DURORUL BAHIYYAH : 7B. PASAL IHROM

February 28, 2016 at 3:22 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

7B. Pasal Ihrom

 

فصل:

ولا يلبس المحرم القميص، ولا العمامة، ولا البرنس، ولا السراويل،

Seorang yang ihrom tidak boleh memakai baju, imamah, mantel yang,

ولا ثوباً مسّه ورْس، ولا زعفران،

memiliki penutup kepala, celana sirwal dan juga baju yang dicelup pewarna.

ولا الخفين إلا أن لا يجد نعلين؛ فليقطعهما

Juga tidak boleh memakai parfum, dan khuf, kecuali jika tidak punya sandal,

حتى يكونا أسفل من الكعبين، ولا تنتقب المرأة، ولا تلبس

maka khufnya dipotong hingga dibawah kedua mata kaki[1]. Bagi wanita tidak

القفازين، وما مسه الورس والزعفران،

boleh memakai cadar, dan juga kaos tangan, serta apa yang dicelup dengan

ولا يتطيب ابتداء، ولا يأخذ من شعره

pewarna dan parfum[2]. Jangan memakai parfum pada saat mulai ihrom[3],

                                                                      أو بشره إلا لعذر، ولا يرفث، ولا يفسق،

dan jangan mencukur rambut kepala atau kulit kecuali karena ada udzur[4].

ولا يجادل، ولا ينكح، ولا يُنكح، ولا يخطب،

Jangan berbuat rofats, melakukan kefasikan, berdebat[5], menikah, atau

ولا يقتل صيداً، ومن قتله؛

menikahkan orang lain, melamar[6], dan tidak boleh juga membunuh binatang

فعليه جزاء مثل ما قتل من النعم

buruan. Barangsiapa yang membunuh binatang buruan maka balasannya

يحكم به ذوا عدل،

adalah berkorban binatang ternak yang setara dengan binatang buruan yang

ولا يأكل ما صاده غيره؛

dibunuhnya berdasarkan keputusan 2 orang yang adil[7]. Tidak boleh makan

إلا إذا كان الصائد حلالاً ولم يصده لأجله،

bintang buruan yang diburu oleh orang lain[8], kecuali jika si pemburu adalah

ولا يعضد من شجر الحرم؛ إلا الإذخر،

orang yang halal dan ia berburu bukan karena untuknya[9]. Tidak boleh

ويجوز قتل الفواسق الخمس،

mencabuti tanaman di tanah haram kecuali rumput (idkhir)[10]. Boleh baginya

وصيد حرم المدينة وشجره كحرم مكة؛

membunuh 5 binatang fasik[11]. Binatang buruan dan pohon di Madinah haram

إلا أن من قطع شجره أو خبطه؛ كان سلبه

sebagaimana keharaman Mekkah[12], namun bagi orang yang memotong atau

حلالاً لمن وجده

mencabut pohonnya, maka pohon yang dicabut atau dipotong tersebut halal

، ويحرم صيد وجٍّ وشجره.

bagi yang menemukannya[13]. Diharamkan memburu binatang dan mengambil pohon yang ada di daerah Wajj[14].

 

 

[1] Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu beliau berkata :

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ؟ قَالَ: «لَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ الْقَمِيصَ، وَلَا الْعِمَامَةَ، وَلَا الْبُرْنُسَ، وَلَا السَّرَاوِيلَ، وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ وَرْسٌ وَلَا زَعْفَرَانٌ وَلَا الْخُفَّيْنِ، إِلَّا أَنْ لَا يَجِدَ نَعْلَيْنِ فَلْيَقْطَعْهُمَا، حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ»

Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah ditanya : “apa yang diginakan oleh orang yang ihrom?”, Beliau sholallahu alaihi wa salam menjawab : “Seorang yang ihrom tidak boleh memakai baju, imamah, mantel yang memiliki penutup kepala, celana sirwal, dan juga baju yang dicelup pewarna. Juga tidak boleh memakai parfum, dan khuf, kecuali jika tidak punya sandal, maka khufnya dipotong hingga dibawah kedua mata kaki” (Muttafaqun ‘Alaih).

[2] Dalam lafadz Bukhori terdapat tambahan :

وَلاَ تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ، وَلاَ الوَرْسُ، وَلاَ تَنْتَقِبِ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ، وَلاَ تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ

Janganlah kalian memakai sesuatu yang dicelupkan parfum dan pewarna, dan wanita jangan memakai niqob dan kedua kaos kaki.

[3] Jika melumurinya sebelum ihrom dan kondisinya masih terdapat bekas minyak wangi pada kepala, kulit atau baju, maka diperbolehkan berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anhu beliau berkata :

طَيَّبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ بِذَرِيرَةٍ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ، لِلْحِلِّ وَالإِحْرَامِ

Aku yang memberi minyak wangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dengan kedua tanganku yaitu minyak wangi jenis Dariiroh (dikatakan dari India) pada waktu Beliau sholallahu alaihi wa salam menunaikan haji wada’ pada saat halal maupun (untuk ihrom) (Muttafaqun ‘alaih).

[4] Berdasarkan hadits Ka’ab bin ‘Ujroh rodhiyallahu anhu yang berkata :

نَزَلَتْ فِيَّ خَاصَّةً، وَهِيَ لَكُمْ عَامَّةً، حُمِلْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالقَمْلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجْهِي، فَقَالَ: «مَا كُنْتُ أُرَى الوَجَعَ بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى – أَوْ مَا كُنْتُ أُرَى الجَهْدَ بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى – تَجِدُ شَاةً؟» فَقُلْتُ: لاَ، فَقَالَ: «فَصُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ، لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ»

Ayat tersebut turun khusus (berkaitan dengan diriku) namun hukumnya umum, aku ikut bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melaksanakan ibadah haji, sedangkan kutu berkeliaran di wajahku, maka Beliau berkata : “aku memandang engkau benar-benar dalam kesulitan, apakah engkau memiliki Kambing?”, aku menjawab : “tidak punya”, kata Beliau : “berpuasalah 3 hari atau memberi 6 orang miskin setiap orang miskin dengan setengah sho’” (Muttafaqun ‘Alaih).

Ayat yang dimaksud adalah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 196 :

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.

[5] Berdasarkan surat Al Baqoroh ayat 197 :

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

[6] Berdasarkan hadits Utsman bin ‘Affan rodhiyallahu anhu dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ، وَلَا يُنْكَحُ، وَلَا يَخْطُبُ

Orang yang ihrom janganlah menikah, atau menikahkan orang lain dan melamar (HR. Muslim).

[7] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Maidah ayat 95 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

[8][8] Berdasarkan hadits ash-Sho’bin bin Jatsaamah rodhiyallahu anhu bahwa :

أَنَّهُ أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَحْشِيًّا، وَهُوَ بِالأَبْوَاءِ، أَوْ بِوَدَّانَ، فَرَدَّهُ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجْهِهِ قَالَ: «إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ»

Beliau pernah menghadiahi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam keledai liar, pada waktu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berada di al-Abwaa` atau di Waddaan, namun Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menolaknya, namun tatkala melihat perubahan wajah ash-Sho’bi rodhiyallahu anhu maka beliau berkata : “sesungguhnya kami bukan menolakmu, namun sekarang kami sedang ihrom” (Muttafaqun ‘Alaih).

 

[9] Berdasarkan hadits Jaabir rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

كُلُوا لَحْمَ الصَّيْدِ، وَأَنْتُمْ حُرُمٌ مَا لَمْ تَصِيدُوهُ، أَوْ يُصَدْ لَكُمْ

Makanlah daging buruan, sekalipun kalian sedang ihrom, selama binatang buruan tersebut tidak sengaja diburu untuk kalian (HR. Ahmad dan selainnya, dikatakan Syu’aib Arnauth shahih lighoirihi).

[10] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

حَرَّمَ اللَّهُ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلاَ لِأَحَدٍ بَعْدِي، أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، لاَ يُخْتَلَى خَلاَهَا وَلاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهَا، وَلاَ تُلْتَقَطُ لُقَطَتُهَا إِلَّا لِمُعَرِّفٍ» فَقَالَ العَبَّاسُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِلَّا الإِذْخِرَ لِصَاغَتِنَا وَقُبُورِنَا؟ فَقَالَ: إِلَّا الإِذْخِرَ

Allah mengharamkan Mekkah yang tidak halal bagi seorang pun sebelumku dan juga setelahku, pernah dihalalkan bagi satu sa’ah pada siang hari, yang kemudian tidak dihalalkan lagi. Janganlah mencabuti pohonnya, jangan membuat lari binatang buruannya, janganlah memberinya makan kecuali untuk akrab dengannya (bukan untuk memilikinya –pent.). lalu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : “dikecualikan idzkhir (rumput) karena itu untuk bahan bakar kami”, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata : “kecuali idkhir” (Muttafaqun ‘Alaih).

[11] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

خَمْسٌ فَوَاسِقُ، يُقْتَلْنَ فِي الحَرَمِ: الفَأْرَةُ، وَالعَقْرَبُ، وَالحُدَيَّا، وَالغُرَابُ، وَالكَلْبُ العَقُورُ

5 binatang fasik yang boleh dibunuh di tanah haram : “tikus, Kalajengking, Rajawali, burang gagak, dan anjing liar (Muttafaqun ‘Alaih).

[12] Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ

Sesungguhnya Ibrohim alaihi salam mengharamkan Mekkah dan berdoa untuk penduduknya, dan aku mengharamkan Madinah, sebagaimana Ibrohim alaihi salam mengharamkan Mekkah (Muttafaqun ‘Alaih).

[13] Berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqoosh rodhiyallahu anhu beliau mendengar Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ أَخَذْتُمُوهُ يَقْطَعُ مِنَ الشَّجَرِ شَيْئًا – يَعْنِي شَجَرَ الْحَرَمِ – فَلَكُمْ سَلَبُهُ لَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُقْطَعُ

Barangsiapa yang menemukan seorang yang memotong pohon di tanah haram, maka hasil potongan tersebut adalah milik kalian, janganlah kalian mencabut atau memotong pohonnya (HR. Abu Dawud ath-Thoyalisi dan selainnya, dishahihkan oleh Imam al-Hakim).

[14] Berdasarkan hadits az-Zubari bin Awwam rodhiyallahu anhu dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

إِنَّ صَيْدَ وَجٍّ وَعِضَاهَهُ حَرَامٌ مُحَرَّمٌ لِلَّهِ

Sesungguhnya binatang buruan dan pohon rindang yang ada di Wajj adalah haram, diharamkan oleh Allah (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh DR. Abdul Malik bin Abdullah –pentahqiq kitab Akhbarul Mekkah-, namun didhoifkan oleh Al Albani dan Syu’aib Arnauth).

Wajj adalah nama 2 lembah di kota Thoif (Ta’liq Musnad Ahmad).ma dae daerah

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: