DURORUL BAHIYYAH : 8. KITAB NIKAH

March 9, 2016 at 3:08 am | Posted in fiqih | Leave a comment

  1. Kitab Nikah

 

(8 – كتاب النكاح)

يُشرع لمن استطاع الباءة

Disyariatkan bagi yang mempu memberikan nafkah (lahir dan batin) untuk

ويجب على من خشي الوقوع في المعصية،

menikah[1], dan diwajibkan bagi orang yang khawatir terjatuh dalam perbuatan

والتَّبتُّل غير جائز؛

maksiat (zina). Membujang tidak diperbolehkan[2], kecuali karena ada

، إلا لعجز عن القيام بما لا بد منه،

kelemahan yang mau tidak mau harus membujang[3]. Hendaknya mencari

وينبغي أن تكون المرأة ودوداً، ولوداً، بكراً، ذات جمال، وحسب،

istri yang penyayang, subur[4], perawan[5], cantik, baik keturunannya, agamanya

ودين، ومال، وتُخطب الكبيرة إلى نفسها،

baik, dan hartanya banyak[6]. Wanita dewasa dapat menerima lamaran untuk

والمعتبَر حصول الرِّضا منها لمن كان كُفْأ،

Dirinya sendiri[7], dan dianggap terjadi keridhoan ketika calonnya sekufu[8].

والصغيرة إلى وليّها،

Untuk wanita kecil maka diserahkan kepada walinya[9]. Ridhonya perawan

ورضا البكر صُماتها، وتحرم الخطبة في العدة

dengan diamnya[10]. Diharamkan melamar wanita yang sedang dalam masa

وعلى الخطبة،

‘Iddah[11] atau yang sudah dilamar orang lain[12]. Dianjurkan untuk melihat calon

ويُستحب النظر إلى المخطوبة، ولا نكاح إلا بولي وشاهدين؛

wanita yang hendak dipinangnya[13]. Tidak ada pernikahan, kecuali dengan

إلا أن يكون عاضلاً، أو غير مسلم؛

wali dan 2 saksi yang adil[14]. Jika walinya menghalangi[15] atau bukan seorang

ويجوز لكل واحد من الزوجين أن يُوكِّل لعقد النكاح ولو واحداً.

Muslim[16], maka boleh salah satu pasangan untuk mewakilkan akad nikahnya, sekalipun sendirian[17].

 

فصل: ونكاح المتعة منسوخ،

Pasal : nikah mut’ah (kontrak) telah dihapus hukumnya[18] dan nikah Tahliil

والتحليل حرام، وكذلك الشغار

adalah perbuatan haram[19], demikian juga nikah Syighoor[20]. Wajib bagi calon

، ويجب على الزوج الوفاء بشرط المرأة؛

mempelai laki-laki menunaikan persyaratan yang disebutkan calon mempelai

إلا أن يُحل حراماً، أو يُحرِّم حلالاً.

wanita, kecuali sesuatu yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal[21].

 

[1] Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda!, barangsiapa diantara kalian mampu memberikan nafkah (lahirdan batin), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, kerena itu adalah benteng (Muttafaqun ‘Alaih).

[2] Berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لاَخْتَصَيْنَا

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menolak permintaan Utsman bin Madh’uun untuk membujang, seandainya diijinkan niscaya beliau akan mengkebiri (kemaluannya) (Muttafaqun ‘Alaih).

[3] Berdasarkan Firman Allah dalam surat An Nisaa` ayat ke-19 yang menunjukkan tidak boleh membahayakan wanita, dan perintah untuk menggauli mereka dengan baik :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

[4] Berdasarkan hadits Ma’qil bin Yasaar rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan membanggakan umatku (HR. Abu Dawud, dikatakan hasan shahih oleh Al Albani).

[5] Berdasarkan hadits Jabir rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya ketika menikahi seorang janda :

فَهَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُضَاحِكُكَ وَتُضَاحِكُهَا، وَتُلَاعِبُكَ وَتُلَاعِبُهَا

Kenapa engkau tidak menikahi perawan, sehingga engkau bisa suap-suapan dan bermain-main dengannya (ini lafadz Muslim).

[6] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dinikahi wanita karena 4 perkara : karena hartanya, keturunannya, kecantikkannya, dan agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung (Muttafaqun ‘Alaih).

[7] Berdasarkan kisah lamaran Rasulullah sholallahu alaihi wa salam yang langsung dijawab oleh Ummu Salamah rodhiyallahu anha setelah menjalani masa Iddah akibat wafatnya suaminya yaitu Abu salamah rodhiyallahu anhu. Imam Bukhori dalam Tarikhnya meriwayatkan dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu yang didalamnya tertera :

خَطَبَها النَّبيُّ صَلى اللَّهُ عَلَيه وسَلم، فَقالت: إِنِّي كَبِيرَةُ السِّنِّ، كَثِيرَةُ العِيالِ، غَيُورٌ، فَقال: أَنا أَكبَرُ مِنكِ، والعِيالُ عَلى اللهِ، وأَمّا الغَيرَةُ فَأَدعُو اللهَ أَن يُذهِبَها، فَتَزَوَّجَها،

Nabi sholallahu alaihi wa salam melamar Ummu Salamah, maka Ummu Salamah berkata : “aku sudah berusia lanjut, miskin dan pencemburu”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “aku lebih tua darimu, kemiskinan diserahkan kepada Allah, adapun sikap cemburu, aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkannya darimu”. Kemudian akhirnya Nabi sholallahu alaihi wa salam menikahinya.

[8] Berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda kepadanya :

ثَلَاثٌ يَا عَلِيُّ لَا تُؤَخِّرْهُنَّ: الصَّلَاةُ إِذَا آنَتْ، وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ، وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ كُفْؤًا

Ada 3 hal wahai Ali yahg tidak boleh diakhirkan : sholat ketika sudah datang waktunya, jenazah ketika sudah dihadirkan, dan anak perawan ketika sudah mendapatkan yang sekufu’ (HR. Ahmad, Al Hakim dan selainnya, dishahihkan oleh Al Hakim dan adz-Dzahabi).

[9] Berdasarkan hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam yang menikahi Aisyah rodhiyallahu anha pada waktu beliau masih anak-anak, dengan melamarnya kepada bapaknya Abu Bakar rodhiyallahu anhu, Aisyah rodhiyallahu anha berkata :

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menikahiku pada waktu aku berumur 6 tahun dan mulai membina rumah tangga denganku pada waktu aku berumur 9 tahun (Muttafaqun ‘Alaih).

[10] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

«لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: «أَنْ تَسْكُتَ»

Janganlah kalian menikahkan janda sampai diperintahkan olehnya, dan janganlah kalian menikahkan perawan sampai diijinkan olehnya. Para sahabat bertanya, bagaimana izinnya wahai Rasulullah?, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “diamnya (adalah bentuk izinnya)” (Muttafaqun ‘Alaih).

[11] Berdasarkan hadits Fatimah bin Qois rodhiyallahu anha beliau berkata :

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي»، فَآذَنْتُهُ، فَخَطَبَهَا مُعَاوِيَةُ، وَأَبُو جَهْمٍ، وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata kepadaku : “jika engkau telah halal (selesai dari masa Iddahmu –pent.), maka beritahu aku”. Lalu setelah selesai masa Iddahku, aku beritahu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bahwa Mu’awiyyah, Abu Jahm dan Usamah bin Zaid rodhiyallahu anhum telah melamarnya (HR. Muslim).

[12] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

وَلاَ يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ

Janganlah kalian melamar wanita yang sudah dilamar oleh saudaranya (Muttafaqun ‘Alaih).

[13] Berdasarkan hadits Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallahu anhu bahwa beliau :

أَنَّهُ خَطَبَ امْرَأَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا»

Mughiroh rodhiyallahu anhu telah melamar seorang wanita, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya : “lihatlah ia, karena itu lebih akan melanggengkan pernikahan kalian berdua” (HR. Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

[14] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا وَشَاهِدَىْ عَدْلٍ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ

Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya dan 2 orang saksi, maka nikahnya batil (HR. Ibnu Hibban, Daruquthni dan selainnya, dikatakan hasan shahih oleh Al Albani).

[15] Berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Baqoroh ayat 232 :

فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا

maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka.

[16] Berdasarkan hadits Ummu Habibah bintu Abu Sufyaa n rodhiyallahu anhumaa bahwa beliau :

أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ فَمَاتَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ «فَزَوَّجَهَا النَّجَاشِيُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمْهَرَهَا عَنْهُ أَرْبَعَةَ آلَافٍ وَبَعَثَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ شُرَحْبِيلَ ابْنِ حَسَنَةَ».

Beliau adalah istri Ubadillah bin Jahsy Rodhiyallahu ‘anhu, lalu Beliau meninggal di negeri Habasyah, lalu Najasyi menikahkan Ummu Habibah Rodhiyallahu ‘anhu untuk Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Beliau memberinya mahar 4000, lalu beliau diutus kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersama dengan Syurohbiil bin Hasanah (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

[17] Berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu beliau berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ: » أَتَرْضَى أَنْ أُزَوِّجَكَ فُلَانَةً «قَالَ: نَعَمْ، قَالَ لَهَا: أَتَرْضَيْنَ أَنْ أُزَوِّجَكَ فُلَانًا» قَالَتْ: نَعَمْ، فَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah maharnya”. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada seorang laki-laki : “apakah engkau ridho untuk aku nikahkan dengan fulanah?”, ia menjawab : “iya”. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada si wanita : “apakah engkau ridho, aku nikahkan dengan fulan?”, ia menjawab : “iya”, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pun menikahkan keduanya (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan ini lafadznya, dishahihkan oleh Al Albani).

[18] Berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang pernikahan Mut’ah pada waktu perang Khaibar (Muttafaqun ‘Alaih).

[19] Berdasarkan hadits Ali rodhiyallahu anhu juga bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ، وَالْمُحَلَّلَ لَهُ

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaknat orang yang melakukan nikah tahliil dan yang mengordernya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

Al-Muhallil adalah orang yang melakukan nikah tahlil yaitu ketika ada seorang wanita yang telah diceraikan oleh suaminya, sehingga diharamkan bagi suaminya untuk merujuk dia lagi sampai bekas istrinya tersebut dinikahi oleh orang lain, lalu diceraikan oleh suaminya yang kedua tersebut, maka jika keduanya tidak mau rujuk sampai habis masa iddahnya, suami yang pertama baru boleh untuk menikahinya lagi. Kemudian akhirnya suami pertama membuat siasat, sehingga ia menyuruh seseorang untuk menikahi istrinya tapi tentu dengan perjanjian akan menceraikan setelahnya, agar bisa dinikahi oleh suaminya yang pertama. Maka si suami yang membuat siasat dinamakan dengan al-Muhallal lahu. Kedua-duanya terlaknat disisi Allah, karena mempermainkan hukum-hukum-Nya.

[20] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu beliau berkata :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشِّغَارِ» زَادَ ابْنُ نُمَيْرٍ: ” وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِي، أَوْ زَوِّجْنِي أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِي “،

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang pernikahan asy-Syighoor. Yaitu seorang laki-laki mengatakan pada temannya : “nikahkanlah anakmu denganku, nanti aku akan nikahkan anakku denganmu, atau nikahkanlah saudara perempuanmu denganku, nanti aku akan menikahkan saudara perempuanku denganmu (HR. Muslim).

 

[21] Berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَحَقُّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الفُرُوجَ

Syarat-syarat yang lebih berhak untuk ditunaikan adalah apa yang dapat menghalalkan kemaluan (pernikahan) (Muttafaqun ‘Alaih).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: