DURORUL BAHIYYAH : 6D. BAB I’TIKAF

February 28, 2016 at 1:40 am | Posted in fiqih | Leave a comment

6D. Bab I’tikaf

 

(باب الاعتكاف)

يُشرع – ويصح – في كل وقت في المساجد،

Disyariatkan / sah melakukan i’tikaf pada semua waktu di masjid[1], adapun

وهو في رمضان آكد، سيّما في العشر الأواخر منه،

pada romadhon maka lebih ditekankan lagi pensyariatannya, terutama pada

ويستحب الاجتهاد في العمل فيها،

sepuluh malam hari terakhir[2]. Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh beramal

وقيام ليالي القدر،

pada 10 malam hari terakhir[3], dan sholat malam pada malam-malam lailatul

ولا يخرج المعتكف إلا لحاجة

qodar[4]. Seorang yang sedang beri’tikaf tidak boleh keluar dari masjid, kecuali karena adanya kebutuhan[5].

 

 

[1] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 187 :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.

[2] Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir pada bulan Romadhon (Muttafaqun ‘Alaih).

[3] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Nabi sholallahu alaihi wa salam jika masuk 10 hari terkahir bulan Romadhon, akan menghidupkan malamnya, membangunkan istrinya dan mengencangkan sarungnya (Muttafaqun ‘Alaih).

[4] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam Bersabda :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang melaksanakan sholat malam lailatul qodar dengan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dsoanya yang lalu (Muttafaqun ‘Alaih).

[5] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Nabi sholallahu alaihi wa salam jika beri’tikaf, Kepala Beliau akan didekatkan kepadaku untuk aku sisir, dan Beliau tidak masuk rumah kecuali karena adanya hajat manusiawi (ini lafadz Muslim).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: