SIKAP DALAM MENGHADAPI KHILAFIYAH IJTIHADIYYAH

March 11, 2016 at 11:35 pm | Posted in fiqih, Nasehat | Leave a comment

TIDAK MEMASTIKAN DAN TIDAK MENOLAK DALAM MASALAH-MASALAH IJTIHADIYYAH

 

Masalah Ijtihadiyyah adalah masalah yang nash baik dari Al Qur’an maupun Hadits Nabawi tidak menunjukkan dilalah hukum yang tegas, kemudian masing-masing mujtahid mengintepretasikan istimbah hukum dari nash-nash tersebut sesuai dengan pendalaman dan kajian mereka masing-masing, sehingga akhirnya timbul perbedaan pendapat didalam masalah-masalah tersebut. Pada asalnya tidak boleh bagi seseorang untuk memastikan masalah-masalah ijtihadiyyah yang mengandung dua pendapat atau lebih, begitu juga sebaliknya tidak boleh ada penolakan seseorang kepada orang lain dalam masalah-masalah ijtihadiyyah tersebut. Dengan mengedapankan sikap-sikap seperti ini maka akan menjadi salah satu faktor –bi idznillah- untuk mendekatkan para Da’i Islam didalam menghadapi masalah-masalah khilafiyyah (perbedaaan pendapat) yang terjadi diantara mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang orang yang mengikuti sebagian ulama dalam masalah –masalah ijtihadiyyah, apakah ia harus diingkari atau dihindari? Demikian pula tentang orang yang melaksanakan salah satu dari dua pendapat?

Ia menjawab, “segala puji milik Allah. Orang yang –dalam masalah-masalah ijtihadiyyah- mengamalkan sebagian pendapat ulama, tidak boleh dihindari maupun diingkari. Demikian pula orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, ia tidak boleh dikecam. Jika dalam suatu masalah terdapat dua pendapat, bagi orang yang telah nampak mana yang lebih kuat, ia boleh beramal sesuai dengannya. Tetapi jika tidak, ia boleh mengikuti sebagian ulama yang dapat dipercaya dalam menjelaskan mana yang lebih kuat (rajih) diantara dua pendapat. Wallahu A’lam (Majmu Fatawa, 20/207).

Asy-Syaikh Shoolih bin Fauzan al Fauzan memiliki penjelasan yang bagus terkait tema ini, kata beliau : “Ijtihad dalam masalah fiqhiyyah selama tidak jelas dalilnya diantara salah satu dari dua pendapat, bahkan kedua pendapat tersebut memiliki kemungkin yang sama-sama benar, maka dalam hal ini tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah-masalah ijtihadiyyah, selama tidak ada yang kuat dalilnya.

Tidak boleh mengingkari orang yang mengambil salah satu pendapat, dengan syarat hal tersebut bukan karena fanatik atau hawa nafsunya, namun ia menginginkan kebenaran. Oleh karenanya ulama Hanbali tidak mengingkari Syafi’i, begitu juga Syafi’i tidak mengingkari Maliki, para Imam yang empat dan para pengikutnya saling bersaudara sepanjang zaman –walhamdulillah-, tidak pernah terjadi permusuhan diantara mereka, atau saling bermuka masam. Jika hal tersebut terjadi, biasanya berasal dari sebagian kalangan yang fanatik buta, yang mereka tidak perlu dianggap, karena mayoritas pemeluk madzhab empat –walhamdulillah- tidak pernah terjadi permusuhan, pertikaian dan saling bermukan masam. Mereka sholat dibelakang orang yang berbeda madzhab dengannya, mereka satu sama lainnya saling mengucapkan salam, dan bersaudara, sekalipun mereka berbeda pendapat pada sebagian masalah-masalah ijtihadiyyah, yang tidak nampak jelas dalilnya bagi sebagian diantara mereka. Disinilah mereka mengucapkan kalimat yang masyhur : “tidak ada pengingkaran dalam masalah-masalah ijtihadiyyah” (Syarah Masa`ilul Jahiliyyah, hal. 46).

Akan tetapi bukan berarti terhadap masalah-masalah ijtihadiyyah tidak boleh untuk melakukan pembahasan mana sekiranya pendapat yang lebih kuat (rajih), sedangkan pendapat lainnya adalah lemah (marjuh). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “karena itu, para ulama yang menyusun tentang amar ma’ruf dan nahi mungkar dari madzhab Syafi’i, dan lainnya berkata : “masalah-masalah ijtihadiyyah seperti ini tidak boleh diingkari dengan tangan (kekerasan). Tidak diperbolehkan seorang pun memaksa orang lain untuk mengikutinya. Akan tetapi, ia diperbolehkan berbicara tentang masalah-masalah ijtihadiyyah ini dengan hujjah-hujjah ilmiah. Siapa yang telah dapat membuktikan keshahihan salah satu dari dua pendapat maka ia boleh mengikutinya. Barangsiapa yang mengikuti pendapat lain maka ia tidak boleh diingkari. Masalah-masalah seperti ini banyak sekali… (Majmu Fatawa, 30/79-81).

 

Referensi :

  • Fiqhul Ikhtilaf, karya DR. Yusuf Qordhowi.
  • Syarah Masa`ilul Jahiliyyah, DR. Sholih bin Fauzan al-Fauzan.
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: