DURORUL BAHIYYAH : MAHAR DAN PERGAULAN RUMAH TANGGA

March 20, 2016 at 2:13 am | Posted in fiqih | Leave a comment

8C. Bab Mahar dan Pergaulan Rumah Tangga

 

(باب المهر والعِشْرة)

المهر واجب، وتُكره المغالاة فيه

Mahar adalah wajib[1], namun dimakruhkan untuk meminta mahar yang

ويصح ولو خاتماً من حديد، أو تعليم قرآن،

mahal[2]. Sah mahar sekalipun dengan cincin besi, atau mengajarkan

ومن تزوج امرأة ولم يُسمّ لها صداقاً؛

Al-Qur’an[3]. barangsiapa yang menikahi seorang wanita dan tidak

فلها مهر نسائها إذا دخل بها،

menyebutkan mahar untuknya, maka ia tetap mendapatkan mahar wanita

، ويُستحبّ تقديم

pada umumnya jika ia telah berhubungan suami istri dengannya[4]. Disunahkan

شيء من المهر قبل الدخول،

untuk mendahulukan memberikan mahar, sebelum melakukan hubungan

وعليه إحسان العِشْرة، وعليها الطاعة،

suami istri[5]. Wajib bagi suami untuk bergaul baik dengan istri[6] dan wajib bagi

ومن كانت له زوجتان فصاعداً؛

istri untuk taat kepada suami[7]. Barangsiapa yang memiliki istri dua atau lebih,

عَدَل بينهن في القسمة وما تدعو الحاجة إليه،

maka wajib berbuat adil dalam pembagian giliran[8], memenuhi kebutuhan

وإذا سافر أقرع بينهن،

mereka, jika bersafar maka diundi salah satu diantara mereka untuk ikut[9].

وللمرأة أن تَهَب نوْبتها،

Sang istri boleh memberikan hadiah gilirannya kepada yang lainnya[10] atau

أو تُصالح الزوج على إسقاطها،

berdamai dengan suami untuk menggugurkan gilirannya[11]. Suami yang

ويقيم عند الجديدة البِكْر سبعاً، والثيّب ثلاثاً،

menikah lagi dapat tinggal dengan istri barunya selama 7 hari untuk perawan

ولا يجوز العزل، ولا يجوز إتيان المرأة في دبرها.

dan 3 hari untuk janda[12], tidak boleh melakukan ‘Azl[13], dan tidak boleh juga berhubungan dengan istri lewat pantat[14].

 

فصل: والولد للفراش،

Pasal : anak adalah bagi orang yang menggauli ibunya[15], tidak bisa dianggap

ولا عبرة لشَبَهه بغير صاحبه،

sesuatu yang masih samar yang bukan pemiliknya. Jika 3 orang berserikat

وإذا اشترك ثلاثة في وطء أمَة في طهر مَلَكها

dalam menggauli seorang budak wanita dalam kondisi suci, maka pemilik

كل واحد منهم فيه، فجاءت بولد، وادّعوه جميعاً؛

anak adalah ketiga orang tersebut, kemudian si budak wanita membawa

فيُقْرَع بينهم

anaknya dan mengumpulkan ayahnya semuanya, lalu diundi siapa yang

، ومن استحقّه بالقُرعة؛

berhak menjadi ayahnya, yang menang dalam undian maka ia yang berhak

فعليه للآخرين ثُلُثَا الدِّيّة.

sebagai ayahnya dan ia membayar diyat kepada kedua orang lainnya

sebanyak masing-masing sepertiga diyat[16].

 

 

[1] Berdasarkan perbuatan Nabi sholallahu alaihi wa salam yang mempersyaratkan mahar ketika Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu menikahi Fathimah rodhiyallahu anha, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu :

لَمَّا تَزَوَّجَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْطِهَا شَيْئًا»، قَالَ: مَا عِنْدِي شَيْءٌ، قَالَ: «أَيْنَ دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّةُ؟»

Tatkala Ali rodhiyallahu anhu menikahi fathimah rodhiyallahu anha, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya : “berikan sesuatu (mahar)  kepadanya?:, Ali rodhiyallahu anhu berkata : “aku tidak punya apa-apa?”, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata : “mana baju besi al-khuthomiyyah” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dishahihkan Al Albani).

[2] Berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Aamir rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ

Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan (HR. Al Hakim dan selainnya, dishahihkan Al Hakim, Al Albani dan disetujui oleh adz-Dzahabi).

[3] Berdasarkan hadits Sahl bin Sa’ad rodhiyallahu anhu beliau berkata :

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنِّي وَهَبْتُ مِنْ نَفْسِي، فَقَامَتْ طَوِيلًا، فَقَالَ رَجُلٌ: زَوِّجْنِيهَا إِنْ لَمْ تَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ، قَالَ: «هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ تُصْدِقُهَا؟» قَالَ: مَا عِنْدِي إِلَّا إِزَارِي، فَقَالَ: «إِنْ أَعْطَيْتَهَا إِيَّاهُ جَلَسْتَ لاَ إِزَارَ لَكَ، فَالْتَمِسْ شَيْئًا» فَقَالَ: مَا أَجِدُ شَيْئًا، فَقَالَ: «التَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ» فَلَمْ يَجِدْ، فَقَالَ: «أَمَعَكَ مِنَ القُرْآنِ شَيْءٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، سُورَةُ كَذَا، وَسُورَةُ كَذَا، لِسُوَرٍ سَمَّاهَا، فَقَالَ: «قَدْ زَوَّجْنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ»

Seorang wanita mendatangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam lalu ia berkata : “sesungguhnya aku telah menghibahkan diriku (untukmu)”, ia berdiri lama, lalu salah seorang berkata : “nikahkan aku dengannya, jika engkau tidak mau dengannya!”. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “apakah engkau memiliki sesuatu sebagai maharnya?”, laki-laki tadi berkata : “aku tidak punya apa-apa kecuali sarungku ini”. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “jika engkau memberikannya, engkau akan duduk tanpa mengenakan sarung, maka cari yang lain!”. Laki-laki tadi berkata : “aku tidak punya apa-apa”, kata Nabi : “carilah walaupun cincin dari besi”. Laki-laki tadi berkata : “aku tidak punya”. Lanjut Nabi : “apakah engkau memiliki hapalan Al Qur’an?”, laki-laki tadi berkata : “iya, aku hapal surat ini dan itu, ia sebutkan surat-surat yang dihapal. Maka kata Nabi sholallahu alaihi wa salam : “kami menikahkannya dengan hapalan Al Qur’annya” (Muttafaqun ‘Alaih).

 

[4] Berdasarkan hadits ‘Alqomah ia berkata :

أُتِيَ عَبْدُ اللهِ فِي امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، قَالَ: فَاخْتَلَفُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَى لَهَا مِثْلَ صَدَاقِ نِسَائِهَا، وَلَهَا الْمِيرَاثُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَشَهِدَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ: ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ بِمِثْلِ مَا قَضَى

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu didatangi saeorang wanita yang telah menikah dengan seorang laki-laki, lalu meninggal dunia dan ia belum menentukan mahar dan belum juga berhubungan badan dengannnya. Orang-orang berselisih pendapat tentang hal ini, maka Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu berkata : “aku berpendapat ia diberikan seperti mahar wanita (semisalnya), lalu ia mendapatkan warisan juga, dan wajib baginya menjalani masa Iddah”. Lalu Ma’qil bin Sinaaan al-Asyja’iy rodhiyallahu anhu bersaksi bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam telah memutuskan untuk Birwa’ anaknya Waasyiq rodhiyallahu anha seperti keputusannya Ibnu Mas’ud tersebut (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dishahihkan Syu’aib Arnauth).

[5] Sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu sebelumnya.

[6] Berdasarkan Firman Allah dalam An Nisaa` ayat 19 :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut.

[7] Berdasarkan Firman Allah dalam An Nisaa` ayat 34 :

فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا

Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

[8] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

Barangsiapa yang memiliki 2 istri, lalu salah satunya condong kepada yang lainnya, maka pada hari kiamat (jalannya) miring satu sisi (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al Albani).

[9] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ أَزْوَاجِهِ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam jika ingin bepergian, Beliau mengundi diantara istri-istrinya (siapa yang akan menemaninya) (Muttafaqun ‘Alaih).

[10] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata :

أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَبْتَغِي بِذَلِكَ رِضَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwa Saudah binti Zam’ah rodhiyallahu anha menghadiahkan giliran harinya kepada Aisyah rodhiyallahu anha dalam rangka mendapatkan ridho Rasulullah sholallahu alaihi wa salam (Muttafaqun ‘Alaih).

[11] Berdasarkan tafsir Aisyah rodhiyallahu anha terhadap surat An Nisaa` ayat ke-128 :

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).

Aisyah rodhiyallahu anha berkata menafsiri ayat tersebut :

هِيَ المَرْأَةُ تَكُونُ عِنْدَ الرَّجُلِ لاَ يَسْتَكْثِرُ مِنْهَا، فَيُرِيدُ طَلاَقَهَا وَيَتَزَوَّجُ غَيْرَهَا، تَقُولُ لَهُ: أَمْسِكْنِي وَلاَ تُطَلِّقْنِي، ثُمَّ تَزَوَّجْ غَيْرِي، فَأَنْتَ فِي حِلٍّ مِنَ النَّفَقَةِ عَلَيَّ وَالقِسْمَةِ لِي

Itu adalah seorang istri yang suaminya sudah tidak berminat lagi dan hendak menceraikannya dan menikah dengan wanita lain, maka sang istri berkata : “tahanlah aku dan aku jangan diceraikan, silakan menikah dengan wanita lain dan aku bebaskan engkau dari menafkahiku dan memberikan giliran untukku (HR. Bukhori).

[12] Berdasarkan hadits Anas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يُقِيمَ عِنْدَ الْبِكْرِ سَبْعًا

Termasuk sunah seseorang tinggal (berbulan madu) dengan isti yang perawan selama 7 hari (HR. Muslim).

Dalam hadits Ummu Salamah rodhiyallahu anha (janda dari Abu Salamah) :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا تَزَوَّجَهَا أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ

Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ketika menikahinya, Beliau tinggal disisinya selama 3 hari (HR. Muslim dan selainnya).

[13] Berdasarkan hadits Judaamah binti Wahab rodhiyallahu anha beliau berkata :

ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنِ الْعَزْلِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ»

Kemudian mereka bertanya tentang Azl (yakni mengeluarkan sperma diluar kemaluan istri –pent.), maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “itu adalah (seperti) penguburan anak wanita secara tersembunyi (HR. Muslim).

[14] Berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda :

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

Terlaknatlah seorang yang menggauli istrinya pada pantatnya (HR. Ahmad dan selainnya, dihasankan Al Albani).

[15] Berdasarkan hadits Aisyah rodhiyallahu anha bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Seorang anak itu dinasabkan kepada pemilik ranjang (suami ibunya), sedangkan anak zina dinasabkan kepada batu (tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinahi ibunya –pent.) (Muttafaqun ‘Alaih).

[16] Berdasarkan hadits Zaid bin Arqom rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أُتِيَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَهُوَ بِالْيَمَنِ، فِي ثَلَاثَةٍ قَدْ وَقَعُوا عَلَى امْرَأَةٍ فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلَ اثْنَيْنِ، فَقَالَ: «أَتُقِرَّانِ لِهَذَا بِالْوَلَدِ؟» فَقَالَا: لَا، ثُمَّ سَأَلَ اثْنَيْنِ، فَقَالَ: «أَتُقِرَّانِ لِهَذَا بِالْوَلَدِ؟» فَقَالَا: لَا، فَجَعَلَ كُلَّمَا سَأَلَ اثْنَيْنِ: «أَتُقِرَّانِ لِهَذَا بِالْوَلَدِ؟» قَالَا: لَا، «فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ، وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالَّذِي أَصَابَتْهُ الْقُرْعَةُ، وَجَعَلَ عَلَيْهِ ثُلُثَيِ الدِّيَةِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ»

Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu pada waktu di Yaman pernah didatangi 3 orang laki-laki yang telah menggauli seorang wanita dalam keadaan suci. Maka beliau berkata kepada kedua orang : ‘apakah engkau setuju bahwa orang yang ketiga ini sebagai bapaknya?’, mereka berdua menjawab : ‘tidak’. Kemudian beliau bertanya kepada kedua orang lainnya lagi : ‘apakah engkau setuju bahwa orang yang ketiga ini sebagai bapaknya?’, mereka berdua menjawab : ‘tidak’. . Kemudian beliau bertanya kepada kedua orang lainnya lagi : ‘apakah engkau setuju bahwa orang yang ketiga ini sebagai bapaknya?’, mereka berdua menjawab : ‘tidak’. Kemudian akhirnya mereka semua diundi dan yang keluar dalam undian adalah yang berhak memiliki anak tersebut, dan membayar diat sepertiga kepada masing-masing kedua orang lainnya. Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, maka Beliau tertawa hingga kelihata gigi gerahamnya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan Al Albani).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: