SHOLAT PADA AWAL WAKTUNYA

May 19, 2016 at 11:15 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

SHOLAT PADA AWAL WAKTUNYA

 

Sholat wajib sehari semalam adalah amalan yang menjadi rutinitas sehari-hari serang Muslim. Pelaksanaan sholat fardhu ini telah ditentukan waktu-waktunya oleh pembuat syariat, yang tidak boleh seorang pun untuk melampaui pelaksanaan sholatnya diluar waktu-waktu yang telah ditentukan tanpa udzur. Allah -Subhanahu wa Ta’aalaa- berfirman :

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An Nisaa’ : 103).

Kemudian Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- pernah ditanya apa amalan yang utama oleh Abdullah bin Mas’ud -Rodhiyallahu ‘anhu- :

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

Aku bertanya kepada Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- : “apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?”, Beliau menjawab : “sholat pada waktunya”. Sambungku lagi : “lalu apa?”, jawabnya : “lalu berbakti kepada kedua orang tua”, lanjutku : “lalu apa lagi?”, jawab Beliau : “Jihad di jalan Allah”. (Muttafaqun ‘alaih).

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan sholat ‘alaa waqtihaa adalah sholat fii awali waqtiha, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Musthofa al-Bughoo dalam Ta’liqnya terhadap Shahih Bukhori :

(على وقتها) في أول وقتها

‘alaa waqtihaa yakni pada awal waktu.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menguatkan bahwa yang dimaksud dengannya adalah pada awal waktu. Hal ini didukung oleh riwayat lain dengan lafadz :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا»

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- ditanya tentang apakah amalan yang paling utama?, Beliau menjawab :”sholat pada awal waktu”.

Al Hafidz telah menyebutkan takhrij untuk hadits diatas, kata beliau :

وقد روي في هذا الحديث زيادة، وهي: ((الصلاة في أول وقتها)) ، وقد خرجها ابن خزيمة وابن حبان في ” صحيحهما” والحاكم والدارقطني من طرق متعددة. ورويت من حديث عثمان بن عمر، عن مالك بن مغول، [و] من حديث علي بن حفص المدائني، عن شعبة، ورويت عن شعبة من وجه آخر، وفيه نظر، ورويت من وجوه أخر.

واستدل بذلك على أن الصلاة في أول الوقت أفضل، كما استدل لحديث ام فروة، عن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، أنه سئل: أي العمل أفضل؟ قال: ((الصلاة لأول وقتها)) . خرجه الإمام أحمد وأبو داود والترمذي. وفي إسناده اضطراب -: قاله الترمذي والعقيلي.

وقد روي نحوه من حديث ابن عمر، إلا أن إسناده وهم، وإنما هو حديث أم فروة -: قاله الدارقطني في ” العلل”. وروي نحوه من حديث الشفاء بنت عبد الله.

Telah diriwayatkan tambahan untuk hadits ini yaitu : “Sholat pada awal waktunya”. Haditsnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahih keduanya, begitu juga Al Hakim dan Daruquthni dari jalan yang berbeda-beda. Diriwayatkan juga dari hadits Utsman bin Umar dari Malik bin Mighwal dan dari hadits Ali bin Hafsh al-Madain, dari Syu’bah. Kemudian diriwayatkan juga dari Syu’bah jalan lain, namun sanadnya perlu diteliti dan masih ada jalan-jalan lainnya.

Diambil dalil dari hal ini bahwa sholat pada waktunya adalah lebih utama, sebagaimana hadits Ummu Farwah -Rodhiyallahu ‘anhaa- dari Nabi -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bahwa Beliau pernah ditanya tentang amalan yang paling utama?, Beliau menjawab : “sholat pada awal waktunya”. Haditsnya dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud[1] dan Tirmidzi. Menurut Tirmidzi dan al-‘Uqoiliy, dalam sanadnya terjadi idhthirob (kegoncangan).

Telah diriwayatkan yang semisal ini dari hadits Ibnu Umar -Rodhiyallahu ‘anhu-, namun dalam sanadnya ada kelemahan. Menurut Daruquthni dalam “al-‘Illlal” hanyalah hadits Ummu Farwah ini mirip dengan haditsnya asy-Syafaa’ binti Abdullah[2].  


[1] Dalam ta’liq terhadap Sunan Abu Dawud, Imam Al Albani menshahihkannya.

[2] Fathul Bari (4/208-209).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: