DURORUL BAHIYYAH : 7A. HUKUM HAJI DAN UMROH

February 28, 2016 at 9:20 am | Posted in fiqih | Leave a comment

  1. KITAB HAJI

7A. Pasal Hukum Haji

 

(7 – كتاب الحج)

يجب على كل مكلَّف مستطيع فوراً،

Wajib bagi setiap mukalaf untuk menunaikan haji bagi yang mampu kesana[1],

وكذلك العمرة؛ وما زاد فهو نافلة.

demikian juga umroh[2]. Dan menunaikannya lebih dari satu kali adalah sunah[3].

فصل: يجب تعيين نوع الحج بالنية؛ من تمتع

Pasal : wajib menentukan jenis hajinya dengan niat, apakah tamatu’[4] atau

أو قِران أو إفراد، والأول أفضلها، ويكون الإحرام من المواقيت المعروفة،

qiron[5], atau ifrood[6] dan tamatu’ lebih utama[7]. Demikian juga ihrom dari

ومن كان دونها؛ فمُهَلُّه أهله؛

tempat-tempat yang sudah diketahui. Barangsiapa yang bukan dari penduduk

حتى أهل مكة من مكة.

Negeri (yang sudah ditentukan miqotnya –pent.), maka ia diikutkan miqot mereka (ketika datang melewati arahnya –pent,), sampai pun penduduk Mekkah yang berangkat dari Mekkah[8].

[1] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali Imron ayat 97 :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

[2] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 196 :

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.

[3] Berdasarkan hadits al-Aqro’ bin Haabis rodhiyallahu anhu bahwa beliau :

سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْحَجُّ فِي كُلِّ سَنَةٍ أَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً قَالَ: «بَلْ مَرَّةً وَاحِدَةً، فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ»

Beliau pernah bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam : “wahai Rasulullah, apakah haji itu ditunaikan setiap tahun atau cukup 1 kali saja?”. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “tidak, cukup satu kali saja, namun barangsiapa yang mau lebih dari itu, maka itu adalah tathowu’ baginya” (HR. Abu Dawud dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

[4] Haji Tamatu’ adalah ia pertama kali berihram untuk Umroh pada bulan haji, ia masuk kota Mekkah lalu menyempurnakan Umrohnya sampai selesai, ia lalu keluar dari ihromnya dan tetap dalam kondisi halal sampai tiba pelaksanaan haji. Wajib baginya untuk menyembelih binatang hadyu yang mudah baginya.

[5] Haji Qiron adalah ia berihram untuk haji dan umroh secara bersamaan, lalu ia masuk Ke Mekkah dalam keadaan ihram sampai selesai melaksanakan ritual hajinya. Ia thowaf dengan thowaf satu kali untuk haji dan umrohnya, demikian juga Sa’inya satu untuk keduanya, lalu ia menyembelih binatang hadyu yang mudah baginya dan jika ia hendak meninggalkan Mekkah, maka lakukanlah thowaf wada’.

[6] Haji Ifrod adalah ia melakukan ibadah haji semata (dinukil dari Roudhotun Nadhiyah).

[7] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِلُّوا، فَلَوْلَا الْهَدْيُ الَّذِي مَعِي، فَعَلْتُ كَمَا فَعَلْتُمْ» قَالَ: فَأَحْلَلْنَا حَتَّى وَطِئْنَا النِّسَاءَ، وَفَعَلْنَا مَا يَفْعَلُ الْحَلَالُ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ، وَجَعَلْنَا مَكَّةَ بِظَهْرٍ، أَهْلَلْنَا بِالْحَجِّ

Wahai manusia, bertahalullah, seandainya tidak ada binatang hadyu bersamaku, niscaya aku akan melakukan seperti yang kalian lakukan. Kami akan tahalul hingga kami bisa berhubungan dengan istri-istri kami, kami bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang yang halal (tidak sedang ihram –pent.), hingga ketika hari Tarwiyah, maka kami jadikan Mekkah di belakang kami, lalu kami bertalbiyah untuk haji (HR. Muslim).

[8] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

وَقَّتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ، ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجْدٍ، قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ، يَلَمْلَمَ، قَالَ: «فَهُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ، فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ، وَكَذَا فَكَذَلِكَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menetapkan miqot untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam di Juhfah, untuk penduduk Najed di Qornul Manaazil, dan untuk penduduk Yaman di Yalamlam, lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “maka itu adalah miqot-miqot mereka dan orang-orang yang datang dari arah mereka untuk selain penduduk negeri tersebut, – bagi yang hendak menunaikan haji dan umroh -, diikutkan seperti penduduk negeri tersebut, sampai pun penduduk Mekkah bertalbiyah dari Mekkah (Muttafaqun ‘Alaih).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: