DEFINISI DAN URGENSI MEMPELAJARI ULUUMUL QUR’AN

August 14, 2016 at 2:13 am | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment
Tags: ,

BAB I

PENGERTIAN ULUUMUL QUR’AN

 

A. Definisi Uluumul Qur’an

 

Definisi uluumul qur’an secara bahasa terdiri dari 2 suku kata yaitu “Uluum” dan Al Qur’an. Secara morfologi Uluum adalah kata jamak (yang menunjukan lebih dari dua) dari Ilmu. Kata ilmu sinonim dengan al-Fahmu, Ma’rifat dan al-Jazmu dalam sebuah pendapat[1]. Adapun secara istilah adalah mengetahui suatu hal sesuai dengan hakikat hal tersebut dengan pengetahuan yang pasti[2]. Sedangkan Al Qur’an sendiri secara bahasa adalah  masdar dari qara’a yang berarti talaa (membaca) atau jama’a (mengumpulkan). Masdar qara’a untuk talaa bermakna isim maf’ul (obyek) yang artinya bacaan. Adapun untuk kata jama’a bermakna isim fail (subyek) artinya yang mengumpulkan, karena dalam Al Qur’an terkumpul berbagai berita dan hukum. Adapun secara istilah, Al Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya sekaligus penutup para Nabi, Muhammad sholallahu ‘alaihi wa Salam, yang diawali dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Naas[3], serta membacanya adalah ibadah yang dihitung tiap hurufnya[4] dan disyariatkan dibaca dalam sholat[5].

Sehingga jika kita gabungkan 2 suku kata tersebut yakni ‘Uluumul Qur’an maka maknanya adalah pengetahuan-pengetahuan yang didapat dengan pasti terkait Al Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa Salam. Asy-Syaikh Manna’ al-Qoththan mendefinisikan Uluumul Qur’an dengan : “suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian Al Qur’an seperti, pembahasan tentang asbab an-nuzul, pengumpulan Al Qur’an dan penyusunannya, masalah Makkiyyah dan Madaniyyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabihat, dan lain-lain”. Kadang-kadang Uluumul Qur’an ini juga disebut sebagai Ushul at-Tafsir (dasar-dasar/prinsip-prinsip penafsiran), karena memuat berbagai pembahasan dasar atau pokok yang wajib dikuasai dalam menafsirkan Al Qur’an”[6].

Ringkasnya Uluumul Qur’an adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu terkait Al Qur’an yang dapat mengantarkan seseorang didalam mempelajari Kitabullah ini yang diturunkan kepada penutup para Nabi yakni Habibunaa Muhammad sholallahu ‘alaihi wa Salam.

 

B. Urgensi Mempelajari Uluumul Qur’an

 

Allah Ta’aalaa tidaklah menciptakan manusia kemudian membiarkan mereka begitu saja, sebagaimana dalam Firman-Nya :

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al Qiyaamah (75) : 36).

Imam Syafi’I berkata : “para ulama Al Qur’an tidak berselisih pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata suda (dibiarkan begitu saja) maksudnya ialah tidak diperintah dan tidak dilarang”[7].

Untuk mengetahui perintah dan larangan-Nya kemudian Allah Ta’aalaa menurunkan Kitab-Nya bersama Rasul-Nya sebagai rahmat sekaligus panduan mereka didalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini, agar mereka bisa selamat didunia dan juga selamat serta sukses di akhirat sebagai negeri terakhir mereka akan berlabuh selama-lamanya. Banyak sekali ayat-ayat dari Firman Allah Ta’aalaa yang memastikan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi manusia seluruhnya, diantaranya :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al Baqoroh (2) : 185).

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam juga bersabda :

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867).

Beliau sholallahu ‘alaihi wa Salam juga bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik).

Al Qur’an dan Hadis sangat melimpah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa kedua hal ini adalah petunjuk utama bagi umat manusi. Bahkan tidak hanya bagi golongan manusia semata, namun juga ini berlaku bagi golongan jin, sebagaimana Firman-Nya :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2)2

( 1 )   Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, ( 2 )   (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami (QS. Al Jin (72) : 1-2).

Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam juga bersabda :

وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ

“aku diutus kepada setiap golongan merah dan hitam” (HR. Muslim no. 521).

Imam Nawawi menyebutkan beberapa penafsiran yang dimaksud dengan Ahmar dan Aswad dan salah satunya bahwa Ahmar adalah bangsa manusia, sedangkan Aswad adalah Jin[8].

Sehingga berdasarkan hal ini, sangat penting sekali seseorang mempelajari Al Qur’an sebagai kitab sucinya yang langsung diberikan garansi oleh Allah sebagai petunjuk yang benar yang bisa mengantarkan seseorang mencapai tujuan kepada Khaliqnya. Kita mempelajari Al Qur’an baik dari sisi cara membacanya, maupun kandungan isinya. Allah Ta’aalaa berfirman :

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

 Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (QS. Al Baqoroh (2) : 121).

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (QS. An Nisaa’ (4) : 82).

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad (47) : 24).

 

 

=======================================================

 

[1] Muhammad Abdul Adzhim az-Zurqooniy (w. 1367 H), Manaahil al-‘Urfaan fii ‘Uluumil Qur’an (Mathba’ah ‘Iisaa al-Baabi al-Halaabiy), vol. 1 hal. 12

[2] Muhammad bin Shoolih al-Utsaimin (w. 1421 H), Syarah Tsalatsatul Ushuul (Daar ats-Tsurayaa. 2004), hal. 18

[3] Muhammad bin Shoolih al-Utsaimin, Ushulun fit Tafsir (terjemahan, Al Qowam. 2014), hal. 5

[4] Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Mas’ud secara marfu’ bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

[5] Sebagaimana dalam hadits terhadap orang yang salah sholatnya, Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya :

إِذَا قُمْتُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اَلْوُضُوءَ  ثُمَّ اِسْتَقْبِلِ اَلْقِبْلَةَ  فَكَبِّرْ  ثُمَّ اِقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ اَلْقُرْآنِ

 “Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu’ lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu”  (Muttafaqun ‘alaih).

[6] Manna’ al-Qoththan, Mabaahits fii Uluumil Qur’an (terjemahan, Pustaka Al-Kautsar, 2006), hal. 10.

[7] Dinukil dari buku terjemahan manhaj Imam asy-Syafi’I fii itsbaatil Aqidah karya DR. M. bin Abdul Wahab al-‘Aqil (Pustaka Imam Asy-Syafi’I. 2015), hal. 281.

[8] Yahya bin Syarof an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim (Daar Ihyaaut Turats Arabiy. 1392 H), vol. 5 hal.5

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: