SENSITIF DENGAN KATA BID’AH

August 30, 2016 at 3:42 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

SENSITIF DENGAN KATA BID’AH

 

Sebagian orang apabila mendengar kata-kata bid’ah diucapkan, maka uratnya langsung menegang, emosinya muncul terangsang, dan badannya gemetar, mulutnya ngomel-ngomel, matanya melotot dan seterusnya. Seolah-olah kata-kata tersebut tertuju kepadanya, apakah dia merasa sedang melakukan amalan bid’ah atau bergelimang dengan ritual bid’ah sehingga hatinya bagai tersambar petir mendengar kata-kata itu. Seharusnya ketika dia merasa apa yang dilakukannya berada diatas sunah yang dijarkan oleh Nabi yang dicintainya dan memiliki hujjah dihadapan Allah Ta’aalaa, maka tidak perlu ada rasa ketersinggungan, toh kata-kata itu tidak tertuju kepada dirinya, tapi tertuju kepada kelompok penggemar bid’ah atau kata-kata tersebut salah alamat..selesai urusannya..

 

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam sering sekali mengulang-ulang kata bid’ah atau sinonimnya dan tidak ada para sahabat yang tersinggung. Pun para ulama kita. Bagaimana jika dia mempelajari atau membaca misalnya buku-buku ulama Syafi’iyyah apakah ketika para ulama tersebut menyebut kata bid’ah dia akan emosi, bisa mati muda atau cepat kena stroke –wallahul Musta’an-.

Continue Reading SENSITIF DENGAN KATA BID’AH…

PUASA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH

August 30, 2016 at 2:36 pm | Posted in fiqih | 2 Comments
Tags:

PUASA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH

 

Yang dimaksud dengan puasa 10 hari awal bulan Dzulhijjah adalah puasa dari mulai tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah. Imam Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata :

أي ويسن صوم تسع ذي الحجة. وتسع ذي الحجة تبدأ من أول أيام ذي الحجة، وتنتهي باليوم التاسع

“yaitu disunahkan puasa 9 hari pada bulan Dzulhijjah. 9 hari Dzulhijjah dimulai pada hari pertama sampai hari kesembilan” (Syarhul Mumti’ (6/496)).

 

Para ulama berselisih pendapat terkait hukum puasa 9 hari bulan Dzulhijjah, sebagian ulama berpendapat bahwa puasa ini tidak disyariatkan. Namun saya belum mendapatkan siapakah nama ulama tersebut yang mengatakan tidak disyariatkannya, hanya saja terdapat nukilan dari Imam Nawawi yang mengisyaratkan ada sebagian ulama yang berpendapat seperti itu, beliau berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ هذا الحديث مما يوهم كراهة صوم العشر

“ada ulama yang berkata, “hadits ini menunjukkan apa yang terpahami makruhnya puasa pada 10 hari awal Dzulhijjah”” (Syarah Shahih Muslim (8/71)). Continue Reading PUASA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH…

QOUL JADID DAN QOUL QODIM IMAM ASY-SYAFI’I

August 29, 2016 at 2:21 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGENAL ISTILAH QOUL JADID DAN QOUL QODIM IMAM ASY-SYAFI’I

 

Salah satu kunci untuk mendapatkan faedah dari sebuah ilmu adalah dengan mengetahui mustholahaat / istilah-istilah yang diberlakukan dalam cabang ilmu tersebut. Pun begitu bagi seseorang yang ingin masuk mendalami fiqih Syafi’iyyah. Ada beberapa istilah yang sering digunakan oleh para ulama madzhab ini didalam kitab-kitab dan pelajaran mereka. Kali ini saya ingin mengangkat istilah berkaitan dengan qoul qodiim (pendapat lama) dan qoul jaded (pendapat baru) Imam asy-Syafi’i. saya nukilkan dari kitab yang ditulis oleh Prof. DR. Muhammad az-Zuhailiy dalam karya tulisnya yang berjudul “al-Mu’tamad fii al-Fiqhi asy-Syafi’I”, yang dicetak dalam 5 jilid oleh penerbit Daarul Qolam, Damaskus. Dalam mukadimah Profesor menyebutkan pengertian untuk qoul jadiid dan qoul qodiim sebagai berikut : Continue Reading QOUL JADID DAN QOUL QODIM IMAM ASY-SYAFI’I…

August 28, 2016 at 3:17 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment
Tags:

PERNYATAAN IMAM ASY-SYAFI’I TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

 

dalam mukadimah kitabnya ar-Risalah Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata :

ولا يبلغ الواصفون كُنه عظمته. الذي هو كما وصف نفسه، وفوق ما يصفه به خلقه.

“Tidaklah orang-orang yang menshifatinya sampai kepada hakikat keagungan-Nya, yang Allah swt telah mensifati diri-Nya, karena Dia diatas semua yang disifatkan oleh makhluk-Nya”.

al-Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala’ (X/79-80) menulis :
“disebutkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdul A’la al-Mishri, ia berkata : “saya mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i berkata ketika ditanya tentang sifat-sifat Allah dan apa yang harus diimani : “Allah swt memiliki nama-nama dan sifat yang diterangkan dalam Kitab-Nya dan diberitakan oleh Nabi-Nya saw kepada umatnya, maka tidak ada alasan bagi siapa pun yang telah sampai dihadapannya hujjah (dalil) untuk menolaknya”.

al-Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah (X/265) berkata :
“diriwayatkan dari ar-Rabi’ dan tidak cuma seorang dari kalangan sahabat (murid-murid Imam asy-Syafi’i) terkemuka, yaitu keterangan yang menunjukkan bahwa beliau menyikapi ayat-ayat sifat dan hadits-hadits tentangnya sebagaimana datangnya, tanpa melakukan takyif, tasybih, ta’thil, dan tahrif sesuai dengan metode kalangan salaf”.

pernyataan Imam adz-Dzahabi dan Imam Ibnu Katsir saya nukil dari buku terjemahan “Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’i, hal. 381-382, cetakan Pustaka Imam asy-Syafi’i),

 

URUNAN SAPI KURBAN UNTUK AQIQAH

August 28, 2016 at 1:30 pm | Posted in fiqih | 1 Comment
Tags: , ,

HUKUM URUNAN SAPI KURBAN UNTUK AQIQAH

 

Sebagaimana telah dimaklumi dan telah masyhur di masyarakat kita bahwa seekor Sapi Kurban dapat dijadikan urunan untuk 7 orang. Terkait dengan masalah bolehnya 7 orang urunan untuk kurban seekor Sapi telah banyak dibicarakan oleh ulama atau ahli ilmu baik di tanah air maupun mancanegara, dan saya punya artikel terkait hal ini dalam website kami ini.

Permasalahan yang ingin saya angkat adalah ketika ada salah satu peserta yang urunan sapi ini, meniatkan daging sembelihannya untuk acara akikah anaknya, apakah hal tersebut diperbolehkan?. Para Aimah Syafi’iyyah seperti Imam Nawawi menyebutkan bahwa jika salah satu dari peserta urunan Sapi tadi ada yang diniatkan dagingnya untuk dijadikan dagangan karena kebetulan misalnya dia seorang pedagang olahan daging sapi, maka hal tersebut diperbolehkan tidak mempengaruhi rekan urunannya yang lain yang diniatkan untuk kurban. Maka berdasarkan hal ini, jika salah satu peserta ada yang meniartkan dagingnya untuk aqiqih tentu lebih diperbolehkan lagi, karena itu ibadah.

Continue Reading URUNAN SAPI KURBAN UNTUK AQIQAH…

KEKALNYA SURGA DAN NERAKA

August 28, 2016 at 12:05 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

QOUL AIMAH SUNAH TENTANG KEKALNYA SURGA DAN NERAKA

salah satu pokok daripada pokok-pokok Ahlus Sunah adalah keyakinan bahwa Surga dan Neraka adalah 2 Makhluk Allah swt yang kekal abadi, tidak akan mengalami fana selama-lamanya.
berikut adalah nukilan Aimah Sunah tentang keyakinan mereka dalam masalah ini :
1. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salaamah ath-Thahawi (w. 321H) dalam kitabnya yang dikenal dengan Aqidah ath-Thahawiyyah, beliau berkata :

وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ لَا تَفْنَيَانِ أَبَدًا وَلَا تبيدان

“Surga dan neraka 2 makhluk yang tidak akan binasa, kekal selama-lamanya” (syarah Aqidah ath-Thahawiyyah, Ibnu Abil Izz al-Hanafiy, hal. 440, cetakan ad-Daarul ‘Alamiyyah).
2. Imam al-Hasan bin Ali bin Kholaf yang ma’ruf dengan sebutan al-Barbahaariy (w. 329 H) dalam kitabnya Syarh as-Sunah, beliau berkata :

لا تفنيان أبدا

“Surga dan neraka tidak akan fana/binasa” (hal. 15, cetakan Daarul Furqoon). Continue Reading KEKALNYA SURGA DAN NERAKA…

ATSAR ABU HUROIROH TENTANG WAKTU SHOLAT

August 24, 2016 at 4:30 pm | Posted in MUWATHO' MALIK - KITAB SHOLAT | Leave a comment

ATSAR ABU HUROIROH TENTANG WAKTU SHOLAT

 

Hadits No. 9 :

9 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مالِكٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ.؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَنَا أُخْبِرُكَ «صَلِّ الظُّهْرَ إِذَا كَانَ ظِلُّكَ مِثْلَكَ وَالْعَصْرَ إِذَا كَانَ ظِلُّكَ مِثْلَيْكَ، وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ، وَالْعِشَاءَ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلِّ الصُّبْحَ بِغَبَشٍ» يَعْنِي الْغَلَسَ

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yaziid bin Ziyaad, dari Abdullah bin Roofi’ –maula Ummu Salamah, istri Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam-, bahwa ibnu Roofi’ bertanya kepada Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu tentang waktu sholat?, Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu menjawab : “aku telah memberitahumu, sholatlah Dhuhur, ketika bayanganmu setinggi badanmu. Sholatlah Ashar ketika bayanganmu setinggi 2 kali tinggi badanmu. Sholat Maghrib ketika tengelamnnya Matahari. Sholat Isya antara waktu biasa engkau mengerjakannya sampai sepertiga malam. Sholat Subuh ketika gholas, yaitu langit masih hitam”.

[Shahih]

===========================================================================

Faedah Hadits :

  1. Ini adalah penjelasan Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu terkait waktu-waktu sholat.
  2. Sekalipun hadits diatas mauquf kepada Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, namun hukumnya marfu’ yakni terangkat sampai kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam, karena waktu-waktu sholat tidak bisa berdasarkan pendapat pribadi, namun bersandar kepada nash.

 

 

BATAS AKHIR SHOLAT ISYA

August 24, 2016 at 3:21 pm | Posted in MUWATHO' MALIK - KITAB SHOLAT | Leave a comment

BATAS AKHIR SHOLAT ISYA

Hadits No. 8 :

8 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنْ «صَلِّ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، قَدْرَ مَا يَسِيرُ الرَّاكِبُ ثَلَاثَةَ فَرَاسِخَ، وَأَنْ صَلِّ الْعِشَاءَ، مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ ثُلُثِ اللَّيْلِ. فَإِنْ أَخَّرْتَ فَإِلَى شَطْرِ اللَّيْلِ،  وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ»

Telah menceritakan kepadaku dari Malik, dari Hisyam bin Urwah, bahwa Umar bin Khothob radhiyallahu anhu pernah menulis kepada Abu Musa Al Asy’ari yang isinya : “laksanakanlah shalat ashar ketika matahari terlihat putih jernih sampai kadar perjalanan tiga farsakh, dan laksanakanlah shalat Isya’  hingga sepertiga malam, jika kamu ingin mengakhirkannya maka hingga separuh malam dan janganlah termasuk orang-orang yang lalai.

[Dhoif]

===============================================================================

Komentar : atsar diatas dhoif dan mauquf, karena terjadi keterputusan sanad antara Urwah bin Zubair yang lahir pada masa awal-awal kekhilafahan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, sehingga tidak pernah berjumpa dengan Umar radhiyallahu anhu.

 

 

Surat Edaran Amirul Mukminin Umar bin Khothob terkait Waktu Sholat

August 24, 2016 at 2:51 pm | Posted in MUWATHO' MALIK - KITAB SHOLAT | Leave a comment

Surat Edaran Amirul Mukminin Umar bin Khothob terkait Waktu Sholat

Hadits No. 7 :

7 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى: أَنْ «صَلِّ الظُّهْرَ، إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ. وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهَا صُفْرَةٌ. وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ، وَأَخِّرِ الْعِشَاءَ مَا لَمْ تَنَمْ. وَصَلِّ الصُّبْحَ، وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ. وَاقْرَأْ فِيهَا بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ مِنَ الْمُفَصَّلِ»

Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Pamannya – Abu Suhail-, dari Bapaknya bahwa Umar bin Khothob radhiyallahu anhu menulis kepada Abu Musa Al Asya’riv yang isinya : “laksanakanlah shalat zhuhur ketika matahari tergelincir dan shalat ashar ketika matahari terlihat putih jernih sebelum menguning. Laksanakanlah Shalat maghrib ketika matahari terbenam, dan akhirkan shalat Isya’ selagi kamu belum tidur, dan laksanakanlah shalat subuh ketika bintang-bintang terlihat saling bersusun, dan bacalah di dalamnya dua surat panjang yang termasuk kategori dari surat-surat Al Mufasshal (surat yang dimulai dari surat Al Hujurat sampai akhir –pent) .
[Shahih]

=======================================================================
Faedah Hadits :
1. Hendaknya pemimpin senantiasa menasehati bawahannya agar bertakwa kepada Allah, dan perkara urgent yang perlu diperhatikan adalah sholat.
2. Waktu-waktu sholat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.
3. Keteladanan Umar radhiyallahu anhu sebagai seorang pemimpin yang banyak mengeluarkan surat edaran kepada bawahannya, untuk memperhatikan perkara-perkara agama, terutama sholat.
4. Sunahnya membaca surat Mufashol pada waktu menunaikan sholat Subuh.

SURAT UMAR KEPADA BAWAHANNYA

August 20, 2016 at 4:25 pm | Posted in MUWATHO' MALIK - KITAB SHOLAT | Leave a comment

HADITS NO. 6

6 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى عُمَّالِهِ: ” إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ. فَمَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا، حَفِظَ دِينَهُ. وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ، ثُمَّ كَتَبَ: أَنْ صَلُّوا الظُّهْرَ، إِذَا كَانَ الْفَيْءُ ذِرَاعًا، إِلَى أَنْ يَكُونَ ظِلُّ أَحَدِكُمْ مِثْلَهُ. وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، قَدْرَ مَا يَسِيرُ الرَّاكِبُ فَرْسَخَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً، قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ. وَالْعِشَاءَ إِذَا غَابَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ. فَمَنْ نَامَ فَلَا نَامَتْ عَيْنُهُ. فَمَنْ نَامَ فَلَا نَامَتْ عَيْنُهُ فَمَنْ نَامَ فَلَا نَامَتْ عَيْنُهُ “. وَالصُّبْحَ وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Naafi’ –Maulaa Abdullah bin Umar – bahwasanya Umar bin khothob radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada para pegawainya : “sesungguhnya perkara yang paling penting menurutku adalah sholat, barangsiapa yang menjaganya dan memeliharanya, maka berarti ia telah menjaga agamanya, dan barangsiapa yang menyepelekannya, maka amalan lainnya akan lebih disepelekan”. Lalu beliau menulis : “sholatlah kalian sholat Dhuhur, jika bayangan kalian sudah sehasta sampai panjang bayangan kalian sama dengan tinggi kalian, adapun sholat Ashar maka ketika matahari masih tinggi dan putih jernih, dengan ukuran perjalanan sekitar dua atau tiga farsakh dengan naik kendaraan, sampai sebelum matahari tenggelam. Lalu maghrib ketika matahari telah tenggelam. Kemudian Isya, ketika syafaq merah telah lenyap sampai sepertiga malam. Maka barangsiapa yang tidur, maka jangan terlelap matanya, barangsiapa yang tidur, maka jangan terlelap matanya, barangsiapa yang tidur, maka jangan terlelap matanya. Sholat Subuh ketika bintang masih terlihat banyak”.
(Dhoif)
==============================================

Komentar : riwayat ini dhoif karena terjadi keterputusan sanad antara Naafi’ dengan Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: