RINGKASAN FIQHUS SUNNAH KITAB SHOLAT (1)

March 14, 2016 at 11:25 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

RINGKASAN KITAB SHOLAT DARI FUQHUS SUNNAH

 

  • Definisi Sholat adalah ibadah yang terkandung didalamnya ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir kepada Allah Azza wa Jalla dan diakhiri dengan salam.
  • Kedudukan sholat dalam Islam sangat tinggi sekali, yaitu sebagai berikut :
    1. Sholat sebagai tiang agama
    2. Sholat adalah ibadah yang pertamakali Allah wajibkan kepada umat Rasulullah dan diterima langsung oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tanpa perantara pada waktu malam Mi’raj.
    3. Sholat adalah ibadah yang pertama kali seorang hamba akan dihisab pada hari perhitungan.
    4. Sholat adalah wasiat terakhir Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sesat menjelang wafatnya Beliau sholallahu alaihi wa salam.
    5. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggandengkan sholat dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti : dzikir, zakat, dan terkadang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika menyebutkan amalan kebaikan membuka dan menutupnya dengan sholat.
    6. Karena saking pentingnya sholat, maka hal tersebut diwajibkan kepada hamba-Nya dalam kondisi apapun, baik mukim, safar, kondisi aman, kondisi ketakutan karena perang, sehat maupun sakit.
    7. Sholat adalah ibadah besar yang seorang butuh hidayah khusus agar senantiasa menjadi orang-orang yang mendirikan sholat, sebagaimana doa Nabi Ibrohim alaihi salam agar Beliau dan anak keturunannya menjadi orang-orang yang menegakkan sholat.
  • Hukum meninggalkan sholat
    1. Para ulama sepakat bahwa orang yang berkeyakinan bahwa sholat tidak wajib atau ingkar terhadap kewajiban sholat, maka ia telah kafir.
    2. Para ulama berbeda pendapat jika orang yang meninggalkan sholat masih meyakini kewajibannya, namum ia meninggalkannya karena malas atau beralasan dengan kesibukkannya. Imam Ahmad dan yang sependapat dengannya mengatakan bahwa orang tersebut kafir berdasarkan dalil-dali berikut :
  • العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya ia telah kafir (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

  • لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةِ

Tidak ada pembeda antara seorang hamba dengan kekufuran, kecuali meninggalkan sholat (HR. Nasa’i, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

3. Sedangkan mayoritas ulama lainnya, seperti Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i memandang ia tidak kafir, tapi fasik dan diminta untuk bertaubat dengan mengerjakan sholat, jika tidak mau maka ia dibunuh sebagai hukuman atas pengingkarannya, ini adalah pendapatnya Malik dan Syafi’i. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat ia dipenjara sampai mau mengerjakan sholat.

  • Sholat diwajibkan kepada setiap Muslim yang berakal dan sudah baligh, adapun anak kecil yang belum baligh maka ia mulai diajarkan untuk sholat dan diperintahkan pada umur 7 tahun, dan jika umur 10 tahun masih membandel tidak mau sholat maka pukullah.
  • Sholat yang diwajibkan adalah 5 waktu yaitu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.
  • Waktu sholat Dhuhur adalah mulai dari tergelincirnya Matahari pada waktu di tengah langit, sampai panjang bayangan sama dengan panjang bendanya. Pada kondisi panas, sholat Dhuhur dapat diundurkan menunggu agak sedikit berkurang panasnya. Adapun berapa kapan waktu penundaaanya yang jelas jangan sampai habis waktunya, yakni ada yang mengatakan ketika panjang bayangan sepertiganya, atau setengahnya atau yang lainnya.
  • Waktu sholat Ashar adalah dimulai ketika panjang bayangan sama dengan panjang bendanya, sampai tenggelamnya matahari. Imam Nawawi membagi waktu Ashar menjadi 5 yaitu : waktu utama adalah pada awal waktu; waktu ikhtiyar adalah memanjang sampai panjang bayangan dua kali panjang bendanya; waktu jawas bilaa karoohah adalah dari panjang bayangan dua kali panjang bendanya sampai Matahari mulai menguning; waktu jawas ma’a karohah adalah dari matahari menguning sampai tenggelamnya matahari; sedangkan waktu udzur adalah ketika sholat Ashar dikerjakan bersama dengan sholat Dhuhur (jamak takdim), karena adanya udzur seperti safar atau hujan.
  • Waktu Isya dimulai dari hilangnya syafaq merah sampai tengah malam, ini adalah waktu ikhtiyari, adapun waktu jawaz adalah memanjang sampai terbitnya fajar shodiq, berdasarkan hadits :

لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى

Tidaklah tidur itu dinamakan meremahkan, yang disebut meremehkan adalah orang yang tidak sholat kecuali hingga tiba waktu sholat berikutnya (HR. Muslim).

  • Waktu utama untuk mengerjakan sholat Isya adalah tengah malam, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ، وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى، فَقَالَ: «إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي»

Nabi sholallahu alaihi wa salam melaksanakan sholat Isya pada suatu hari ketika malam telah larut, hingga orang-orang yang di masjid sudah tertidur, kemudian Beliau sholallahu alaihi wa salam keluar dan mengerjakan sholat, lalu bersabda : “ini adalah waktu sholat Isya’, seandainya tidak memberatkan umatku” (HR. Muslim).

  • Waktu Sholat Subuh mulai dari terbitnya fajar shodiq sampai terbitnya Matahari.
  • Orang yang tertidur atau lupa sehingga waktu sholat telah luput darinya, maka ia mengerjakan sholat yang luput tersebut pada waktu bangun dari tidur atau ketika teringat, berdasarkan hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam :

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

Barangsiapa yang lupa sholat, maka sholatlah ketika ia ingat, tidak ada kafarah baginya, kecuali mengerjakan sholat tersebut (Muttafaqun ‘Alaih).

  • Waktu yang dilarang untuk mengerjakan sholat adalah setelah sholat Subuh sampai terbitnya matahari, pada saat matahari terbit sampai naik setinggi tombak, pada saat zawal (tepat ditengah-tengah) sampai tergelincir ke barat, dan setelah sholat Ashar sampai tenggelamnya matahari. Namun sebagian ulama membolehkan sholat sunah yang memiliki sebab pada waktu-waktu tersebut seperti : sholat jenazah, tahiyyatul masjid, sholat wudhu dan semisalnya.
  • Tidak boleh mengerjakan sholat tathowu’ pada saat dikumandangkannya iqomat, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Jika sholat telah di-iqomat-i, maka tidak ada sholat kecuali sholat wajib (HR. Muslim).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: