PUASA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH

August 30, 2016 at 2:36 pm | Posted in fiqih | 2 Comments
Tags:

PUASA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH

 

Yang dimaksud dengan puasa 10 hari awal bulan Dzulhijjah adalah puasa dari mulai tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah. Imam Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata :

أي ويسن صوم تسع ذي الحجة. وتسع ذي الحجة تبدأ من أول أيام ذي الحجة، وتنتهي باليوم التاسع

“yaitu disunahkan puasa 9 hari pada bulan Dzulhijjah. 9 hari Dzulhijjah dimulai pada hari pertama sampai hari kesembilan” (Syarhul Mumti’ (6/496)).

 

Para ulama berselisih pendapat terkait hukum puasa 9 hari bulan Dzulhijjah, sebagian ulama berpendapat bahwa puasa ini tidak disyariatkan. Namun saya belum mendapatkan siapakah nama ulama tersebut yang mengatakan tidak disyariatkannya, hanya saja terdapat nukilan dari Imam Nawawi yang mengisyaratkan ada sebagian ulama yang berpendapat seperti itu, beliau berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ هذا الحديث مما يوهم كراهة صوم العشر

“ada ulama yang berkata, “hadits ini menunjukkan apa yang terpahami makruhnya puasa pada 10 hari awal Dzulhijjah”” (Syarah Shahih Muslim (8/71)).

Imam ibnu Utsaimin juga berkata :

وقد ورد حديثان متعارضان في هذه الأيام، أحدهما أن الرسول صلّى الله عليه وسلّم لم يكن يصوم هذه الأيام التسعة  ، والثاني أنه كان يصومها  ، وقد قال الإمام أحمد رحمه الله في التعارض بين هذين الحديثين: إن المثبت مقدم على النافي، ورجح بعض العلماء النفي؛ لأن حديثه أصح من حديث الإثبات

“telah datang 2 jenis hadits yang saling bertentangan terkait puasa pada hari ini, yang pertama bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak pernah berpuasa pada 9 hari ini, dan jenis yang kedua Beliau sholallahu ‘alaihi wa Salam berpuasa pada hari ini. Imam Ahmad berpendapat ketika menghadapi 2 hadits tersebut bahwa yang menetapkan didahulukan dibandingkan yang meniadakan. Sebagian ulama merajihkan hadits yang menafikan puasa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam pada 9 hari ini, karena haditsnya lebih shahih daripada hadits yang menetapkan puasa” (Syarhul Mumti’ (6/469-470).

 

Para ulama yang menafikan pensyariatan puasa 9 hari awal bulan Dzulhijjah berpendapat dengan hadits yang isinya menafikan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam pernah berpuasa pada hari ini, sebagaimana yang diisyaratkan oleh 2 aimah kita. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ

“aku tidak pernah melihat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam berpuasa pada sepuluh awal (Dzulhijjah) sedikitpun” (HR. Muslim No. 1176).

Dalam nomor berikutnya masih dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصُمِ الْعَشْرَ

“Bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak berpuasa pada 10 awal Dzulhijjah”.

 

Adapun mereka yang berpendapat disyariatkannya puasa pada 10 awal Dzulhijjah berdalil dengan hadits berikut :

مَا مِنْ أَيَّامٍ، الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ، مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» يَعْنِي الْعَشْرَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

 

“Tidaklah ada suatu hari yang beramal salih pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini –yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah-.” Mereka [para sahabat] bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah jihad fi sabilillah juga tidak lebih utama darinya?”. Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang berangkat berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu dia kembali dalam keadaan tidak membawa apa-apa dari itu semua (alias mati syahid, pent).” (HR. Bukhori).

Istidlalnya adalah bahwa beramal pada 10 awal Dzulhijjah akan dicintai oleh Allah Ta’aalaa, dan tidak diragukan lagi puasa adalah salah satu amalan sholih yang terbaik.

 

Kemudian mereka berdalil dengan hadits yang menetapkan puasanya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam pada 9 awal Dzulhijjah, sebagaimana riwayat sebagian istri Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam :

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Imam Al Albani dalam kitabnya Dhoif al-Jaamius Shoghir (no. 4570) mendhoifkan hadits ini, namun dalam Shahih Abu Dawud  (no. 2106) menshahihkan hadits ini. Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam ta’liqnya terhadap musnad Ahmad mendhoifkan hadits ini karena alasan kegoncangan dalam sanadnya, karena salah seorang perowinya yang bernama Hunaidah bin Khoolid goncang dalam meriwayatkan sanad hadits ini, terkadang beliau mengatakan dari istrinya dari sebagian istri Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam, di riwayat lain dari Ibunya dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, di jalan lain dari Hafshoh binti Umar radhiyallahu ‘anha, di jalan lain dari salah seorang Istri Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam tanpa melalui perantara. Semua ini menyebabkan kegoncangan yang mana Imam az-Zailaa’iy mendhoifkan hadits ini dalam kitabnya Nashbu ar-Rooyah (2/157). Sehingga wallahul a’lam, pendapat dhoifnya hadits ini adalah yang rajih.

 

Jika seperti itu maka sesungguhnya pendapat yang mengatakan tidak disyariatkannya puasa 9 hari awal Dzulhijjah adalah yang rajih, karena telah shahih hadits yang menunjukkan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak melakukan puasa pada hari-hari tersebut. Hanya saja para ulama mentakwil hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak pernah berpuasa pada hari-hari tersebut, yakni bahwasanya penafian ini tidak melazimkan bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak melakukannya, karena bisa jadi Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak melakukannya karena sakit atau safar atau sebab lain, atau bisa jadi Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam mengerjakan puasa ini, namun Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak melihatnya, karena telah maklum bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam menggilir istri-istrinya dan barangkali Beliau berpuasa di rumah istri lainnya yang tidak dilihat oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dan diperkuat lagi dengan keumuman hadits keutamaan mengerjakan amal-amal sholih pada hari-hari tersebut.

 

Catatan : adapun puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan puasa arafah telah tsabit dalil-dalil pensyariatannya dan keutamaan-keutamaannya yang besar.

 

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. syukron Ustadz atas penjelasannya.
    apakah tidak ada nukilan dari aimah (seperti Imam Malik dalam hal puasa Syawwal) tentang amalan penduduk Madinah terhadap puasa ini?

    Like

  2. Ustadz ana sudah jelas..
    Abaikan pertanyaan ana yang di atas

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: