hari lantas tiba-tiba muncul di Masjid Jami’ di kota Bashrah dan naik keatas mimbar setelah sholat Jum’at seraya berkata : “para hadirin sekalian, aku menghilang dari kalian selama beberapa hari karena ada dalil-dalil yang bertentangan dan sama kuat, namun aku tidak mampu menetapkan mana yang hak dan mana yang batil dan tidak mampu membedakan mana yang batil dan mana yang hak. Kemudian aku memohon petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia memberiku petunjuk dan aku tuangkan dalam bukuku ini. Dan aku melepas semua aqidah yang dulu aku pegang sebagaimana aku membuka bajuku ini”.

Kemudian beliau membuka bajunya dan membuangnya lalu memberikan bukunya tersebut kepada para hadirin. Diantaranya kitab al-Luma’ dan tulisan lainnya yang sebagiannnya akan kita sebutkan sebentar lagi, Insya Allah. Setelah ahli hadits dan ahli fikih dari kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah membaca kitab tersebut, mereka mengambil isinya dan menjadikannya sebagai madzhab serta mengakui keunggulan ilmu beliau lalu menjadikan beliau sebagai imam panutan hingga mereka menisbatkan madzhab ahlus sunnah wal Jama’ah kepada beliau. Oleh karena itu menurut Mu’tazilah, kedua kitab beliau mengungkapkan dan membongkar kebobrokan apa yang telah beliau tinggalkan sementara beliau sendiri menjadi orang yang paling dimusuhi oleh orang-orang kafir”[2].

Baiklah sekarang kita akan melihat kitab al-Luma’ yang diberi judul asli oleh penulisnya dengan “Kitaab al-Luma’ fii ar-Rod ‘alaa Ahli az-Zaigh wal Bida’”, ini adalah salah satu tulisan beliau setelah rujuk dari sekte Mu’tazilah yang isinya membongkar kebusukan sekte Mu’tazilah dan sekte-sekte ahli bid’ah lainnya. Kitab ini sudah dicetak beberapa kali dan merupakan kitab sedang yang berisi 100 halaman lebih. Dalam mukadimah kitab diatas Imam Abul Hasan berkata : “Amma ba’du, sesungguhnya engkau telah memintaku untuk menulis sebuah kitab yang ringkas yang aku akan menjelaskan didalamnya sejumlah perkara untuk menerangkan yang benar dan menenggalamkan kebatilan, maka aku memandang untuk segera memenuhi permintaanmu, semoga Allah menganugerahkan kebaikan dan menolongmu diatas kebaikan dan apa yang dituntut kepadamu”.

Kitab ini berisi 10 pembahasan dimana pembahasan tersebut merupakan pokok-pokok pemikiran yang sekte Mu’tazilah dan sekte Ahlu Bid’ah lainnya tersesat didalamnya. Kesepuluh pembahasan tersebut adalah :

  1. Allah dan sifat-sifatnya
  2. Tentang Kalam terkait Al Qur’an dan Irodah (kehendak)
  3. Pembicaraan seputar Irodah
  4. Pembicaraan seputar Ru`yah (melihat) Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  5. Pembicaraan seputar Qodar (takdir)
  6. Pembicaraan seputar Istito’ah (kemampuan)
  7. Pembicaraan seputar keadilan dan kecurangan
  8. Pembicaraan seputar keimanan
  9. Pembicaraan seputar khusus, umum, janji dan ancaman
  10. Pembicaraan seputar kepemimpinan.

Selain itu beliau juga aktif menghadiri diskusi-diskusi seputar pemikiran Mu’tazilah baik dengan pengikut Mu’tazilah maupun kajian-kajian umum biasanya. Beliau tetap berada di tengah-tengah masyarakatnya demi menjelaskan kebatilan-kebatilan sekte Mu’tazilah, bahkan beliau harus berhadapan dengan ayah tirinya sendiri yang semenjak kecil mengasuhnya, berapa banyak majelis yang beliau berdiskusi dengan ayah tirinya, Abu Ali al-Juba`i, membongkar dan membantah pemikiran Mu’tazilahnnya. Bahkan Imam Abul Hasan al-Asy’ariy menulis sebuah kitab tentang tafsir Al Qur’an yang salah satu isinya adalah mengcounter penafsiran yang menyimpang yang dilakukan Abu Ali al-Juba`i terhadap ayat-ayat Al Qur’an. beliau berkata dalam mukadimah kitab tafsirnya :

أما بعد، فإن أهل الزيغ والبدع والتضليل تأولوا القرآن على رأيهم، وفسروه على أهوالهم تفسيراً، لم يزل الله تعالى به سلطاناً، ولا أوضح به برهاناً، ولا رووه عن رسول رب العالمين، ولا عن أهل بيته الطيبين، ولا عن السلف المتقدمين من الصحابة والتابعين، افتراء على الله، قد ضلوا وما كانوا مهتدين

Amma ba’du, sesungguhnya tukang menyimpang, ahli bid’ah dan tukang kesesatan mereka mentakwil Al Qur’an berdasarkan pemikiran (menyimpangnya), mereka menafsirkan dengan hawa nafsunya, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah menurunkan penafsiran seperti itu, dan tidak pernah memberikan penjelasan sebagaimana yang mereka kehendaki. Mereka tidak juga meriwayatkannya dari Rasulullah, tidak juga dari pakarnya dan tidak pula dari para salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Mereka telah berdusta atas nama Allah, sehingga mereka tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk.

Kemudian ditengah-tengah mukadimahnya Al Imam berkata :

وشيوخهم الذين قلدوهم، فأضلوهم وما هدوهم. قال: ورأيت الجبائي قد ألف كتاباً في تفسير القرآن، أوله على خلاف ما أنزله الله عز وجل لغة أهل قرية المعروفة بجبا، وليس من أهل اللسان الذي نزل به القرآن، وما روى في كتابه حرفاً واحداً عن المفسرين. وإنما اعتمد على ما وسوس به صدره وشيطانه، ولولا أنه استغوى بكتابه كثيراً من العوام، واستنزل به عن الحق كثيراً من العظام، لم يكن للتشاغل به وجه.

Diantara tokoh yang mereka taklidi sehingga mereka tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk adalah al-Juba`i, ia telah menulis sebuah kitab tentang tafsir Al Qur’an, ia mentakwilnya dengan sesuatu yang berbeda dari apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan menggunakan bahasa negerinya, Jubaa, bukan dengan bahasa yang Allah turunkan dengannya. Ia tidak meriwayatkan satu huruf pun dari para mufasirin, ia hanya berpegang dengan waswas setan yang membisiki dadanya, seandainya kitab tersebut tidak menyesatkan banyak orang awam dan menyimpang dari kebenaran, niscaya tidak perlu menyibukkan diri membantahnya.

Kemudian Imam Abul Hasan menyebutkan tempat-tempat dimana Abu Ali al-Juba`i melakukan penyimpangan dalam menafsirkan Al Qur’an, beliau sebutkan bantahan untuknya[3].

Karena aktivitasnya yang menggulung kejahatan Ahlu Bid’ah baik Mu’tazilah secara khusus, maupun sekte sesat lainnya pada umumnya, sebagian ulama menyebut beliau sebagai Imam Mujadid pada zamannya. Hal ini mengacu kepada sebuah hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun, orang-orang yang akan memperbaharui agama (HR. Abu Dawud, dishahihkan olah Al Albani).

Maksud dari melakukan Tajdid (Pembaharuan) adalah bukan membuat-buat perkara baru dalam agama, karena inilah yang disebut dengan bid’ah, namun melakukan pemurnian kembali nilai-nilai agama yang dibawa oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, ketika masyaratak umum sudah tercemari nilai-nilai agamanya, sehingga orang-orang tersebut adalah hujjah Allah dimuka bumi, dan ini merupakan janji Allah didalam menjaga kemurnian ajaran Al Qur’an, sebagaimana Firman-Nya :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al Hijr : 9).

Sebagian ulama berkata : “seratus tahun pertama mujadidnya adalah Kholifah yang mulia Umar bin Abdul Aziz, seratus tahun kedua adalah Imamunaa Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, dan seratus tahun ketiga adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ariy”[4].

Karena begitu kuatnya pengaruh beliau dan tersebarnya berita bahwa beliau membela madzhab ahlus sunnah dengan pembelaan yang kuat dengan hujjah-hujjah yang terang, sampai-sampai hampir semua penganut madzhab fiqih memasukkan nama beliau sebagai penganut madzhab fikihnya, orang-orang Hanafi mengatakan bahwa Imam Abul Hasan adalah Hanafi; orang-orang Malikiyyah mengatakan bahwa beliau adalah Maliki, begitu juga dengan Syafi’iyyah mengatakan bahwa beliau adalah Syafi’iy. Dan yang terakhir lebih rajih, dengan sebab yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Namun bisa jadi beliau adalah pengikut madzhab ahlu hadits, dimana fikih-fikih mereka dibangun diatas landasan hadits yang shahih, yang menunjukkan hal tersebut adalah ketika beliau ditanya tentang pendapatnya terkait orang yang tidak membaca Al Fatihah dalam sholatnya, maka beliau menjawab :

حدثنا زكريا بن يحيى قال: حدثنا عبد الجبار قال حدثنا سفيان، قال: حدثني الزهري عن محمود بن الربيع، عن عبادة بن الصامت، عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: ” لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب “.

وحدثنا زكريا قال: حدثنا بندار قال: حدثني يحيى بن سعيد بن جعفر بن ميمون قال حدثني أبو عثمان عن أبي هريرة قال: أمرني رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أن أنادي بالمدينة أنه لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب.

Haddatsanaa Zakariyaa bin Yahya ia berkata, haddatsanaa Abdul Jabaar ia berkata, haddatsanaa Sufyan ia berkata, haddatsani az-Zuhri, dari Mahmuud bin ar-Robii’, dari ‘Ubadah bin ash-Shomit rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda : “tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Al Fatihah”.

Haddatsanaa Zakariyaa ia berkata, haddatsanaa Bundaar ia berkata, haddatsani Yahya bin Sa’id bin Ja’far bin Maimuun ia berkata, haddatsani Abu Utsman dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkanku untuk menyeru di Madinah bahwa tidak ada sholat kecuali dengan membaca Al Fatihah”[5].

Yang menguatkan lagi bahwa beliau berkata dalam kitab al-Ibanah di pasal penjelasan pendapat Ahli Haq dan Sunah : “pendapat kami dan agama yang kami yakini adalah berpegang dengan Kitabullah Azza wa Jalla, Sunah Nabi kami sholallahu alaihi wa salam, dan apa-apa yang diriwayatkan oleh para senior sahabat, tabi’in, dan para Imam Ahli Hadits…”.

Dan kelihatanya beliau bukan tipe orang yang mudah taklid kepada pendapat seseorang, namun setelah hidayah berpegang dengan sunah menyapanya, beliau banyak membela pendapat ahlu sunah dengan hujjah-hujjah yang kuat, yang mungkin barangkali disangka oleh pengikut Hanafiyyah beliau berpegang dengan madzhab Hanafi, atau malikiyyah atau Syafi’iyyah atau Hanabillah. Bisa jadi ketika dalilnya lebih kuat menurut beliau dari madzhab-madzhab fikih yang ada maka beliau akan berpegang dengannya, tanpa menaklidinya selama-lamanya. Dan orang-orang akan menyangkanya beliau adalah pengikut fanatik madzhab tersebut karena pembelaannya yang kuat. Wallahu A’lam.

 

[1] Disadur secara bebas dari tafsir Qurthubi (2/187).

[2] Kata sambutan syaikh Hammaad al-Anshariy dalam kitab Al-Ibanah (hal. 5-6) penerbit At Tibyan.

[3] Muroatul Jinaan (2/226-227), karya Abdullah bin Sa’ad al-Yaafiy (w. 768 H).

[4] Opcit.

[5] Opcit.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: