DURORUL BAHIYYAH : 8B. AIB DAN PERNIKAHAN ORANG KAFIR

March 16, 2016 at 11:32 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

8B. Aib dan Pernikahan Orang Kafir

 

(باب العيوب وأنكحة الكفّار)

ويجوز فسخ النكاح بالعيب

Boleh untuk mem-Fasakh (membatalkan) pernikahan karena adanya aib[1].

ويُقرّ من أنكحة الكفار – إذا أسلموا – ما يُوافق الشّرع،

Diakui pernikahan orang-orang kafir, setelah masuk Islam, selama sesuai

وإذا أسلم أحد الزوجين؛ انفسخ النّكاح،

dengan syariat[2]. Jika salah satu pasangan masuk Islam, maka pernikahannya

، وتجب العدّة،

di-Fasakh, lalu wajib bagi sang istri menjalani Iddah, jika suaminya (yang

فإن أسلم ولم تتزوج المرأة؛

tadinya kafir) kemudian masuk Islam, dan sang istri belum menikah, maka

كانا على نكاحهما الأول؛ ولو طالت المدة؛

dapat dikembalikan ke pernikahan sebelumnya[3], sekalipun jeda waktunya

إذا اختارا ذلك.

lama, jika kedua pasangan menghendaki hal tersebut[4].

 

 

[1] Berdasarkan hadits Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu secara mauquf, beliau berkata :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ غُرَّ بِهَا رَجُلٌ بِهَا جُنُونٌ أَوْ جُذَامٌ أَوْ بَرَصٌ فَلَهَا مَهْرُهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا

Wanita mana saja yang tertipu oleh pasangannya, yaitu suaminya ternyata gila atau cebol atau punya penyakit kusta, maka ia mendapatkan mahar atas apa yang menimpanya (HR. Daruquthni dan selainnya, dikatakan Sidiq Hasan Khoon, para perowinya tsiqot).

[2] Berdasarkan hadits Fairuz rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَسْلَمْتُ وَعِنْدِي امْرَأَتَانِ أُخْتَانِ، فَأَمَرَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أُطَلِّقَ إِحْدَاهُمَا

Aku masuk Islam dan aku memiliki 2 istri yang masih kakak-beradik, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkanku untuk menceraikan salah satunya (HR. Ahmad dan selainnya, dikatakan Syu’aib Arnauth sanadnya memungkinkan untuk dihasankan).

[3] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

وَكَانَ إِذَا هَاجَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الحَرْبِ لَمْ تُخْطَبْ حَتَّى تَحِيضَ وَتَطْهُرَ، فَإِذَا طَهُرَتْ حَلَّ لَهَا النِّكَاحُ، فَإِنْ هَاجَرَ زَوْجُهَا قَبْلَ أَنْ تَنْكِحَ رُدَّتْ إِلَيْهِ

Jika sang istri berhijrah dari negeri kafir, maka tidaklah ia dilamar sampai ia telah berhaidh dan suci, jika ia telah suci maka halal menikahinya. Jika suaminya berhijrah sebelum sang istri menikah, maka dikembalikan kepadanya (HR. Bukhori).

[4] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَدَّ ابْنَتَهُ زَيْنَبَ عَلَى أَبِي الْعَاصِ زَوْجِهَا بِنِكَاحِهَا الْأَوَّلِ بَعْدَ سَنَتَيْنِ، وَلَمْ يُحْدِثْ صَدَاقًا

Bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengembalikan anak perempuannya Zainab Rodhiyallahu ‘anha kepada Abil ‘Aash Rodhiyallahu ‘anhu suaminya dengan pernikahan yang pertama setelah jeda 2 tahun, dan tidak ada mahar baru lagi (HR. Ahmad dan selainnya, dihasankan oleh Syu’aib Arnauth).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: