MUKADIMAH SHAHIH MUSLIM

August 19, 2016 at 4:01 pm | Posted in SHAHIH MUSLIM | Leave a comment

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, dan akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Sholawat Allah kepada Muhammad penutup para Nabi dan juga kepada semua para Nabi dan Rasul. Amma ba’du :

Sesungguhnya anda semoga Allah merahmatimu dengan taufik-Nya. Anda telah menyebutkan bahwa anda berkeinginan untuk mengetahui sejumlah kabar yang diriwayatkan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam tentang jalan-jalan agama dan hokum-hukumnya, kemudian apa yang berupa pahala dan siksaan, motivasi dan ancaman serta selainnya dengan sanad-sanad yang akan dinukilkan nantinya, kemudian disebarkan oleh para ulama dikalangan mereka. Anda ingin –semoga Allah membimbingmu- mendapatkan sejumlah buku yang mencakup itu semua, lalu anda memintaku untuk meringkas buku tersebut tanpa adanya pengulangan yang banyak, anda telah bertekad untuk menyibukkan diri dengan buku yang anda inginkan agar dapat memahaminya, dan dapat mengambil hukum dari tulisan tersebut. Untuk buku yang anda minta aku menulisnya, aku akan coba untuk merenunginya dan melihat situasi dan kondisinya, sehingga –Insya Allah- akibatnya akan terpuji dan manfaatnya akan terwujud.

Aku kira ketika anda memintanya akan terwujud hal tersebut sekiranya aku bertekad mewujudkannya sehingga dapat menamatkannya. Pertama kali yang mendapatkan manfaat adalah diriku dan khususnya orang lain karena panjangnya penyebutan riwayat-riwayat tersebut. Namun dikecualikan beberapa riwayat yang mesti ditampilkan secara panjang. Dengan menampilkan riwayat yang ringkas akan memudahkan sesorang menelaannya, terlebih lagi bagi orang awam.

Jika perkaranya sebagaimana yang kami sebutkan, maka riwayat shahih yang sedikit lebih utama dibandingkan riwayat yang lemah yang panjang. Diharapkan sebagian manfaat dalam memperbanyak perkara seperti ini. Mengumpulkan riwayat yang berulang-ulang biasanya khusus kepada mereka yang diberikan rezeki ketelitian dan mengetahui sebab-sebab cacat sebuah riwayat, maka yang demikian –Insya Allah- khusus kepada yang diberikan faedah ketika sering mengulang-ulang. Adapun orang awam yang kondisinya berbeda dengan ulama spesialis, maka tidak perlu menuntut riwayat yang panjang dan sering diulang-ulang, karena mereka lemah dalam mengetahui cacat hadits.

Kemudian kami –Insya Allah- memulai dengan mengeluarkan apa yang anda minta untuk menulisnya dengan syarat-syarat yang akan saya sebutkan yaitu : kami berpegang kepada sejumlah khabar yang bersandar dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salaam, kami membaginya menjadi 3 jenis dan 3 tingkatkan tanpa mengulang-ulanginya atau sebuah sanad yang terdapat pada salah satu sisinya cacat dalam riwayat lainnya, karena makna tambahan pada hadits yang dibutuhkan menduduki posisi hadits yang sempurna, maka mau tidak mau harus mengulangi riwayat sebagaimana yang telah kami sifatkan tersebut, atau akan dipisah maknanya seperti hadits yang ringkas bila memungkinkan, namun pemisahannya terkadang malah lebih sulit dari meriwayatkannya secara utuh, maka mengulanginya ketika kondisinya mendesak seperti itu lebih selamat. Adapun yang tidak kami dapati perlu untuk mengulang-ulangnya, maka tidak akan diulang –Insya Allah-.

Adapun jenis yang pertama adalah kami menampilkan dengan mendahulukan khobar yang selamat dari cacat, lebih bersih orang-orang yang menukilnya dari kalangan ahli istiqomah dalam hadits dan lebih kokoh terhadap apa yang mereka nukil, tidak ada dalam riwayatnya perbedaan yang dahsyat, tidak tercampur dengan kekeliruan yang fatal, sebagaimana ditemukn oleh kebanyakan ahli hadits dan telah dijelaskan hadits-hadits mereka. Jika kami mengurangi riwayat jenis ini, kami akan memberikan pendukung riwayat yang terdapat didalam sanadnya sebagian perowi yang tidak disifati dengan hafidh dan kokoh, tidak seperti perowi yang sebelumnya. Yakni bahwasanya mereka adalah apa yang kami sifatkan dibawah grade perowi yang pertama, karena nama mastur (terangkat kemajhulannya –pent.), shoduq (kejujurannya) dan keilmuwan masih melekat pada mereka, seperti ‘Athoo’ bin as-Saaib, Yaziid bi Abi Ziyaad, Laits bin Abi Sulaim dan semisal mereka.

Adapun selain mereka dari kalangan yang serupa dengan mereka dengan sifat sebagaimana yang telah kami sebutkan berupa kekokohan, istiqomah dalam riwayatnya dan bagian yang berharga. Tidaklah anda melihat jika engkau menimbang ketiga orang yang telah kami sebutkan yaitu ‘Athoo, Yazid, Laits, Manshuur bin al-Mu’tamir,Sulaiman al-A’masy dan Ismail bin Abi Khoolid dalam kekokohan dan keistiqomah pada haditsnya. Tidak ragu lagi menurut ahli haditsnya terkait hal tadi, terkait tersebarnya apa yang mereka miliki berupa keshahihan hapalan Manshur, al-A’masy dan Ismail, kekokohan mereka dalam hadits dan bahwasanya mereka tidak mengetahui semisal ‘Athoo’, Yaziid, dan Laits. Hal ini mirip juga ketika anda bandingkan aqronnya, seperti Ibnu ‘Aun, Ayyub as-Sikhtiyaaniy bersama dengan ‘Auf bin Abi Jamiilah, Ays’ats al-Khurooniy, mereka berdua adalah murinya al-Hasan dan ibnu Siriir. Sebagaimana juga bahwa Ibnu ‘Aun dan Ayyub adalah 2 yang berteman…..

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: