MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

May 19, 2016 at 4:02 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Yang menjadi catatan saya adalah terkait sabda Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “wa dzalika annahu” (yang demikian itu), seolah-olah dalam kalimat ini terkandung persyaratan bahwa yang berhak mendapatkan keutamaan pahala 25 derajat adalah mereka yang sholat berjamaah di masjid dengan didahului oleh berwudhu dan memperbagus wudhunya di rumah, lalu keluar dari rumah dengan tujuan tunggal untuk sholat berjamaah di masjid dan seterusnya.

Imam ibnu Daqiiqil ‘Ied berkata ketika menyebutkan makna “dzalika” yakni :

أَنَّ اللَّفْظَ – أَعْنِي قَوْلَهُ ” وَذَلِكَ ” – أَنَّهُ يَقْتَضِي تَعْلِيلَ الْحُكْمِ السَّابِقِ

Bahwa lafadz “dzalika” menunjukan bahwa itu adalah lafadz yang mengharuskan alasan hukum sebelumnya (yakni terkait pahala 25 derajat –pent.)[1].

Bahkan dengan tegas asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam menyebutkan keterkaitan hal-hal yang disebutkan diatas sebagai syarat mendapatkan pahala 25 derajat, kata beliau :

hadits ini mengisyaratkan penjelasan keutamaan sholat berjamaah dibandingkan dengan sholat sendirian, dan bahwa barangsiapa yang mengerjakan sholat berjamaah akan mendapatkan pahala 25 derajat dibandingkan sholat sendirian. Sebab mendapatan keutamaan tersebut adalah bahwa orang yang hendak sholat jika ia berwudhu, lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar dari rumah dengan niat murni tidak ada tujuan keluar dari rumah selain untuk menunaikan sholat, tidaklah langkah satu langkah kakinya, kecuali akan diangkat 1 derajat dan akan dihapus satu kesalahan darinya[2].

Maka jika kita identifikasi persyaratan untuk mendapatkan pahala 25 derajat adalah :

1.    Laki-laki

2.    Ia berwudhu di rumah

3.    Ia memperbagus wudhunya

4.    Ia melangkah dengan tujuan untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid.

5.    Langkah kakinya akan diberikan pahala 1 derajat dan dihapuskan 1 kesalahan tiap langkahnya.

6.    Malaikat mendoakannya.

Imam Ibnu Sayiidin Naas mengatakan bahwa persyaratan-persyaratan diatas ada yang bias dianggap dan ada yang tidak bias, berikut secara ringkas pembahasan beliau[3] :

1.    Adapun syarat laki-laki maka ini tidak teranggap, karena wanita juga dalam masalah mendapatkan pahala sama dengan laki-laki, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan telah datang riwayat bahwa Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- melarang seseorang untuk menghalang-halangi wanita yang hendak ikut berjamaah di masjid.

2.    Adapun berwudhu di rumah, menurut beliau tidak masuk dalam cakupan alasan, ini hanya sekedar menyebutkan secara global.

3.    Adapun berwudhu maka ini alasan yang teranggap, namun disesuaikan dengan kondisi, karena pertanyaannya apakah yang dimaksud sekedar ia dalam kondisi suci ketika hendak pergi ke masjid atau yang penting ia bersuci dan beliau lebih condong kepada pendapat yang terpenting ia bersuci. Memang dhohirnya sabda Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “jika ia berwudhu”, namun ini hanya sekedar permisalan saja secara umum, karena tentu orang yang dalam kondisi masih punya wudhu sebelumnya, tercakup dalam syarat ini dan mengulang wudhu juga dianjurkan.

4.    Memperbagus wudhu maka ini syarat yang dianggap.

5.    Tujuan perjalanannya hanya untuk berjamaah di masjid,ini juga persyaratan yang teranggap.

6.    Adapun pahala langkah kakinya, maka ini keutamaan lain yang berbeda dengan keutamaan yang sedang kita bahas ini.

7.    Begitu juga dengan doa Malaikat bagi orang yang tetap duduk menunggu waktu sholat berikutnya.

Jika ada pertanyaan bagaimana dengan orang yang sholat berjamaah di masjid, tapi wudhunya di masjid bukan di rumah, maka asy-Syaikh Zaid bin Musaghir al-Bahriy dalam risalahnya menjelaskan :

أن المستحب في حق المصلي صلاة الجماعة أن يخرج من بيته متوضئا ، فإن توضأ في دورات مياه المسجد فإن ظاهر هذا الحديث والأحاديث الأخرى التي أتت بهذا الفضل ، ظاهرها كما قال ابن حجر رحمه الله ظاهرها أنه لا يحصل على هذا الثواب ، فدل على أفضيلة الوضوء في البيوت

Yang dianjurkan pada orang yang sholat berjamaah ia keluar rumah dalam kondisi berwudhu, jika ia berwudhu di tempat wudhu masjid, maka dhohir hadits dan hadits-hadits lain terkait keutamaan tersebut, adalah sebagaimana pendapat Ibnu Hajar bahwa ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut, maka hal ini menunjukkan keutamaan wudhu di rumah[4].


[1] Ihkamul Ahkam Syarah Umdahtul Ahkam (1/184).

[2] Taisiirul ‘Alam (1/105).

[3] Syarah Sunan Tirmidzi karya beliau (4/168-169).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: