RINGKASAN FIQHUS SUNAH KITAB SHOLAT (2)

March 15, 2016 at 10:56 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

  • Adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu sholat dengan lafadz-lafadz tertentu.
  • Hukumnya wajib atau sunah menurut asy-Syaikh Sayyid Sabiq.
  • Keutamaan adzan, diantaranya yaitu :
    1. Keutamaannya sangat besar yang sebenarnya orang-orang berebutan untuk mendapatkannya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْأَذَانِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ

Seandainya seorang mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shof pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya, kecuali dengan diuji, niscaya mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya (HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh M.M. al-Adzhami).

  1. Orang yang muadzin lehernya menjadi panjang pada hari kiamat, sehingga akan mudah dikenali, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tukang adzan adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat (HR. Muslim).

  1. Tukang adzan akan diampuni dosanya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ

Tukang adzan akan diampuni dosanya sepanjang suaranya dan akan disaksikan oleh setiap yang basah maupun kering (HR. Ahmad dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

  1. Jika ada komunitas terdiri dari 3 orang atau lebih, tidak melakukan adzan, maka setan akan menguasainya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ لَا يُؤَذَّنُ وَلَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ

Jika ada 3 orang dalam salah satu perkampungan yang tidak mengumandangkan adzan dan tidak juga menegakkan sholat, melainkan setan akan menguasai mereka (HR. Abu Dawud dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

  1. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memohonkan ampunan bagi tukang adzan, Beliau bersabda :

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ

Imam itu penjamin, sedangkan tukang adzan orang kepercayaan, Ya Allah beri petunjuk kepada para Imam dan ampunilah para tukang adzan (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni tukang adzan dan memasukkannya kedalam surga. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ، وَيُصَلِّي، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّنُ، وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ، يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Rabb kalian kagum dengan seorang penngembala kambing di puncak buki, ia adzan untuk sholat, lalu mengerjakan sholat. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman : “lihatlah hambaku ini, ia adzan lalu mengerjakan sholat karena takut kepada-Ku, maka sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku ini dan memasukkannya kedalam surga” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al Albani).

  • Sebab disyariatkannya adzan pada tahun pertama hijriyyah. Para sahabat berdiskusi tentang cara memanggil manusia untuk melaksanakan sholat, sebagian mengusulkan menggunakan terompet seperti Yahudi, sebagian lagi mengusulkan menggunakan lonceng seperti nasroni, kemudian Abdullah bin Abdu Robbihi bermimpi diajarkan tatacara adzan, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam membenarkan mimpi tersebut.
  • Variasi lafadz adzan adalah sebagai berikut :
    1. Lafadz Abdullah bin Zaid rodhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah, lalu dihasankan oleh Imam Al Albani dengan lafadz :

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Allah maha besaar, Allah maha besar, Allah maha besaar, Allah maha besar, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Allah maha besar, Allah maha besar, tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”.

Jadi kalau kita hitung ada 15 kalimat. Hadits ini dijadikan hujjah oleh madzhab Hanbali dan Hanafi yang mereka berpendapat bahwa azan ada 15 kalimat.

  1. Dalam Shahih Muslim sebagaimana diatas awal lafadz takbir sebanyak 2 kali, sehingga kalau kita hitung ada 17 kalimat. Ini dipegang oleh madzhab maliki.
  2. Namun diluar Shahih Muslim, yakni didalam Sunan Abu Dauwd, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan selainnya dari Abu Mahdzurah rodhiyallahu anhu juga, pada awalnya ada 4 kali takbir, sehingga jumlah kalimatnya ada 19. Ini dijadikan pegangan oleh Imam Syafi’i dan ashabnya.
  • Disyariatkan tastwiib pada adzan Subuh, sebagaimana hadits berikut :

فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ،

Jika sholat Subuh mengucapkan : “sholat lebih baik daripada tidur, sholat lebih baik daripada tidur” (HR.Ashbus Sunan, dishahihkan Al Albani).

  • Lafadz iqomat ada 3 versi juga yaitu :
    1. Allahu Akbar 4 kali, Syahadat Allah 2 kali, Syahadat Rasul 2 kali, Hayya ‘alaa ash-Sholat 2 kali, Hayya ‘alaa al-Falaah 2 kali, qod qomatish sholat 1 kali, Allahu Akbar 2 kali, Laa Ilaaha illallah 1 kali. Berdasarkan hadits Abu Makhdzuuroh rodhiyallahu anhu.
    2. Allahu Akbar 2 kali, Syahadat Allah 1 kali, Syahadat Rasul 1 kali, Hayya ‘alaa ash-Sholat 1 kali, Hayya ‘alaa al-Falaah 1 kali, qod qomatish sholat 2 kali, Allahu Akbar 2 kali, Laa Ilaaha illallah 1 kali. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid rodhiyallahu anhu.
    3. Seperti point no. 2 tapi Qod Qomati ash-Sholaatnya sebanyak 1 kali. Ini adalah pendapatnya Malik yang menjadi amalan ahlul madinah.
  • Bagi yang mendengarkan adzan, disyariatkan mengucapkan seperti ucapan muadzin, namun kata Hayya ‘alaa ash-sholaat dan Hayya ‘alaa al-Falaah, diganti dengan Laa Haula walaa Quwwata illa billah.
  • Bersholawat kepada Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam setelah mendengarkan adzan.
  • Doa setelah mendengar adzan sebagai berikut :

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Ya Allah Ya Rabb doa yang sempurna ini dan sholawat yang tegak, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta utuslah Beliau kepada kedudukan yang terpuji, yang telah Engkau janjikan kepadanya (HR. Bukhori).

  • Doa antara adzan dan iqomat adalah waktu terkabulnya doa.
  • Sifat yang hendaknya dimiliki oleh tukang adzan :
    1. Ikhlas dalam menjalankan adzannya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    2. Suci dari hadats besar dan kecil.
    3. Berdiri menghadap kiblat.
    4. Menengok ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan Hayya…
    5. Memasukkan jarinya ke telinga.
    6. Meninggikan suaranya ketika adzan.
    7. Tarasul yakni menjedakan ketika adzan pada masing-masing kalimat dan mengucapkan lebih cepat ketika iqomat.
    8. Tidak berbicara pada saat sedang iqomat dan dimakruhkan juga berbicara ketika adzan.
  •  Adzan pada awal waktu, kecuali pada sholat Subuh boleh sebelum fajar shodiq.
    • Memisahkan antara adzan dengan iqomat, dan jeda waktunya sekirangnya seorang dapat melaksanakan sholat sunah dan orang-orang dapat menghadiri sholat berjamaah.
    • Orang yang adzan dia juga yang iqomat.
    • Sebagian ulama tidak menyebutkan kapan orang-orang bangun (dari duduk) ketika iqomat, sebagian ulama menyebutkan ketika muadzin mengucapkan qod qoomat ash-sholaat.
    • Larangan keluar dari masjid (tanpa udzur) setelah dikumandangkannya adzan.
    • Adzan dan iqomat tetap disyariatkan bagi orang yang luput dari sholat pada waktunya karena tertidur atau lupa.
    • Sebagian ulama membolehkan wanita adzan dan iqomat ditengah-tengah jamaah wanita.
    • Sebagian ulama membolehkan seorang yang masuk masjid, walaupun sholat sudah selesai dikerjakan, kemudian ia adzan dan iqomat untuk mengerjakan sholat setelah itu.
    • Boleh menjeda antara iqomat dengan sholat.
    • Adzan dilakukan oleh muadzin tetap jika ada, atau diizinkan olehnya atau menggantikannya ketika tidak bisa hadir.
    • Adzan tidak boleh disandarkan kepada ibadah lainnya tanpa dalil.
  • Hal-hal yang tidak ada syariatnya terkait adzan yaitu :
    1. Muadzin menambahkan kata Sayyidina Muhammad.
    2. Orang yang mendengarkan muadzin menambahkan ucapan ketika mendengar syadah Rasul : “asyhadu anna Muhammadan abduhu wa Rosuluhu, Rodhitu billahi Robba, wabil Islaamadiina, wabi Muhammadin Nabiya.
    3. Menyanyikan adzan dan Lahn dengan menambah huruf, harokat atau panjangnya.
    4. Bertasbih atau puji-pujian sebelum adzan.
    5. Mengeraskan sholawat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam setelah adzan.
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: