SHOLAT PADA AWAL WAKTUNYA

May 19, 2016 at 11:15 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

SHOLAT PADA AWAL WAKTUNYA

 

Sholat wajib sehari semalam adalah amalan yang menjadi rutinitas sehari-hari serang Muslim. Pelaksanaan sholat fardhu ini telah ditentukan waktu-waktunya oleh pembuat syariat, yang tidak boleh seorang pun untuk melampaui pelaksanaan sholatnya diluar waktu-waktu yang telah ditentukan tanpa udzur. Allah -Subhanahu wa Ta’aalaa- berfirman :

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An Nisaa’ : 103).

Kemudian Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- pernah ditanya apa amalan yang utama oleh Abdullah bin Mas’ud -Rodhiyallahu ‘anhu- :

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

Aku bertanya kepada Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?”, Beliau menjawab : “sholat pada waktunya”. Sambungku lagi : “lalu apa?”, jawabnya : “lalu berbakti kepada kedua orang tua”, lanjutku : “lalu apa lagi?”, jawab Beliau : “Jihad di jalan Allah”. (Muttafaqun ‘alaih).

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan sholat ‘alaa waqtihaa adalah sholat fii awali waqtiha, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Musthofa al-Bughoo dalam Ta’liqnya terhadap Shahih Bukhori :

(على وقتها) في أول وقتها

‘alaa waqtihaa yakni pada awal waktu.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menguatkan bahwa yang dimaksud dengannya adalah pada awal waktu. Hal ini didukung oleh riwayat lain dengan lafadz :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا»

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- ditanya tentang apakah amalan yang paling utama?, Beliau menjawab :”sholat pada awal waktu”.

Al Hafidz telah menyebutkan takhrij untuk hadits diatas, kata beliau :

وقد روي في هذا الحديث زيادة، وهي: ((الصلاة في أول وقتها)) ، وقد خرجها ابن خزيمة وابن حبان في ” صحيحهما” والحاكم والدارقطني من طرق متعددة. ورويت من حديث عثمان بن عمر، عن مالك بن مغول، [و] من حديث علي بن حفص المدائني، عن شعبة، ورويت عن شعبة من وجه آخر، وفيه نظر، ورويت من وجوه أخر.

واستدل بذلك على أن الصلاة في أول الوقت أفضل، كما استدل لحديث ام فروة، عن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، أنه سئل: أي العمل أفضل؟ قال: ((الصلاة لأول وقتها)) . خرجه الإمام أحمد وأبو داود والترمذي. وفي إسناده اضطراب -: قاله الترمذي والعقيلي.

وقد روي نحوه من حديث ابن عمر، إلا أن إسناده وهم، وإنما هو حديث أم فروة -: قاله الدارقطني في ” العلل”. وروي نحوه من حديث الشفاء بنت عبد الله.

Telah diriwayatkan tambahan untuk hadits ini yaitu : “Sholat pada awal waktunya”. Haditsnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahih keduanya, begitu juga Al Hakim dan Daruquthni dari jalan yang berbeda-beda. Diriwayatkan juga dari hadits Utsman bin Umar dari Malik bin Mighwal dan dari hadits Ali bin Hafsh al-Madain, dari Syu’bah. Kemudian diriwayatkan juga dari Syu’bah jalan lain, namun sanadnya perlu diteliti dan masih ada jalan-jalan lainnya.

Diambil dalil dari hal ini bahwa sholat pada waktunya adalah lebih utama, sebagaimana hadits Ummu Farwah -Rodhiyallahu ‘anhaa- dari Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bahwa Beliau pernah ditanya tentang amalan yang paling utama?, Beliau menjawab : “sholat pada awal waktunya”. Haditsnya dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud[1] dan Tirmidzi. Menurut Tirmidzi dan al-‘Uqoiliy, dalam sanadnya terjadi idhthirob (kegoncangan).

Telah diriwayatkan yang semisal ini dari hadits Ibnu Umar -Rodhiyallahu ‘anhu-, namun dalam sanadnya ada kelemahan. Menurut Daruquthni dalam “al-‘Illlal” hanyalah hadits Ummu Farwah ini mirip dengan haditsnya asy-Syafaa’ binti Abdullah[2].  


[1] Dalam ta’liq terhadap Sunan Abu Dawud, Imam Al Albani menshahihkannya.

[2] Fathul Bari (4/208-209).

Advertisements

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

May 19, 2016 at 4:02 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Yang menjadi catatan saya adalah terkait sabda Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “wa dzalika annahu” (yang demikian itu), seolah-olah dalam kalimat ini terkandung persyaratan bahwa yang berhak mendapatkan keutamaan pahala 25 derajat adalah mereka yang sholat berjamaah di masjid dengan didahului oleh berwudhu dan memperbagus wudhunya di rumah, lalu keluar dari rumah dengan tujuan tunggal untuk sholat berjamaah di masjid dan seterusnya.

Imam ibnu Daqiiqil ‘Ied berkata ketika menyebutkan makna “dzalika” yakni :

أَنَّ اللَّفْظَ – أَعْنِي قَوْلَهُ ” وَذَلِكَ ” – أَنَّهُ يَقْتَضِي تَعْلِيلَ الْحُكْمِ السَّابِقِ

Bahwa lafadz “dzalika” menunjukan bahwa itu adalah lafadz yang mengharuskan alasan hukum sebelumnya (yakni terkait pahala 25 derajat –pent.)[1].

Bahkan dengan tegas asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam menyebutkan keterkaitan hal-hal yang disebutkan diatas sebagai syarat mendapatkan pahala 25 derajat, kata beliau :

hadits ini mengisyaratkan penjelasan keutamaan sholat berjamaah dibandingkan dengan sholat sendirian, dan bahwa barangsiapa yang mengerjakan sholat berjamaah akan mendapatkan pahala 25 derajat dibandingkan sholat sendirian. Sebab mendapatan keutamaan tersebut adalah bahwa orang yang hendak sholat jika ia berwudhu, lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar dari rumah dengan niat murni tidak ada tujuan keluar dari rumah selain untuk menunaikan sholat, tidaklah langkah satu langkah kakinya, kecuali akan diangkat 1 derajat dan akan dihapus satu kesalahan darinya[2].

Maka jika kita identifikasi persyaratan untuk mendapatkan pahala 25 derajat adalah :

1.    Laki-laki

2.    Ia berwudhu di rumah

3.    Ia memperbagus wudhunya

4.    Ia melangkah dengan tujuan untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid.

5.    Langkah kakinya akan diberikan pahala 1 derajat dan dihapuskan 1 kesalahan tiap langkahnya.

6.    Malaikat mendoakannya.

Imam Ibnu Sayiidin Naas mengatakan bahwa persyaratan-persyaratan diatas ada yang bias dianggap dan ada yang tidak bias, berikut secara ringkas pembahasan beliau[3] :

1.    Adapun syarat laki-laki maka ini tidak teranggap, karena wanita juga dalam masalah mendapatkan pahala sama dengan laki-laki, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan telah datang riwayat bahwa Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- melarang seseorang untuk menghalang-halangi wanita yang hendak ikut berjamaah di masjid.

2.    Adapun berwudhu di rumah, menurut beliau tidak masuk dalam cakupan alasan, ini hanya sekedar menyebutkan secara global.

3.    Adapun berwudhu maka ini alasan yang teranggap, namun disesuaikan dengan kondisi, karena pertanyaannya apakah yang dimaksud sekedar ia dalam kondisi suci ketika hendak pergi ke masjid atau yang penting ia bersuci dan beliau lebih condong kepada pendapat yang terpenting ia bersuci. Memang dhohirnya sabda Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “jika ia berwudhu”, namun ini hanya sekedar permisalan saja secara umum, karena tentu orang yang dalam kondisi masih punya wudhu sebelumnya, tercakup dalam syarat ini dan mengulang wudhu juga dianjurkan.

4.    Memperbagus wudhu maka ini syarat yang dianggap.

5.    Tujuan perjalanannya hanya untuk berjamaah di masjid,ini juga persyaratan yang teranggap.

6.    Adapun pahala langkah kakinya, maka ini keutamaan lain yang berbeda dengan keutamaan yang sedang kita bahas ini.

7.    Begitu juga dengan doa Malaikat bagi orang yang tetap duduk menunggu waktu sholat berikutnya.

Jika ada pertanyaan bagaimana dengan orang yang sholat berjamaah di masjid, tapi wudhunya di masjid bukan di rumah, maka asy-Syaikh Zaid bin Musaghir al-Bahriy dalam risalahnya menjelaskan :

أن المستحب في حق المصلي صلاة الجماعة أن يخرج من بيته متوضئا ، فإن توضأ في دورات مياه المسجد فإن ظاهر هذا الحديث والأحاديث الأخرى التي أتت بهذا الفضل ، ظاهرها كما قال ابن حجر رحمه الله ظاهرها أنه لا يحصل على هذا الثواب ، فدل على أفضيلة الوضوء في البيوت

Yang dianjurkan pada orang yang sholat berjamaah ia keluar rumah dalam kondisi berwudhu, jika ia berwudhu di tempat wudhu masjid, maka dhohir hadits dan hadits-hadits lain terkait keutamaan tersebut, adalah sebagaimana pendapat Ibnu Hajar bahwa ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut, maka hal ini menunjukkan keutamaan wudhu di rumah[4].


[1] Ihkamul Ahkam Syarah Umdahtul Ahkam (1/184).

[2] Taisiirul ‘Alam (1/105).

[3] Syarah Sunan Tirmidzi karya beliau (4/168-169).

DURORUL BAHIYYAH : 9B. BAB KHULU’

May 11, 2016 at 11:48 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

9B. Bab Khulu’

 

(باب الخُلْع)

وإذا خالع الرجل امرأته؛ كان أمرها إليها

Jika seorang Laki-laki mengkhulu istrinya, maka urusannya kepada istrinya[1], tidak bisa

، لا ترجع إليه بمجرد الرجعة، ويجوز بالقليل والكثير؛

ruju’ dengan sekedar ruju’[2]. Boleh menebus dengan sedikit atau banyak selama tidak

ما لم يجاوز ما صار إليها منه،

melampaui mahar yang diterimanya[3]. Khulu’ harus dengan ridho diantara kedua

ولا بد من التراضي بين الزوجين على الخُلْع،

pasangan atau dengan putusan hakim, ketika terjadi perselisihan keduanya. Khulu’ ini

أو إلزام الحاكم مع الشقاق بينهما.

adalah Fasakh (pembatalan pernikahan) dan Iddahnya adalah satu kali haidh.

وهو فَسْخ، وعِدّته حيضة.

 

 

 


[1] Khulu’ adalah seorang suami menceraikan istrinya dengan imbalan mengambil sesuatu darinya (Al Wajiz fii Fiqhus Sunnah).

[2] Jika seorang istri telah menebus dirinya dan dicerai oleh suaminya, maka ia berkuasa penuh atas dirinya sendiri, sehingga suaminya tidak berhak untuk rujuk kepadanya, kecuali dengan ridhonya dan perpecahan ini tidak dianggap talak meskipun dijatuhkan dengan redaksi talak.

[3] Berdasarkan hadits Abu Zubair ia berkata :

أَنَّ ثَابِتَ بْنَ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ كَانَتْ عِنْدَهُ زَيْنَبُ بِنْتُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيِّ ابْنِ سَلُولٍ وَكَانَ أَصْدَقَهَا حَدِيقَةً فَكَرِهَتْهُ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ الَّتِي أَعْطَاكِ؟» , قَالَتْ: نَعَمْ وَزِيَادَةً , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا الزِّيَادَةُ فَلَا وَلَكِنْ حَدِيقَتُهُ» , قَالَتْ: نَعَمْ , فَأَخَذَهَا لَهُ وَخَلَّا سَبِيلَهَا فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ ثَابِتَ بْنَ قَيْسٍ , قَالَ: قَدْ قَبِلْتُ قَضَاءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Bahwa Tsabit bin Qois bin Syamaas memiliki istri yang bernama Zainab bintu Abdullah bin Ubay bin Saluul, dia dulu memberinya sebuah kebun, maka Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- berkata kepadanya : “apakah engkau ridho untuk mengembalikan kebun yang diberikan kepadamu?”, sang wanita menjawab : “iya, dan aku akan memberikan tambahan”. Maka Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “adapun tambahan, maka tidak perlu, cukup kebunnya saja”. Sang wanita menjawab : “baik”. Maka tatkala sampai kepada Tsabit bin Qois -Rodhiyallahu ‘anhu- beliau berkata : “aku menerima keputusan Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- “.

HUKUM MEMAKAI PENUTUP KEPALA KETIKA SHOLAT BAGI LAKI-LAKI

May 9, 2016 at 11:51 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MEMAKAI PENUTUP KEPALA KETIKA SHOLAT BAGI LAKI-LAKI

 

Para ulama sepakat bahwa kepala bagi laki-laki bukan aurat yang harus ditutupi baik didalam sholat maupun diluar sholat. Kemudian terkait hukum memakai penutup kepala ketika sholat, seperti menggunakan peci, ‘Imamah, surban dan semisalnya, maka ada beberapa point yang ingin kami sampaikan :

1.    Tidak ada dalil khusus dari syariat yang menunjukkan keutamaan menutup kepala ketika sholat. Asy-Syaikh Sayid Sabiq dalam kitab fiqihnya yang cukup masyhur yakni “Fiqhus Sunnah” mengatakan :

ولم يرد دليل بأفضلية تغطية الرأس في الصلاة

Tidak ada dalil terkait keutamaan menutup kepala didalam sholat[1].

Pernyataan asy-Syaikh Sayyid Sabiq secara mutlak bahwa tidak ada dalil keutamaan menutup kepala ketika sholat, dibantah oleh Imam Al Albani dalam kitab yang khusus mengkoreksi kitab Fiqhus Sunnah, yang beliau beri judul Tamaamul Minah, bahwa hal tersebut tidak benar, namun yang tepat menurut beliau adalah :

ومما سلف تعلم أن نفي المؤلف ورود دليل بأفضلية تغطية الرأس في الصلاة ليس صوابا على إطلاقه إلا إن كان يريد دليلا خاصا فهو مسلم

Dari apa yang telah disebutkan, maka diketahui bahwa penafian penulis –yakni Sayyid Sabiq- tidak adanya dalil keutamaan menutup kepala ketika sholat, tidaklah benar secara mutlak, kecuali jika yang dimaksud beliau adalah tidak ada dalil secara khusus (yang menunjukkan keutamaannya), maka ini lebih selamat[2].

2.    Para ulama mengatakan bahwa orang yang tidak memakai penutup kepala ketika sholat, maka sholatnya tetap sah, karena sebagaimana disebutkan diatas bahwa kepala bagi laki-laki bukan aurat yang wajib ditutupi.

Lajnah Daimah Saudi Arabi yang diketuai oleh Imam ibnu Baz pernah berfatwa :

لا يجب تغطية الرأس على الرجل في الصلاة ولا في غيرها، ويجوز الائتمام بمن لا يغطي رأسه، لأن الرأس بالنسبة للرجل ليس بعورة

Tidak wajib menutup kepala bagi laki-laki dalam sholat atau diluar sholat, dan boleh bermakmum dibelakang orang yang tidak memakai penutup kepala, karena kepala bagi laki-laki bukanlah aurat[3].

3.    Para ulama berselisih tentang keutamaan memakai penutup kepala ketika sholat bagi laki-laki. Sebagian ulama memandang hal tersebut adalah sunah secara mutlak, mereka berdalil dengan keumuman perintah atau anjuran untuk memakai pakaian yang indah ketika pergi ke masjid untuk sholat, sebagaimana Firman Allah -Subhanahu wa Ta’aalaa- :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai anak Adam pakailah perhiasan kalian, setiap pergi ke Masjid (QS. Al A’raf : 31).

Diantara mereka yang berpendapat sunahnya memakai penutup kepala dan makruhnya kepala dalam keadaan terbuka ketika sholat adalah Imam Al Albani dalam kitab yang telah disebutkan sebelumnya, beliau berkata :

والذي أراه في هذه المسألة أن الصلاة حاسر الرأس مكروهة ذلك أنه من المسلم به استحباب دخول المسلم في الصلاة في أكمل هيئة إسلامية

Dan menurut pandanganku tentang masalah ini bahwa sholat dalam keadaan kepala terbuka adalah makruh, karena setiap Muslim disunahkan untuk masuk kedalam masjid dalam keadaan yang sempurna berdasarkan syariat Islam.

Dalil yang digunakan oleh beliau adalah sebagaimana disebutkan diatas tentang keumuman untuk berhias ketika hendak pergi ke Masjid untuk menunaikan sholat.

4.    Sebagian ulama mengkaitkannya dengan adat istiadat setempat, jika dipandang bahwa menutup kepala merupakan suatu keutamaan, maka dianjurkan untuk memakai penutup kepala, sebaliknya jika adat penduduknya menganggap tidak ada keutamaannya, maka tidak perlu memakai penutup kepala. Diantara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Imam bin Baz dalam Fatwa beliau sebagai berikut :

أما إن كان في بلاد ليس من عادتهم تغطية الرأس فلا بأس عليه في كشفه.

Adapun jika di negerinya menutup kepala bukanlah adatnya, maka tidak mengapa untuk membuka kepalanya[4].

5.    Sebagian ulama lagi memandang secara mutlak menutup kepala bukanlah sunah. Karena Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- seringnya membuka kepalanya ketika sholat menurut mereka dan hanyalah Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- menutup kepalanya seperti menggunakan ‘Imamah adalah kebiasaan yang berjalan di masyarakat Beliau pada waktu itu. Asy-Syaikh Muhammad bin Kholill Haroos berfatwa menjawab sebuah pertanyaan terkait hukum membuka kepala ketika sholat bagi laki-laki :

لا بأس أن يصلي الرجل عاري الرأس ؛ فإن الرأس ليست من العورة التي أمرنا الله بسترها ، ولم يكن الرسول صلى الله عليه وسلم يلتزم تغطية الرأس في الصلاة ، بل كان كثيرا ما يصلي عاري الرأس ، وكان بعض الأئمة يستحب الصلاة عاري الرأس ، ويرى أنه أبلغ في التعبد.

Tidak mengapa seorang laki-laki sholat terbuka kepalanya, karena kepala bukanlah aurat yang diperintahkan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’aalaa- untuk menutupinya, dan Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- tidak mengharuskan menutup kepala ketika sholat, bahkan kebanyakan sholat Beliau tanpa penutup kepala. bahkan sebagian Aimah menganjurkan untuk membuka kepala ketika sholat dan mereka memandangnya lebih khusyu’ dalam beribadah[5].

6.    Para ulama sepakat bahwa bagi laki-laki yang sedang ihrom, disyariatkan untuk membuka kepalanya.


[1] Fiqhus Sunah (1/128) cet. Daarul Kitaabil ‘Arobiy, Lebanon.

[2] Tamaamul Minnah (hal. 166) cet. Daarur Rooyah.

[3] Fatwa no.7522, dikumpulkan oleh Ahmad bin Abdur Rozaq ad-Duwaisy.

[4] Majmu Fatawa bin Baz (10/406) dikumpulkan oleh Muhammad bin Sa’id as-Suwa’ir.

[5] Dinukil dari https://www.tunisia-sat.com/forums/threads/1719083/ diakses pada 5 Mei 2016.

TAFSIR IBNU ABBAS -Rodhiyallahu ‘anhu-

May 5, 2016 at 3:18 am | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

TAFSIR IBNU ABBAS -Rodhiyallahu ‘anhu-

 

Dikalangan pemerhati tafsir, ada sebuah kitab tafsir yang banyak dibicarakan, yakni sebuah kitab yang dinisbatkan kepada seorang sahabat mulia yang dijuluki sebagai Turjumul Qur’an yang merupakan maha guru dari ulama ahli tafsir pada zamannya. Bagaimana tidak beliau adalah salah seorang sahabat yang langsung didoakan oleh Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- agar diberikan kepahaman dalam menafsirkan Al Qur’an. Nabi pernah berdoa untuk Abdullah bin Abbas -Rodhiyallahu ‘anhu- : Continue Reading TAFSIR IBNU ABBAS -Rodhiyallahu ‘anhu-…

MENGENAL USLUB ATAU METODE TAFSIR

May 4, 2016 at 11:51 pm | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

MENGENAL USLUB ATAU METODE TAFSIR

 

Asy-Syaikh DR. Musaa’id bin Sulaiman ath-Thoyaar dalam kitabnya “Fushul fii Ushuulit Tafsir” (hal. 113) membagi tafsir berdasarkan uslubnya menjadi 4 macam yaitu : التحليلي , الإجمالي , الموضوعي , dan المقارن . kita akan melihat penjelasan terkait metode tafsir tersebut sebagaimana yang saya dapatkan dari berbagai sumber : Continue Reading MENGENAL USLUB ATAU METODE TAFSIR…

KODE ETIK AHLU QUR’AN

May 2, 2016 at 2:33 pm | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

KODE ETIK AHLU QUR’AN

 

Imam Abu Bakar Muhammad bin al-Husain al-Ajuriy (w. 360 H) menyebutkan untuk kita semua sikap dan perilaku yang seharusnya menghiasa para Qur’an lover, sebagaimana yang beliau tulis dalam kitabnya yang berjudul “Akhlaaqu Ahli al-Qur’an”. Saya ingin meringkas apa yang telah beliau sebutkan agar dapat kita gunakan sebagai pedoman sebagai seorang Muslim yang telah berikrar menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Berikut akhlak-akhlak yang seharusnya dimiliki oleh seorang Ahlu Qur’an :

Continue Reading KODE ETIK AHLU QUR’AN…

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: