DURORUL BAHIYYAH : 6B. PEMBATAL PUASA

February 25, 2016 at 2:00 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

6B. Pembatal-Pembatal Puasa

 

(باب مبطلات الصيام)

ويبطل بالأكل، والشرب، والجماع، والقيء عمداً،

Batal puasa karena makan, minum, berhubungan badan[1], muntah dengan

ويحرم الوصال، وعلى من أفطر عمداً

sengaja[2]. Diharamkan puasa wishol[3]. Wajib bagi orang yang sengaja batal

كفّارة ككفَّارة الظِّهار،

puasa (tanpa udzur) membayar denda dengan seperti kafarah adh-Dhihaar[4].

ويُندب تعجيل الفطر وتأخير السحور.

Disunahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur[5].

 

فصل: يجب على من أفطر لعذر شرعي أن يقضي،

Pasal : wajib bagi orang yang berbuka karena ada udzur syar’iy untuk

والفطر للمسافر ونحوه رخصة؛

mengqodho (mengganti) puasanya. Berbuka bagi musafir dan orang yang

إلا أن يخشى

semisalnya adalah rukhshoh (keringanan)[6], kecuali kalau dikhawatirkan

التلف أو الضعف عن القتال؛ فعزيمة،

membahayakan atau melemahkan sehingga berakibat fatal (kematian), maka

ومن مات وعليه صوم؛

itu adalah azimah (diharuskan)[7]. Barangsiapa yang meninggal dan ia masih

صام عنه وليه،

punya hutang puasa, maka dapat dibayarkan oleh walinya[8]. Orang yang

 

sudah tua renta yang tidak mampu mengerjakan puasa atau mengqodhonya

والكبير العاجز عن الأداء والقضاء؛

pada waktu lain, maka dendanya adalah memberi makan setiap hari yang

يُكفِّر عن كل يوم بإطعام مسكين،

ditinggalkan satu orang miskin[9]. Orang yang berpuasa sunah maka terserah

والصائم المتطوع أمير نفسه، لا قضاء عليه ولا كفّارة.

dirinya, (jika berbuka ditengah-tengah puasa sunahnya –pent.), maka tidak ada qodho dan denda baginya[10].

 

 

[1] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa (QS. Al Baqoroh : 187).

[2] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Barangsiapa yang muntah (tanpa sengaja –pent.), maka tidak perlu mengqodho, dan barangsiapa yang memuntahkan diri dengan sengaja, maka wajib baginya mengqodho (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albani).

[3] Puasa wishol adalah menyambungkan puasa yang satu dengan puasa berikutnya tanpa berbuka dan makan sahur. Terdapat larangan dari Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk berpuasa wishol, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ، إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ، إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ

Jauhilah kalian melakukan puasa Wishol, Jauhilah kalian melakukan puasa Wishol, Jauhilah kalian melakukan puasa Wishol (HR. Malik ini lafadznya dan asalnya pada Shahihain).

[4] Orang yang berbuka puasa dengan sengaja tanpa udzur, menurut Imam Syaukani kafarahnya sama dengan kafarah orang yang berhubungan badan pada siang bulan romadhon yaitu membebaskan budak, jika tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu juga memberi makan 60 orang miskin. Maka mengqiyaskan makan dan minum dengan berhubungan badan, tidaklah benar, karena tidak ada qiyas dalam ibadah, sehingga hukum asalnya tidak ada kewajiban kafarah diatas bagi orang yang sengaja makan dan minum pada bulan Romadhon (Ta’liq Syaikh Ali Hasan).

[5] Berdasarkan hadits Abu Dzar rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam Bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ، وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur (HR. Ahmad dan selainnya, kata Syu’aib Arnauth sanad ini lemah, namun terdapat hadits lain yang menguatkan isi hadits diatas).

[6][6] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 184 :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

[7] Berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah beliau berkata :

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ صَائِمًا حَتَّى أَتَى كُرَاعَ الْغَمِيمِ وَالنَّاسُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُشَاةً وَرُكْبَانًا، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: إِنَّ نَاسًا قَدِ اشْتَدَّ عَلَيْهِمُ الصَّوْمُ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ كَيْفَ فَعَلْتَ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَرَفَعَهُ وَشَرِبَ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ، فَصَامَ بَعْضُ النَّاسِ وَأَفْطَرَ بَعْضٌ، فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ بَعْضَهُمْ صَائِمًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُولَئِكَ الْعُصَاةُ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam keluar pada waktu penaklukkan Mekkah dalam keadaan berpuasa, hingga tiba di wilayah yang bernama Kuroo’il Ghomiim. Orang-orang yang mengikuti Rasulllah sholallahu alaihi wa salam ada yang berjalan kaki dan yang berkendaraan, hal ini terjadi pada bulan Romadhon, maka ada yang berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang merasa berat dengan puasa mereka, dan sekarang mereka sedang menunggu apa yang akan engkau lakukan, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam meminta segelas air, lalu Beliau mengangkatnya dan meminumnya, sedangkan orang-orang melihatnya, kemudian sebagian orang ada yang masih berpuasa, sedangkan sebagiannya lagi berbuka, lalu hal tersebut dikabarkan kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bahwa sebagian mereka masih ada yang berpuasa, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “mereka itu telah bermaksiat” (HR. Abu Dawud ath-Thoyalisi dan ini lafadnya, namun asalnya ada pada riwayat Imam Muslim).

 

[8] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Barangsiapa yang meninggal dunia dan masih punya hutang puasa, maka walinya dapat membayarkannya (Muttafaqun ‘Alaih).

[9] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 184 :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.

Imam Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu menafsirkan ayat tersebut dengan berkata :

لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Ayat ini tidak mansukh namun itu adalah untuk laki-laki dan wanita tua renta yang tidak mampu berpuasa, maka ia memberi makan setiap hari yang tidak berpuasa dengan memberi makan satu orang miskin (HR. Bukhori).alah untuk laki-laki dan wanita tua renta yang tidak mampu berpuasa, maka ia memberi makan setiap

[10] Berdasarkan hadits Ummu Hanii` rodhiyallahu anha bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam Bersabda :

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Orang yang puasa sunah terserah dirinya, jika ia mau tetap melanjutkan puasanya, jika ia mau dapat berbuka (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: